<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368</id><updated>2012-02-12T21:28:10.600-08:00</updated><category term='SILSILAH SULTAN'/><category term='TATA ADAT'/><category term='SEJARAH KERAJAAN'/><category term='OPINI[KRITIK'/><category term='AGAMA'/><category term='SASTRA'/><category term='KEPEMUDAAN'/><title type='text'>Sekala Brak</title><subtitle type='html'>CICA: Khiah Khiah Kik Dawah, Kekunang Kak Dibingi, Kik Kak Sai Batin Mekhittah, Tisansat Kipak Mati</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>167</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-279163609439213050</id><published>2012-02-11T04:58:00.000-08:00</published><updated>2012-02-11T05:05:31.043-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AGAMA'/><title type='text'>ISLAM MODERAT</title><content type='html'>&lt;div style="font-weight: bold; text-align: center;"&gt;ISLAM MODERAT&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Makalah ini disusun Guna Memenuhi Tugas&lt;br /&gt;Mata Kuliah : Ilmu Kalam&lt;br /&gt;Dosen Pengampu : Drs. H.M.Asrori Ma’ruf, M.Pd.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Di Susun oleh :&lt;br /&gt;NOVAN ADI PUTRA&lt;br /&gt;06410038&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-xZUvewjS88Y/TzZnc4eEEVI/AAAAAAAABEU/fILn-X5Umgo/s1600/logo-uin-suka-baru-warna.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 252px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-xZUvewjS88Y/TzZnc4eEEVI/AAAAAAAABEU/fILn-X5Umgo/s320/logo-uin-suka-baru-warna.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707863323631161682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM&lt;br /&gt;FAKULTAS TARBIYAH&lt;br /&gt;UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA&lt;br /&gt;YOGYAKARTA&lt;br /&gt;2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;===================================================================&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;           Akhir-akhir ini seperti sudah menjadi keharusan opini di berbagai media massa, bahwa di zaman globalisasi, corak keberislaman yang ‘baik’ adalah menjadi Muslim yang moderat. Dengan kata lain, bukan menjadi Muslim yang liberal atau yang radikal. Istilah “moderat” ini dimunculkan dan dipopulerkan oleh berbagai kalangan, baik cendekiawan, kepala Negara/pemerintahan Muslim, atau tokoh-tokoh agama. istilah “Islam moderat” itu pula, kemudian disebarkan paham “Pluralisme Agama” (At-Ta’addudiyah al-Diniyyah), yang menyatakan semua agama itu adalah sama dan benar. &lt;br /&gt;         Apakah sebenarnya makna “Islam moderat”, yang kadang-kadang disamakan dengan istilah “ummatan wasathan”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Istilah “moderat” (moderate) berasal dari bahasa Latin ‘moderare’ yang artinya “mengurangi atau mengontrol”. Kamus The American Heritage Dictionary of  the English Language mendefinisikan moderate sebagai: (1) not excessive or extreme (2) temperate (3) average; mediocre (4) opposed to radical views or measures.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai satu sistem ajaran dan nilai, sepanjang sejarahnya,  Islam tidak menafikan kemungkinan mengambil istilah-istilah asing untuk diadopsi menjadi istilah baru dalam khazanah Islam. Tetapi, istilah baru itu harus benar-benar diberi makna baru, yang sesuai dengan Islam. Istilah itu tidak dibiarkan liar, seperti maknanya yang asli dalam agama atau peradaban lain. Kita sudah banyak mengambil istilah baru dalam Islam, seperti istilah “agama”, “pahala”, “dosa”, “sorga”, “neraka”, yang berasal dari tradisi Hindu, tetapi kita berikan makna baru yang sesuai dengan konsep Islam. Dari peradaban Barat saat ini, kita mengambil banyak istilah, seperti istilah “worldview”, “ideologi”, dan sebagainya. Semua istilah bisa diadopsi, asalkan sudah mengalami proses adapsi (penyesuaian makna) dengan makna di dalam Islam, sehingga tidak menimbulkan kekacauan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap wasathiyah adalah karakter ajaran Islam itu sendiri. Istilah wasathiyah, menurut Dr. Muhammad Imarah, termasuk yang sering disalahartikan. Dalam bukunya, Ma’rakah al-Mushthalahat bayna al-Gharb wa al- Islam (Di Indonesiakan oleh Musthalah Maufur MA dengan judul “Perang Terminologi Islam versus Barat”), Imarah menjelaskan dengan cukup panjang lebar makna konsep “al-wasathiyah” di dalam Islam. Istilah al-wasathiyah dalam pengertian Islam mencerminkan karakter dan jatidiri yang khusus dimiliki oleh manhaj Islam dalam pemikiran dan kehidupan, dalam pandangan, pelaksanaan, dan penerapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam istilah ini, tercermin karakter dasar Islam yang terpenting yang membedakan manhaj Islam dari metodologi-metodologi yang ada pada paham-paham, aliran-aliran, serta falsafah lain. Sikap wasathiyah Islam adalah satu sikap penolakan terhadap ekstremitas dalam bentuk kezaliman dan kebathilan. Ia tidak lain merupakan cerminan dari fithrah asli manusia yang suci yang belum tercemar pengaruh-pengaruh negatif.  Allah berfirman (yang artinya): “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia.” (al-Baqarah:143).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat yang adil dan umat pilihan adalah ‘ummatan wasatha’ (umat pertengahan). Untuk saat ini, terjemahan “umat pertengahan” atau “umat yang adil dan pilihan” mungkin lebih tepat dari pada umat moderat, mengingat banyaknya kerancuan dalam istilah moderat yang digunakan oleh Barat dan kaum sekular-liberal saat ini. Menjelaskan tentang makna ayat 143 surat al-Baqarah tersebut, dalam Tafsir al-Azhar, Prof. Hamka menyatakan, bahwa kehadiran Nabi Muhammad saw dan umat Islam adalah untuk menjadi jalan tengah bagi ekstrimitas dua komunitas Yahudi dan Kristen; umat Yahudi yang lebih condong kepada urusan dunia semata dan umat Nasrani yang condong kepada kehidupan kerohanian semata, dengan memencilkan diri di biara-biara dan tidak kawin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam adalah umat yang pertengahan, yang menjadikan urusan fisik sebagai hal penting dan menjadikan urusan batin sebagai hal yang penting pula. Ayat ini berkaitan dengan masalah shalat, yang dijadikan contoh sebagai ibadah yang menggabungkan antara urusan fisik dan batin. Dalam shalat, jelas sekali pertemuan tersebut. Shalat dikerjakan dengan badan, melakukan sujud dan ruku’, menghadap kiblat, berpakaian yang bersih dan bebas najis, dan sebagainya. Tetapi semuanya itu juga harus dikerjakan dengan hati yang khusyu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak pula sikap wastahiyah Islam itu pada aturan tentang zakat, yang hanya bisa dikerjakan oleh orang yang berharta sesuai dengan aturan nishab. Artinya, umat Islam diperintahkan mencari harta sebanyak-banyaknya, untuk menegakkan amal salih dan setelah itu bagikan kepada orang yang membutuhkan. Begitu juag dengan aturan puasa, haji, dan sebagainya. Semua itu adalah watak ajaran Islam, yang mementingkan urusan badan dan urusan batin. Sikap wasathiyah Islam itu berbeda dengan sikap umat-umat lainnya, baik kaum Yahudi, Kristen, Hindu, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Hamka: “Bangkitnya Nabi Muhammmad saw di padang pasir Arabia itu, adalah membawa ajaran bagi membangunkan ummatan wasathan, suatu ummat yang menempuh jalan tengah, menerima hidup di dalam kenyataannya. Percaya kepada akhirat lalu beramal di dalam dunia ini. Mencari kekayaan untuk membela keadilan, mementingkan kesihatan rohani dan jasmani, karena kesihatan yang satu bertalian dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menentingkan kecerdasan fikiran, tetapi dengan menguatkan ibadat untuk menghaluskan perasaan. Mencari kekayaan sebanyak-banyaknya, karena kekayaan adalah alat untuk berbuat baik. Menjadi khalifah Allah di atas bumi, untuk bekal menuju akhirat. Karena kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Selama ummat ini masih menempuh shiratal mustaqim, jalan yang lurus, selama itu pula mereka akan tetap menjadi ummat jalan tengah.”  Dengan posisi sebagai ummatan wasathan itu, maka umat Islam akan menjadi saksi atas umat yang lain. Kata Hamka: “Umat Muhammad menjadi ummat tengah dan menjadi saksi untuk ummat yang lain, dan Nabi Muhammad saw menjadi saksi pula atas ummatnya itu, adakah mereka jalankan pula tugas yang berat tetapi suci ini dengan baik?”  Itulah makna “ummatan wasathan”, umat pertengahan, umat yang adil, umat yang menjadi saksi atas ummat yang lain, dengan menyampaikan risalah Islam kepada seluruh umat manusia. Dengan pandangan dan sikap ‘wasatha’, setiap Muslim dilarang melakukan tindakan ‘tatharruf’ atau ekstrim dalam menjalankan ajaran agama.  Umat Islam merupakan umat penyeimbang dari umat umat-umat agama lain. Umat Islam mampu menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, tidak terlalu materialis duniawi, seperti kaum Yahudi atau meninggalkan kehidupan dunia seperti berbagai pemeluk agama lainnya. Umat Islam menyeimbangkan antara aspek jasmani dan ruhani. Itulah makna umat wasathan, umat pertengahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, konsep ‘al-wasathiyyah’  bukan berarti sikap yang tidak berpihak kepada kebenaran, tidak memiliki pendirian untuk menentukan mana yang haq dan mana yang bathil. Al-Wasathiyyah juga tidak bermakna sikap ‘plin-plan’, dengan mengorbankan kebenaran demi untuk mencapai tujuan keduniawian.  Saat ini, ada kecenderungan pengaburan sikap al-Wastahiyyah pada beberapa kalangan, dan menyamakannya dengan konsep moderatisme Islam yang kabur maknanya. Malah, ada yang menggunakan istilah “Islam moderat” dengan makna yang sama dengan istilah “Islam Inklusif” atau “Islam Pluralis”.  Melalui konsep dan kedok istilah “Islam moderat” itu pula, kemudian disebarkan paham “Pluralisme Agama” (At-Ta’addudiyah al-Diniyyah), yang menyatakan semua agama itu adalah sama dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena munculnya berbagai kerancuan makna konsep “pertengahan” (al-wastahiyyah) atau “moderatisme” di kalangan masyarakat Muslim Indonesia saat ini, maka sudah sangat mendesak dilakukannya suatu pengkajian yang serius dan ilmiah terhadap konsep “al-wasathiyyah” dalam Islam, agar tidak terjadi kerancuan dan pengaburan makna. Kita mengimbau, para cendekiawan dan tokoh-tokoh umat agar sangat berhati-hati dalam menggunakan istilah “Islam moderat”, dan tidak begitu saja menyamakannya dengan istilah “ummatan wasathan”. Jika terpaksa menggunakannya, berikanlah definisi yang jelas, yang berbeda dengan definisi yang dipopulerkan oleh kaum liberal dan pluralis saat ini. Sebab, “moderatisme Islam” saat ini juga sedang dijadikan sebagai bahan kampanye untuk meliberalkan Islam di Indonesia, sebagaimana diprogramkan oleh LSM-LSM asing yang beroperasi di Indonesia, seperti The Asia Foundation dan sebagainya. Lebih baik dan lebih aman jika saat ini kita tidak ikut-ikutan menambah daftar panjang predikat Islam, seperti “Islam modernis”, “Islam tradisionalis”, “Islam liberal”, “Islam fundamentalis”, “Islam radikal”, “Islam salafi”, “Islam rasional”, “Islam militan”, “Islam konservatif”, “Islam kanan”, “Islam kiri”, “Islam garis keras”, “Islam kultural”, “Islam struktural”, dan sebagainya. Lebih baik kita menyebut “Islam” saja. Islam yang satu, dan tidak memecah belah menjadi berbagai jenis Islam, yang maknanya kabur dan tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David E. Kaplan menulis dalam artikelnya, Hearts, Minds, and Dollars, (www.usnews.com, 4-25-2005), bahwa saat ini, AS menggelontorkan dana puluhan juta dollar dalam rangka kampenye untuk – bukan hanya mengubah masyarakat Muslim – tetapi juga untuk mengubah Islam itu sendiri. Menurut Kaplan, Gedung Putih telah menyetujui strategi rahasia, yang untuk pertama kalinya AS memiliki kepentingan nasional untuk mempengaruhi apa yang terjadi di dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekurangnya di 24 negara Muslim, AS secara diam-diam telah mendanai radio Islam, acara-acara TV, kursus-kursus di sekolah Islam, pusat-pusat kajian, workshop politik, dan program-program lain yang mempromosikan Islam moderat.  AS dan kawan-kawannya memang berkehendak agar kaum Muslim tidak menjadi ancaman bagi hegemoni peradaban mereka. Karena itu, mereka ingin agar umat Islam menjadi umat yang moderat (versi mereka). Mereka biayai begitu banyak lembaga Islam dan mahasiswa Islam agar memiliki pemikiran dan sikap hidup yang sesuai dengan kehendak mereka. Di dalam konsep mereka, Islam moderat adalah Islam yang tidak meyakini kebenaran agamanya sendiri, Islam yang ‘jinak’, tidak peduli dengan penderitaan dan penindasan yang dialami oleh saudara-saudaranya sesama Muslim. Mereka ciptakan istilah-istilah yang indah dan yang buruk, untuk memecah belah umat Islam. Istilah “Islam moderat” dibenturkan dengan istilah “Islam radikal”, “Islam militan”, “Islam fundamentalis”, dan sebagainya, yang maknanya tidak didefinisikan dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kita berharap, para tokoh dan cendekiawan Muslim dapat lebih berhati-hati dalam mengadopsi satu istilah yang bukan berasal dari khazanah Islam. Jangan sampai mereka hanya mengadopsi istilah tanpa diberikan definisi (ta’rif) yang jelas. Jangan sampai pula, mereka hanya menjadi corong untuk mempopulerkan satu istilah yang maknanya sudah dikendalikan dan diatur sesuai dengan agenda untuk memecah belah umat. Di zaman yang penuh dengan ‘fitnah’ seperti sekarang ini, kita perlu lebih berhati-hati lagi dalam menyebarkan informasi, jangan asal bunyi, karena kita yakin, segala amal perbuatan dan ilmu kita akan dimintai pertanggungjawaban di Hari Akhir kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak perlu mengikuti sikap sebagian kalangan yang tidak peduli akan Hari Akhir, tidak peduli dosa dan pahala, dan semaunya sendiri merusak istilah-istilah dan ajaran Islam,  dengan mengharapkan imbalan keuntungan duniawi yang teramat remeh. Mereka akan mendapatkan bahagiannya di dunia ini, tetapi pasti akan menyesal di Akhirat nanti.  Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husaini Adian, Catatan Akhir Pekan,  ke-152&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah Amin, Mencari Islam, yogyakarta, Tiara Wacana, 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-279163609439213050?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/279163609439213050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/islam-moderat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/279163609439213050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/279163609439213050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/islam-moderat.html' title='ISLAM MODERAT'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-xZUvewjS88Y/TzZnc4eEEVI/AAAAAAAABEU/fILn-X5Umgo/s72-c/logo-uin-suka-baru-warna.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-6008147091837816972</id><published>2012-02-11T03:52:00.000-08:00</published><updated>2012-02-11T04:04:46.148-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI[KRITIK'/><title type='text'>ADITYAWARMAN DAN PAGARUYUNG</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-QARVRa3QpIQ/TzZXfSddewI/AAAAAAAABEI/OHgwKgzF-_o/s1600/330px-Adityawarman.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 176px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-QARVRa3QpIQ/TzZXfSddewI/AAAAAAAABEI/OHgwKgzF-_o/s320/330px-Adityawarman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707845772781648642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Adityawarman as &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bhairava" title="Bhairava"&gt;Bhairava&lt;/a&gt; idol, in the &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/National_Museum_of_Indonesia" title="National Museum of Indonesia"&gt;National Museum of Indonesia&lt;/a&gt; )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;oleh: &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Irfan Anshory&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;( adok: &lt;strong&gt;BATIN KESUMA NINGRAT )&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Dalam membicarakan sejarah kuna Minangkabau, kita pasti berjumpa dengan  tokoh Adityawarman, seorang bangsawan Melayu yang dibesarkan di istana  Majapahit dan pernah memegang jabatan tinggi dalam kerajaan Hindu-Jawa  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Jawa dan Sumatera telah terjalin sebelum Majapahit  berdiri. Menurut kitab Pararaton, raja Kertanagara dari Singhasari pada  tahun 1275 (1197 Saka) melakukan ekspedisi &lt;em&gt;pamalayu&lt;/em&gt;, yaitu  mengirimkan balatentara ke kerajaan Malayu yang berpusat di Dharmasraya,  Jambi, untuk mengantisipasi kemungkinan ekspansi Mongol ke Nusantara.  Kemudian pada tahun 1286, Kertanagara mengirimkan hadiah arca Amoghapasa  kepada raja Malayu, Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa, sebagai  lambang persahabatan kedua kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kerajaan Majapahit  pada tahun 1294 didirikan oleh Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya),  menantu Kertanagara, pulanglah tentara Singhasari dari Malayu membawa  dua putri kakak-adik, Dara Petak dan Dara Jingga, putri raja Malayu.  Dara Petak diambil sebagai istri oleh Kertarajasa, sedangkan Dara Jingga  dinikahkan dengan Adwayabrahma yang merupakan putra dari  Wiswarupakumara, adik Kertanagara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Dara Petak, Kertarajasa  berputra Jayanagara, sedangkan dari Gayatri putri Kertanagara,  Kertarajasa berputri Tribhuwana Wijayottunggadewi. Adapun Adwayabrahma  dan Dara Jingga berputra Adityawarman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa pemerintahan raja  Jayanagara (1309-1328) dan ratu Tribhuwana (1328-1350), Adityawarman  diberi jabatan Mantri Praudhara (semacam menko polkam). Dua kali dia  menjadi utusan Majapahit ke negeri Cina, 1325 dan 1332. Kemudian tahun  1338 Adityawarman bersama-sama Mahamantri Gajah Mada memimpin laskar  Majapahit menaklukkan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1343 Adityawarman  meninggalkan Majapahit pergi ke Sumatera, kembali ke daerah asal ibunya.  Dia bermaksud mendirikan kerajaan baru di Minangkabau. Pada masa itu di  Ranah Minang telah ada &lt;em&gt;nagari-nagari &lt;/em&gt;serta dua tokoh terkemuka: Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana Adityawarman mendirikan negara disetujui kedua datuk itu yang  memang berniat mempersatukan nagari-nagari. Hanya saja datuk yang berdua  itu berbeda pendapat mengenai bentuk negara. Datuk Ketumanggungan  menyetujui Adityawarman yang ingin negara kerajaan (dikepalai seorang  raja), sedangkan Datuk Perpatih Nan Sabatang menginginkan negara  federasi yang dikelola badan perwakilan penghulu-penghulu nagari.  Polarisasi pendapat ini diabadikan dalam ungkapan yang populer di  kalangan masyarakat Minangkabau sampai sekarang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;anggang datang dari lauik&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;ditembak datuk nan baduo&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;badia sadatuih duo dantamnyo&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Adityawarman dan Datuk Ketumanggungan saja yang mendirikan kerajaan pada tahun 1350. Kerajaan tersebut diberi nama &lt;strong&gt;Pagaruyung&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;paga&lt;/em&gt; = pagar; &lt;em&gt;ruyung&lt;/em&gt;  = kekuasaan). Pada prasasti Bukit Gombak bertarikh 1278 Saka (1356  Masehi)tercantum gelar lengkap Maharaja Adityawarman Parakramarajendra  Mauliwarmadewa. Sebagai raja yang berdaulat, Adityawarman mengirimkan  utusan ke negeri Cina pada tahun 1375. Raja Pagaruyung yang pertama ini  wafat tahun 1376.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nagari-nagari di Minangkabau terbagi menjadi dua daerah hukum. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, daerah &lt;strong&gt;Luhak&lt;/strong&gt;  yang mengikuti paham Datuk Perpatih Nan Sabatang. Semua nagari dalam  lingkungan luhak diperintah oleh masing-masing penghulu. Luhak-luhak ini  tersusun dalam tiga kelompok: Luhak Agam, Luhak Tanah Datar, dan Luhak  Limapuluh Kota. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, daerah &lt;strong&gt;Rantau&lt;/strong&gt; yang mengikuti paham Datuk Ketumanggungan. Semua nagari dalam lingkungan rantau takluk ke bawah kedaulatan raja Pagaruyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;luhak bapanghulu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;rantau barajo&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;tagak samo indak tasundak&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;malenggang samo indak tapepeh&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;rajo bajalan badaulat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;panghulu tagak baandiko&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  agama Islam masuk ke Minangkabau pada abad ke-15, dengan semangat  ajaran Al-Qur'an "sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara" (&lt;em&gt;innama l-mu'minuna ikhwah&lt;/em&gt;),  pihak Luhak dan pihak Rantau mengadakan pendekatan satu sama lain, dan  akhirnya dibentuklah "Rajo Tigo Selo, Basa Ampek Balai" sebagai lambang  perpaduan antara Agama Islam dan Adat Minangkabau. Persenyawaan adat dan  agama ini diperkokoh dengan rumusan Piagam Bukit Marapalam: &lt;em&gt;syara' mangato, adat mamakai; adat babuhua sintak, syara' babuhua mati; adat basandi syara', syara' basandi kitabullah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;panggirik pisau sirauik&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;patungkek batang lintabung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;salodang ambiak ka nyiru&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;satitik jadikan lauik&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sakapa jadikan gunung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;alam takambang jadi guru&lt;/em&gt;.***&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;==============================================================&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ASAL USUL ADITYAWARMAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://berita.balihita.com/asal-usul-raja-adityawarman-masih-diperdebatkan.html&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Asal mula Adityawarman, pendiri Kerajaan Malayupura (Pagaruyung) di  Sumatra Barat sampai sekarang masih menjadi perdebatan bagi sebagian  sejarawan apakah berasal dari Jawa atau Melayu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kepala Pusat Studi Sejarah dan ilmu-ilmu sosial (Pussis) Universitas  Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari, di Medan, Minggu (7/3), mengatakan,  dalam pembelajaran sejarah nasional diketahui bahwa Adityawarman  dikenal sebagai pendiri kerajaan Malayupura (Pagaruyung) yang ada di  Sumatra Barat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia merupakan anak dari Dara Jingga yang dipersunting oleh Raden  Wijaya, raja dari Majapahit, sebagaimana yang tercatat dalam kitab  Pararaton. Ia juga dinyatakan lahir dan dibesarkan di istana Kerajaan  Majapahit dan merupakan saudara sepupu Jayanegara, raja kedua Majapahit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selanjutnya juga dikemukakan bahwa, pada masa pemerintahan Tribhuwana  Tunggadewi (adik Jayanegara) di Majapahit sebagaimana yang dicatat pada  Prasasti Blitar (1330) atau juga pada Prasasti Manjustri tahun 1343  masehi, Adityawarman diangkat sebagai Wreddamantri atau perdana menteri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian pula pada tahun 1347, Adityawarman ditugasi sebagai bawahan  Raja Majapahit untuk wilayah Swarnnabhumi (Sumatra) untuk menjalankan  misi penaklukan Sumatra Bagian Utara yakni kerajaan Silo di Simalungun  yang dikuasai oleh Indrawarman yang merupakan desertir tentara Singasari  yang menolak kedaulatan Majapahit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lebih lanjut ia mengatakan, selanjutnya diketahui pula bahwa pada  tahun 1347, Adityawarman disebut mendirikan kerajaan Malayupura seperti  yang terpahat pada arca Amoghapasa dan Prasasti Kuburajo di Pagaruyung  yang beraksara Sansekerta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam prasati itu, Aditywarman dikenal berasal dari keluarga Indra  serta menjadi raja di Kanakamedini (Swarnnadwipa) atau Sumatera.  Sedangkan dalam prasasti Bukit Gombak, Ia dikenal sebagai putra dari  Adwayadwaja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara sumber-sumber lain menyebutkan bahwa Adityawarman adalah  putra kerajaan Majapahit yang lahir dan dibesarkan di lingkungan istana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibunya adalah Putra Dara Jingga berdarah Minang. Sementara itu,  berdasarkan versi Minang, Adityawarman adalah asli Minang, pendiri  kerajaan Pagaruyung.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sampai sekarang masih menjadi perdebatan apakah Adityawarman berasal  dari Jawa atau asli Melayu. Penelusuran tentang sejarah Adityawarman  sangat penting, karena belum ada kejelasan hingga kini terutama dalam  historiografi Indonesia. Apakah sebenarnya Adityawarman adalah Melayu  atau Jawa?,” katanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu, lanjut dia, Pussis-Unimed sebagai pusat studi  sejarah, memiliki tanggungjawab untuk memberikan hasil penelitian  terbaru terhadap kontroversi Adityawarman itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk memperjelas itu, pihaknya mengundang Profesor Uli Kozok untuk  memberikan ceramah di Unimed, Selasa (9/3). Peneliti dan pengajar di  Universitas Hawaii Manoa USA yang melakukan penelitian terbaru terhadap  sejarah Adityawarman ini sekaligus memberikan informasi baru dari  penelitian tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini dilakukan karena dalam upaya penulisan sejarah Nasional di  Indonesia para sejarawan menghadapi dilema bahwa sumber-sumber sejarah  tentang Majapahit yang telah diangkat pemerintah sebagai cikal bakal  Indonesia, terbatas pada sejumlah prasasti dan dua naskah yaitu  Negarakretagama dan Pararaton.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Staf peneliti Pussis Unimed, Erond Damanik, mengatakan, informasi  yang terkandung dalam sumber-sumber sejarah kerap kali kontradiktif dan  ditulis pada waktu yang berbeda dan ditulis untuk tujuan berbeda pula.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ironisnya para sejarawan Indonesia berupaya untuk memadukan sumber  yang ada sehingga tercipta sebuah sejarah yang konsisten dan berwawasan  nasional sementara interpretasi yang kritis dikorbankan demi “kepastian”  sejarah yang dihasilkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dalam ceramahnya nanti, Prof Uli Kozok akan membahas ulang  sumber-sumber yang berkaitan dengan Adityawarman tersebut. Dari hasil  penelitian yang dilakukannya selama ini kita akan tahu asal mula  Adityawarman,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-6008147091837816972?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/6008147091837816972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/adityawarman-dan-pagaruyung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/6008147091837816972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/6008147091837816972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/adityawarman-dan-pagaruyung.html' title='ADITYAWARMAN DAN PAGARUYUNG'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-QARVRa3QpIQ/TzZXfSddewI/AAAAAAAABEI/OHgwKgzF-_o/s72-c/330px-Adityawarman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-7769662253170023266</id><published>2012-02-09T10:59:00.000-08:00</published><updated>2012-02-09T11:10:22.450-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SASTRA'/><title type='text'>Kisah Abung dan Komering</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-BZ2AxwmfO7U/TzQZPfHqakI/AAAAAAAABBk/va41JCx38AM/s1600/ResepsiIbasAliya241111-5_034856.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 218px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-BZ2AxwmfO7U/TzQZPfHqakI/AAAAAAAABBk/va41JCx38AM/s320/ResepsiIbasAliya241111-5_034856.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707214381627632194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Pakaian adat pengantin komering )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;KISAH PERANG ABUNG&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;(dari: Iwan Mahmoed Raraumay )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diposting oleh SALIWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kalo masyarakat Abung saya masih agak hati-hati, karena ini bicara tentang sejarah yang agak dramatis..Bicara Abung berarti bicara perang Komering tempo dulu dengan masyarakat Abung..makanya masih banyak sebagian masyarakat komering dan Abung sering salah faham dalam menyikapi kisah perang ini..(mungkin kisah ini tidak tercatat didalam dilintasan sejarah). Orang Komering sering memandang perang ini adalah aib buat mereka..Sehingga masih banyak sebagian masyarakat Komering terutama yang pernah diserang/dijajah abung sangat tidak senang bila ada orang Abung membahas perang ini (apalagi mereka yang mengerti sejarah). Ayah saya sendiri ketika memperoleh cerita ini, sekaligus diskusi dengan orang asli Abung asli..mereka mengakui ternyata pernah terjadi perang antara masyarakat komering dengan Kerajaan Abung...jadi cerita ini betul-betul terjadi, dan ini terbukti dari cerita lisan disekitar desa Komering uLu Timur sangatlah terkenal..Orang-orang Abung Asli sendiri memandang kisah penyerbuan ke Komering ini mungkin sebagai identitas atau boleh jadi menjadi semacam kebanggaan...Nah ini yang menjadi inti masalah..keduanya tidak akan pernah bertemu..Kalo saya menyikapi kisah dengan arif sajalah..ya sudah itu bagian sejarah yang telah terjadi....Saya sendiri juga tidak terlalu memandang kisah menjadi dramatis...buat apa memelihara dendam sejarah...Justru tugas saya adalah mencari data dan fakta tentang sejarah desa kami dan skala Brak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ketika Abung sedang jaya-jayanya, raja mereka mempunyai niat ingin menyatukan wilayah Komering.Untuk melaksanakan misi ini Raja mereka mengirim bala tentaranya keseluruh wilayah Komering..Komering hampir mereka kuasai..namun mendekati wilayah Desa Gunung Batu..mereka sempat menjajah Daerah Cempaka yang saat ini menjadi Kecamatan Wilayah desa Gunung Batu..(kurang lebih 10 Km). Didesa ini mereka berhasil menyingkirkan penguasa Cempaka dan Panglima Pasukan Abung menjadikan anak dari raja cempaka tersebut menjadi istri, sedang raja tersebut mereka penggal dan tengkorak kepala raja tersebut dijadikan bola mainan. Akibat Ulah pasukan Abung Putri raja Cempaka tersebut Tidak bicara (tapa Bisu), sampai suatu saat anaknya nangis, Putri tersebut menyuruh anaknya untuk diam sambil mengatakan bahwa tengkorak kepala raja tersebut sedang dimainkan.namun Panglima pasukan Abung mendengar perkataan tersebut, sehingga akhirnya perbuatan tersebut dihentikan.Sampai sekarang orang Cempaka sangat membenci masyarakat Abung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kecerita Perang Abung...Sebelum melaksanakan misi penyerangan kewilayah Komering, raja abung mewanti-wanti kepada seluruh pasukannya bahwa Komering bolleh dijajah, namun ada satu desa yang tidak boleh dimasuki oleh mereka, yaitu GUNUNG BATU...karena disana ada Ratu Sahibul...pada penyerangan-penyerangan yang dilakukan, memang Abung berhasil hampir sebagian wilayah Komering...Nah mendekati wilayah Gunung Batu, ternyata kedatangan mereka sudah tercium oleh Ratu Sahibul..sehingga sebelum mereka masuk wilayah Gunung batu, ratu Sahibul sudah mendahului dengan mendatangi kedatangan mereka..terjadilah pertempuran....tidak lama kemudian Pasukan Abung terdesak, disebuah wiayah bernama Mesir Darat (sekarang Tugu Mulyo)..Sebelum mereka ketempat ini mereka harus membuat jemnbatan..Jembatan itu masih ada dan sungai yang dilewati oelh merekapun pernah saya lewati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah Raja Abung untuk tidak memasuki wilayah desa Gunung Batu pada perkembangannya ternyata tidak membuat pasukan abung mundur,mereka justru melanggar perintah rajanya, Mereka merasa yakin dengan kemampuannya karena seluruh Komering sudah hampir mereka kuasai, oleh karerna itu dengan modal keyakinan ini justru mereka berusaha untuk masuk ke wilayah desa Gunung Batu. Sebelum mereka memasuki wilayah desa Gunung Batu itu Ratu Sahibul yang mendengar wilayahnya akan dimasuki pasukan Abung segera berangkat menuju perbatasan antara desa gunung batu dan Desa Cempaka. Diperbatasan-perbatasan itu sebelumnya beliau sudah mempersiapkan berbagai jebakan-jebakan yang membuat pasukan Abung terkejut. Diperbatasan yang dipisahkan dengan Sungai yang bernama Limbungan tersebut, beliau melihat pasukan Abung sedang beristirahat dan sebagian besar tertidur karena pasukan ini kelelahan sehabis membuat jembatan penyebrangan menuju desa gunung Batu dari sebuah Pohon bungur yang besar.Jembatan tersebut akhirnya dinamakan Jamban Musuh oleh Masyarakat desa Gunung batu. Menurut ayah saya pohon itu sangat besar sekali namun tenggelam oleh dalamnya sungai limbungan dan bila sungai limbungan itu kering pohon itu baru terlihat, namun cara mereka menebang pohon cukup unik karena dilakukan dengan linggis. dan itu dilakukan oleh semua Pasukan Abung yang jumlahnya kurang lebih 500 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Cerita yang saya dapat, memang fisik dari pasukan Abung ini besar dan tinggi-tinggi namun kurang perhitungan dalam bertempur. Melihat mereka tertidur,ratu Sahibul dengan kemampuannya menebang pohon-pohon yang menaungi prajurit-prajurit tersebut dan akhirnya pasukan tersebut satu persatu ia bunuh. Beliau hanya menyisakan 2 orang prajurit Abung untuk hidup. itupun dengan diberi tanda disekitar kening mereka (Bagi masyarakat asli abung biasanya tanda ini masih ada).Mereka disuruh kembali pulang ke Abung dengan memberi pesan "bahwa Raja Abung ditunggu ratu Sahibul di Gunung Batu". sampai di Kerajaan Abung kedua Prajurit ini justru medapat caci maki dari raja mereka dengan kata-kata "Khan Sudah saya bilang jangan masuki gunung Batu karena disana ada Ratu Sahibul kenapa kalian masuki ?" kedua prajurit itu hanya diam. Semenjak itulah sejarah kejadian ini terekam begitu kuat dimasyarakat kami. Dulu ketika resimen 44 memasuki desa Gunung Batu karena kejaran belanda,Kebetulan mereka berlindung dirumah kakek kami yang saat itu kepala desa, keberadaan mereka dapat terlindungi, Diantara mereka justru banyak orang Abung asli seperti Alamsah Ratu Perwira Negara, brigjen Ryacudu, dll, dan mereka juga mengakui dan mengetahui peperangan Abung dengan Komering.Dan sepertinya dari peristiwa inilah budaya kekerasan didesa gunung Batu dimulai dan begitu kental aromanya. didesa ini yang namanya pemakaian senjata tajam hukumnya wajib. pembunuhan dan perampokan sepertinya sudah jamak. Ilmu-ilmu kebal,serta ilmu-ilmu kesaktian lain sudah menjadi makanan empuk warag sana. Dan desa ini terkenal dengan Sikap keras hatinya dan pantang mundur dalam mempertahankan kohormatan dan harga dirinya, mereka lebih mendahului daripada didahului dan sangat sulit untuk tunduk oleh siapapun....namun terhadap ulama dan penjahat setempat ternyata mereka lebih segan dibandingkan dengan polisi atau TNI. namun solidaritas dan kekeluargaan mereka sangat kuat sekali, kesetiaan pada pasangan juga sangat baik, jarang sekali terdengar perceraian..namun yang lebih memprihatinkan adalah bahwa desa ini bila dibandingkan dengan desa-desa lain sangat tertinggal dalam segala bidang. ya mungkin salah satunya karena sikap keras mereka yang sulit untuk diatur. Masyarakat desa-desa sekitar Gunung batu sangat mengetahui karakter orang-orang desa GUnung Batu ini. Saya sendiri yang lahir dan besar dijakarta bila berkunjung kesana selalu wajib ditemani oleh salah seorang famili. Begitu detilnya sejarah gunung Batu yang saya terima dari ayah saya ini, saya langsung buat dalam bentuk tulisan....cerita yang saya sampaikan ini cuma bagian kecil dari sejarah Desa GUnung batu dan Ratu Sahibul..sebenarnya masih banyak cerita yang lain...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma bila masuk wilayah komering, mereka perlu hati-hati, karena bagi desa yg pernah mereka jajah, nama mereka kurang begitu simpatik, apalagi yg mengerti sejarah sepak terjang mereka...belum lama ini di kecamatan Cempaka saja ada beberapa orang polisi yg berasal dari abung, hampir menjadi amuk masa, karena mereka mencoba mengungkap sisi kelam sejarah desa cempaka ini. hampir saja rumah mereka dibakar, namun untungnya mereka segera langsung dikirim ke martapura OKU Timur, cerita ini saya dapat dari kakak saya yg tugas disana sbg polisi tahun lalu..&lt;br /&gt;Didesa Gunung Batu sendiri, peristiwa perang Abung dan Desa Gunung Batu dinamakan "Abung lari dikejar Musuh"..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peninggalan Pasukan Abung juga sampai saat ini masih ada didesa Cempaka berupa rantai kapal yg besar, dan batu periuk yg besar pula.ladang pembantaian juga masih ada yang dulu bernama mesir Darat (tugu mulyo) tempat tersebut bahkan tidak bisa ditumbuhi tanaman, Digunung Batu sendiri ternyata menurut orangtua saya, keberadaan orang Abung sebenarnya ada, keturunan mereka dengan dengan leluhur saya justru saling bahu membahu dalam pemerintahan desa.Keluarga besar kami tahu betul bagaimana ciri, karakter fisik orang abung asli.hanya saja prinsipnya kami tidak pernah menjadikan hal itu sebuah masalah besar..intinya yang penting jangan pernah utak utik desa gunung batu, harga diri dan kehormatan merupakan harga mati bagi masyarakat desa ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang sampai saat ini kami menganggap masalah sejarah tersebut cuma lintasan sejarah saja yg bisa menjadi pelajaran..toh buktinya Alamsyah Ratu Perwiranegara (mantan Menag) menaikkan kakek kami haji, Brigjen ryacudu (ayah dari Ryamizard Ryacudu) berjuang didesa Gunung batu dengan mertua kakak saya yg kini berusia 90 tahun..jadi biarlah yg lalu.., toh famili kami juga banyak yg ternyata tinggal diwilayah Abung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekelumit kisah Perang Abung dan Komering...kisah lengkapnya sih sudah saya bukukan untuk pribadi saja, namun satu minggu yang lalu buku itu saya pinjamkan kepenulis novel sejarah yg bernama Nasirun Purwokartun yg berasal dari Solo, kartunis yg terkenal dan punya nama di jogya dan solo..mas novan pasti tahu, buka saja FBnya...kenapa saya pinjamkan buku itu karena ternyata Ratu Sahibul itu aslinya ternyata berasal dari kerajaan Demak, nama Ratu Sahibul sendiri ternyata adalah nama aliasnya.dan Kemungkinan besar nama ini adalah muncul ketika ia tiba dan sempat berinteraksi dengan raja dan rakyat di Skala Brak...nama Ratu Sahibul sendiri menurut ayah saya mempunyai kedudukan yang cukup tinggi dimata adat, karena pemakaian nama Ratu itu setahu keluarga kami hanya khusus untuk gelar raja-raja saja.Ketika saya nikah nama itu saya angkat kembali untuk gelar Adat saya.dan sempat menjadi pembicaraan hangat warga kampung, apalagi saya besar dan tinggal dijakarta. Namun begitu tahu bahwa keluarga kami keturunan langsung dari Ratu Sahibul, semua bisa menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita ayah saya, nama Sekala sendiri adalah nama jenis Pohon yg ada pada saat itu dan Brak adalah besar. Kami sendiri sering menyebut skala Brak dengan sebutan Sekala Borak...mungkin kalau penduduk asli skala Brak pengertiannya lain... tapi itu info yg saya dapati..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Saliwa : kisah ini saya dapat dari keturunan orang komering yaitu abang&lt;span class="profileName fn ginormousProfileName fwb"&gt; (Iwan Mahmoed Raraumay ) link FB beliau ( https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1918601606367&amp;amp;set=a.1918576245733.2098329.1281829679&amp;amp;type=3&amp;amp;theater#!/profile.php?id=1534762424&amp;amp;sk=wall ) , tidak lain tidakbukan hanya untuk berkata jujur atas apa yang dahulu terjadi, semoga ada hikmahnya yang dapat kita ambil. SALAM PERSAUDARAAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-7769662253170023266?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/7769662253170023266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/kisah-abung-dan-komering.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7769662253170023266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7769662253170023266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/kisah-abung-dan-komering.html' title='Kisah Abung dan Komering'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-BZ2AxwmfO7U/TzQZPfHqakI/AAAAAAAABBk/va41JCx38AM/s72-c/ResepsiIbasAliya241111-5_034856.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-4893097262244779995</id><published>2012-02-09T10:49:00.000-08:00</published><updated>2012-02-09T10:55:13.643-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>Adat Perkawinan Paksi Pak Sekala Brak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-oVRtCfL6-fs/TzQWI0auXGI/AAAAAAAABBY/Q9RxagNVsDU/s1600/39548_176488162366147_100000148921726_708763_6409867_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 143px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-oVRtCfL6-fs/TzQWI0auXGI/AAAAAAAABBY/Q9RxagNVsDU/s320/39548_176488162366147_100000148921726_708763_6409867_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707210968550759522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Pakaian Pengantin Adat Sai Batin,&lt;br /&gt;untuk yang laki-laki hanya yang bergelar Raja yang boleh memakai dandanan sedemikian )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat Perkawinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Di Kepaksian Bejalan Diway)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dalam hal perkawinan yang telah diteradatkan di Paksi Buay Jalan Diwai ada 4 (empat) macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Djujur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Djujor adalah dimana si gadis diambil oleh bujang untuk menjadi isterinya, maka si bujang dan keluarganya harus menyerahkan/ membayarkan uang adat kepada ahli sigadis berdasarkan permintaan dari ahli keluarga sigadis. Sedangkan permintaan sigadis kepada sibujang disebut Kiluan juga harus dibayar/dipenuhi oleh sibujang Kiluan menjadi hak sigadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkawinan Djujor ini dikenal juga istilah sigadis Mentaudau dan bila ini terjadi berarti sigadis akan meninggalkan keluarganya dan tidak akan mendapat warisan dari keluarga sigadis berupa gelar/adok dan harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya sigadis akan diantar oleh sanak keluarganya menuju rumah suaminya dan sepenuhnya akan menegakkan rumah tangga dan keluarga pihak suami. Biasanya gadis yang mentudau ini akan berangkat ke rumah suaminya dengan membawa keperluan rumah tangga yang cukup dimana barang-barang bawaan sigadis ini dinamakan Benatok terhadap barang Benatok hak dan kekuasaannya tetap pada si istri, sang suami tidak berhak atas barang-barang bawaan isterinya (Benatok).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semanda Lepas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semanda lepas dimana bujang pergi ke rumah sigadis untuk menegakkan jurai dari isterinya, suami tidak boleh membawa isterinya untuk tinggal selamanya di tempat keluarga bujang atau laki walaupun ada persetujuan dari istri sebab sudah teradatkan si suami sudah lepas dari ahli atau keluarganya dan hidup mati sang suami adalah menunggu dari menegakkan jurai isterinya di rumah orang tua isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semanda Raja-raja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada Semanda raja-raja pada awalnya si laki-laki setelah pernikahan harus tinggal terlebih dahulu di temapt si perempuan/istri dengan tidak ditentukan masa waktunya artinya si laki-laki/suami boleh menunggu isterinya di rumah mertuanya sampai mati dan boleh juga untuk beberapa bulan atau beberapa tahun saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bisa juga bila keduanya sepakat dan menginginkan tinggal di tempat lain yang menurut perkiraan mereka akan dapat/ada kehidupan yang lebih baik maka keluarga kedua belah pihak tidak boleh menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanjakh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal perkawinan dengan status Tanjar berarti laki-laki tidak semanda dan perempuan tidak mentudau, setelah perkawinan sepenuhnya diserahkan kepada bujang dan gadis (suami-istri) untuk tinggal dimana menurut kehendak mereka berdua terhadap keluarga istri dan suami keduanya mempunyai tugas dan kewajiban yang sama dan adil. Dalam perkembangan akhir ini pasangan bujang gadis banyak memiliki status perkawinan Tanjar.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nayuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nayuh adalah suatu acara adat yang diangkat oleh keluarga besar seperti; sunat, mendirikan rumah, dan pernikahan. Pada zaman masa lalu sebelum Nayuh/Pangan didahului oleh adanya rapat keluarga atau rapat adat yang membahas tentang perkawinan yang dinamakan “Himpun”, tetapi sekarang ini sudah jarang dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Nayuh inilah baru dipertunjukkan penggunaan perangkat serta alat-alat adat berupa pakaian adat di atas (di Lamban) maupun pakaian adat di bah (arak-arakan) yang pemakaiannya disesuaikan dengan ketentuan adat yang ada dimana satu dengan yang lain tidak sama tergantung dengan status Adok/Gelar yang disandang oleh keduanya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk persiapan Nayuh biasanya keluarga besar memikul bersama (Si-Nayuh) menyiapkan peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan, seperti : Tandang Bulung, Kecambi, Nyami Buek, Nyekhallai Siwok, Khambah Babukha Sappai di Begalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu keluarga besar juga memberikan bantuan berupa bahan-bahan mentah yang disebut juga setukhuk atau berupa bahan makanan yang sudah dimasak dan sudah siap hidang disebut juga Ngejappang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-4893097262244779995?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/4893097262244779995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/adat-perkawinan-paksi-pak-sekala-brak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/4893097262244779995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/4893097262244779995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/adat-perkawinan-paksi-pak-sekala-brak.html' title='Adat Perkawinan Paksi Pak Sekala Brak'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-oVRtCfL6-fs/TzQWI0auXGI/AAAAAAAABBY/Q9RxagNVsDU/s72-c/39548_176488162366147_100000148921726_708763_6409867_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-1342881299069976418</id><published>2012-02-09T10:39:00.000-08:00</published><updated>2012-02-09T10:48:58.809-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>Pemerintahan Adat Paksi Buay Bejalan Diway</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-J-CNekrnAo0/TzQUz3jHOII/AAAAAAAABBM/joyy44kLxQ4/s1600/296983_288504401166333_100000203257896_1393729_1177099011_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-J-CNekrnAo0/TzQUz3jHOII/AAAAAAAABBM/joyy44kLxQ4/s320/296983_288504401166333_100000203257896_1393729_1177099011_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707209509102368898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Gunung Pesagi, tertinggi di Lampung Wilayah Adat Paksi Pak Sekala Brak )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemerintahan Adat Paksi Buay Bejalan Diway&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Adat dan Lembaga Adat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada Paksi Pak Sekala Brak berlaku hal yang sama dalam tata cara yang mengatur kehidupan masyarakat adat dimana setiap Paksi dipimpin oleh seorang raja adat/saibatin secara turun temurun. Begitu juga dalam Paksi Buay Jalan Diwai, lembaga dan masyarakat adat dipimpin oleh seorang raja adat/saibatin yang merupakan keturunan lurus dari Ratu Buway Jalan Diwai. Raja Adat/Saibatin dibantu dan didukung oleh para Raja, Batin, Radin, Minak dan Kimas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azas yang dianut oleh Paksi Pak Sekala Brak adalah Saibatin Lulus Kawai dan bukan Saibatin Pepadun artinya apa yang dipakai oleh orang tuanya adalah hal ini Adok/Gelar secara otomatis diwariskan kepada anaknya yang tertua laki-laki, kecuali bila tidak beranak laki-laki maka jatuh pada anak tertua perempuan atau cucunya laki-laki (dari anak perempuan tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paksi Buay jalan Diwai menurut riwayatnya dikenal adanya beberapa juluk (Adok) atau gelar yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pangeran  / Sultan /  Dalom   &lt;br /&gt;- Raja&lt;br /&gt;- Batin&lt;br /&gt;- Radin&lt;br /&gt;- Minak&lt;br /&gt;- Kimas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada masa kini Pangeran sudah tidak ditemui lagi jadi hanya ada Sultan, sebagai gelar tertinggi yang hanya dipakai oleh Saibatin /Raja Adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1942 di Paksi Pak Buay Jalan Diwai dikenal istilah empat Raja, lima Batin dan suku marga berarti sultan sebagai raja Adat/Saibatin pada waktu itu dibantu dan didukung oleh&lt;br /&gt;4 (empat) raja yaitu:&lt;br /&gt;Raja Petani&lt;br /&gt;Raja Paku Alam&lt;br /&gt;Raja Alam&lt;br /&gt;Raja Makku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan batina adalah:&lt;br /&gt;Batin Mutor Agung&lt;br /&gt;Batin Dullah Hakim Teratas&lt;br /&gt;Batin Sukaraja&lt;br /&gt;Batin Banjarmasin&lt;br /&gt;Batin Anak Mentuha (Batin Pemuka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa dari tahun 1942 sampai dengan 1998 yaitu selama 56 tahun telah terjadi perkembangan penduduk sehingga pada raja dan batin tersebut juga berkembang anak buahnya / warganya. Melihat dari perkembangan tersebut maka Saibatin/Raja Adat Buay Jalan Diwai, sutan Jaya Kusuma III pada tanggal 1 Agustus 1998 mengadakan evaluasi serta musyawarah adat dikembahang yang dihadiri para Raja, Batin, suku-suku, marga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan adanya perkembangan penduduk/warga maka pada musyawarah tersebut dengan persetujuan dari para Raja, Batin, dan suku-suku marga yang hadir telah ditetapkan/dikukuhkan oleh Saibatin/Raja Adat bahwa dalam Paksi Buay Jalan Diwai sebagai bawahan atau pembantu dan pendukung penyelenggaraan adat lembaga di dalam kebuaian Paksi Buay Jalan Diwai sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adok Raja 12 orang, dibantu oleh beberapa Batin dengan Radin serta suku-suku BBD sebagai pendukung dari raja-raja tersebut. Lembaga Adat Paksi Buay Jalan Diwai adalah merupakan salah satu Paksi dari Paksi Pak Sekala Brak, maka adat lembaga yang berlaku di Paksi Buay Jalan Diwai pada prinsipnya adalah sama dengan apa yang berlaku di Paksi Pak Sekala Brak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Raja Adat Paksi Buay Bejalan Diway.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-1342881299069976418?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/1342881299069976418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/pemerintahan-adat-paksi-buay-bejalan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/1342881299069976418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/1342881299069976418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/pemerintahan-adat-paksi-buay-bejalan.html' title='Pemerintahan Adat Paksi Buay Bejalan Diway'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-J-CNekrnAo0/TzQUz3jHOII/AAAAAAAABBM/joyy44kLxQ4/s72-c/296983_288504401166333_100000203257896_1393729_1177099011_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-3815295417501796928</id><published>2012-02-09T10:29:00.000-08:00</published><updated>2012-02-09T10:35:50.295-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEJARAH KERAJAAN'/><title type='text'>Sejarah Paksi Buay Bejalan Diway</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ygmSQbjbQgA/TzQRzcsfIOI/AAAAAAAABBA/dNig2IdrZJs/s1600/283018_1918601606367_1281829679_31797900_1138064_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 210px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ygmSQbjbQgA/TzQRzcsfIOI/AAAAAAAABBA/dNig2IdrZJs/s320/283018_1918601606367_1281829679_31797900_1138064_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707206203359043810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Cambai Mak Bejunjungan Lambang Kepaksian Bejalan Diway )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt; Sejarah Paksi Buay Jalan Diwai Kembahang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sebagaimana telah dijalankan terdahulu, bahwa Paksi Pak Skala Brak. Paksi Buay Jalan Diwai tinggal di Puncak (desa Umbul LImau sekarang bernama Sukarame). Dipuncak inilah Umpu Buay Bejalan Diwai membangun kerajannya dengan raja yang pertama adalah Ratu Buay Bejalan Diwai, yaitu salah seorang dari kedua belas putra raja-raja di Pagaruyung dan salah seorang dari Paksi Pak Skala Brak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratu Buay Bejalan Diwai wafat dan dimakamkan di puncakdekat pemandian yang disebut Hamkembik, makambeliau hingga sekarang masih ada dan terawat dengan baik oleh Zuriat/turunan dari muda pusaka putra ke 4 empat dari ratu junjungan keturunan ke 8 sedangkan ham kembik pada saat ini telah menjadi sawah/ham yang diusahakan oleh Tamrin, yang juga masih Jurai Muda Pusake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Ratu Buay Bejalan Diwai Wafat, beliau digantikan oleh putra Sulung Beliau Ratu Tunggal, kemudian ratu Tunggal simbang Negara digantikan Ratu Mangkudu Pahawang. Putra Sulung Ratu Mangkudu Pahawang Puyang Rakian menggantikan ayahendanya yang makamnya ada di Kuta Hara Bawang Liwa selanjutnya secara turun-temurun hingga turunan ke 8 yaitu Ratu Junjungan Kebuaian Buay Jalan Diwai menetap dan memerintah dipuncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman pemerintahan Ratu Mejangau turunan ke 9 dusun puncak dipindahkan ke Negri Ratu Kembahang dan makam beliau di Negeri Ratu masih serta ada dipelihara oleh Zuriat / keturunan beliau. Demikian secara turun-temurun seperti yang dicantumkan dalam setamboom silsilah Marga Kembahang Paksi Buay Jalan Diwa tanpa terputus dipegang oleh keturunan lurus dari Ratu Buay Jalan Diwai. Hal ini dapat dilihat dan dibuktikan dengan adanya surat-surat tua yang dimiliki serta surat-surat bersluit pengangkatan sebagai Pesirah kepala marga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya Pemerintah Marga di Kembahang yaitu dimulai dari turunan ke 12 yaitu Pangeran Nata Marga putra sulungnya Dalom Suluh Irung yang diangkat menjadi Kepala Marga dengan besluit compeni Inggris tanggal 13 Maret 1799 dimana pada waktu memerintah ada beliau membuat surat perjanjian dengan company Inggris yang ditulis dengan huruf melayu dan juga bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra sulung dari pangeran nata marga sebagai keturunan ke 13 adalah Pangeran raja di Lampung. Beliau ini belum sampai diangkat menjadi raja karena wafat dalam usia muda, tetapi kemudian putra sulung beliau bernama Raden Intan yang bergelar Pangeran Djaya Kesuma langsung menggantikan kakeknya Pangeran Nata Marga, seperti yang disebutkan/diterangkan dalam surat keterangan paduka tuan komisaris Coutroliur Kaur dan mamak tahun 1834, selanjutnya dikukuhkan dengan beslit tuan asistn Residen Van Bengkerden P. De Peres. 24 Desember tahun 1834 No. 439.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Djaya Kesuma mempunyai 2 putra, yang sulung bernama bergelar Pangeran Paku Alam dan yang nomor 2 (yang muda) bernama Raden Mulaya, Pangeran Paku Alam tidak secara langsung mau menjadi kepala marga, karenanya pangeran Paku Alam belum mau pemerintah, maka saudara mudanya ditunjuk sebagai wakil Pesirah, dan bukan sebagai Pesirah hal ini dapat dilihat/dibuktikan pada beslit Raden Mulya tanggal 5 April 1864 No. 745/12. Pada tahun 1871 (7 tahun kemudian) jabatan kepala marga kembali dipegang oleh putra sulung pangeran Djaya Kesuma yang bernama pangeran paku alam dengan beslit residen van bengkulen ddo. 1 Agustus 1871 No.2109/54 diberi gelar Pangeran Nata Marga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya putra sulung pangeran Paku Alam yang bernama DalomRaja Khalifah menggantikan ayahnya menjadi Kepala Marga dengan Beslit Sri Paduka Tuan Besar Residen Van Bengkulen ddo. 5 Mei 1881 No.2263, kemudian dengan beslit ddo.8 Januari No. 107/6 diberi gelar Pangeran Puspa Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu saudara kandung beliau no. 3 bernama H. Bakaudin menjadi Kiayai/Ulama besar dimakamkan di Negeri Ratu, konon menurut cerita orang melihat makam beliau sering bersinar seperti ada lampu pada malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Nata Kesuma putra sulung dari Pangeran Puspa negara menggantikan ayahnya menjadi Kepala Marga pada tahun 1914 dan dengan beslit Sri Paduka Tuan Besar Residen Van Bengkulen ddo. 2 Juli 1931 No.262, Dalom Nata Kesuma diberi gelar Pangeran Jaya Kesuma II.&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Pangeran Jaya Kesuma II pada tahun 1933 terjadi gempa besar hingga banyak merobohkan rumah-rumah serta banyak menelan korban jiwa. Atas adanya musibah tersebut maka Pangeran Djaya Kesuma II memindahkan rumah adat (gedung dalom) dari desa negeri Ratu Kembahang ke Simpang yang sekarang dikenal dengan nama Desa Kembahang, begitu juga keluarga raja adat/Saibatin yang juga disebut Kampung Batin mengikuti pindah ke Kemahang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Djaya Kesuma II tidak dikaruniai anak laki-laki tetapi 2 orang anak perempuan, yang tua bernama Siti Asma Dewi dan yang muda bernama Djarifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri tertua Pangeran Djaya Kesuma diambilkan suami yaitu anak kedua Pangeran Buay Nyerupa Sukau yaitu Nasrun Abdul Majid dengan beslit Paduka Tuan HPB. Van Krac di Liwa ddo 23 September 1936 No. 81 diangkat menjadi Depati Mangkoe dengan gelar Suttan Djaya Indra, kemudian dengan besluit Residen Bengkulen tanggal 28 Juli 1938 diakui sebagai Kepala Marga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan adat turun-temurun maka sebagai keturunan lurus ke 18 dari Paksi Buay Jalan Diwai adalah Siti Asma Dewi dengan gelar Ratu Kemala Jagat yang sekaligus pemegang kekuasaan adat dalam Marga Kembahang Paksi Buay Jalan diwai, hal ini disebabkan di dalam tatanan adat Paksi Pak Skala Brak berlaku adat Saibatin lulus Kawai. Sedangkan suami beliau walaupun telah diakui sebagai kepala marga, tetapi kedudukan dalam adat adalah Semanda.&lt;br /&gt;Sejak tahun 1969, putra sulung Siti Asma Dewi bernama Azrim Effendi Puspa Negara merupakan keturunan lurus ke 19 buay Bejalan Diwai menggantikan ibundanya sebagai Raja Adat/Saibatin Paksi Buay Bejalan Diwai dan bergelar Sutan Jaya Kesuma III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra sulung Suttan Jaya Kesuma bernama selayar Akbar Puspa Negara SE, telah dipersiapkan untuk menggantikan ayahandanya sebagai Raja Adat/Saibatin Buay jalan di Way Keturunan lurus ke 20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Sumber: RAJA ADAT PAKSI BUAY JALAN DIWAI ) demikian tertulis ketika saya lakukan search di internet.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-3815295417501796928?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/3815295417501796928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/sejarah-paksi-buay-bejalan-diway.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/3815295417501796928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/3815295417501796928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/sejarah-paksi-buay-bejalan-diway.html' title='Sejarah Paksi Buay Bejalan Diway'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ygmSQbjbQgA/TzQRzcsfIOI/AAAAAAAABBA/dNig2IdrZJs/s72-c/283018_1918601606367_1281829679_31797900_1138064_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-3041445083939156897</id><published>2012-02-09T02:20:00.000-08:00</published><updated>2012-02-09T03:19:45.649-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>PANTUN AZIMAT Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ioxC8nsiFJc/TzOob-f_2zI/AAAAAAAABAo/MhxU4eQLwAA/s1600/eagle.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 281px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ioxC8nsiFJc/TzOob-f_2zI/AAAAAAAABAo/MhxU4eQLwAA/s320/eagle.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707090351395691314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Kenui ( Elang ) Bahuta adalah Simbol Lambang Paksi Nyerupa )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CECO NI RATU BUAY NYERUPA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ratu Buay Nyerupa, sangun Sai Batin Paksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ratu jak Sekala Brak, Bejual Mak Ngabeli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Midoer ( Siba ) mit dipa dipa, tedaya mawek lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Puakhini dipa dipa, Lamon ssai ngangkonni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pusakani Lamon Nyawa, Lamon Juga Jelmani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Betitah Lawan Jelma, Rik Lawan Rakyatni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nyembah Tuhan Kuasa, Ngajunjung Kalam Ilahi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tungkok ni ditebing Liyoh, Nyerupa ditebing Heni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sai Batin Aga Lapah, Dipikul Oloen Puari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lebon ia dang dipenah, senodo Sai Batin Paksi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Sumber : Sultan Paksi Buay Nyerupa, Puniakan Dalom Salman Parsi )&lt;br /&gt;=================================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-K19H6EGLS-I/TzOocAfrXXI/AAAAAAAABAw/OQ_fb6TJ_5E/s1600/hewan-kijang.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 273px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-K19H6EGLS-I/TzOocAfrXXI/AAAAAAAABAw/OQ_fb6TJ_5E/s320/hewan-kijang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707090351931219314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Kijang Melipit Tebing adalah Simbol Lambang Paksi Pernong)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CICA NI PAKSI BUAY PERNONG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Paksi Pak ghalni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sinno asli ni Lampung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ngejual mak ngebeli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dilom adat ni Lampung”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Pisan simbayang tinggal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tepanjin di nekhaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pisan saibatin tisakkal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;hak lebon suaka mena”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Khiah-khiah kik dawah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kekunang kik debingi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kik Sai Batin mekhintah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tisangsat kham kipak mati”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( Sumber : buaypernong.blogspot.com )&lt;br /&gt;==================================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Catatan Saliwa : cicca dua paksi lainnya masih dalam proses pengumpulan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-3041445083939156897?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/3041445083939156897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/pantun-azimat-kerajaan-adat-paksi-pak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/3041445083939156897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/3041445083939156897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/pantun-azimat-kerajaan-adat-paksi-pak.html' title='PANTUN AZIMAT Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ioxC8nsiFJc/TzOob-f_2zI/AAAAAAAABAo/MhxU4eQLwAA/s72-c/eagle.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-7641291642298923426</id><published>2012-02-05T19:26:00.000-08:00</published><updated>2012-02-05T20:05:23.844-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEPEMUDAAN'/><title type='text'>TARI TUPPING PESISIR : EKSPRESI TOPENG LAMPUNG</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Ur2-3KF4OOE/Ty9LX1hfmdI/AAAAAAAAA-U/AJA7bJSY98E/s1600/DSC_0062.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 217px; height: 338px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Ur2-3KF4OOE/Ty9LX1hfmdI/AAAAAAAAA-U/AJA7bJSY98E/s320/DSC_0062.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705862125778344402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menelaah Tari Tupping Pesisekh &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tugas Akhir Penciptaan Tari : Nina Esti Anggraeny&lt;br /&gt;Dosen Pembimbing : 1. Raja Alfirafindra ,M.Hum 2. Sarjiwo ,M.Pd&lt;br /&gt;Penari : Saliwa, Radi, Gusbang, Dika, Recki, Frans, Ganang.&lt;br /&gt;Komposer Musik : Suhendri Wijaya S.Sn&lt;br /&gt;ISI Yogyakarta, 17 Januari 2012&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Topeng  merupakan bagian ekspresi seni budaya masyarakat Lampung, khususnya  didaerah ia berkembang seperti dataran Sekala Brak Lampung Barat,  Tanggamus dan Lampung Selatan. Lampung memiliki dua bentuk kesenian  topeng yaitu topeng Sekura di Lampung Barat dan Tupping di Lampung  Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekura-an merupakan kegiatan pesta rakyat yang  diselenggarakan setelah menyelesaikan ibadah puasa dan memasuki bulan  Syawal dengan berbagai kegiatan yang diikuti seluruh lapisan masyarakat  setempat. Dalam pandangan umum Pesta Sekura (Sekuraan) ini hampir sama  dengan upacara bersih desa sebagai ungkapan rasa syukur pada masyarakat  Jawa. Namun sekuraan juga lebih identik dengan ungkapan kemenangan,  kebebasan, dan kegembiraan  jiwa manusia untuk berkreasi dan berekspresi. Dengan semangat itulah  pesta sekura juga digelar untuk merayakan Kemerdekaan Republik Indonesia  tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Pesta rakyat Sekura ini selalu  menggunakan topeng Sekura sebagai suatu ciri yang khas, topeng Sekura  terdiri dari dua jenis yaitu Sekura Kamak (kotor) dan Sekura Helau/Betik  (bagus), Sekura Kamak memiliki ciri khas dengan mengenakan pakaian  compang camping, kotor dan lusuh sedangkan Sekura Helau/Betik mengenakan  pakaian yang bersih dan rapih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tupping memiliki fungsi  yang  berbeda dengan Sekura, Tupping merupakan salah satu kesenian  topeng yang berasal dari Lampung Selatan yang berfungsi sebagai salah  satu rangkaian acara dalam ritual (upacara) adat masyarakat Pesisir  Lampung Selatan. Tupping dianggap oleh masyarakat Pesisir Lampung  Selatan berfungsi sebagai topeng sakral penolak bala pada tiap acara  ritual (upacara) adat antara lain arak-arakan baik  dalam prosesi adat perkawinan, pengangkatan kepala marga (Bujenong Jaro  Marga), ruwatan hasil laut, dan Upacara Adat Khitanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tupping  memiliki latar belakang pada zaman dahulu sebagai pasukan tempur dan  pengawal rahasia Radin Intan I (1751-1828), Radin Imba (1828-1834),  Radin Intan II (1834-1856). Pasukan prajurit Tupping pada zaman dahulu  merupakan pasukan prajurit atau pejuang bagi rakyat Lampung yang  berperan mengusir para penjajah yang membuat resah bumi Lampung. Sebagai  bagian dari Tentara Gerilia dengan memakai Tupping (Topeng) mempunyai  maksud dan tujuan untuk menutupi jati diri yang sesungguhnya sebagai  pasukan pejuang masyarakat Lampung. Kostum yang dikenakan pasukan  Tupping adalah dedaunan hutan dan daun pisang kering (klahar) juga  berfungsi sebagai penutup jati diri Tupping. Tupping saat ini tidak lagi  berperan dan berfungsi sebagai Tentara Gerilia, namun saat ini Tupping  berfungsi sebagai salah satu tarian kerakyatan yang  berjudul tari “Tupping“ yang biasanya dipentaskan pada ritual (upacara)  adat masyarakat Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi Tupping di kalangan masyarakat adat  pesisir yang tinggal di kaki gunung Rajabasa ini sangat erat dengan  sejarah Keratuan Darah Putih. Keratuan Darah Putih merupakan kelompok  Marga yang hidup di kawasan pesisir selatan Kabupaten Lampung Selatan,  terletak di kaki gunung Rajabasa Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tari Tupping Pesisir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni  topeng yang dulunya banyak menekankan unsur-unsur  magis-simbolik-filosofis ekspresi topeng dan persyaratan yang rumit dan  berbau mistik perlahan-lahan dihilangkan. Karya tari ini tidak  mengangkat mengenai unsur mistik, namun karya ini mengangkat tentang  ritual“Tupping“ yang dikenal sakral dan memiliki kekuatan magis oleh  masyarakat Lampung. Mantra yang dibaca dalam ritual yaitu:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tukok  lemoh, tukokni Batin Ratu  najin di lawok akhong. Najin di lawok akhong ku selom sapa niku woi.  Ngalu-ngalu di jambat, sanak liyu wat ukhus sapa liyu kusambat. Sapa  liyu kusambat woi, nyak ngulih-ngulih niku woi”.&lt;/span&gt; Artinya : “Kaki  yang lemah, kakinya Batin Khatu walau di laut hitam. Walau di laut hitam  ku selam siapa kamu woi. Bertemu-temu di jembatan, anak lewat ada  keperluan siapa kamu kutegur. Siapa kamu kutegur, saya bertanya-tanya  kamu woi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik dan syair dari mantra ini sudah bisa diserap  dari isinya yaitu kewaspadaan dan pencarian terhadap siapapun yang  membuat ulah di bumi Lampung, akan selalu dikejar walau sampai ke laut  hitam. Mantra ini biasanya di dendangkan pada saat menari Tupping.&lt;br /&gt;Karya  tari ini mengusung tema tentang Kewaspadaan, karena dalam gerak Tari  Tupping Pesisekh terdapat gerak-gerak yang mengandung makna kewaspadaan,  berjaga-jaga, mengintai dan berhati-hati karena Tupping merupakan sosok  mata-mata. “Tupping  Pesisekh” yang memiliki makna Tupping artinya topeng dan Pesisekh  artinya Pesisir, judul tersebut diambil berdasarkan ekpresi topeng yang  sebagian besar berkembang pada masyarakat pesisir di Lampung, seperti  Lampung Barat dan khusunya Pesisir Kalianda Lampung Selatan. Kata   topeng dalam ensiklopedi tari Indonesia terdiri dari kata tup yang  berarti tutup, kemudian karena pengaruh gejala bahasa maka kata tup ini  ditambah eng menjadi tupeng, tupeng kemudian mengalami beberapa  perubahan sehingga menjadi topeng, ada juga yang berpendapat topeng  berasal dari kata ping, peng, pung dan sebagainya, yang berarti  merapatkan kepada sesuatu atau menekan padanya. Maksudnya adalah  menutupi wajah dan menutupi jati diri dari seseorang yang memakai  Tupping. Properti Tupping digunakan dalam karya tugas akhir ini adalah  Tupping asli yang dibuat di Lampung, agar rasa dan roh dalam garapan  karya tari ini dapat tertuang secara penuh pada penari maupun  pemusik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="yui_3_2_0_1_13284988368751998"&gt;&lt;br /&gt;Selaian  perwujudan salah satu karakter gagah kesatria yang bersifat selalu  melindungi seperti yang tersirat dalam topeng-topeng kayu yang ada  dilampung baik sekura maupun tupping, tarian ini juga digarap  berdasarkan ritual tupping yang masih berkembang hingga saat ini di  daerah Lampung Selatan. Selain dari properti Tupping dan Jubah Klahar  yang menutupi seluruh tubuh dengan daun pisang kering, garapan Tupping  juga dapat diperkuat sisi magis dan ritualnya yaitu dengan mantra  Tupping. Iringan musik pada karya tari ini menggunakan musik live/  langsung dan di komposeri seniman muda Lampung oleh suhendri wijaya  S.Sn. Iringan musik live/langsung dapat memperkuat suasana tari dan  menggunakan pola musik tradisi Lampung yang diwakili oleh seperangkat  Talo Balak. Instrumen yang digunakan antara lain kelenongan, gong,  bende, gujih, gendang, bedug, rebana, gamolan pring/cetik, seruling,  dijiridu, biola vokal Muayak dan Mantra Tupping. Jenis  pukulan atau Tabuhan yang digunakan antara lain Tabuh Melinting (Tabuh  Kedanggung), Tabuh Bedana (Tahtim), Tabuh Ojan/Labung Tuyun dan Tabuh  Hadrah. Beberapa instrumen tersebut dihadirkan mengingat untuk  memperkuat dan menghadirkan suasana musik Lampung, selain itu juga pada  garapan ini menggunakan permainan musik ilustrasi yang berbentuk vokal  Mantra Tupping dan Muayak yang dapat memperkuat suasana ritualnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tarian  Tupping Pesisir ini diangkat oleh koreografer Nina Esti Anggraeni  mahasiswi Lampung asal Lampung Selatan, guna menempuh Tugas Akhir  penciptaan karya tari dan dipentaskan pada tanggal 15 Januari 2012 di  Auditorium Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta dalam   Gelar Resital Tari 2012 bertema WARNAKU WARNAMU, yang menyuguhkan Karya  dari 10 Koreografer. Suatu kehormatan bagi masyarakat Lampung di  Yogyakarta karya tari ini  diberi kesempatan oleh Penyelenggara PBTY VII  diantaranya Seniman Didik Ninik  Thowok, untuk dipentaskan kembali pada tanggal 3 Februari 2012 dalam  event tahunan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta VII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Berikut dokumentasi Tari Tupping Pesisekh :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-N0a7dlG6vhc/Ty9LXz_TycI/AAAAAAAAA-c/qiUx-fougCc/s1600/DSC_0222%2Bcopy%2B-%2BCopy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 207px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-N0a7dlG6vhc/Ty9LXz_TycI/AAAAAAAAA-c/qiUx-fougCc/s320/DSC_0222%2Bcopy%2B-%2BCopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705862125366528450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-jHvRML-wZMQ/Ty9M9CP4PnI/AAAAAAAAA_s/cwHd3qVLF-w/s1600/DSC_0235%2Bcopy.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-jHvRML-wZMQ/Ty9M9CP4PnI/AAAAAAAAA_s/cwHd3qVLF-w/s320/DSC_0235%2Bcopy.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705863864360910450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Adegan Upacara Sakral Permohonan Izin )&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-1r18TZLIQKM/Ty9LZJaKtCI/AAAAAAAAA_E/MfSZY34rIpA/s1600/DSC_0233%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-1r18TZLIQKM/Ty9LZJaKtCI/AAAAAAAAA_E/MfSZY34rIpA/s320/DSC_0233%2Bcopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705862148296193058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Adegan Pembersihan Diri )&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Lnq29JQ33LI/Ty9LYOdMixI/AAAAAAAAA-s/FaLKVb-q77c/s1600/DSC_0284%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Lnq29JQ33LI/Ty9LYOdMixI/AAAAAAAAA-s/FaLKVb-q77c/s320/DSC_0284%2Bcopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705862132471204626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Ruh Keperkasaan dan Keberanian masuk kedalah tubuh Tupping )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-EMClWpDm3u8/Ty9LY5J0tvI/AAAAAAAAA-4/pYA73LsDptc/s1600/DSC_0294%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-EMClWpDm3u8/Ty9LY5J0tvI/AAAAAAAAA-4/pYA73LsDptc/s320/DSC_0294%2Bcopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705862143932675826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-maTLQib6P-o/Ty9M9GwhvOI/AAAAAAAAA_8/coelPhsDcVg/s1600/DSC_0301%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-maTLQib6P-o/Ty9M9GwhvOI/AAAAAAAAA_8/coelPhsDcVg/s320/DSC_0301%2Bcopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705863865571589346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Tupping sebagai kesatria pelindung dan mata mata )&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-2g5d59cIwEo/Ty9MQJosmKI/AAAAAAAAA_g/NuoPHCyqwjc/s1600/DSC_0082%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-2g5d59cIwEo/Ty9MQJosmKI/AAAAAAAAA_g/NuoPHCyqwjc/s320/DSC_0082%2Bcopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705863093249939618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Penari : Radi, Saliwa, Gusbang, Dika, Ganang, Frans, Recki )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-1NfgoSDSel8/Ty9RCnTC9iI/AAAAAAAABAE/A4H1PIDmjzI/s1600/DSC_0210%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-1NfgoSDSel8/Ty9RCnTC9iI/AAAAAAAABAE/A4H1PIDmjzI/s320/DSC_0210%2Bcopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705868358252164642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Pemusik Tari Tupping Pesisekh )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0_qPaMuqlZQ/Ty9MP8gxIDI/AAAAAAAAA_U/AEG7KKqfRJE/s1600/DSC_0188%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-0_qPaMuqlZQ/Ty9MP8gxIDI/AAAAAAAAA_U/AEG7KKqfRJE/s320/DSC_0188%2Bcopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705863089727021106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Crew Tari Tupping Pesisekh )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-7641291642298923426?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/7641291642298923426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/tari-tupping-pesisir-ekspresi-topeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7641291642298923426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7641291642298923426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/tari-tupping-pesisir-ekspresi-topeng.html' title='TARI TUPPING PESISIR : EKSPRESI TOPENG LAMPUNG'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Ur2-3KF4OOE/Ty9LX1hfmdI/AAAAAAAAA-U/AJA7bJSY98E/s72-c/DSC_0062.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-8352262133542621071</id><published>2012-02-04T22:14:00.000-08:00</published><updated>2012-02-04T22:20:07.640-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEPEMUDAAN'/><title type='text'>Tokoh Nasional Dari Liwa (Sekala Brak) Bidang Pendidikan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-pmB4RSOTmfs/Ty4fQ70A53I/AAAAAAAAA-I/IHntx_w9t30/s1600/raislatief.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 227px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-pmB4RSOTmfs/Ty4fQ70A53I/AAAAAAAAA-I/IHntx_w9t30/s320/raislatief.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705532153719220082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rais Latief (1900-1977): Pendidikan 'Par Excellence' Prakemerdekaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;SAAT Tanah Air masih berbalut kolonialisme, Lampung Barat awal abad  ke-20 sudah mengembangkan tradisi intelektual muslim yang tergolong luar  biasa; diukur masa sekarang sekalipun. Di kawasan Talangparis terdapat  sekolah dan madrasah Muhammadiyah dengan deretan pengajar lulusan luar  negeri. Salah satunya &lt;b&gt;H. Rais Latief.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lahir awal abad lalu, sekitar tahun 1900, di Gedung Asin, Liwa, saat ini  merupakan Desa Sebarus, 1 km dari Pasar Liwa. Setelah menyelesaikan  sekolah rakyat di Liwa, Rais muda melanjutkan pendidikan ke sekolah  agama Thawalib di Padang Panjang. Karena ketiadaan biaya, mereka  kemudian kembali ke kampung membantu sang ayah berdagang kopi dan hasil  bumi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memiliki cukup biaya transportasi, berangkatlah Rais menuju  Kairo melanjutkan pendidikan dan tujuh tahun bermukim di sana. Selesai  sekolah di Kairo, berangkat Rais ke Mekah memperdalam ilmu hadis. Di  Mekah bermukim empat tahun sebelum akhirnya kembali ke Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang ke Tanah Air, Rais singgah di Singapura, dan  mengajar di madrasah Sultan (kini di kompleks masjid Sultan di Arab  Street Singapura).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang mengajar dari Negeri Singa, Rais langsung kembali ke Tanah Air  di Batavia (Betawi). Bersama-sama dengan alumnus dari Kairo seperti H.  Sulaiman Rasyid (almarhum pengarah buku fikih berbahasa Indonesia yang  pertama)--kebetulan berasal dari kampung yang sama--lalu mendirikan  sekolah Mualimin di Gang Sentiong Batavia. Sekolah ini terkenal pada  masanya dan mampu bersaing dengan sekolah setara yang dipimpin para  pastor bangsa asing saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Perang Dunia II, Rais kembali ke Lampung dan mengabdi di tanah  tercinta. Pada masa tersebut, dia mendirikan sekolah di Talangparis,  daerah Liwa, dekat Bukit Kemuning kini. Salah satu muridnya K.H. Arief  Mahya (diakui beliau dalam autobiografinya). Kemudian Rais mengajar di  Wustho Mualimin Muhammadiyah di Liwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah ini diperkenalkan sistem pendidikan modern dengan proses  belajar-mengajar yang sangat progresif. Setiap awal hari didahului  dengan senam dengan aba-aba menggunakan bahasa Arab sebelum memulai  pelajaran. Para siswa diharuskan bercelana panjang dan bersepatu. Jika  celana panjang kotor, diperbolehkan berkain dan bersandal. Semua pakaian  harus bersih dan rapi. Semua itu amat maju untuk masyarakat kampung  saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mengajar di Whustho Mualimin inilah beliau dijodohkan dengan mantan  muridnya, gadis sedesa. Setelah perang usai, keinginan kembali berkarya  di Batavia kembali muncul. Pada 1949, setelah semua pegawai  berkebangsaan Belanda kembali ke negerinya, Pemerintah RI yang masih  muda membutuhkan banyak tenaga terdidik mengisi lowongan di semua  jawatan (kini namanya departemen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1950 diterima surat panggilan (kawat) untuk datang ke Jakarta  mengisi lowongan di Jawatan Penerangan Agama yang kemudian menjadi  Departemen Agama. Jawatan Penerangan Agama ini yang kemudian membenahi  pendidikan agama di seluruh tingkatan sekolah. Karena banyak alumnus  sekolah agama seperti pesantren tidak dilengkapi ijazah, diambil  kebijakan melakukan ujian persamaan (ujian guru agama atau UGA) bagi  mengisi lowongan guru agama di SD, SMP, dan SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan itu, didirikan sekolah untuk mendidik guru-guru agama  atau SGA (sekolah guru agama). Di bidang penyediaan buku dibentuk tim  yang ditugaskan mengadakan buku agama yang berbahasa Indonesia. Ada yang  ditugaskan menerjemahkan Alquran, ada pula yang ditugaskan menyusun  terjemahan hadis sahih Bukhari; ada yang diminta menyusun fikih Islam  (almarhum H. Sulaiman Rasyid); dan ada yang diminta menyusun terjemahan  hadis sahih Muslim, yakni H. Rais Latief bersama dengan H. Abdul Razak  (asal Kotabumi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku tersebut merupakan cikal-bakal buku-buku agama berbahasa  Indonesia karya anak bangsa kemudian hari. Buku tersebut sangat populer  beredar dan dicetak berulang-ulang di Malaysia dan Singapura.&lt;br /&gt;Sekitar 1962 setelah pensiun sebagai pegawai tinggi Departemen Agama,  ketimbang mengajar di perguruan tinggi agama Islam di Jakarta, beliau  memilih pulang ke Lampung. Di Lampung Rais kembali memimpin Sekolah  Tsanawiah Muhammadiyah Pekon Tengah Sebarus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah ini sampai kelas IV. Karena tidak ada aliah di Liwa, para  alumnusnya melanjutkan di kota-kota lain seperti Yogya. Dengan kualitas  memadai, lulusan tsanawiah ini bisa diterima di kelas II aliah atau SMA  di Yogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rais tetap mengajar sampai berusia 70 tahun. Beliau wafat pada usia 77  tahun dan dikebumikan di Desa Sebarus Liwa di dekat tempatnya mengajar  dan di tengah masyarakat yang begitu dicintainya. n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;b&gt;Sumber: &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;span&gt;Heri Wardoyo, dkk. 2008. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional&lt;/span&gt;&lt;span&gt;. Bandar Lampung: Lampung Post.&lt;/span&gt;Hlm. 9-11.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-8352262133542621071?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/8352262133542621071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/tokoh-nasional-dari-liwa-sekala-brak_331.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/8352262133542621071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/8352262133542621071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/tokoh-nasional-dari-liwa-sekala-brak_331.html' title='Tokoh Nasional Dari Liwa (Sekala Brak) Bidang Pendidikan'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-pmB4RSOTmfs/Ty4fQ70A53I/AAAAAAAAA-I/IHntx_w9t30/s72-c/raislatief.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-1282461526074109358</id><published>2012-02-04T21:50:00.000-08:00</published><updated>2012-02-04T22:20:46.175-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEPEMUDAAN'/><title type='text'>Tokoh Nasional Dari Liwa (Sekala Brak) Bidang Fikih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-kNxojKIzGDM/Ty4cOsS5AxI/AAAAAAAAA9k/jp6aJwRCRoE/s1600/H%2BSulaiman%2BRasjid.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-kNxojKIzGDM/Ty4cOsS5AxI/AAAAAAAAA9k/jp6aJwRCRoE/s320/H%2BSulaiman%2BRasjid.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705528816659137298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sulaiman Rasyid (1898-1976)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyusun Fikih pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Ilmu Pengetahuan itu milik orang mukmin yang hilang. Di mana saja ia menemukannya, dia lebih berhak atasnya &lt;/i&gt;(Hadis Riwayat At-Turmudzy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALAH satu wujud keindahan dan kesempurnaan ajaran agama Islam adalah  fikih. Di dalamnya setiap orang bisa membaca aturan-aturan yang praktis.  Sebuah ajaran yang, mengutip kata-kata Muhamad Iqbal, mengarahkan  manusia pada tindakan dan bukan sekadar wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terbayangkah kesukaran seperti apa yang akan dihadapi umat Islam  yang hidup kini seandainya tidak ada seorang seperti Haji Sulaiman  Rasjid bin Lasa. Dialah penyusun fikih pertama di negeri ini. &lt;i&gt;Fiqih Islam&lt;/i&gt;,  terbit 1951, karangan pria kelahiran Pekon Tengah, Liwa, tahun 1898,  menjadi buku wajib di perguruan tinggi dan menengah di Indonesia serta  Malaysia, sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaannya pada Islam membawa Sulaiman Rasjid (1926) belajar ke  sekolah Mualim, sekolah guru, di Mesir. Kemudian ia melanjutkan ke  Perguruan Tinggi Al-Azhar Kairo Mesir, Jurusan Takhashus Fiqh (Ilmu  Hukum Islam) dan selesai 1935.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah lelaki bersahaja ini lebih mendalami bahasa Arab sebelum  akhirnya menyusun kitab fikih. Ini bukanlah sekadar usaha menyalin atau  menerjemahkan hukum Islam ke dalam bahasa Indonesia. Sulaiman Rasjid  harus "menaklukkan" kompleksitas bahasa Arab. Tata bahasa Arab pun  sangat rasional dan saksama, tapi rumit, apalagi jika dibanding dengan  bahasa Indonesia. Bahkan, bunyi suatu kata dapat mengakibatkan perbedaan  arti yang sangat jauh. Namun, semua ini tidak membuat semangat Rasjid  berkurang sedikit pun. Justru ia makin gigih memahami keunikan dan  kekayaan bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat usaha Sahabat Utsman bin Affan ra., mengumpulkan ayat-ayat  Alquran yang berserakan, kemudian dibukukan, umat Islam (bahkan  non-Islam) banyak memetik manfaat besar dari Alquran. Demikian pula,  berkat upaya Haji Sulaiman Rasjid menyusun buku fikih versi Indonesia,  umat Islam di negeri ini bisa meraih hikmah sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pengabdian Rasjid bukan cuma untuk agamanya. Ia juga seorang  pemikir dan pejuang bangsa. Pada 1936, bapak delapan anak ini ditunjuk  Belanda sebagai ketua Penyelidik Hukum Agama di Lampung. Dalam rentang  1937--1942, dia menjadi pegawai tinggi agama pada kantor Syambu dalam  era pendudukan Jepang. Namun, kedudukan yang diembannya tidak  menghalanginya mengangkat senjata. Setahun menjelang kemerdekaan,  Sulaiman berjuang di Kalianda bersama tokoh setempat, H. Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Indonesia merdeka, Presiden Sukarno menugaskannya ke Departemen  Agama Republik Indonesia, lantas menjadi kepala Jawatan Agama Republik  Indonesia Jakarta (1947--1955) lalu memangku amanat sebagai kepala  Perjalanan Haji Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun itu pula ia menjadi staf ahli Kementerian Agama Republik  Indonesia sekaligus menjadi asisten dosen Perguruan Tinggi Agama Islam  (PTIAN) Jakarta sembari mengajar sebagai dosen PTAIN Yogyakarta. Tahun  1960, Sulaiman Rasjid diangkat menjadi guru besar Ilmu Fikih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah delapan putra-putri dan kakek 20 cucu ini juga tercatat sebagai  pendiri IAIN Radin Intan Lampung tahun 1964 silam. Sulaiman, yang amat  menekankan nilai-nilai pendidikan dan mewajibkan semua anaknya menempuh  pendidikan tinggi, wafat 26 Januari 1976 dan dimakamkan di TPU  Pakiskawat Enggal, Bandar Lampung. n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-jXNf4BR7Kl0/Ty4cOp2do3I/AAAAAAAAA9s/eCacWtNOJQ4/s1600/Bpk%2BAkram%2BMarried%2BParty%2B1%2BApril%2B2007.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 392px; height: 307px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-jXNf4BR7Kl0/Ty4cOp2do3I/AAAAAAAAA9s/eCacWtNOJQ4/s320/Bpk%2BAkram%2BMarried%2BParty%2B1%2BApril%2B2007.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705528816003031922" border="0" /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Foto Novan Saliwa saat pernikahan cucu dari ( Alm) Sulaiman Rasyid di Jogja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menggunakan adat Sai Batin )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;BIODATA &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama: &lt;b&gt;H. Sulaiman Rasyid bin Lasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lahir: Pekon Tengah Liwa, Lampung Barat, 1898&lt;br /&gt;Meninggal: Bandar Lampung, 26 Januari 1976&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan:&lt;br /&gt;1. Sekolah Mualim, sekolah guru di Mesir&lt;br /&gt;2. Perguruan Tinggi Al-Azhar Kairo Mesir, Jurusan Takhasuhus Fiqh (Ilmu Hukum Islam) selesai tahun 1935&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahun 1936: &lt;/b&gt;Ditunjuk Belanda sebagai Ketua Penyelidik Hukum Agama di Lampung&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahun 1937--1942: &lt;/b&gt;Pegawai Tinggi Agama pada Kantor Syambu dalam Zaman Pendudukan Jepang&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;b&gt;Sumber: &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:x-small;"&gt;&lt;span&gt;Heri Wardoyo, dkk. 2008. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional&lt;/span&gt;&lt;span&gt;. Bandar Lampung: Lampung Post.&lt;/span&gt; Hlm. 3-4&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-1282461526074109358?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/1282461526074109358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/tokoh-nasional-dari-liwa-sekala-brak_04.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/1282461526074109358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/1282461526074109358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/tokoh-nasional-dari-liwa-sekala-brak_04.html' title='Tokoh Nasional Dari Liwa (Sekala Brak) Bidang Fikih'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-kNxojKIzGDM/Ty4cOsS5AxI/AAAAAAAAA9k/jp6aJwRCRoE/s72-c/H%2BSulaiman%2BRasjid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-7602637555902599915</id><published>2012-02-04T21:22:00.001-08:00</published><updated>2012-02-04T22:21:57.725-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEPEMUDAAN'/><title type='text'>Tokoh Nasional Dari Liwa ( Sekala Brak ) Bidang Kesehatan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-3s8sPBEW2QY/Ty4W4HKY9oI/AAAAAAAAA9Y/cqQYVDzHhP0/s1600/Farid%2BAnfasa%2BMoeloek%2BLiwa.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 242px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-3s8sPBEW2QY/Ty4W4HKY9oI/AAAAAAAAA9Y/cqQYVDzHhP0/s320/Farid%2BAnfasa%2BMoeloek%2BLiwa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705522931176109698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Foto dari Novan Saliwa saat acara arakan adat Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak di TMII, Lampung Jejamo )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.google.com/url?sa=t&amp;amp;rct=j&amp;amp;q=&amp;amp;esrc=s&amp;amp;source=web&amp;amp;cd=8&amp;amp;ved=0CGAQFjAH&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.scribd.com%2Fdoc%2F75960906%2FProf-DR-Dr-H-Farid-Anfasa-Moeloek-SpOG&amp;amp;ei=9BMuT8H5Doa8rAeMpsXVDA&amp;amp;usg=AFQjCNFhXT17eW0qtjmcLIFXzziH0Tp8bQ" class="l"&gt;Prof DR Dr H Farid Anfasa &lt;em&gt;Moeloek&lt;/em&gt; SpOG&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;(lahir di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Liwa" title="Liwa"&gt;Liwa&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lampung_Barat" title="Lampung Barat" class="mw-redirect"&gt;Lampung Barat&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lampung" title="Lampung"&gt;Lampung&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/28_Juni" title="28 Juni"&gt;28 Juni&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1944" title="1944"&gt;1944&lt;/a&gt;) adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Menteri_Kesehatan_Republik_Indonesia" title="Menteri Kesehatan Republik Indonesia" class="mw-redirect"&gt;Menteri Kesehatan&lt;/a&gt; pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabinet_Reformasi_Pembangunan" title="Kabinet Reformasi Pembangunan"&gt;Kabinet Reformasi Pembangunan&lt;/a&gt;.Keluarga Moeloek merupakan salah satu dinasti dokter sukses di Indonesia. Istrinya &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nila_Djuwita_Anfasa_Moeloek" title="Nila Djuwita Anfasa Moeloek"&gt;Nila Djuwita Anfasa Moeloek&lt;/a&gt; hampir duduk sebagai Menteri Kesehatan pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabinet_Indonesia_Bersatu_II" title="Kabinet Indonesia Bersatu II"&gt;Kabinet Indonesia Bersatu II&lt;/a&gt;. Ayahnya, dr H. Abdul Moeloek yang berasal dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Padangpanjang" title="Padangpanjang" class="mw-redirect"&gt;Padangpanjang&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Barat" title="Sumatera Barat"&gt;Sumatera Barat&lt;/a&gt;, mengelola rumah sakit di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tanjung_Karang" title="Tanjung Karang" class="mw-redirect"&gt;Tanjung Karang&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lampung" title="Lampung"&gt;Lampung&lt;/a&gt;. Adiknya Nukman Moeloek, menjadi salah seorang guru besar di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fakultas_Kedokteran_Universitas_Indonesia" title="Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia"&gt;Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan beliau :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;FK UI, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta" title="Jakarta" class="mw-redirect"&gt;Jakarta&lt;/a&gt; (1970)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Spesialisasi Kebidanan/Kandungan di FK UI (1976)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kursus WHO dalam Fertility Management dan Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura" title="Singapura"&gt;Singapura&lt;/a&gt; (1977)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ilmu Kebidanan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=University_Johns_Hopkins&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="University Johns Hopkins (halaman belum tersedia)"&gt;University Johns Hopkins&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat" title="Amerika Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt; (1979)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendidikan Lanjutan Operasi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Endoskopi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Endoskopi (halaman belum tersedia)"&gt;Endoskopi&lt;/a&gt; dalam Sterilisasi dan Infertilitas di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman_Barat" title="Jerman Barat"&gt;Jerman Barat&lt;/a&gt; (1980)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Doktor dalam Ilmu Kebidanan dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ginekologi" title="Ginekologi"&gt;Ginekologi&lt;/a&gt;-Cum Laude FK UI (1983)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Guru Besar FKUI (1994)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-G98RwKhrDV0/Ty4V9qLezwI/AAAAAAAAA9M/SCOs4z9hrf8/s1600/img09112009444071.jpg.pagespeed.ce.0LKFtGXgvu.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 278px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-G98RwKhrDV0/Ty4V9qLezwI/AAAAAAAAA9M/SCOs4z9hrf8/s320/img09112009444071.jpg.pagespeed.ce.0LKFtGXgvu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705521926963646210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karier beliau:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dosen di FK UI (1971-sekarang) Dosen Pascasarjana bagian Obstetri dan Ginekologi FK UI&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kepala Subbagian Kesehatan Reproduksi Klinik Raden Saleh&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Deputi Direktur Bidang Akademik, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1990-1996&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Direktur Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1996-1998&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menteri Kesehatan RI Kabinet Pembangunan VII&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menteri Kesehatan RI Kabinet Reformasi Pembangunan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anggota MPR RI (1999)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Profesi masa lampau:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ketua Eksekutif, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (PB POGI)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketua Umum, Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketua, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Jakarta Chapter&lt;/li&gt;&lt;li&gt;General Chairman, of the VIII World Congress on Human Reproduction  and IV World Conference ob Fallopian Tube in Health and Disease in Bali,  4-6 April 1993&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketua Umum, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI-IMA), (2003 – 2006)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berperan aktif dalam penyelesaian Rumah Sakit Umum Liwa, Lampung Barat, 1998&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berperan aktif dalam penyelesaian pendirian Fakultas Kedokteran di Universitas Lampung (Unila), 1998-sampai saat ini&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketua Penanggung Jawab, Ketua Pengarah Tim Pemeriksaan Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (2004)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tim Penilai Independen Pengendalian Dampak Lingkungan, Menteri Negara Lingkungan Hidup (2006—2008)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;President, Medical Association of South East Asia Nation / Masean Council (2003 – 2006)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Keanggotaan kehormatan:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Honorary Member of International Society on Human Reproduction&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Honorary Member of Society on Fallopian Tube in Health and Disease&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-fsGbdToz6Ao/Ty4VfwHkHJI/AAAAAAAAA80/e_3uNtcmzhE/s1600/antarafoto-1317030311-.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-fsGbdToz6Ao/Ty4VfwHkHJI/AAAAAAAAA80/e_3uNtcmzhE/s320/antarafoto-1317030311-.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705521413161753746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Penghargaan kepa beliau:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bintang Republik Indonesia Maha Putra Adipradana (1999)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Satyalancana Karya Satya Republik Indonesia XXX Tahun (2002)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penghargaan Adi Satya Utama dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) (1996)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penghargaan 'Prof Mohtar Award' dalam bidang Ilmiah dan Riset, dari Indonesian Public Health Association (IAKMI) (2007)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penghargaan Bina Ekatama dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) (2002)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sumber:  http://id.wikipedia.org/wiki/Faried_Anfasa_Moeloek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;KAKEK NYA ( Abdoel Moeloek )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;KOTA Krui dan Liwa di Lampung Barat adalah tempat pengabdian pertama  Abdoel Moeloek di Lampung. Lima tahun (1940--1945) menjadi dokter di  sana, sentuhan tangannya identik dengan kesembuhan orang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Abdoel Moeloek di Krui dan Liwa telah membuka kesadaran  masyarakat tentang dunia medis. Apa pun jenis penyakitnya, masyarakat  optimis sembuh jika diobati dokter asal Sumatera Barat itu. Pasiennya  bahkan meluas sampai daerah Muara Dua, Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mengenal bapak (Abdoel Moeloek) tahun 1940. Waktu itu, beliau  menjadi dokter untuk dua kabupaten, yaitu Muara Dua dan Krui," kata  Jafri Mahyudin (82), anak angkat dr. Abdoel Moeloek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya kini diabadikan pada rumah sakit milik negara di Bandar Lampung:  Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Haji Abdul Moeloek. Dia adalah  direktur kelima Rumah Sakit Tanjungkarang (sebelum diubah menjadi RSUD  dr. Haji Abdoel Moeloek), dan paling lama memegang jabatan sebagai  direktur (selama 12 tahun, dari 1945 hingga 1957).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier Abdoel Moeloek di dunia medis diawali setelah ia lulus dari  sekolah dokter Stovia/GH, Jakarta (1932). Tahun 1935, ayah mantan  Menteri Kesehatan Farid Anfasa Moeloek ini diangkat sebagai kepala RS  Bangkiang. Dua tahun kemudian (1937), dokter kelahiran Padang Panjang,   10 Maret 1905 ini ditempatkan lagi di RS Kariadi Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman perang kemerdekaan (1940--1945) dia ditugaskan menjadi dokter  untuk wilayah Lampung (Krui dan Liwa) dan Sumatera Selatan (Muara Dua).  Abdoel Moeloek pun sempat diangkat sebagai "Bupati Perang" di Liwa  dengan pangkat mayor tituler. "Gubernur Perang"-nya adalah dr. Abdul  Gani yang saat itu gubernur Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdoel Moeloek dikenal sangat disiplin, pekerja keras, tegas, jujur, dan  dekat pada masyarakat. Ketika militer Jepang merekrut banyak warga  untuk dijadikan romusa (pekerja paksa yang tak dibayar) di Palembang,  misalnya, dia punya trik khusus. Saat itu, banyak romusa yang tidak  pulang lagi karena meninggal akibat sakit atau kurang makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak memberikan surat keterangan sakit pada warga agar tidak dijadikan  romusa oleh tentara Jepang," kata Jafri. "Saya dimasukkan jadi polisi.  Waktu itu polisi seperti palang merah, yang bertugas menolong rakyat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lima tahun di pesisir barat Lampung-Sumsel, Abdoel Moeloek  ditempatkan di RS Tanjungkarang (1945). Satu-satunya dokter saat itu,  dia menjabat Kepala RS Tanjungkarang dan RS Tentara Tanjungkarang,  setelah kedua rumah sakit itu diambil alih dari tangan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan Abdoel Moeloek menjadi penting dan sangat strategis pada saat  perang kemerdekaan (1945--1950). Ia menyuplai obat-obatan kepada para  gerilyawan Lampung. Ia juga terjun langsung menangani korban perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, ia tetap menjaga dedikasi dan profesionalitasnya sebagai dokter. Suatu hari, terjadi &lt;i&gt;clash&lt;/i&gt;  (pertempuran) antara tentara gerilya dan Belanda. Dengan pita palang  merah di lengan, ia mengobati korban-korban. Bukan hanya pejuang  Republik, melainkan juga tentara Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merawat korban perang yang terus berdatangan, Abdoel Moeloek dan  paramedis RS Tanjungkarang bekerja siang dan malam. Dia amanatkan pada  seluruh tenaga medis agar mengobati siapa saja yang dibawa ke rumah  sakit. Tidak membeda-bedakan prajurit Indonesia atau Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai sosial-kemanusiaan dan dedikasi yang ditunjukkan Abdoel  Moeloek itu selalu melekat di ingatan Farid Anfasa Moeloek; pun saat di  kemudian hari ia mengikuti karier ayahnya. "Waktu itu saya masih kecil,  tapi ingat. Saya simpati melihat dedikasi ayah," kata Farid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi Teladan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdoel Moeloek sangat suka membaca dan belajar. Di kediamannya dahulu  (depan RSUD dr. Abdoel Moeloek Bandar Lampung) ia mendesain sebuah  ruangan ukuran 3 x 4 meter untuk ruang perpustakaan. Jika tidak sedang  bekerja, ia menghabiskan waktunya di situ: Berkutat dengan buku-buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mendidik kelima putra-putrinya, metode yang dilakukan Abdoel  Moeloek patut diteladani. Dia mendidik mereka dengan perbuatan  (disiplin, sikap jujur, dan tanggung jawab), bukan dengan perkataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enam belas tahun saya ikut beliau, sampai saya punya anak dua, tidak  pernah sehari pun bapak telat melaksanakan salat subuh," kata Jafri. Apa  yang dilakukan Abdoel Moeloek itupun diikuti anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ajal menjemputnya tahun 1973, Abdoel Moeloek berpesan pada istri  dan anak-anaknya: Jasadnya tidak dimakamkan di Makam Pahlawan. Dia  beralasan agar pusaranya dekat masyarakat dan bisa dikunjungi kapan dan  oleh siapa saja. Sedangkan jika dimakamkan di Taman Makam Pahlawan,  keluarga dan kerabat hanya berziarah pada saat-saat tertentu atau hari  besar nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas wasiat itu, sanak-keluarga kemudian memakamkan jasadnya di Taman Permakaman Umum (TPU) Lungsir di Telukbetung Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier dan pengabdian Abdoel Moeloek diwarisi dua anaknya: Farid Anfasa  Moeloek dan Herwin Moeloek. Keduanya adalah guru besar di Fakultas  Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1984, Rumah Sakit Tanjungkarang diubah namanya menjadi Rumah  Sakit Umum Daerah dr. Haji Abdul Moeloek (SK Gubernur Provinsi Lampung  No.G/180/B/HK/1984, tanggal 7 Agustus 1984). Selanjutnya, berdasar pada  Perda Provinsi Lampung No.8 Tahun 1985 tanggal 27 Februari 1995, namanya  berubah lagi menjadi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Haji Abdul Moeloek  Provinsi Daerah Tingkat I Lampung (disahkan Menteri Dalam Negeri dengan  SK Nomor 139 Tahun 1995 dan diundangkan dalam Lembaran Daerah Provinsi  Lampung Nomor 173 Tahun 1995 pada 28 November 1995. n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BIODATA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nama: &lt;b&gt;Dr. H. Abdoel Moeloek&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tempat, tanggal lahir: Padang Panjang, 10 Maret 1905&lt;br /&gt;Meninggal: Bandar Lampung, 1973&lt;br /&gt;Pendidikan: Dokter lulusan STOVIA/GH, Jakarta, 1932&lt;br /&gt;Nama istri: Hj. Poeti Alam Naisjah&lt;br /&gt;Tempat, tanggal lahir: Solok, 29 Oktober 1914&lt;br /&gt;Jumlah anak: 5 orang (3 laki-laki dan 2 perempuan)&lt;br /&gt;Meninggal dunia di Tanjungkarang pada tahun 1973&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Pekerjaan:&lt;br /&gt;1. Kepala RS Bangkinang, 1935&lt;br /&gt;2. Dokter di RS Kariadi, Semarang, 1937&lt;br /&gt;3. Dokter di Krui, Liwa, 1940--1945&lt;br /&gt;4. Mengambil alih RS Tanjungkarang dan RS Tentara Tanjungkarang dari tangan Jepang, 1945.&lt;br /&gt;5. Kepala RS Tanjungkarang dan Kepala RS Tentara Tanjungkarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Semasa Perjuangan&lt;br /&gt;1. Menyuplai obat-obatan untuk para gerilya pada saat perang kemerdekaan (1945--1950)&lt;br /&gt;2. Atas prkarsa dan bantuan WHO, mencari sumber air bersih untuk penduduk, sebagai cikal-bakal PDAM (1950--1955)&lt;br /&gt;3. Atas prakarsa dan bantuan WHO, mengadakan program pembasmian malaria yang terbesar di Asia (1950--1960)&lt;br /&gt;4. Mendatangkan dokter-dokter spesialis yang diperlukan RS Tanjungkarang  dan RS Tentara Tanjungkarang. Dan, bekerja sama dengan WHO, karena RS  sangat kekurangan dokter spesialis pada saat itu. Terdapat sekitar 15  dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran  gigi, baik dari dalam maupun luar negeri yang tersedia untuk kedua RS  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber: &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Heri Wardoyo, dkk. 2008. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;. Bandar Lampung: Lampung Post.&lt;/span&gt; Hlm. 22-25.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-7602637555902599915?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/7602637555902599915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/tokoh-nasional-dari-liwa-sekala-brak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7602637555902599915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7602637555902599915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/tokoh-nasional-dari-liwa-sekala-brak.html' title='Tokoh Nasional Dari Liwa ( Sekala Brak ) Bidang Kesehatan'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-3s8sPBEW2QY/Ty4W4HKY9oI/AAAAAAAAA9Y/cqQYVDzHhP0/s72-c/Farid%2BAnfasa%2BMoeloek%2BLiwa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-5068397161234647133</id><published>2012-02-03T21:46:00.000-08:00</published><updated>2012-02-03T21:55:12.574-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SASTRA'/><title type='text'>Sajak dari WS Rendra</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-RhWiqqNMk3A/TyzHvHGEeiI/AAAAAAAAA8o/YnK-1_rq3oc/s1600/ws-rendra.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 209px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-RhWiqqNMk3A/TyzHvHGEeiI/AAAAAAAAA8o/YnK-1_rq3oc/s320/ws-rendra.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5705154440143862306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anugerah Gusti Allah – WS Rendra&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seringkali aku berkata,&lt;br /&gt;Ketika semua orang memuji milikku&lt;br /&gt;Bahwa sesungguhnya ini&lt;br /&gt;hanyalah titipan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya&lt;br /&gt;Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya&lt;br /&gt;Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya&lt;br /&gt;Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: mengapa Dia menitipkan padaku?&lt;br /&gt;Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?&lt;br /&gt;Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?&lt;br /&gt;Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah&lt;br /&gt;kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,&lt;br /&gt;kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku  ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,  lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.&lt;br /&gt;Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika: aku  rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat  dunia kerap menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia  membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai  keinginanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…&lt;br /&gt;Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p face="georgia" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-5068397161234647133?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/5068397161234647133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/sajak-dari-ws-rendra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5068397161234647133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5068397161234647133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/02/sajak-dari-ws-rendra.html' title='Sajak dari WS Rendra'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-RhWiqqNMk3A/TyzHvHGEeiI/AAAAAAAAA8o/YnK-1_rq3oc/s72-c/ws-rendra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-6845465830435590047</id><published>2012-01-04T03:05:00.000-08:00</published><updated>2012-01-04T04:23:59.201-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEJARAH KERAJAAN'/><title type='text'>MARGA LIWA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-tjNGLAumKR4/TwQyyHRe-6I/AAAAAAAAA8M/FfqlbGKbIxU/s1600/230518_128117470596438_100001945583637_198846_6542342_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-tjNGLAumKR4/TwQyyHRe-6I/AAAAAAAAA8M/FfqlbGKbIxU/s320/230518_128117470596438_100001945583637_198846_6542342_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693731665430379426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"SEMILAU",  Pemanohan jurai lurus Pangeran Ahmad Pikulun, Suttan Pangeran Indrapati  Cakranegara,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sai Batin I dan Pendiri Kesaibatinan Marga Liwa Sekala  Bgha.&lt;span class="fcg"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Sejarah Singkat Marga Liwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;( Sedikit dari Risalah Kebesaran Marga Liwa )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disalin Oleh: Novan Saliwa&lt;br /&gt;dari Buku " Pada Mulanya Sekala Brha "&lt;br /&gt;( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penyusun: Yhannu Setyawan, Khairul Anom, Anwar Anas, Andi M Windharsa&lt;/span&gt; )&lt;br /&gt;diperoleh dari Puniakan Dalom Salman Parsi,&lt;br /&gt;Sultan Paksi Buay Nyerupa Paksi Pak Sekala  Brak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;============================================================&lt;br /&gt;...  Kaum muslimin yang memenangkan pertempuran menyerahkan Bendera Syahadat    (Al Liwa) kepada pihak kaum kafir tertakluk. Di bekas kerajaan Sekala    Bgha Paksi Pak bukan hanya menyerahkan bendera kepada sisa-sisa  bangsa   Tumi yang terpaksa masuk Islam, akan tetapi juga mengubah nama  ibu   negeri Bunuk Tenuar menjadi Al Liwa atau Liwa sepertimana yang  masih   digunakan hingga saat ini...&lt;br /&gt;- M. Harya Ramdhoni Julizarsyah gelar Suttan Pangeran Indrapati Cakranegara VII -&lt;br /&gt;============================================================&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Marga  Liwa pertama kali terbentuk pada tahun 1861, kedudukannya berada  disekitar Negeri Agung. Pembentukan Marga Liwa saat itu berfungsi untuk  menegakkan jurai lurus dari Paksi Pak, Buay Nyerupa Sukau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbentuknya  marga Liwa dapat dikatan karena kondisi dan situasional yang sangat  politis. Kenyataan tersebut diakui oleh Paksi Buay Nyerupa Sukau, bahwa  pada saat itu mereka sedang dalam keadaan yang sangat lemah, terutama  akibat kehadiran Pemerintah Belanda yang selalu berupaya memecah belah  eksisternsi masyarakat adat. Kondisi internal yang terjadi pada Buay  Nyerupa juga tidak terurus, bahkan dapat dikatana bahwa Sai Batin Buay  Nyerupa, ketika itu telah pindah ke Liwa dan ke daerah disekitar negara  batin, Kota Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ,  pada tanggal 21 Maret 1862 berdasarkan surat keputusan pengakuan Paksi  Pak Sekala Brak, Marga Liwa ditetapkan sebagai pewaris keturunan lurus  dari Sai Batin Buay Nyerupa, yang berkedudukan di Liwa yaitu keturunan  Lurus Sai Batin Buay Nyerupa bernama Si Kaya gelar pangeran Indrapati  Cakranegara I.  ( M. Thohir gelar Raja Kapitan, Naskah Sejarah Singkat  Sekala brak dan Paksi Pak serta Marga Marga di Lampung Barat. Pernah  disampaikan dalam pra pertemuan pakar adat  Paksi pak Sekala brak, 22-23  Agustus 2001, di Way Mengaku, Liwa , Lampung Barat , Hal 22 ).  Kedudukan sebagai Marga , makin dipertegas dengan dikeluarkannya Besluit  Resident Van bengkulen, tertanggal 21 Maret 1862 No. L.2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat  pengakuan dari Residen Belanda tersebut membuat status dan haknya  sebagai Saibatin Marga dipersamakan dengan Paksi Pak ( M. Thohir gelar  Raja Kapitan ). Diantaranya adalah hak yang secara umum dimiliki oleh  suatu kerajaan bahwa hak yang secara umum dimilikinya dapat diteruskan  kepada anak keturunan selanjutnya, baik laki laki maupun bagi perempuan  yang akan menggantikan jurainya di Marga Liwa sampai pada turunan ang  paling penghabisan babti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, sejak pembentukannya  pada tahun 1861 eksistensi marga Liwa tetap diakui dan dihormati oleh  masyarakat adat di Kabupaten Lampung Barat. bahkan salah satu dari Sai  Batin Marga Liwa oleh banyak kalangan masyarakat adat  dicatat sebagai  orang yang sangat berjasa bagi perkembangan masyarakat diisekitar Gunung  Pesagi. khususnya karena dianggap sebagai tokoh yang pertama kali  berinisiatif menemukan jalan ke arah Kubu Perahu yang menuju pesisir  Krui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Tahun 1900 seorang bangsawan yang berasal dari  Kerajaan Umpu Buay Nyerupa yg bertempat tinggal dan berkedudukan di Liwa  yaitu Merah Dani Dalom Nata Diraja Jurai pangeran Indrapati Cakra  Negara untuk sementara waktu berpindah tempat dan tidak lagi  berkedudukan di Liwa. Tindakannya dilakukan bukan lantaran putus jurai,  akan tetapi dilakukan untuk memberi pertolongan pada Pangeran di Buay  Kenyangan ( Batu Brak ) dan Sultan Pikulan Sukau, yang ketika itusedang  mengalami kesulitan, karena keadaan anak keturunannya yang dapat  dikatakan hampir saja putus jurai karena tidak memiliki putra laki laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka  untuk sementara waktu segala sesuatu yang berkenan dengan urusan adat  atas Marga Liwa, oleh Pangeran Indra Pati Cakra Negara diserahkan  sepenuhnya kepada SI Jaya gelar Pangeran Kemala Raja yang kemudian  dilaksanakan dengan keadaan yang sangat baik. Si Jaya gelar Pangeran  Kemala Raja tersebut merupakan anak pertama dari Pangeran Indrapati  Cakra negara. Pengangkatannya menjadi SaiBatin sekaligus menjadi pesirah  di marga Liwa diperkuat berdasarkan Besluit Residen Bengkulen No. 4096  tertanggal 15 Oktober 1881.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun dalam perjalanan  pemerintanhannya, Si Jaya gelar Pangeran Kemala Raja akhirnya pindah ke  Negara Batin, di Semangka, Kota Agung. Dalam perkembangannya justru  menjadi Pesirah/Sai Batin Marga Negara Batin, Semangka, Kota Agung.  Akibat perpindahannya Si Jaya gelar Pangeran Kemala Raja maka terbuka  peluang putusnya jurai di Marga Liwa karena dari ketiga anak-anaknya :&lt;br /&gt;-  Anak pertamanya bernama Merah hakim gelar Dalom Raja Kota Negara  menjadi Sai Batin Marga Negara batin Kota Agung yang meneruskan Si Jaya  gelar Pangeran Kemala Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anak keduanya, Mera Dani gelar  Dalom Nata DiRaja diambil menantu oleh Pangeran Sampurna Jaya dan  KAhirnya menjadi Pesirah Marga Buay Pernong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Anak ketiganya,  Merah Hadis gelar Dalom Baginda Raja diambil menantu oleh Sultan Ratu  Piekulan Marga Buay Nyerupa, dan akhirnya juga menjadi Sai Batin di Buay  Nyerupa menggantikan Sultan Ali Akbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi  sebagaimana diuraikan diatas, agar tidak terjadi putus jurai di Marga  Liwa, maka pada tahun 1929, hapir semua tokoh adat yang berkedudukan  diwilayah Marga Liwa, serta atas nama seluruh penduduk yang menjadi  bagian dari Marga Liwa mengajukan permohonan kepada Paksi Pak khusunya  ditujukan kepada pangeran Sempurna Jaya di Batu Brak. Permohonannya  yaitu meminta kepada salh seorang dari keluarga besar Pangeran Indapati  Cakra Negara yang berada di Batu Brak untuk kembali berkedudukan di  Marga Liwa serta kembali menegakkan jurai Pangeran Indrapati Cakra  Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan tersebut dibarengi dengan permohonan untuk  menerima pusaka adat Lampung dari pangeran Indrapati Cakra Negara dan  kemudian akan dijadikan sebagai simbangan serta menuruskan silsilah dan  keturunan Marga Liwa, sampai masa yang akan datang.  Setelah dilakukan  permufakatan adat pada Tahun 1929 maka secara bulat Paksi Pak dan  seluruh raj-rajanya menetapkan dan menerangkan kepada seluruh penduduk  yang berkumpul di Negeri Agung yang pada saat itu berjumlah lebih kurang  2000 orang mengangkat Tji' Mas sebagai pemegang tampuk keemimpinan di  Marga Liwa dan berhak menerima pusaka-pusaka sari Pangeran Indrapati  Cakra Negara. Pengankatan tersebut disahkan dan ditandatangani oleh  ke-Empat Paksi serta perwakilan Marga misalnya tenumbang pada tanggal 28  Oktober 1938.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tji' Mas adalah anak perempuan keempat dari  delapan bersaudara dari keturunan Merah Dani Dalom nata Diraja ( H.  Harmai gelar Sultan Makmur ). Tji' Mas bersuamikan Muhammad Adhorik anak  dari Abdul Rahman gelar Pangeran marga Liwa. Karena Adhorik beristri   Sai Batin maka berdasarkan ketentuan adat status suaminya disamakan  dengan Sai batin. pengangkatan Tji' Mas dan M Adhorik menjadi saibatin  diperkuat berdasarkan Surat Pengakuan Sai Batin Paksi pak Sekala Brak  tertanggal 18 November 1938 dan diperkuat dengan Besluit Residen  Bengkulu No. 335 tertanggal 3 Oktober 1938.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkawinan M  Adhorik dan Tji' Mas kemudian melahirkan anak yang diberi nama Siti  Maisuri. Setelah Siti maisuri dewasa ia dipersunting oleh H. Pangeran  Abdul Moeis gelar Suttan Pangeran Sekala Brak, yang juga merupakan anak  kedua dari Haji Pangeran Suhaimi, Sai batin buay Pernong Skala Brak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  demikian suami Siti Maisuri yaitu H. Pangeran Abdul Moeis diangkat  menjadi Saibatin yang menegakkab kembali Jurai Sai Batin Liwa.  Selanjutnya Sai Batin marga Liwa adalah Chairul Muluk gelar Suttan  Indrapati Cakra Negara VI, yang menikahi Tanti glar Ratu Simbangan  Marga. ( Lihat Keputusan Himpun Adat kebuayan Nyerupa dan paksi Pak  Lampung pada Tayuhan Adat Marga Liwa di Krui, tangal 25 Mei 1981, yang  ditandatangani Para Sai Batin dan Puniakan paksi Pak serta Para Sai  Batin Marga se- Eks Kewedanaan Krui. Dicatat dalam register Pemerintahan  Wilayah Kecamatan pesisir Tengah Krui, Lihat Juga M. Thohir gelar raja  Kapitan, Op.Cit Hal 60 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Saliwa :Tabik... Jika terdapat  kekurangan mohon disempurnakan, hal hal yang belum kami tahu semoga  segera dapat kami sempurnakan kedalam tulisan ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-6845465830435590047?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/6845465830435590047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/01/marga-liwa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/6845465830435590047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/6845465830435590047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2012/01/marga-liwa.html' title='MARGA LIWA'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-tjNGLAumKR4/TwQyyHRe-6I/AAAAAAAAA8M/FfqlbGKbIxU/s72-c/230518_128117470596438_100001945583637_198846_6542342_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-2907303674881921655</id><published>2011-12-30T01:05:00.000-08:00</published><updated>2011-12-30T02:38:50.919-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEJARAH KERAJAAN'/><title type='text'>PENINGGALAN PURBAKALA DI SEKALA BRAK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-wLMZ2EeUTEw/Tv2Un_KRbtI/AAAAAAAAA64/Uk7cBTyWXo4/s1600/megalitik1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 377px; height: 252px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-wLMZ2EeUTEw/Tv2Un_KRbtI/AAAAAAAAA64/Uk7cBTyWXo4/s320/megalitik1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691868918756503250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;blink&gt; &lt;/blink&gt;&lt;/span&gt;&lt;blink&gt;Peningaalan Sejarah Purbakala Di Dataran Bumi Sekala Brak &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blink&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Oleh: Novan Saliw&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Data diperoleh dari Bapak Gunawan Rasyid, SH ( Asisten Bid. Ekonomi Pembangunan) Setdakab Lam-Bar tahun 2009/12/19&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1.  SITUS BATU JAYA&lt;br /&gt;        Lokasi             : Kec. Sumber  Jaya&lt;br /&gt;        Masa               : Hindu Budha&lt;br /&gt;        Keterangan    : Merupakan Peninggalan Agama Budha, ditemukan sisa sia bangunan,&lt;br /&gt;                                 manik manik dan gerabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  SITUS BATU BRAK&lt;br /&gt;        Lokasi             : Kec. Sumber  Jaya&lt;br /&gt;        Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;        Keterangan    : Situs ini ditemukan pada tahun 1951 oleh bapak Puradi Reja. Pada tahun 1977 Dilakukan penggalian untuk pertama kalinya dan tahun 1980 dilakukan penggalian tahap ke- 2. Pemugaran tahap ke- 2 pada tahun 1988-1989.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  SITUS BATU TAMENG PURA JAYA&lt;br /&gt;         Lokasi             : Kec. Sumber  Jaya&lt;br /&gt;         Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;         Keterangan    : Situs ini merupakan komplek peninggalan prasejarah yang berada disebelah barat situs batu brak. Luas komplek megalitik batu tameng 1 ha, berada dikebun milik masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  SITUS BATU JAGUR&lt;br /&gt;         Lokasi             : Kec. Sumber  Jaya&lt;br /&gt;         Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;         Keterangan    : Dikawasan situs ini berdiri tegak sebuah batu menhir yang diyakini oleh masyarakat setempat dapat memberikan tanda tanda apabila akan terjadi bencana alam. Hal ini terjadi pada tahun 1994 sebelum terjadi bencana gempa bumi di Liwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  SITUS SETAI MUKTI WANGUN SARI&lt;br /&gt;         Lokasi             : Kec. Sumber  Jaya&lt;br /&gt;         Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;         Keterangan    : Lokasinya terletak didusun setia budi dan dusun wangun sari pekon tri budi  sukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  SITUS AIR RINGKIH&lt;br /&gt;         Lokasi             : Kec. Sumber  Jaya&lt;br /&gt;         Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;         Keterangan    : Terletak didusun ujung jaya pekon pura mekar, serta berdekatan dengan situs cipta jaya dan situs ujung jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. BATU KEPAMPANG&lt;br /&gt;         Lokasi             : Kec. Belalau&lt;br /&gt;         Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;         Keterangan    : Merupakan peninggalan kerajaan sekala brak (suku tumi ), berbentuk sedemikian rupa yang dijadikan bantalan untuk pemenggalan seorang gadis cantik, ritual ini dilakukan sebagai persembahan kepada dewa untuk keselamatan dan kesejahteraan rakyat pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.  SITUS BATU SPADU&lt;br /&gt;         Lokasi             : Kec. Belalau&lt;br /&gt;         Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;         Keterangan    : merupakan punden berundak-undak yang tingginya 1,5 meter, disebelah lokasi situs ini terdapat situs batu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tahlui&lt;/span&gt; atau telor yang berbentuk batu gores dalam bentuk batu berlubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.  SITUS TENUMBANG&lt;br /&gt;         Lokasi             : Kec. Belalau&lt;br /&gt;         Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;         Keterangan    : Berada di pekon Kenali dan merupakan situs yang dipercaya sebagai tempat tinggal cikal bakal suku bakhnasi pada masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  SITUS MEGALITIK BATU BERTULIS&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Belalau&lt;br /&gt;          Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;          Keterangan    : Terletak dipekon Bakhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.  SITUS BATU NAKKA atau BATU TEGAK&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Belalau&lt;br /&gt;          Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;          Keterangan    : Terletak di Pekon Kejadian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.  SITUS BATU KURSI atau BATU ULAR&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Belalau&lt;br /&gt;          Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;          Keterangan    : Terletak di Pekon Bedudu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.  MAKAM RAJA SELALAU&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Batu Brak&lt;br /&gt;          Masa               : Islam&lt;br /&gt;          Keterangan    : Lokasi berada di belakan Gedung Dalom Paksi Buay Pernong, merupakan makam tokoh penyebar agama islam dan pemuka masyarakat pada masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. BATU TAPAK SIPAHIT LIDAH dan SIMATA EMPAT&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Balik Bukit ( Liwa )&lt;br /&gt;          Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;          Keterangan    : Situs ini konon merupakan tempat bertarungnya tokoh mitos si pahit lidah dan si mata empat hingga ke duanya tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.  KERAMAT CAMBAI MAK BEJUNJUNGAN&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Batu Brak&lt;br /&gt;          Masa               : Islam&lt;br /&gt;          Keterangan    : merupakan makam tua tokoh penyebar agama islam yang terletak di perkebunan dusun teratas pekon Kembahang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.  BATU RAJA&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Balik Bukit - Liwa&lt;br /&gt;          Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;          Keterangan    : Terletak di jalan dua yang menghubungkan pekon sukarame dengan dusun bawang, 300 meter arah way rubok diperkirakan sebagai tempat upacara nenek moyang suku batu raja. Disebelah batu raja sekitar 200 m arah timur terdapat makam tua batu raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.  SITUS BATU TULIS WAY REBO&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Balik Bukit - Liwa&lt;br /&gt;          Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;          Keterangan    : batu bertulis ini berada dikebun masyarakat, dipinggir way rebo dusun bawang pekon Sukarame.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. MAKAM KERAMAT RATAI&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Balik Bukit - Liwa&lt;br /&gt;          Masa               : ISLAM&lt;br /&gt;          Keterangan    : Lokasinya berada didepan masjid sukarami tidak jauh dari tebing way Rubok, merupakan makam tokoh penyiar agama islam pada masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.  MAKAM KERAMAT SAIMENAPIK&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Balik Bukit - Liwa&lt;br /&gt;          Masa               : ISLAM&lt;br /&gt;          Keterangan    : Sebagai makam orang pertama yang bertempat tinggal di Liwa yang di sebut&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sai mena tepik&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. MAKAM TUA BEGALUH&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Balik Bukit - Liwa&lt;br /&gt;          Masa               : ISLAM&lt;br /&gt;          Keterangan    : Lokasinya berada di Landos suka marga Pekon Empulau Ulu, dan dipercaya merupakan nenek moyang masyarakat suku marga keturunan buay belunguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.  BATU BETULIS HARAKUNING&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Sukau&lt;br /&gt;          Masa               : Hindu Budha&lt;br /&gt;          Keterangan    : Batu Betulis harakuning prasasti hujung langit atau prasasti bawang berada dikebun kopi milik Rusli Jenasin letaknya 200 meter dari jalan dua jalur pekon hanakau ke arah way rubok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.  BATU GORES TANJUNG RAYA&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Sukau&lt;br /&gt;          Masa               : Hindu Budha&lt;br /&gt;          Keterangan    : Lokasi berada antara sebelat dan pekon balak arah hulu way rubok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. MAKAM SELALAU PANTAI SELATAN&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Pesisir Tengah&lt;br /&gt;          Masa               : ISLAM&lt;br /&gt;          Keterangan    : Letaknya sekitar lentera selalau, kuala Pasar Krui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.  BENTENG ULOK PANDAN&lt;br /&gt;          Lokasi             : Kec. Pesisir Tengah&lt;br /&gt;          Masa               : ISLAM&lt;br /&gt;          Keterangan    : Merupakan kampung tua ulok pandan di seberang sungai yang terdiri atas susunan batu berbentuk benteng untuk pertahanan dari serangan musuh, milik suku tumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.  MAKAM TUA WAY SINDI&lt;br /&gt;           Lokasi             : Kec. Pesisir Tengah&lt;br /&gt;           Masa               : ISLAM&lt;br /&gt;           Keterangan    : Letaknya diatas bukit yang merupakan kampung tua way sindi lebih kurang 1 Km dari jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.  MAKAM SI AGUL AGUL&lt;br /&gt;           Lokasi             : Kec. Pesisir Tengah&lt;br /&gt;           Masa               : ISLAM&lt;br /&gt;           Keterangan    : Berada di pekon Way SIndi merupakan makam tokoh pejuang melawan penjajahan Portugis pada abad ke- 18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. MAKAM GAJAH MADA&lt;br /&gt;           Lokasi             : Kec. Pesisir Utara&lt;br /&gt;           Masa               : Hindu Budha&lt;br /&gt;           Keterangan    :Keberadaan makam gajah mada di perkuat dengan adanya barang barang peninggalan berupa Keris, Mahkota, Pedang, Tombak, Ikat Pinggang, Tasbih Berlapis Emas, Gelang, dan Ikat kepala. Diceritakan bahwa maha patih gajah mada sampai di wilayah ini karena perahu yang membawanya terdampar di Way Tuala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.  DOLMEN WALUR&lt;br /&gt;           Lokasi             : Kec. Pesisir Utara&lt;br /&gt;           Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;           Keterangan    : Lokasinya terdapat dipersawahan tidak jauh dari jalan raya kepematang dan merupaka makam kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.  BATU MIRAU&lt;br /&gt;           Lokasi             : Kec. Pesisir Utara&lt;br /&gt;           Masa               : Prasejarah&lt;br /&gt;           Keterangan    : Jajaran Batu mirau ini seluruhnya berjumlah 14 buah batu yang konon masih berhubungan dengan kutukan si Pahit Lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.  MAKAM KERAMAT MANULAH&lt;br /&gt;           Lokasi             : Kec. Lemong&lt;br /&gt;           Masa               : ISLAM&lt;br /&gt;           Keterangan    : Berada di pinggir laut berbatasan dengan Provinsi Bengkulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. MAKAM MAJA&lt;br /&gt;           Lokasi             : Kec. Pesisir Selatan&lt;br /&gt;           Masa               : ISLAM&lt;br /&gt;           Keterangan    : Merupakan makam tokoh agama yang datang dari Sekala Brak, lokasinya dipinggir way tenumbang sekitar 1 KM dari jembatan Way Tenumbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. MAKAM SERUNTING&lt;br /&gt;           Lokasi             : Kec. Pesisir Selatan&lt;br /&gt;           Masa               : ISLAM&lt;br /&gt;           Keterangan    : Lokasinya berada dipinggir laut Pekon Tanjung Setia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. MAKAM RAJA SAKTI&lt;br /&gt;           Lokasi             : Kec. Bengkunat&lt;br /&gt;           Masa               : ISLAM&lt;br /&gt;           Keterangan    : Berada di Pekon Gedung Cahya Kuningan sekitar setengah kilo dari jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan saliwa :&lt;br /&gt;- KERAMAT JEKHAMBAI / MAKAM SEKERUMONG&lt;br /&gt;           Lokasi             : Kec. Belalau, Pekon Bedudu&lt;br /&gt;           Masa               : Hindu Budha&lt;br /&gt;           Keterangan    : Makam Ratu Terakhir Kerajaan Sekala Brak, juga terdapat disekitarnya pecahan keramik dan bekas pecahan logam, terdapat juga batu berornamen pakis menyerupai huruf W.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kemungkinan masih banyak lagi bukti peradaban masa lampau dibumi sekala brak yang perlu digali, diteliti dan dilestarikan. Tugas siapa???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-2907303674881921655?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/2907303674881921655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/peninggalan-purbakala-di-sekala-brak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/2907303674881921655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/2907303674881921655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/peninggalan-purbakala-di-sekala-brak.html' title='PENINGGALAN PURBAKALA DI SEKALA BRAK'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-wLMZ2EeUTEw/Tv2Un_KRbtI/AAAAAAAAA64/Uk7cBTyWXo4/s72-c/megalitik1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-1085665999120422664</id><published>2011-12-28T23:33:00.000-08:00</published><updated>2011-12-29T01:36:39.606-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>Pangeran di Lamban Ugokhan Batin - Anjung Canggu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-qYaA3vCYXY4/TvwikakNAuI/AAAAAAAAA5g/4dusUUMdCV0/s1600/5880_102763949733986_100000011430680_83505_6035767_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 363px; height: 272px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-qYaA3vCYXY4/TvwikakNAuI/AAAAAAAAA5g/4dusUUMdCV0/s320/5880_102763949733986_100000011430680_83505_6035767_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691462038091268834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lamban Ugokhan Batin - Anjung Canggu&lt;/span&gt; )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu kebahagiaan dan kebanggaan khususnya bagi keluarga besar Udo Seem Canggu karena pada hari Minggu tanggal 25 desember 2011 Paduka Yang Mulia Puniakan Dalom Beliau Drs. PANGERAN EDWARD SYAH PERNONG, S.H., M.H. Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-XXIII&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;, Glr. Sultan Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi &lt;/span&gt; beserta Puniakan Ratu Ir. NURUL ADIYATI&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Glr. Ratu Mas Itton Dalom Ratu Paksi Buay Pernong yang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;berkenan untuk&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; "manjau kebayan" - pernikahan  Endang Guntoro  Canggu dan  Vera Apriliani - sekaligus bersilaturahmi dengan para petinggi Kepaksian Pernong di&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; Lamban Ugokhan Batin - Anjung Canggu, Batu Brak, Lampung Barat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Edward juga memberi sebutan indah kepada Anjung Canggu tersebut dengan  sebutan Lamban &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;UGOKHAN BATIN, secara maknawi "ugokhan" adalah semacam bukit yang indah dan keindahannya terpancara kesegala penjuru, sedangkan "batin" diambil dari gelar tuyuk atau moyang dari keluarga Udo Seem yaitu " Batin Jaya". &lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;Bapak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/seem.canggu" hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=100000011430680"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Seem Canggu  &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;mengartikan rumah dikampungnya itu dengan "ANJUNG SEGOK"&lt;span class="fcg"&gt; , &lt;/span&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;SEGO'  mengandung  dua pengertian&lt;/span&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt; Sego' (baca segok) dalam bahasa Lampung = bersembunyi; berteduh; berlindung dan juga&lt;/span&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;  SEGO yang berarti bagus, indah, kokoh&lt;/span&gt;. &lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;Rumah ini berada disebelah kanan jalan Liwa - Bandar Lampung, atau lebih kurang 500 m setelah Gedung Dalom (keraton) Paksi Buay Pernong. Suatu kebanggaan rasanya jika dari rumah kita terpancar keindahan dan kearifan terkhusus untuk mengharumkan adat istiadat dan budaya mulai dari perhelatannya maupun ornament yang terdapat di suatu Lamban,  namun tidak hanya lambannya yang memancarkan keindahan tapi pekerti dan karya karya putra putri yang berasal dari Lamban tersebut juga mampu mengharumkan adat istiadatnya, demikian kiranya makna yang mampu kita ambil dari sebutan indah  Lamban Ugokhan Batin - Anjung Canggu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-C3NV3z-6Sm0/TvwxcMg9e7I/AAAAAAAAA6s/M64pBHLKTFM/s1600/320307_277493932260986_100000011430680_1226537_1445724943_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-C3NV3z-6Sm0/TvwxcMg9e7I/AAAAAAAAA6s/M64pBHLKTFM/s320/320307_277493932260986_100000011430680_1226537_1445724943_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691478389555035058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;( perhelatan tradisi " Sekura Cakak Buah" didepan anjung canggu )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-HmR7E0cdMHs/Tvwt0rzRm0I/AAAAAAAAA6g/G5MpK74HhWc/s1600/284862_1950635408677_1326378112_31878448_8111586_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-HmR7E0cdMHs/Tvwt0rzRm0I/AAAAAAAAA6g/G5MpK74HhWc/s320/284862_1950635408677_1326378112_31878448_8111586_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691474412223699778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;( "Sunggad" Ornamen Khas dan asli  Lamban Lamban Tradisional di Sekala Brak, yang menjadi rujukan seluruh bangunan khas Provinsi Lampung )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Rumah tradisional ulun Lampung memiliki kekhasan seperti: berbentuk  panggung,  yang bahan bangunannya sebagian besar terbuat dari kayu,  atap dahulunya terbuat dari anyaman ilalang, pada  sisi bangunan tertentu ada yang memiliki ornamen yang khas, kokoh bila  terjadi gempa bumi, masyarakat lampung telah mengenal gempa dari  zaman dahulu sebab posisi geografisnya terletak di pertemuan lempeng asia dan  australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Berikut Foto Silaurahmi Pangeran yang diambil Oleh :&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Eka Fendiaspara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-TWXusYFhABY/TvwtOmJVTgI/AAAAAAAAA5s/nWrkHaJzJpc/s1600/386265_2460617797918_1326378112_32221072_1187431758_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 382px; height: 272px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-TWXusYFhABY/TvwtOmJVTgI/AAAAAAAAA5s/nWrkHaJzJpc/s320/386265_2460617797918_1326378112_32221072_1187431758_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691473757870575106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( &lt;span style="font-size:85%;"&gt;menyambut kedatangan Paduka Yang Mulia Peniakan Dalom Beliau&lt;br /&gt;Drs. PANGERAN EDWARD SYAH PERNONG, S.H., M.H.&lt;br /&gt;Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-XXIII&lt;br /&gt;di Lamban Ugokhan Batin - Anjung Canggu&lt;br /&gt;Minggu 25 Desember 2011 )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-B7NdivMIUOE/TvwtO2ViraI/AAAAAAAAA54/Lvn7cojnhzs/s1600/406785_2460811002748_1326378112_32221112_1776106263_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 413px; height: 276px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-B7NdivMIUOE/TvwtO2ViraI/AAAAAAAAA54/Lvn7cojnhzs/s320/406785_2460811002748_1326378112_32221112_1776106263_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691473762216750498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;( Peniakan Dalom Beliau Drs. PANGERAN EDWARD SYAH PERNONG, S.H., M.H.&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;dengan khas nya berbagi cerita dan memberikan petuah-petuah&lt;br /&gt;terhadap  Raja-Raja Jukkuan Pekon Canggu khususnya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lamban Ugokhan Batin - Anjung  Canggu Kepaksian Pernong Sekala Brak Lampung&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-lpU3Jld-xBg/TvwtP-umljI/AAAAAAAAA6U/eioM41cIvWo/s1600/399295_2460693639814_1326378112_32221099_398837557_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 422px; height: 276px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-lpU3Jld-xBg/TvwtP-umljI/AAAAAAAAA6U/eioM41cIvWo/s320/399295_2460693639814_1326378112_32221099_398837557_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691473781649217074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Makan ala &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lampung Saibatin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Peniakan Dalom Beliau Drs. PANGERAN EDWARD SYAH PERNONG, S.H., M.H.&lt;br /&gt;santap malam bersama Raja Jukkuan se- Pekon Canggu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;di Lamban Ugokhan  Batin - Anjung Canggu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-wcF5tUA6rn0/TvwtPk9uZvI/AAAAAAAAA6E/XyKYQpLsUEI/s1600/379997_2460739880970_1326378112_32221103_1384973352_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 428px; height: 285px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-wcF5tUA6rn0/TvwtPk9uZvI/AAAAAAAAA6E/XyKYQpLsUEI/s320/379997_2460739880970_1326378112_32221103_1384973352_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691473774733321970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Makan ala &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lampung Saibatin&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; ( Ningkung / Betetingkuk )&lt;br /&gt;Peniakan Dalom Beliau Drs. PANGERAN EDWARD SYAH PERNONG, S.H., M.H.&lt;br /&gt;santap malam bersama Raja Jukkuan se- Pekon Canggu&lt;br /&gt;di Lamban Ugokhan  Batin - Anjung Canggu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-1085665999120422664?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/1085665999120422664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/pangeran-di-lamban-ugokhan-batin-anjung.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/1085665999120422664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/1085665999120422664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/pangeran-di-lamban-ugokhan-batin-anjung.html' title='Pangeran di Lamban Ugokhan Batin - Anjung Canggu'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-qYaA3vCYXY4/TvwikakNAuI/AAAAAAAAA5g/4dusUUMdCV0/s72-c/5880_102763949733986_100000011430680_83505_6035767_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-7477124757445163388</id><published>2011-12-28T10:53:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T11:36:42.008-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SASTRA'/><title type='text'>AKSARA LAMPUNG</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Disari dari berbagai sumber&lt;br /&gt;Oleh: Novan Saliwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-U2VcgsGukWg/TvtqkOZwHJI/AAAAAAAAA48/pWHwgg_BgmU/s1600/DSCI0653.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 394px; height: 124px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-U2VcgsGukWg/TvtqkOZwHJI/AAAAAAAAA48/pWHwgg_BgmU/s320/DSCI0653.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691259724686695570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Foto Tambo/ Kitab Kulit Kayu bertuliskan Aksara Lampung Kuno Abad - 18,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;blink&gt; &lt;/blink&gt;&lt;/span&gt;&lt;blink&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Milik Kerajaan Adat  Paksi Pak Sekala Brak Paksi Buay Nyerupa &lt;/span&gt;&lt;/blink&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;yang berisi tentang batas wilayah kekuasaan Paksi Buay Nyerupa. Tambo-Tambo / Kitab seperti ini ratusan jumlahnya tersebar di dataran sekala brak dipegang oleh setiap pewarisnya )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Berikut adalah tanggapan beberapa sastrawan Lampung mengenai aksara Lampung:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" class="actorName" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:35}" href="http://www.facebook.com/udozkarzi" hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=1266972745"&gt;Udo Z. Karzi&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;- Huruf Lampung (kaganga)  seperti juga aksara Nusantara yang lain -- menurut James Collins  setidaknya dalam bukunya "Bahasa Melayu dan Bahasa Sanksekerta" dan  "Bahasa Melayu Bahasa Dunia" -- memang dipengaruhi oleh huruf Pallawa di  India. Tapi, aksara-aksara itu sudah "original" di suku-suku bangsa  yang bersangkutan dalam arti sudah berbeda dengan huruf asalnya  (Pallawa) dan tentu saja mendapat local genius. Dengan demikian, huruf  Lampung seperti juga aksara-aksara Nusantara lainnya merupukan huruf  asli di Nusantara. Jadi, jangan diragukan orisinalitasnya, Man.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- &lt;/span&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt; Jadi keterusan ngomongin  aksara. Di Indonesia setidaknya ada 12 aksara daerah: Jawa, Bali, Sunda,  Bugis/Lontara, Rejang, Lampung, Karo, Pakpak, Simalungun, Toba,  Mandailing, dan Kerinci/Rencong.  Aksara-aksara yang termasuk kelompok  kaganga antara lain aksara Rejang, Lampung, dan Rencong (kerinci).  Istilah kaganga diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), antropolog  di University of Hull (Inggris) dalam buku Folk literature of South  Sumatra. Redjang Ka-Ga-Nga texts. Canberra, The Australian National  University 1964. Istilah asli yang digunakan oleh masyarakat di Sumatra  sebelah selatan adalah Surat Ulu. Ternyata, huruf Sunda Kaganga juga &lt;a href="http://irfanimovick.blogspot.com/2009/10/mengenal-huruf-sunda-kaganga.html" target="_blank" rel="nofollow nofollow"&gt;&lt;span&gt;http://&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;irfanimovick.blogspot.com/&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;2009/10/&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;mengenal-huruf-sunda-kagang&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;a.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" jsid="text" class="commentBody"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" class="actorName" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:35}" href="http://www.facebook.com/iwan.nurdaya" hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=100002006208273"&gt;Iwan Nurdaya&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;Jika mencermati peta budaya  dan bukan peta administrasi, persebaran Huruf Ka Ga Nga bukan cuma di  Lampung, tapi juga di Bengkulu Selatan dan Sumatera Selatan. Orang  Sumsel menyebutnya Surat Ulu dan/atau Surat Ogan. Jangan lupa, wilayah  administrasi Lampung Barat sekarang dulunya termasuk ke dalam wilayah  Bencolen (Bengkulu), setidaknya pada masa Kompeni Inggris berkuasa di  Bengkulu sebelum kemudian ditukar guling oleh Belanda dgn Singapura.  Salam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100001945583637" hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=100001945583637"&gt;Muhammad Harya Ramdhoni&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Artikel  "On the Alphabets of the Indian Archipelago"; author: John Crawfurd;  Source: Journal of the Ethnological Society of London (1848-1856), Vol. 2  (1850), pp. 246-261. Silahkan cek jg "A Phoenician Alphabet on Sumatra"  author: E. E. W. Gs. Schröder;Source: Journal of the American Oriental  Society, Vol. 47 (1927), pp. 25-35.Ada pembahasan mengenai aksara  Lampung di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/--VT4of6JMgQ/TvttCLLTIoI/AAAAAAAAA5I/zWAZTQxJRqQ/s1600/aksara%2Blampung%2BLIWA%2BNOVAN.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 367px; height: 259px;" src="http://1.bp.blogspot.com/--VT4of6JMgQ/TvttCLLTIoI/AAAAAAAAA5I/zWAZTQxJRqQ/s320/aksara%2Blampung%2BLIWA%2BNOVAN.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691262438240100994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Aksara Lampung, dibuat oleh Saliwa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JeA4lv035Qo/TvttDNBMsQI/AAAAAAAAA5U/QI3VRV1XHxQ/s1600/anak.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 368px; height: 435px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-JeA4lv035Qo/TvttDNBMsQI/AAAAAAAAA5U/QI3VRV1XHxQ/s320/anak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691262455914475778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( Tanda baca had lampung )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Aksara Lampung, yang juga disebut dengan Had Lampung adalah bentuk  tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan.  Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup  seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris  atas dan tanda-tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda  dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang,  masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.&lt;br /&gt;Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Had  Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong, Aksara  Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari huruf induk,  anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambang,  angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah KaGaNga ditulis  dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.Berdasarkan  peta bahasa, Bahasa Lampung memiliki dua subdilek. Pertama, subdialek A  (api) yang dipakai oleh ulun Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak ,Melinting-Maringgai, Pesisir Rajabasa,  Pesisir Teluk, Pesisir Semaka, Pesisir Krui, dan Ranau,  Komering, dan Kayu Agung (&lt;a href="http://rudimarfai.blogspot.com/2010/09/adat-istiadat-lampung.html"&gt;yang beradat Lampung Peminggir/Sai Batin&lt;/a&gt;). Serta Way Kanan, Sungkai, dan Pubian (yang beradat Lampung Pepadun).  Kedua, subdialek O (nyow) yang dipakai oleh ulun Abung dan  Menggala/Tulangbawang (&lt;a href="http://rudimarfai.blogspot.com/2010/09/adat-istiadat-lampung.html"&gt;yang beradat Lampung Pepadun&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-7477124757445163388?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/7477124757445163388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/aksara-lampung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7477124757445163388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7477124757445163388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/aksara-lampung.html' title='AKSARA LAMPUNG'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-U2VcgsGukWg/TvtqkOZwHJI/AAAAAAAAA48/pWHwgg_BgmU/s72-c/DSCI0653.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-5278569122044104258</id><published>2011-12-26T01:12:00.000-08:00</published><updated>2011-12-27T22:46:30.174-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>RIWAYAT PANGERAN NOTOYUDO</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;blink&gt; &lt;/blink&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;blink&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;Oleh : Pahril Hutri Say Sukau ( kerabat Raja Adipati Retak Batik )&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blink&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dengan adanya surat amanat yang tertulis di atas Tambo Kulit Kayu dan Lempengan Piagam berhuruf Jawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;KETERANGAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pangeran Noto Yudo berasal dari Solo, Kartosuro dan oleh kerjaan Solo  dia dikirim ke Palembang untuk membantu Kerajaan Sriwijaya perang dengan  Belanda. Disebabkan pada abad 18 (1805 M) Belanda menduduki Kerajaan  Sriwiaya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setahun kemudian belanda tidak lagi menduduki Kerajaan  Sriwijaya lagi. Pangeran Noto Yudo dan rombongan pindah keperbatasan  Lampung dengan Pelemabang. Yang dinamakan Kota Napal, Dusun Buay  Betanding, kecamatan Sukau, Lampung Barat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada tahun 1907M, tahun  saka 1727 Pangeran Noto Yudo diangkat oleh Ratu Palembang selaku  Pangeran (Pangeran Noto Yudo) untuk menduduki wilayah Sukau. Maka  selanjutnya setelah satu  tahun kemudian pangeran Noto Yudo mendapat  ancaman dari suku-suku Lampung dikarnakan bahwa Buay Betanding akan  diduduki oleh orang-orang  jawa. Dengan hal demikina timbulah perang  suku yang dinamakan perang Kejawaan. Setelah saling kejar akhirnya suku  lampung mundur dan menyerah, dari situ pangeran Noto Yudo diberi gelar  oleh suku lampung Adipati Retak Batik. Dengan arti bagaimana saja  tingginya junjungan akan rebah oleh Noto Yudo. Selanjutnya dari situ  Pangeran Noto Yudo ketika dikirim dari Solo ke Palmebang Beliau  benar-benar menyedihkan karena pada waktu itu meninggalkan istrinya dan  satu orang putrinya yang berada di Lampung yang telah menikah dengan  Pangeran Hadijaya kali Abu, dan mengenai anak cucunya yang berada di  lampung silsilahnya terlampir. Kurang lebih tahun 1815 M Pangeran Noto  Yudo meninggal dunia Beliau meninggalkan surat amanat yang ditulis di  atas kulit kayu dengan huruf Lampung dan satu keris pusaka, beserta satu  lempeng piagam dengan tulisan Jawa Tengah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Silsilah keturunan Pangeran Notoyudo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-77DYtatF0UM/Tvg8nwd-c9I/AAAAAAAAA4w/dB3KbOWsgWk/s1600/SILSILAH%2BPANGERAN%2BNOTOYUDO.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 376px; height: 289px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-77DYtatF0UM/Tvg8nwd-c9I/AAAAAAAAA4w/dB3KbOWsgWk/s320/SILSILAH%2BPANGERAN%2BNOTOYUDO.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690364782905816018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Demikian riwayat Pangeran Noto Yudo, kami jelaskan sesuai dengan bukti yang ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;     Buay Betanding, 10 September 1988&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;                Yang Memberi Keterangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;       RAJA  SABLI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="fullpost"&gt;      Raja Adipati Retak Batik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;Keterangan:  Dikutip dari buku Asistensi Otonomi Daerah Terhadap Kultur Adat  Masyarakat Lampung Barat. Di tulis Oleh Drs. Abdurahman, MBA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posting awal : http://pahril.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-5278569122044104258?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/5278569122044104258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/riwayat-pangeran-notoyudo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5278569122044104258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5278569122044104258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/riwayat-pangeran-notoyudo.html' title='RIWAYAT PANGERAN NOTOYUDO'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-77DYtatF0UM/Tvg8nwd-c9I/AAAAAAAAA4w/dB3KbOWsgWk/s72-c/SILSILAH%2BPANGERAN%2BNOTOYUDO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-179791025270272113</id><published>2011-12-21T23:23:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T23:31:16.741-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AGAMA'/><title type='text'>Umat Islam Menyikapi Perayaan Natal</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hukum-hukum Seputar Perayaan Natal dan Ummat Islam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-lxu8pHoCB70/TvLcbcERRgI/AAAAAAAAA4k/MfuxhmXlUeQ/s1600/90_03_36-christmas-decorations_web.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-lxu8pHoCB70/TvLcbcERRgI/AAAAAAAAA4k/MfuxhmXlUeQ/s320/90_03_36-christmas-decorations_web.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688851643271038466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berikut ini kami ringkaskan jawaban Ustadz Ahmad Sarwat di situs &lt;em&gt;ustsarwat.com&lt;/em&gt; yang berkaitan dengan hal-hal seputar Natal dan kaum Muslimin:&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di masa lalu umat Islam jauh lebih kuat dan besar dari umat  Kristiani. Bahkan tempat-tempat bersejarah yang dianggap sebagai tempat  lahirnya nabi Isa sejak masa khalifah Umar bin Al Khattab &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;sudah berada di tangan umat Islam bahkan hingga pertengahan abad 20.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebaliknya, umat Kristiani tidak pernah lebih besar dari umat Islam.  Kemajuan barat di dua abad terakhir ini tidak bisa diklaim sebagai  prestasi agama Kristen, bahkan justru sebaliknya. Barat bisa maju  peradabannya ketika mereka terbebas dari kungkungan gereja.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka sepanjang 14 abad, pandangan muslim kepada pemeluk agama  Nashrani agak berbeda dengan di masa sekarang ini. Di masa kejayaan umat  Islam, umat Nashrani dipandang sebagai umat yang minoritas, lemah, tak  berdaya dan perlu dikasihani.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bahkan di Eropa yang sebagiannya dikuasai umat Islam saat itu, begitu  banyak pemeluk Kristiani yang dilindungi dan disubsidi oleh pemerintah  Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pandangan ini kemudian berubah ketika Barat mengekspansi  negeri-negeri muslim di bawahbendera salib. Dan kekuatan salib berhasil  menyelinap di balik misi ipmerialisme yang tujuannya &lt;em&gt;Gold, Gospel&lt;/em&gt; and &lt;em&gt;Glory&lt;/em&gt;. Gospel adalah penyebaran agama Kristiani ke dunia Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejak saat itulah gambaran umat Kristiani berubah dalam perspektif  umat Islam. Yang tadinya dianggap umat yang lemah dan perlu dikasihani,  tiba-tiba berubah menjadi agresor, penindas, penjajah dan perusak  akidah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di masa kekuasaan Islam, ayat-ayat Al Quran dan hadits nabi untuk  menyayangi dan berempati kepada pemeluk Nashrani kelihatan lebih sesuai  dengan konteksnya. Misalnya ayat berikut ini:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat  persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang  berkata, “Sesungguhnya kami ini orang Nashrani.” Yang demikian itu  disebabkan karena di antara mereka itu terdapat pendeta-pendeta dan  rahib-rahib, karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri&lt;/em&gt;. (QS. Al Maidah: 82)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Al Quran menggambarkan bahwa orang-orang Nashrani adalah orang yang  paling dekat persahabatannya dengan umat Islam. Sebab mereka masih  mengakui Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Allah, juga mengakui  keberadaan banyak nabi dan malaikat. Mereka juga percaya adanya  kehidupan sesudah kematian (akhirat).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apalagi di masa kejayaan Islam, umat Nashrani sangat sedikit, lemah  dan tertindas. Maka di berbagai pusat peradaban Islam, umat Nashrani  justru disebut dengan d&lt;em&gt;zimmy&lt;/em&gt;. Artinya adalah orang-orang yang  dilindungi oleh umat Islam. Nyawa, harta, keluarga dan hak-hak mereka  dijamin oleh pemerintah Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bahkan suasana itu juga terasa cocok dengan ayat Allah Subhanahu wa  Ta’ala yang lain lagi, yaitu tentang halalnya sembelihan mereka dan  dinikahinya wanita Ahli Kitab oleh laki-laki muslim.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik.  Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu,  dan makanan kamu halal bagi mereka. wanita yang menjaga kehormatan di  antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga  kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu. &lt;/em&gt;(QS. Al Maidah: 5)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Umat Islam mengizinkan mereka mendirikan geraja dan haram hukumnya  untuk mengusik ibadah mereka. Sultan Shalahuddin Al Ayyubi bahwa  mempersilahkan umat Kristiani untuk merayakan misa Natal di  tempat-tempat yang dianggap bersejarah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semua itu adalah gambaran suasana kerukunan umat beragama yang sesungguhnya, hasil dari kemajuan peradaban Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Hubungan Islam Nashrani di Zaman Kolonialisme&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi semua itu menjadi hancur berantakan gara-gara kolonialisme.  Keserasian umat Islam dengan pemeluk Nashrani berubah menjadi perang  tiada habisnya. Darah para syuhada membasahi bumi Islam tatkala umat  Kristiani membonceng mesin perang Barat menjajah negeri, merampas harta  benda, membunuh muslim dan membumi hangus peradaban.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Umat Kristiani yang tadinya umat lemah tak berdaya dan dilindungi,  tiba-tiba berubah menjadi kekuatan yang congkak dan berbalik menjadi  penindas umat Islam. Khilafah Islamiyah yang menyatukan umat Islam  sedunia dicabik-cabik dan dibelah menjadi puluhan negara jajahan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Akibat dari kolonilisme itu, pandangan umat Islam terhadap bangsa  Kristiani pun mulai mengalami pergeseran. Yang tadinya lebih banyak  menyebut ayat-ayat tentang kedekatan antara dua agama, sekarang yang  lebih terasa justru ayat-ayat yang mempertentangkan keduanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang  kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah,  “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk.” Dan sesungguhnya jika  kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka  Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. &lt;/em&gt;(QS. Al Baqarah: 120)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Juga ayat ini:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti  sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan  mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. &lt;/em&gt;(QS. Ali Imran: 100)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka umat Islam berperang melawan Nashrani dan menolak bila negerinya dipimpin oleh mereka.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu  mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin;  sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa  di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya  orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi  petunjuk kepada orang-orang yang zalim. &lt;/em&gt;(QS. Al Maidah: 51)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Imbas Kepada Hukum Memberi Ucapan Selamat Natal&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Melihat realitas di atas, maka di dalam tubuh umat Islam berkembang dua cara pandang yang berbeda.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di satu sisi, ada kalanganyang menganggap bahwa Nashrani itu bukan  musuh, tidak boleh dibunuh atau diperangi. Justru harus dianggap sebagai  komunitas yang harus ditolong. Kepada mereka tidak dipaksakan untuk  memeluk Islam. Bahkan tidak terlarang untuk hidup berdampingan, saling  tolong dan saling hormat, sampai saling memberi &lt;em&gt;tahni’ah &lt;/em&gt;(congratulation) kepada masing-masing kepercayaan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain, ada kalangan yang tetap berprinsip bahwa Nashrani  adalah umat yang harus dimusuhi, diperangi dan tidak bisa dipercaya.  Maka kecenderungannya dalam fatwa yang berkembang adalah haram untuk  saling mengucapkan &lt;em&gt;tahni’ah&lt;/em&gt; di hari raya masing-masing.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk lebih tegasnya bagaimana perbedaan pandangan itu, kami kutipkan fatwa-fatwa dari berbagai ulama terkemuka.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Fatwa Haram Ibnul Qayyim &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pendapat yang mengharamkan ucapan selamat Natal difatwakan oleh Ibn  Al Qayyim Al Jauziyah. Beliau pernah menyampaikan bila pemberian ucapan “&lt;strong&gt;Selamat Natal&lt;/strong&gt;” atau mengucapkan “Happy Christmas” kepada orang-orang kafir hukumnya haram.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam kitabnya &lt;em&gt;‘Ahkâm Ahl adz-Dzimmah’&lt;/em&gt;, beliau berkata,  “Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran  yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama.  Alasannya karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar  kekufuran yang mereka lakukan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sikap ini juga sama pernah disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin sebagaimana dikutip dalam &lt;em&gt;Majma’ Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, &lt;/em&gt;(Jilid.III, h.44-46, No.403).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di negeri kita, tidak sedikit umat Islam yang mengharamkan ucapan selamat Natal ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Fatwa Yang Membolehkan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memang pendapat yang membolehkan ini kurang populer di banyak  kalangan. Namun kalau kita mau agak teliti dan jujur, rupanya yang  menghalalkan tidak sedikit. Bukan hanya Dr. Quraish Syihab saja, tetapi  bahkan Majelis Ulama Indonesia, Dr. Yusuf Al Qaradawi dan beberapa ulama  dunia lainnya, ternyata kita dapati pendapat mereka membolehkan ucapan  itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rasanya agak kaget juga, tetapi itulah yang kita dapat begitu kita  agak jauh menelitinya. Kami uraikan di sini petikan-petikan pendapat  mereka, bukan dengan tujuan ingin mengubah pandangan yang sudah ada.  Tetapi sekedar memberikan tambahan wawasan kepada kita, agar kita punya  referensi yang lebih lengkap.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Fatwa MUI Tentang Haramnya Natal Bersama, Bukan Ucapan Selamat Natal &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Satu yang perlu dicermati adalah kenyataan bahwa MUI &lt;strong&gt;&lt;em&gt;tidak pernah berfatwa yang mengharamkan ucapan selamat Natal&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Yang ada hanyalah fatwa haramnya melakukan Natal bersama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Majelis Ulama Indonesia pada 7 Maret 1981, sebagaimana ditandatangani  K.H. M. Syukri Ghozali, MUI telah mengeluarkan fatwa:perayaan Natal  bersama bagi ummat Islam hukumnya haram&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hal ini juga ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal MUI, Dr. Dien  Syamsudin MA, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu  menyatakan bahwa MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang  orang Islam ikut &lt;em&gt;sakramen&lt;/em&gt;/ritual Natal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut  dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal  atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bahkan pernah di hadapan ratusan umat Kristiani dalam seminar Wawasan  Kebangsaan X BAMAG Jatim di Surabaya, beliau menyampaikan, “Saya tiap  tahun memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman Kristiani.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Fatwa Dr. Yusuf Al Qaradawi &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syeikh Dr. Yusuf Al Qaradawi mengatakan bahwa merayakan hari raya  agama adalah hak masing-masing agama. Selama tidak merugikan agama lain.  Dan termasuk hak tiap agama untuk memberikan tahni’ah saat perayaan  agama lainnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka kami sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan&lt;em&gt; tahni’ah&lt;/em&gt;  kepada non muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar  agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori &lt;em&gt;Al birr&lt;/em&gt; (perbuatan yang baik). Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan  berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama  dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai  orang-orang yang berlaku adil. &lt;/em&gt;(QS. Al Mumtahanah: 8 )&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kebolehan memberikan tahni’ah ini terutama bila pemeluk agama lain  itu juga telah memberikan tahni’ah kepada kami dalam perayaan hari raya  kami.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu  penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari  padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah  memperhitungankan segala sesuatu&lt;/em&gt;.(QS. An-Nisa’: 86)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun Syeikh Yusuf Al Qaradawi secara tegas mengatakan bahwa tidak  halal bagi seorang muslim untuk ikut dalam ritual dan perayaan agama  yang khusus milik agama lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Fatwa Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’ &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di dalam bank fatwa situs &lt;em&gt;Islamonline.com&lt;/em&gt;, Dr. Mustafa Ahmad  Zarqa’, menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang  seorang muslim mengucapkan tahniah kepada orang kafir.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah  berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini  tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang diajut  jenazah tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sehingga menurut beliau, ucapan tahni’ah kepada saudara-saudara  pemeluk Kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, juga tidak  terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan  hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan muhasanah seorang muslim  kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan tahni’ah ini  dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu seperti membuat  kartu ucapan selamat Natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan  Natalnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun beliau menyatakan bahwa ucapan tahni’ah ini harus dibedakan  dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan  menghadiri perayaan-perayaan Natal yang digelar di berbagai tempat.  Menghadiri perayatan Natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan  termasuk perbuatan mungkar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Majelis Fatwa dan Riset Eropa &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Majelis Fatwa dan Riset Eropa juga berpendapat yang sama dengan fatwa  Dr. Ahmad Zarqa’ dalam hal kebolehan mengucapkan tahni’ah, karena tidak  adanya dalil langsung yang mengharamkannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Fatwa Dr. Abdussattar Fathullah Said &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dr. Abdussattar Fathullah Said adalah profesor bidang tafsir dan  ulumul quran di Universitas Al Azhar Mesir. Dalam masalah tahni’ah ini  beliau agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua. Ada tahni’ah yang  halal dan ada yang haram.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Tahni’ah &lt;/em&gt;yang halal adalah tahni’ah kepada orang kafir tanpa  kandungan hal-hal yang bertentangan dengan syariah. Hukumnya halal  menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul akhlaq yang  diperintahkan kepada umat Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan tahni’ah yang haram adalah tahni’ah kepada orang kafir yang  mengandung unsur bertentangan dengan masalah diniyah, hukumnya haram.  Misalnya ucapan tahniah itu berbunyi, “Semoga Tuhan memberkati diri anda  sekeluarga.” Sedangkan ucapan yang halal seperti, “Semoga tuhan memberi  petunjuk dan hidayah-Nya kepada Anda.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bahkan beliau membolehkan memberi hadiah kepada non muslim, asalkan  hadiah yang halal, bukan khamar, gambar maksiat atau apapun yang  diharamkan Allah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;25 Desember Bukan Hari Lahir Nabi Isa &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lepas dari perdebatan seputar fatwa haramnya mengucapkan selamat  Natal, ada masalah yang lebih penting lagi. Yaitu kesepakatan para ahli  sejarah bahwa Nabi Isa sendiri tidak lahir di tanggal tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tidak pernah ada data akurat pada tanggal berapakah beliau itu lahir.  Yang jelas 25 Desember itu bukanlah hari lahirnya karena itu adalah  hari kelahiran anak Dewa Matahari di cerita mitos Eropa kuno. Mitos itu  pada sekian ratus tahun setelah wafatnya nabi Isa masuk begitu saja ke  dalam ajaran kristen lalu diyakini sebagai hari lahir beliau. Padahal  tidak ada satu pun ahli sejarah yang membenarkannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bahkan &lt;em&gt;British Encyclopedia&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;American Ensyclopedia&lt;/em&gt; sepakat bahwa 25 bukanlah hari lahirnya Isa as.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi kalau pun ada sebagain kalangan yang tidak mengharamkan ucapan  selamat Natal, ketika diucapkan pada even Natal, ucapan itu mengandung  sebuah kesalahan ilmiyah yang fatal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kita tidak bisa menerima penyelewengan umat Kristiani yang telah menuhankan Nabi Isa &lt;em&gt;alaihissalam&lt;/em&gt;.  Tindakan ini adalah sebuah tindakan syirik yang dosanya tidak akan  diampuni. Ditambah lagi mereka juga menyembah tiga tuhan (trinitas).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena itulah mereka ini ditetapkan sebagai kafir oleh Al Quran Al Karim.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata,  “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih  berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.”  Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah  mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada  bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. &lt;/em&gt;(QS Al Maidah: 72)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya  Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan  selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang  mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan  ditimpa siksaan yang pedih.&lt;/em&gt; (QS Al Maidah: 73)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Hukum Makanan Natal&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun lepas dari ketidak-setujuan kita dengan aqidah mereka, khusus  dalam masalah makanan yang mereka buat, pada dasarnya tidak ada larangan  khusus. Bahkan dalam Al Quran telah ditegaskan bahwa hewan sembelihan  ahli kitab halal buat umat Islam, seperti juga kebalikannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik.  Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu,  dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini)  wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang  beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang  yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin  mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak  (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah  beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan  ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. &lt;/em&gt;(QS Al Maidah: 5)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan yang diharamkan adalah hewan yang disembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, &lt;strong&gt;dan binatang disembelih selain untuk Allah&lt;/strong&gt;.  Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak  menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.  Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;/em&gt;(QS. Al Baqarah: 173)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka makanan yang ketika disembelih diniatkan untuk berhala misalnya, makanan itu haram untuk kita makan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi sebaliknya, bila tidak untuk berhala melainkan sekedar hidangan  konsumsi biasa, meski untuk acara Natal sekalipun, sebenarnya tidak ada &lt;em&gt;‘illat &lt;/em&gt;yang membuatnya menjadi haram. Baik secara zatnya atau pn secara nilainya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Haram secara zat misalnya karena makanan itu najis seperti bangkai,  anjing, babi dan sebagainya. Atau karena berupa khamar yang diharamkan.  Atau karena zatnya memang berbahaya buat manusia seperti racun, drugs,  narkoba dan sejenisnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan haram secara nilai misalnya karena hasil curian, atau  dipersembahkan untuk berhala. Sedangkan bila makanan itu pernah  diedarkan untuk sebuah perayaan agama lain namun bukan buat persembahan  berhala, tentu tidak ada kaitannya dengan zat dan nilainya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meski tidak ada yang salah dari segi zat dan nilainya, bukan berarti  kita bebas begitu saja memakannya. Sebab bisa saja makanan itu  mengandung unsur lain seperti menjaring umat Islam untuk murtad dari  agamanya. Mulai dari menanam budi tapi ujung-ujungnya banyak juga yang  bergantung.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan masuknya bantuan makan, obat, sekolah, beasiswa serta  kebutuhan hidup yang lain, seringkali terjadi kemurtadan di tengah umat.  Karena itu umat Islam perlu waspada dan hati-hati menerima hadiah atau  bantuan dari agama lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Wallahu a’lam bish shawab.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-179791025270272113?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/179791025270272113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/umat-islam-menyikapi-perayaan-natal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/179791025270272113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/179791025270272113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/umat-islam-menyikapi-perayaan-natal.html' title='Umat Islam Menyikapi Perayaan Natal'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-lxu8pHoCB70/TvLcbcERRgI/AAAAAAAAA4k/MfuxhmXlUeQ/s72-c/90_03_36-christmas-decorations_web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-5778501369467156547</id><published>2011-12-21T20:45:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T22:06:32.559-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEPEMUDAAN'/><title type='text'>Biografi SALIWA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Pb8nurUXP2g/TvLGYUWApeI/AAAAAAAAA4Y/fs6VOghIoSo/s1600/19461_1072884838089_1705201480_140349_4682916_n.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;" menjadi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SETITIK EMBUN SEMOGA MENYEJUKKAN&lt;/span&gt; ,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menjadi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt; SECERCAH CAHAYA SEMOGA MENERANGI" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Pb8nurUXP2g/TvLGYUWApeI/AAAAAAAAA4Y/fs6VOghIoSo/s1600/19461_1072884838089_1705201480_140349_4682916_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 156px; height: 341px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Pb8nurUXP2g/TvLGYUWApeI/AAAAAAAAA4Y/fs6VOghIoSo/s320/19461_1072884838089_1705201480_140349_4682916_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688827400402544098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Nama                               : Novan Adi Putra&lt;br /&gt;Jenis Kelamin                  : Laki-Laki&lt;br /&gt;Tempat/Tanggal Lahir    :Liwa, 29 November 1988&lt;br /&gt;Agama                              : Islam&lt;br /&gt;Anak Ke-                           : Empat dari enam bersaudara&lt;br /&gt;Pekerjaan                          : Mahasiswa&lt;br /&gt;Alamat di Lampung         : Jln. Jend. Sudirman No. 35 RT 01 Kelurahan Pasar Liwa                                                         Balik Bukit Lampung Barat&lt;br /&gt;Alamat di Yogyakarta      : ASRAMA MAHASISWA LAMPUNG&lt;br /&gt;                                          Jln. Pakuningratan No. 7  Jetis Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Riwayat Pendidikan        :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;SDN 3 Liwa Lampung Barat 1994-2000&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SMPN 1 Liwa Lampung Barat 2000-2003&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SMAN 1 Liwa Lampung Barat 2003-2006&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Pendidikan Agama Islam (PAI)  Fakultas Tarbiyah .&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kegiatan berkesenian dalam event :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Festival Danau Ranau yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten OKU  Selatan tahun 2005 sebagai player tari sanggar Seni Stiwang utusan Kab. Lam-Bar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perlombaan Tari pada event Festival Krakatau tahun 2005 s/d 2010 sebagai player tari sanggar Seni Stiwang utusan Kab. Lam-Bar..&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Festival Sriwijaya di Palembang Sumatra Selatan, sebagai player tari sanggar Seni Stiwang utusan Provinsi Lampung.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setiap HUT  TMII Jakarta hingga Tahun 2004-2006 sebagai player tari sanggar Seni Stiwang utusan Kab. Lam-Bar dan Provinsi Lampung..&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Promosi Budaya mewakili lampung di Tujungan Plasa Surabaya tahun 2005.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di Bandung pada acara pertemuan Gubernur Se-Indonesia  tahun 2005&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pawai Budaya Nusantara 2007 Perwakilan Provinsi Lampung di Depan Istana Merdeka Jakarta.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keorganisasian :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Wakil Ketua ROHIS SMAN 1 Liwa  .&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Koordinator Divisi Sesbid 4 ( Kepribadian dan budipekerti luhur ) OSIS SMAN 1 Liwa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Koordinator seni Budaya IKPM Lambar Jogja 2007 -2008.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Koordinator LITBANG  IKPM Lambar Jogja 2009 -2010.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sekretaris Asrama Mhasiswa Lampung 2007-2008&lt;/li&gt;&lt;li&gt;DPO Himpunan Pelajar Masiswa Lampung (HIPMALA) Yogyakarta.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengalaman Tari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Koreografer tari dayang dan ujang ditampilkan acara perpisahan SMPN 1 Liwa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Juara 1 lomba tari melinting tingkat SMA se-Lampung tahun 2005 di Taman Budaya Provinsi Lampung&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Koreografer Tari ”Demon Saka” Juara 1 pada event Festival Teluk Stabas di Lampung Barat tahun 2006&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penata tari Lampung " Pesta Sekura " 2008,  Penambil terbaik ( 5 besar) bersama provinsi Bali, Aceh, Kalimantan, Riau pada event Gelar Budaya Etnis Nusantara di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penunjang Kreatif n Player Tari " Sanak Petuah " dalam Tugas Akhir Mahasiswa tari UNY 2008.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penunjang Kreatif n Player Tari " Kepaksian Sekala Brak" dalam Tugas Akhir Mahasiswa tari UNY 2009.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Koreografer  Tari ”Pekan Liwa” Juara 1 pada event festival Teluk Stabas di Lampung Barat tahun 2009.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penunjang Kreatif n Player Tari " Batu Belah Batu Betangkup " dalam Tugas Akhir Mahasiswa tari UNY 2010.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penata Tari Terbaik dan Juara 1 . Tari ” Payan Duakha” Lomba tari se Provinsi Lampung,  Festival Krakatau 2010.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Koreografer tari persembahan ”Pahar Agung”, disuguhkan didepan Wakil Gubernur Lampung dalam Acara Pelantikan Hipmala 2010, ditampilkan kembali pada Ultah Kota JOgja di benteng Vredeburg didepan Walikota jogja, dan Festival Seni dan Budaya Pascasarjana UGM 2011.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Koreografer Tari ” Sekura Waya” tampil dalam Sepatu Menari di Institut Seni Indonesia Yogyakarta 2010 dan Acara Budaya Tiong Hoa Jogja 2010.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penunjang Kreatif n Player Tari " Sansayan Sekeghumong" dalam Tugas  Akhir Mahasiswa tari UNY 2011 dan Juara 1 International Etnic Cultur Festival di Yogyakarta 2011.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-5778501369467156547?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/5778501369467156547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/biografi-saliwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5778501369467156547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5778501369467156547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/biografi-saliwa.html' title='Biografi SALIWA'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Pb8nurUXP2g/TvLGYUWApeI/AAAAAAAAA4Y/fs6VOghIoSo/s72-c/19461_1072884838089_1705201480_140349_4682916_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-8884503053898641142</id><published>2011-12-19T20:32:00.000-08:00</published><updated>2011-12-19T20:46:47.133-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEPEMUDAAN'/><title type='text'>Ketika Sultan Terkena Tilang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Kisah Nyata: Ketika Sri Sultan HB IX terkena tilang di Pekalongan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;( Depok June 25′ 2011: Aryadi Noersaid )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-eaUMRk09VGk/TvASit6ZP9I/AAAAAAAAA4M/_9Cql412v7k/s1600/soekarno%2Bsultan%2Bhamengku%2Bbuwono9.png"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 388px; height: 235px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-eaUMRk09VGk/TvASit6ZP9I/AAAAAAAAA4M/_9Cql412v7k/s320/soekarno%2Bsultan%2Bhamengku%2Bbuwono9.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688066717018308562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan  kabut tipis , pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum  genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala  menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko  dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu  menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat  brigadir.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Becak dan delman amat dominan masa itu ,  persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk  angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan  membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang  berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir Royadin memandang  dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju  kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan  tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat  menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang  amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat mobil menepi , brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi  hormat dengan sikap sempurna . “Boleh ditunjukan rebuwes!” Ia meminta  surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik  kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perlahan , pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Ada apa pak polisi ?” Tanya pria itu.  Brigadir Royadin tersentak kaget , ia mengenali siapa pria itu . “Ya  Allah…sinuwun!” kejutnya dalam hati . Gugup bukan main namun itu hanya  berlangsung sedetik , naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya  dalam sikap sempurna.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Bapak melangar verbodden , tidak boleh  lewat sini, ini satu arah !” Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah  Sultan Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dirinya tak habis pikir ,  orang sebesar sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari jogja ke  pekalongan yang jauhnya cukup lumayan., entah tujuannya kemana.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah melihat rebuwes , Brigadir  Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden  di ujung jalan , namun sultan menolak.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“ Ya ..saya salah , kamu benar , saya  pasti salah !” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir  Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“ Jadi…?” Sinuwun bertanya , pertanyaan yang singkat namun sulit bagi brigadir Royadin menjawabnya .&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Em..emm ..bapak saya tilang , mohon  maaf!” Brigadir Royadin heran , sinuwun tak kunjung menggunakan  kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya, jangankan begitu  , mengenalkan dirinya sebagai pejabat Negara dan Rajapun beliau tidak  melakukannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Baik..brigadir , kamu buatkan surat itu  , nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal !” Sinuwun  meminta brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang. Dengan  tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak  memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak  boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan  hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah  katapun yang keluar dari mulut sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak  mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Surat tilang berpindah tangan , rebuwes  saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum  sinuwun kembali memacu Sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beberapa menit sinuwun melintas di depan  stasiun pekalongan, brigadir royadin menyadari kebodohannya,  kekakuannya dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda  ontelnya mengejar Sedan hitam itu tapi manalah mungkin. Nasi sudah  menjadi bubur dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan  pada siapapun berhasil menghibur dirinya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat aplusan di sore hari dan kembali ke  markas , Ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses  hukum lebih lanjut.,Ialu kembali kerumah dengan sepeda abu abu tuanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat apel pagi esok harinya , suara  amarah meledak di markas polisi pekalongan , nama Royadin diteriakkan  berkali kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh gopoh  menghampirinya dan memintanya menghadap komisaris polisi selaku kepala  kantor.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Royadin , apa yang kamu lakukan  ..sa’enake dewe ..ora mikir ..iki sing mbok tangkep sopo  heh..ngawur..ngawur!” Komisaris mengumpat dalam bahasa jawa ,  ditangannya rebuwes milik sinuwun pindah dari telapak kanan kekiri bolak  balik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“ Sekarang aku mau Tanya , kenapa kamu  tidak lepas saja sinuwun..biarkan lewat, wong kamu tahu siapa dia ,  ngerti nggak kowe sopo sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada  bicaranya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“ Siap pak , beliau tidak bilang beliau itu siapa , beliau ngaku salah ..dan memang salah!” brigadir Royadin menjawab tegas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Ya tapi kan kamu mestinya ngerti siapa  dia ..ojo kaku kaku , kok malah mbok tilang..ngawur ..jan ngawur….Ini  bisa panjang , bisa sampai Menteri !” Derai komisaris. Saat itu kepala  polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Brigadir Royadin pasrah , apapun yang  dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi , yang disumpah  untuk menegakkan peraturan pada siapa saja ..memang Koppeg(keras kepala)  kedengarannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kepala polisi pekalongan berusaha  mencari tahu dimana gerangan sinuwun , masih di Tegalkah atau tempat  lain? Tujuannya cuma satu , mengembalikan rebuwes. Namun tidak seperti  saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar , keberadaa sinuwun tak  kunjung diketahui hingga beberapa hari. Pada akhirnya kepala polisi  pekalongan mengutus beberapa petugas ke Jogja untuk mengembalikan  rebuwes tanpa mengikut sertakan Brigadir Royadin.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Usai mendapat marah , Brigadir Royadin  bertugas seperti biasa , satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak  teman temannya yang mentertawakan bahkan ada isu yang ia dengar dirinya  akan dimutasi ke pinggiran kota pekalongan selatan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Suatu sore , saat belum habis jam dinas ,  seorang kurir datang menghampirinya di persimpangan soko yang  memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor beberapa  polisi menggiringnya keruang komisaris yang saat itu tengah menggengam  selembar surat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Royadin….minggu depan kamu diminta  pindah !” lemas tubuh Royadin , ia membayangkan harus menempuh jalan  menanjak dipinggir kota pekalongan setiap hari , karena mutasi ini,  karena ketegasan sikapnya dipersimpangan soko .&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“ Siap pak !” Royadin menjawab datar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Bersama keluargamu semua, dibawa!”  pernyataan komisaris mengejutkan , untuk apa bawa keluarga ketepi  pekalongan selatan , ini hanya merepotkan diri saja.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda pak komandan, semua keluarga biar tetap di rumah sekarang !” Brigadir Royadin menawar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Ngawur…Kamu sanggup bersepeda  pekalongan – Jogja ? pindahmu itu ke jogja bukan disini, sinuwun yang  minta kamu pindah tugas kesana , pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat.!”  Cetus pak komisaris , disodorkan surat yang ada digengamannya kepada  brigadir Royadin.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Surat itu berisi permintaan bertuliskan  tangan yang intinya : “ Mohon dipindahkan brigadir Royadin ke Jogja ,  sebagai polisi yang tegas saya selaku pemimpin Jogjakarta akan  menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta  kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditanda tangani sri  sultan hamengkubuwono IX.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tangan brigadir Royadin bergetar , namun  ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sangup menolak permntaan orang  besar seperti sultan HB IX namun dia juga harus mempertimbangkan seluruh  hidupnya di kota pekalongan .Ia cinta pekalongan dan tak ingin  meninggalkan kota ini .&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“ Mohon bapak sampaikan ke sinuwun ,  saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari pekalongan , ini tanah  kelahiran saya , rumah saya . Sampaikan hormat saya pada beliau ,dan  sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya !”  Brigadir Royadin bergetar , ia tak memahami betapa luasnya hati sinuwun  Sultan HB IX , Amarah hanya diperolehnya dari sang komisaris namun  penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban  ketegasannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;July 2010 , saat saya mendengar  kepergian purnawirawan polisi Royadin kepada sang khalik dari keluarga  dipekalongan , saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar  kepergiannya . Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja  mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak family yang  berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip  kepada keturunannya , sekaligus kepada saya selaku keponakannya.  Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa  baktinya , pangkatnya tak banyak bergeser terbelenggu idealisme yang  selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran .&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin,  Sang Polisi sejati . Dan juga kepada pahlawan bangsa Sultan  Hamengkubuwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini dari  sabang sampai merauke.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Depok June 25′ 2011&lt;br /&gt;Aryadi Noersaid&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Update terakhir tentang penulis artikel&lt;/strong&gt;:  Bp Aryadi Noersaid saat ini tinggal di Depok, Saya sempat konfirmasi  via SMS kepada penulis untuk memastikan dan meminta comment atau  pernyataan dari beliau.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah menunggu beberapa waktu saya  mendapat respon dari Bp Aryadi Noersaid. Saya copy dari comment beliau.  dan terima kasih pak respon kilatnya:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-8884503053898641142?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/8884503053898641142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/ketika-sultan-terkena-tilang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/8884503053898641142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/8884503053898641142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/ketika-sultan-terkena-tilang.html' title='Ketika Sultan Terkena Tilang'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-eaUMRk09VGk/TvASit6ZP9I/AAAAAAAAA4M/_9Cql412v7k/s72-c/soekarno%2Bsultan%2Bhamengku%2Bbuwono9.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-5625007956278591186</id><published>2011-12-18T04:24:00.000-08:00</published><updated>2011-12-18T04:32:58.756-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEPEMUDAAN'/><title type='text'>Sejarah Asli "Gamolan Lampung"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Z6rJIxhsVVg/Tu3dS55DM_I/AAAAAAAAA38/uBdBuJumgWY/s1600/20110616gamolan.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Z6rJIxhsVVg/Tu3dS55DM_I/AAAAAAAAA38/uBdBuJumgWY/s320/20110616gamolan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5687445221286294514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Diandra Natakembahang*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Lampung Post edisi 18 Desember 2011 dengan&lt;br /&gt;tajuk "&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Meluruskan Sejarah Gamolan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;"&lt;/div&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menilik  Gamolan sebagai sebuah instrumen musik tidak dapat dipisahkan dari  perjalanan panjang Peradaban Sekala Brak sebagai salah satu produk  budaya dari Peradaban Sekala Brak Kuno. Gamolan sebagai sebuah instrumen  musik telah menyertai Peradaban Sekala Brak sampai saat ini dalam aspek  Seni dan Tradisi. Gamolan Lampung telah diteliti oleh Prof Margaret J  Kartomi dan dicantumkan dalam bukunya &lt;em&gt;“Musical Instruments of Indonesia”&lt;/em&gt;  yang diterbitkan oleh Indonesian Art Society Association With The  Department of Music Monash University, 1985. Prof Margaret J Kartomi  adalah seorang Profesor Musik dari Monash University Australia yang  telah menggeluti musik Gamelan selama lebih dari 30 tahun, Ia datang ke  Lampung Barat medio 1982. Dalam bukunya Prof Margaret menyebutkan bahwa  Gamolan berasal dari Liwa daerah pegunungan dibagian barat Lampung, &lt;em&gt;“A Gamolan origin from Liwa in the montainous nortwest area of Lampung”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hipotesa  yang menyatakan bahwa seperangkat Orkestra Gamelan Jawa adalah berasal  dan merupakan pengembangan dan perkembangan dari Gamolan Lampung juga  sangat kuat dan mempunyai alur yang jelas. Setidaknya ada tiga hal yang  menguatkan hipotesa ini, yang pertama adalah bahwa hal yang relatif  sederhana adalah merupakan Peradaban awal dan adalah permulaan dari  pengembangan hal yang lebih rumit dan kompleks [H. Stewart], yang kedua  secara etimologi dalam konteks nama relatif tidak berubah dari Gamolan  [Lampung] menjadi Gamelan [Jawa], yang ketiga Gamolan Lampung dibawa ke  Pulau Jawa dan bermetamorfosa sedemikian rupa menjadi seperangkat  Orkestra Gamelan Jawa, Gamolan Lampung dibawa kepulau Jawa saat  Sriwijaya menguasai Nusantara termasuk Jawa. Gamolan Lampung terpahat  dalam relief di Candi Borobudur [Abad ke 8 M], Candi Borobudur sendiri  dibangun oleh Dinasti Syailendra Sriwijaya, sekelompok orang yang  membuat Candi Borobudur juga adalah orang Lampung [Hasyimkan, 2011].&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sriwijaya  sebagai sebuah Kerajaan Maritim terbesar diAsia Tenggara mempunyai  perjalanan Sejarah yang panjang dan pertautan yang sangat erat dengan  Sekala Brak Kuno. Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Sri  Jaya Naga seorang Raja Budhist dari Ranau Sekala Brak, Pendiri Sriwijaya  ini dijuluki Syailendravarmsa atau Raja Pegunungan, hal ini didukung  oleh pendapat para ahli dan Sejarawan sebagaimana yang diungkapkan oleh  Lawrence Palmer Briggs dalam &lt;em&gt;“The Origin of Syailendra Dinasty”&lt;/em&gt;  Journal of American Oriental Society Vol 70, 1950,  Lawrence menyatakan  bahwa “Sebelum Tahun 683 Masehi Ibu Negeri Sriwijaya terletak didaerah  pegunungan agak jauh dari Palembang, tempat itu dipayungi oleh dua  Gunung dan dilatari oleh sebuah Danau. Itulah sebabnya Syailendra dan  Keluarganya disebut Raja Pegunungan”, jelas bahwa dua Gunung yang  dimaksud oleh Lawrence adalah Gunung Pesagi dan Gunung Seminung,  sementara Danau yang dimaksud adalah Danau Ranau. Setelah perpindahan  dari Sekala Brak, Sriwijaya setidaknya tiga kali berpindah Ibu Negeri  yaitu Minanga Komering, Palembang dan Darmasraya Jambi, namun demikian  para Sejarawan juga ada yang berpendapat bahwa Patthani diselatan  Thailand adalah Ibu Negeri Terakhir Sriwijaya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara etimologi Gamolan berasal dari kata &lt;em&gt;Gimol&lt;/em&gt; yang artinya Gemuruh atau Getar yang berasal dari suara bambu dan menjadi &lt;em&gt;Gamolan&lt;/em&gt; yang artinya Bergemuruhan atau Bergetaran, sementara &lt;em&gt;Begamol&lt;/em&gt;  artinya Berkumpul [Wirda Puspanegara, Paksi Bejalan Di Way Sekala  Brak]. Gamolan pada awalnya merupakan instrumen tunggal yang konon  dimainkan dan yang menemani seorang &lt;em&gt;Mekhanai Tuha&lt;/em&gt; atau Bujang Lapuk, yang menetak &lt;em&gt;Pekhing Mati Temeggi &lt;/em&gt;atau  tunggul bambu tua tegak yang sudah lama mati [Syapril Yamin, Paksi  Bejalan Di Way Sekala Brak]. Gamolan yang merupakan instrumen xilophone  yang berasal dari Sekala Brak ini, dideskripsikan oleh Prof Margaret J  Kartomi dalam “&lt;em&gt;Musical Instruments of Indonesia” &lt;/em&gt;sebagai  berikut, Gamolan terdiri dari delapan lempengan bambu dan memiliki  kisaran nada lebih dari satu oktaf, lempengan bambu tersebut diikat  secara bersambung dengan tali rotan yang disusupkan melalui sebuah  lubang yang ada disetiap lempengan dan disimpul dibagian teratas  lempeng, penyangga yang tergantung bebas diatas wadah kayu memberikan  resonansi ketika lempeng bambunya dipukul oleh sepasang tongkat kayu,  Gamolan memiliki tangga nada 1 2 3 5 6 7, dua orang pemain duduk  dibelakang alat musik ini salah satu dari mereka memimpin [&lt;em&gt;Begamol&lt;/em&gt;]  memainkan pola pola melodis pada enam lempeng, dan  yang satunya [&lt;em&gt;Gelitak&lt;/em&gt;]  mengikutinya pada dua lempeng sisanya, lempeng lempeng pada Gamolan  distem dengan cara menyerut punggung bambu agar berbentuk cekung,  Gamolan dimainkan bersamasama dengan sepasang gong [&lt;em&gt;Tala&lt;/em&gt;], drum yang kedua ujungnya bisa dipukul [&lt;em&gt;Gindang&lt;/em&gt;] dan sepasang simbal kuningan [&lt;em&gt;Rujih&lt;/em&gt;].&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pergeseran  istilah instrumen musik ini dari Gamolan menjadi Cetik, konon karena  tampilan suara yang dihasilkan oleh Gamolan sehingga akhirnya Gamolan  juga dijuluki sebagai Cetik. Pergeseran istilah ini terjadi pada sekitar  medio tahun 90an, demikianlah penyebutan Gamolan menjadi Cetik akhirnya  menjadi lumrah dan menjadi sebutan yang umum bagi Gamolan bahkan dalam  penulisan sekalipun seperti dalam penulisan Buku Pelajaran Muatan Lokal  untuk Provinsi Lampung, namun demikian beberapa Peneliti dari Taman  Budaya Provinsi Lampung menyebut instrumen musik ini sebagai Kulintang.  Demikianlah dinamika Gamolan dalam istilah dan penyebutan, karenanya  Penulis sepakat untuk kembali menyebut Gamolan, bagi instrumen musik ini  karena terkait dengan sejarah panjang serta fungsi dan peranan Gamolan  dalam tradisi Masyarakat Adat Sekala Brak sebagai origin dari Gamolan  Lampung.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penulis agak kaget manakala mengetahui bahwa Way  Kanan juga adalah daerah asal dari Gamolan, walaupun di Lampung, Gamolan  sebagai instrumen musik juga digunakan sebagai Piranti Adat di Semaka  dan Way Kanan. Belum jelas seperti apa tepatnya informasi yang  menyatakan bahwa Way Kanan juga merupakan origin dari Gamolan Pekhing  ini, namun sepertinya alasan politis  dan kepentingan lebih berperan  disini. Walaupun sebagian besar Etnis Lampung dari berbagai Buway dan  Marga dari setiap Konfederasi Adat memiliki Tambo Sejarahnya masing  masing dan mengakui bahwa Puyang Ulun Lampung berasal dari dataran  tinggi Sekala Brak dikaki Gunung Pesagi. Namun demikian tidak ada  “Origin Bersama” dari sebuah Produk Kebudayaan,  Keris misalnya walaupun  telah menjadi salah satu Produk Kebudayaan besar Nusantara dan telah  menjadi Produk Budaya dan Tradisi bukan saja Jawa tapi juga Bali, Sasak,  Sunda, Bugis bahkan Melayu namun tidak dapat dipungkiri bahwa Keris  adalah produk dari Kebudayaan Jawa yang merupakan daerah originnya.  Demikianlah apapun dan bagaimanapun dinamika dari sebuah Kebudayaan,  namun Sejarah dan Istilah harus diluruskan karena berkaitan dengan  Tradisi, Falsafah dan perjalanan panjang Sejarah dan Peradaban dari  sebuah Suku Bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;*Kerabat Lamban Bandung&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Paksi Bejalan Di Way Sekala Brak&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Tinggal di Bandar Lampung&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-5625007956278591186?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/5625007956278591186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/sejarah-asli-gamolan-lampung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5625007956278591186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5625007956278591186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/sejarah-asli-gamolan-lampung.html' title='Sejarah Asli &quot;Gamolan Lampung&quot;'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Z6rJIxhsVVg/Tu3dS55DM_I/AAAAAAAAA38/uBdBuJumgWY/s72-c/20110616gamolan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-1694525111535692648</id><published>2011-12-18T03:15:00.001-08:00</published><updated>2011-12-18T04:12:20.596-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI[KRITIK'/><title type='text'>Masyarakat  Adat Lampung DiPolitisasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;h3 style="font-weight: bold;" class="post-title entry-title"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Esai: Politisasi Masyarakat Adat Lampung*&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;-- Udo Z. Karzi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-utFEMpNwvmE/Tu3O9SBQjXI/AAAAAAAAA3w/Bh7REZMTBAI/s1600/stop.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 360px; height: 239px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-utFEMpNwvmE/Tu3O9SBQjXI/AAAAAAAAA3w/Bh7REZMTBAI/s320/stop.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5687429456643263858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TERBATA-bata &lt;a href="http://ulunlampung.blogspot.com/2007/06/esai-setelah-tapak-tilas-budaya-what.html"&gt;Fachrudin&lt;/a&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;,  12 Juni 2007) menuliskan sebuah apologi -- kalau tidak mau disebut  sebagai sebuah upaya justifikasi -- atas napak tilas Majelis Penyimbang  Adat Lampung (MPAL) yang disertai Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. ke  Kesultanan Kecirebonan. Tulisan Fachrudin dihajatkan untuk menanggapi  esai A. Ichlas Syukuri, "&lt;a href="http://ulunlampung.blogspot.com/2007/05/esai-matinya-penyimbang-adat.html"&gt;Matinya 'Penyimbang' Adat&lt;/a&gt;" (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, 26 Mei 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fachrudin  memang mengatakan ada dua masalah yang diangkat Ichlas Syukurie, yaitu  mempersoalkan representasi Alhusniduki Hamim dari unsur Majelis  Penyimbang Adat Lampung (MPAL) yang mengklaim mewakili seluruh  penyimbang adat Lampung dan meragukan integritas budaya rombongan yang  melakukan napak tilas ke Keraton Kacirebonan di Jawa Barat. Namun,  sesungguhnya Fachrudin sama sekali tidak menyentuh esensi dari esai  Ichlas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dua masalah itu, hal yang lebih substansi  apa yang ingin dikatakan Ichlas melalui esainya itu, antara lain betapa  rendahnya kualitas pemahaman terhadap budaya warisan leluhur masyarakat  Lampung. Barangkali akibat tidak adanya penelitian yang konprehensif  atas kebudayaan tinggi ini. Lampung, kata Ichlas, termasuk kebudayaan  tinggi dalam peta kebudayaan Nusantara dan internasional karena  kebudayaan Lampung sudah mengenal aksara sendiri, yakni ka-ga-nga.  Namun, kesadaraan berbudaya masyarakat Lampung sangat dipengaruhi sistem  pemerintahan negara, sangat tergantung kepada siapa yang menjadi  pemegang kekuasaan pemerintah negara tertinggi di daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneruskan  apa yang dinyatakan Ichlas, yang secara tersirat ingin mengatakan  "kekagumannya" pada kebudayaan Lampung yang memiliki sistem aksara  sendiri (kaganga), saya ingin menambahkan sebuah fakta baru yang  dikemukakan Louis-Charles Damais (1995) dalam bukunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Epigrafi dan Sejarah Nusantara&lt;/span&gt;  yang diterbitkan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta hlm.  26-45. Menurut Damais, di antara Liwa dan Gunung Pesagi, terdapat  Prasasti Hujung Langit yang bertarikh 9 Margasira 919 Saka (12 November  997 M) yang (mungkin) ada kaitannya dengan Kerajaan Sekalabrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  pikir, bukti-bukti sejarah seperti ini lebih menarik untuk diteliti  lebih lanjut ketimbang berdebat soal yang memang masih debatable. Saya  lebih sepakat dengan Ichlas bahwa untuk mencari jejak (kebudayaan) ulun  Lampung; bukan dengan mencari bukti atau napak tilas semacam ke  Kesultanan Kecirebonan. Sebab, kalau itu yang dilakukan, kebudayaan  Lampung menjadi semakin termarginal dan semakin tidak memiliki makna  apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kontradiksi dengan pernyataan (kenyataan?) bahwa  kebudayaan Lampung yang ‘adiluhung’ telah berkembang lama, jauh sebelum  masuknya Islam dari Cirebon dan Banten. Lihat saja prasasti yang  berangka tahun 997 M atau bahkan jauh sebelum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun  Fachrudin berusaha sekuat tenaga menjelaskan, apa pentingnya napak  tilas, piil pesenggiri, Kesultanan Islam, serta perjanjian Lampung dan  Banten; sulit bagi saya untuk menyetujui betapa berartinya napak tilas  para "tokoh adat Lampung" itu ke Kesultanan Kecirebonan. Sampai hari  ini, saya tidak mengerti apa yang telah dilakukan Gubernur Sjachroedin  Z.P. dan juga MPAL (dulu: Lembaga Masyarakat Adat Lampung) dalam  membangun kebudayaan Lampung. Saya juga bertanya-tanya strategi  kebudayaan yang seperti apa yang dikembangkan Pemprov Lampung dan juga  LPAL untuk membangun Kebudayaan Lampung (dengan K huruf besar)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;***&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Saya  justru mendapati bagaimana kebudayaan Lampung menjadi tidak berarti  apa-apa setelah Fachrudin mengatakan, "pesinggiri" berasal dari kata  bahasa Sunda, "pasanggiri" yang berarti lomba atau fastabiqu  (al-khoirot). Lalu, di Lampung berhasil disandingkan dengan piil,  sehingga terformulasi dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;piil pesenggiri&lt;/span&gt; bersama unsurnya. Dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah  benar piil pesenggiri itu justru dipengaruhi (terpengaruhi) oleh  Kesultanan Kecirebonan, maka runtuhlah kemuliaan "piil pesenggiri" yang  diagung-agungkan selama ini. Benarlah kata Firdaus Augustian yang  menyebut piil pesenggiri sebagai puzzle. Konsep piil pesenggiri sebagai  unsur kebudayaan Lampung bukan asli, melainkan diadopsi dari Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita  Fachrudin selanjutnya, dari Keraton Kacirebonan itulah Fatahillah  memprogram terbentuknya Kesultanan Islam di Lampung, untuk itulah  dilamarnya Puteri Sinar Alam dari Keratuan Pugung, selain mengantisipasi  masuknya bangsa Portugis ke Lampung. Maka, pembangunan Kesultanan Islam  dengan konsep akulturasi Jawa-Sumatera bersama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;piil pesenggiri&lt;/span&gt;-nya diyakini mampu menjadi alternatif dari kejatuhan Demak dan keterbatasan Cirebon serta Banten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar  saya: seluruh kisah Fachrudin menempatkan Cirebon dan Banten sebagai  "penjajah" yang gagal bagi pembentukan kebudayaan Lampung. Kalau itu  benar, Lampung sebagai sebuah masyarakat etnis (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;society&lt;/span&gt;) dan kebudayaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;culture&lt;/span&gt;) sungguh tidak memiliki identitas apa-apa. Semua segi kehidupan (kebudayaan) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ulun&lt;/span&gt; Lampung dipengaruhi dari luar Lampung, yang dalam kisah Fachrudin berasal dipengaruhi oleh Cirebon dan Banten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya,  sejak dulu saya paling tidak setuju dengan pembentukan LMAL atau MPAL.  Bukan soal keterwakilan atau tidak, tetapi yang terjadi dengan  keberadaan institusi itu adalah "politisasi adat" untuk merebut  kekuasaan dan kemudian menjaga kelanggengan rezim yang berkuasa. Lihat  saja pengurus MPAL yang diisi oleh pejabat/mantan pejabat atau  orang-orang yang dekat (bisa juga mendekatkan diri) pada sumbu  kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau jujur, yang disebut penyimbang adat atau  saibatin toh tidak otomatis memiliki jabatan di lembaga pemerintahan.  Mereka ada di komunitas adat mereka masing-masing dan menjadi pemimpin  dalam komunitas mereka itu. Jadi, memang agak susah seorang pejabat  mengklaim diri sebagai pemimpin adat bagi seluruh masyarakat adat di  Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bukan hal berlebihan jika ada yang menuding  institusionalisasi masyarakat adat dalam wadah semacam MPAL atau nama  lainnya sebagai sebuah upaya sentralisasi adat. Lihat saja, nanti MPAL  akan membentuk cabang di kota/kabupaten, bahkan mungkin hingga kecamatan  dan kelurahan/pekon. Dengan adanya MPAL, adat-istiadat seakan-akan  dibuat formal atau dibakukan berdasarkan versi pengurus MPAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal,  sudah jelas dalam Lambang Provinsi Lampung tertulis tentang "Sang Bumi  Ruwa Jurai" sebagai pengakuan tidak mungkin adanya penyeragaman. Lampung  itu kan multikultur. Dan, etnis Lampung juga plural. Tafsir-tafsir  tentang kebudayaan Lampung (adat-istiadat, kebiasaan, kesenian,  cara-cara berbicara, pola tindakan, dan sebagainya) juga multitafsir.  Heterogenitas ini kan harusnya dihormati. Jadi, biarlah kebudayaan  Lampung tumbuh dengan pluralitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Gugatan terhadap keberadaan lembaga adat itu sebenarnya telah muncul  dalam Kongres Masyarakat Adat Nasional atau KMAN III di Pontianak,  Kalimantan Barat, 17-21 Maret 2007, yang juga diikuti MPAL. Catatan  penting dari kongres adat itu: rawannya posisi masyarakat adat dan hukum  adat ketika berhadapan dengan politik kepentingan negara di satu sisi,  dan pragmatisme kepentingan modal di daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau wakil MPAL  nyaris tidak terdengar suaranya dalam kongres adat itu, Jaringan  Komunitas Masyarakat Adat Aceh justru menyatakan keluar dari organisasi  Aliansi Masyarakat Adat Nusantara sebelum KMAN III ditutup. Langkah  penguatan struktur organisasi masyarakat adat yang dilakukan dalam  kongres dinilai berorientasi sentralistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami cukup trauma  dengan mekanisme struktural organisasi yang sentralistik. Kami  menghendaki masyarakat adat tidak dibedakan ke dalam jenjang-jenjang  organisasi di berbagai tingkat wilayah," kata koordinator Jaringan  Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh Yuriun waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Jadi, sudahlah MPAL! Tidak usah terlalu berambisi hendak menjadi  pemimpin seluruh masyarakat adat Lampung. Perbanyak saja riset dan  kajian tentang kebudayaan Lampung untuk melahirkan karya-karya yang bisa  dirujuk kebenarannya dan menjadi referensi bagi kita yang ingin  memperdalam Kebudayaan Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dengan sedikit perubahan, dimuat di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;, Sabtu, 23 Juni 2007 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-1694525111535692648?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/1694525111535692648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/masyarakat-adat-lampung-dipolitisasi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/1694525111535692648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/1694525111535692648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/masyarakat-adat-lampung-dipolitisasi.html' title='Masyarakat  Adat Lampung DiPolitisasi'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-utFEMpNwvmE/Tu3O9SBQjXI/AAAAAAAAA3w/Bh7REZMTBAI/s72-c/stop.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-2733752562216928333</id><published>2011-12-18T00:55:00.000-08:00</published><updated>2011-12-18T00:59:25.618-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>MARGA NGARAS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Sejarah MARGA NGARAS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Disalin Oleh Novan Saliwa&lt;br /&gt;Sumber Puniakan Dalom Salman Parsi Paksi Buay Nyerupa Paksi Pak Sekala  Brak&lt;br /&gt;dari Buku " Pada Mulanya Sekala Brha "&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-VpH05KyL944/Tu2rFEgBbqI/AAAAAAAAA3k/YK0aGGws07Y/s1600/IMG_0209.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-VpH05KyL944/Tu2rFEgBbqI/AAAAAAAAA3k/YK0aGGws07Y/s320/IMG_0209.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5687390008034553506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Pengantin Adat Marga Ngaras )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana yang terjadi pada masyarakat adat Marga Ngambur, sekitar abad ke-18 terbentuklan Marga Ngaras. Pendirian marga tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Inggris (IEC) memecah belah guna menguasai daerah Pesisir Krui, Oleh karena itu banyak marga yang didirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping pendirian marga sebenarnya Pemerintah Inggris juga banyak membentuk perkampungan-perkampungan baru disekitar daerah Pesisir Krui sampai ke daerah danau Ranau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian berdasarkan keterangan dari Merah bangsawan Gelar sutan purba negara, keturunan dari marga ngaras mengaku berasal dari keurunan Palembang, tepatnya penduduk Liba Haji, yang menyelamatkan diri akibat terjadinya Perang Kejawaan ( Palembang- Banten). tidak dapat diketahui secaara pasti kapan sebenarnya penduduk mulai memasuki wilayah disekitar kekuasaan Marga Ngaras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Ngaras menybut dirinya sebagai orang yang keras kemauan, karena orang orang Ngaras diknal sangat senang berikir, yang lambat laun dikenal sebagai kaum mengeras dan pada akhirnya berubah menjadi Ngaras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah Marga Ngaras yang terletak di pesisir Krui pada dasarnya diperoleh dari tanah Marg bengkunat, yang sejak lama berada didaerah sebelah selatan Marga Tenumbang sampai Tanjung Cina. Warga Ngaras yang berasal dari Liba Haji kemudian meminta tanah kepada Marga bengkunat, setelah terlebih dahulu meminta izin kepada Marga Tenumbang.  Marga Tenumbang ternyata mengijinkan sepanjang pemberian tanah tersebut disetujui oleh kedua belah pihak yaitu Marga bengkunat dan Marga Ngaras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disangka sebelum dilakukan persetujuan antar marga, warga ngaras yang umumnya berasal dari liba haji tersebut menyerang warga bengkunat, maksud dan tujuan penyerangan itu adalah untuk emnguasai seluruh tanah marga bengkunat secara paksa. Peperangan diantara kedua warga masyarakat adat tidak dapat dielakkan. peperangan tersebut berlangsung cukup lama, terkadang penyerangan terjadi secaraterbuka dan kadang pula secar diam diam. Kondisi tersebut tentu sangat mengganggu ketentraman masyarakat adat di sekitar Pesisir Krui, termasuk tokoh adat di kedua marga yang bertikai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya muncul niatan dari pemuka-pemuka adat untuk mendamaikan segala perselisihan yang terjadi. Perdamaian akhirnya terwujud di Tanjung Ladang. Lokasi tempat perjanjian perdamaian sampai sekarang dinamai "Parda Buangon" yang artinya sama sama berpikir. Untuk menghindari potensi peperangan dimasa yang akan datang, dalam perjanjian damai tersebut juga diatur tentang perjanjian mengenai batas-batas tanah bagi masing masing marga. ( Syahril Indra Bangsawan, Naskah Riwayat Marga Bengkunat, Hal 15-14 Koleksi Pribadi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marga Ngaras secara historikal juga memiliki keterikatan dengan Paksi Buay Pernong. Sebagai mana telah diuraikan pada sejarah Marga Ngambur. Berdasarkan Umanat Ratu Buay Pernong, Marga Ngaras Juga bagian dari Penggawa Lima Paksi Buay Pernong, oleh karena itu harus mematuhi berbagai ketentuan adat yang tela digariskan Buay pernong Paksi Pak, batu Brak, termasuk ikut membantu Sai Batin Buay Pernong jika ada hajatan atau urusan adat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silsilah dan Pemegang Kekuasaan Marga Ngaras.&lt;br /&gt;1. Dalom karang di lampung&lt;br /&gt;2. Raja Dawan Pertama&lt;br /&gt;3. Dalom Kesuma Ratu&lt;br /&gt;4. Raja Buay Sangun Jaya Sakti&lt;br /&gt;5. Dalom Sangun jaya Sakti&lt;br /&gt;6. Raja Sangun Ratu&lt;br /&gt;7. Dalom Purna Jagad.&lt;br /&gt;8. Pangeran Purba Negara&lt;br /&gt;9. Pangeran Andika Ratu&lt;br /&gt;10. pangeran mangku bumi&lt;br /&gt;11 Dalom Purna Jagad II&lt;br /&gt;12. Pangeran Purba Negara II&lt;br /&gt;13. Raja Dawan II&lt;br /&gt;14. Dalom Sampurna Jaya&lt;br /&gt;15. Merah Bangsawan gelar Sutan Purba Negara&lt;br /&gt;16. Berdi Saputra gelar Sutan Purba Negara I.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-2733752562216928333?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/2733752562216928333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/marga-ngaras.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/2733752562216928333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/2733752562216928333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/marga-ngaras.html' title='MARGA NGARAS'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-VpH05KyL944/Tu2rFEgBbqI/AAAAAAAAA3k/YK0aGGws07Y/s72-c/IMG_0209.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-5730292411022422481</id><published>2011-12-18T00:46:00.000-08:00</published><updated>2011-12-18T00:55:23.922-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>MARGA NGAMBUR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Sejarah MARGA NGAMBUR&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Disalin Oleh Novan Saliwa&lt;br /&gt;Sumber Puniakan Dalom Salman Parsi Paksi Buay Nyerupa Paksi Pak Sekala  Brak&lt;br /&gt;dari Buku " Pada Mulanya Sekala Brha " Sejarah Masyarakat Adat Lampung Barat&lt;br /&gt;( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yhannu Setyawan, Khairul Anom, Anwar Anas, Andi M Windharsa&lt;/span&gt; )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebelum daerah Pesisir Krui dimasuki oleh pemerintah Kolonial Inggris ( IEC) lebih kurang pada abad ke-18, dahulunya Ngambur hanyalah nama suatu kampung. setelah Inggris berkuasa, jumlah marga marga didaerah krui bertambah . Penduduk yang berasal dari kembahang kemudian mendirikan marga Ngambur. Dengan demikian latar belakang historis penyebab dikemudian hari Ngambur berubah menjadi Marga. ( S&lt;span style="font-style: italic;"&gt;arbini 1939. Riwayat Berdirinya Marga Way-Sindi dan pekembangan Penduduknya di Krui. Olok Pandan. Tidak diterbitkan&lt;/span&gt; ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marga Ngambur diakui sebagai bagian dari Penggawa Lima Marga Buay Pernong yang terdiri atas Ngaras, Ngambur, Belimbing dan Bengkunat, dimana mereka tunduk terhadap aturan adat dari Ratu Buay Pernong sebagaimana tertulis didalam kitab / tambo Marga Buay pernong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam tambo yang berisi tentang Amanat Ratu Buat Pernong disebutkan secara tegas tentang keharusan dan kewajiban bagi ke empat orang penggawa agar memenuhi aturan adat Buay Pernong, kecuali terhadap Penggawa Tenumbang yang karena keberadaanya merupakan perwakilan adat bagi Buay Pernong di Pesisir Krui. aturan adat itu misalnya, jika pada suatu ketika Buay Pernong sedang mempunyai pekerjaan yang berkaitan dengan adat, baik yang bersifat suka atau duka maka Dalom Ngambur, Pangeran Ngaras, Dalom Bengkunat dan Dalom Belimbing berkewajiban memberikan sumbangan sepenuhnya kepada Raja Adat pucuk Pimpinan Paksi Pak Buay Pernng di batu Brak. Jika tidak, maka terhadap hak yang diberikan untuk mengusahakan tanah dibagian pesisir sebagaimana batas batas yang telah ditentukan dan telah diterima akan dibatalkan. demikian pula dengan kekuasaan yang diberikan akat dicabut, karena penghianatan yang dilakukan terhadap janji dihadapan leluhur Paksi Buay pernong. ( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tertulis dalam Tambo kulit kayu beraksara lampung asli dan ditandatangani atas nama Ratu Buay Pernong dan diterjemahkan oleh Pangeran Suhaimi gelar Sultan Lela Muda &lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ddemikian, pada dasarnya leluhur marga ngambur mendapat tempat atau tanah didaerah pesisir Krui tersebut karena diberikan oleh marga Tenumbang yang merupakan pimpinan dari penggawa Lima Paksi buay Pernong dan juga merupakan perwakilan adat Paksi Buay Pernong di Pesisir Krui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berdasarkan silsilah yang tertulis pada Paksi buay Bejalan Diway, kembahang, bahwa Ratu mangkuda pahawang mempunyai anak bungsu yang bernama puyang Rakihan Sakti yang akhirnya menurunkan Marga Ngambur. puyang Rakihan Sakti diperkirakan akhirnya diangkat sebagai sai batin Ngambur tetapi saat Ngambur belum resmi menjadi Marga.&lt;br /&gt;pada masa sekarang masyarakat Marga Ngambur tetap eksis bediri dan dipimpin oleh seorang Sai Baitn bernama Nusirwan bergelar Sutan Kapitan ratu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-5730292411022422481?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/5730292411022422481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/marga-ngambur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5730292411022422481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5730292411022422481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/marga-ngambur.html' title='MARGA NGAMBUR'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-6109909941876970961</id><published>2011-12-15T22:15:00.000-08:00</published><updated>2011-12-15T22:38:23.499-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>MARGA ULU KRUI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Sejarah MARGA ULU KRUI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Disalin Oleh Novan Saliwa&lt;br /&gt;Sumber Puniakan Dalom Salman Parsi Paksi Buay Nyerupa Paksi Pak Sekala  Brak&lt;br /&gt;dan Buku " Pada Mulanya Sekala Brha "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ivdKQuXpVQI/Turm6nw-59I/AAAAAAAAA3Y/0RyFgdlKKr4/s1600/Krui-map.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 385px; height: 220px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ivdKQuXpVQI/Turm6nw-59I/AAAAAAAAA3Y/0RyFgdlKKr4/s320/Krui-map.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5686611374289905618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan silsilah yang terdapat pada buay Nyerupa SUkau, diketahui bahwa buay nyerupa pernah dipecah menjadi 2 (dua) marga yaitu Marga Liwa dan marga Ulu Krui. Marga Ulu Krui diperkirakan pertama kali dipimpin oleh Ki Demang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaanya juga diakui oleh belanda pada tahun 1799. Ki Demang merupakan keturunan dari Sirasan gela Dalom Purbajagat Piekulun, dengan demikian dapat dikatan bahwa Marga Ulu Krui merupaka Perwakilan Buay Nyerupa Sukau, yang berkedudukan di Gunung Kemala, Krui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaannya sebagai marga marga secara resmi terjadi pada tahun 1882. Tidak diketemukan dokumen yang dapat menjelaskan secara pasti, mengapa Marga Ulu Krui pecah dari buay Nyerupa. Dokumen yang bisa dipelajari dari tambo yang disalin ulang oleh SUltan Piekulun pada tahun 1876 selaku Saibatin Paksi Buay Nyerupa, yang menceritakan tentang siapa asal usul dan siapa yang pertama kali menduduki pemerintahan di Marga Ulu Krui, Gunung Kemala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diuraikan bahwa pada masa Si Rasan Gelar Dalom Purbajagat Piekulun, berdasarkan penelusuran terhadap surat keterangan dari Buay Nyerupa tentang asal usul dan yang mula mula menduduki pemerintahan di Marga Ulu Krui, Gunung Kemala. dipimpin oleh Ki Demang yang kemudian diperkuat dengan pengangkatan oleh Kompeni Belanda pada Tahun 1799.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalom Purbajagat Piekulun termasuk yang menguasai wilayah sukau, Liwa dan Ulu Krui, karena memiliki empat orang anak., pertama bernama Juru batin gelar Si Gajah Dalom Ratu Piekulun yang menetap di sukau dan menjadi Sai Batin SUkau, Kedua Syarbini tinggal di Bahway, Ketiga Bernama Orang Dunia tinggal Di Ulu Krui dan anak Ke Empat benrama Jalang Tenumbang gelar Dipati Raja Suntan tinggal di Tanjung Beringin Tenumbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian berdasarkan kekuasaan yang dimiliki oleh Buay Nyerupa, Orang Dunia seharusnya menempati  marga Ulu Krui, akan tetapi ketika itu disekitar Ulu Krui telah terdapat seorang pemimpin yang bernama Ali Pati, yang berasal dari Liba Haji, ia mendapatkan Kekuasaan dari Inggris ( EIC), diangkat menjadi Kepala Peratin Tiga dan Suku Tiga di dusun Gunung Cahja ( Sukarajo). Dusun Peratin Tiga terdiri dari Soejang Lioe Dusun Suka Marga, Mangku Ria Dusun kamal, Kedemang Surabaya Dusun gunung Cahya ( SUkaraja). Sedangkan Suku TIga terdiri dari Danar Lioe Dusun Gunung Kemala, Suku Batin Gunung kemala, Dusun Mas Gunung Kemala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan Ali PAti yang ditetapkan oleh Kompeni Inggris ( IEC) tentu mengganggu kekuasaan Buay Nyerupa akhirnya di ambil jalan tengah dengan suatu perjanjian tentang pebagian hasil bumi, yang dibagi sama rata antara peratin Tiga dan Suku Tiga dengan Paksi Buay Nyerupa, Perjanjian tersebut dilakukan pada masa Kekuasaan Dalom Purbajagat Piekulun. Kemudian selanjutnya Dusun Peratin TIga dijadikan perangkat adat Buay Nyerupa. ( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terdapat dalam salinan dari Tambo Kulit Kayu pada Zaman SIGajah / Sipikok gelar Dalom Pikulun sebagai Kepala adat Paksi Buay Nyerupa Suka-Liwa dan Ulu Krui. Tambo kulit kayu ini disahkan oleh Residen Bengkulu pada tanggal 12 Mei 1865 no.1121&lt;/span&gt; ) Disekitar Peratin Tiga dan Sku tiga tersebut Ali Pati menjalankan pemerintahannya dan akhirnya beranak pinak hingga memiliki banyak keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini silsilah dan pemegang tampuk kekuasaan pada Marga Ulu Krui yang dapat ditelusuri adalah:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Alipati&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alipati Raja Lela&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alipati Raja Khalifah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Raja Lioe&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Raja Nurmala yang kemudian menikah dengan Radin Kesuma&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mursalin gelar Dalom Permata Negara ( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berdasarkan Surat Keterangan yang ditanda tangani oleh Peratin Tiga dan Suku Tiga serta Paksi Buay Nyerupa ( Dalom Piekulun) tentang  Asal usul Nula Mula Pemerintahan di Tanah Marga Okloe Krui Gunung Kemala&lt;/span&gt; )&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Sai Batin terakhir Marga Ulu Krui adalah Drs A Batoti Djapilus, Gelar Sutan Turunan Ratu, sekitar tahun 1930, terdapat catatan tentang sai batin Marga Ulu Krui yang bernama Baktiar gelar Raja Inton yang juga pernah menjadi Pesirah Marga Ulu Krui.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-6109909941876970961?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/6109909941876970961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/marga-ulu-krui.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/6109909941876970961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/6109909941876970961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/marga-ulu-krui.html' title='MARGA ULU KRUI'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ivdKQuXpVQI/Turm6nw-59I/AAAAAAAAA3Y/0RyFgdlKKr4/s72-c/Krui-map.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-2849466453914264218</id><published>2011-12-14T02:10:00.000-08:00</published><updated>2011-12-14T02:24:28.107-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>Berdirinya Marga Di Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Disalin Oleh: Novan Saliwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber Buku:  Pada Mulanya Skala Brha&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sejarah Masyarakat Adat Lampung Barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Paksi Pak merupakan kerajaan konfederasi yang dipimpin oleh empat bersaudara yaitu Maulana Umpu Pernong (raja pertama Kepaksian Buay Pernong yang berkediaman di Hanibung); Maulana Umpu Belunguh (raja pertama Kepaksian Buay Belunguh yang berpusat di Tanjung Menang, Kenali); Imam Maulana Umpu Nyekhupa (raja pertama Kepaksian Buay Nyekhupa yang berdiam di Tampak Siring); dan Maulana Umpu Lapah di Way (raja pertama Kepaksian Buay Bejalan di Way yang berkediaman di Puncak Dalom). Kerajaan konfederasi yang kami maksud di sini adalah keempat penguasa ini memiliki wilayah, rakyat, dan kedaulatan masing-masing. Kesadaran akan ingatan kolektif bahwa mereka berasal dari satu bapak yang sama, yaitu Maulana Imam Al Hasyir atau lebih dikenal sebagai Umpu Penggalang Paksi. Mereka mendirikan kerajaan Paksi Pak setelah berjaya menamatkan riwayat kerajaan Hindu-Animisme Sekala Bgha yang dipimpin Ratu Sekeghumong pada peralihan abad 13-14 Masehi. - (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Muhammad Harya Ramdhoni Julizarsyah&lt;/span&gt;) -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-HaPVwOIAkOs/Tuh4dTS96OI/AAAAAAAAA3I/Vuzci-4AvlM/s1600/DSCI0648%2B-%2BCopy.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-HaPVwOIAkOs/Tuh4dTS96OI/AAAAAAAAA3I/Vuzci-4AvlM/s320/DSCI0648%2B-%2BCopy.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685926974346619106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cap Kerajan Paksi Paksi Pak Sekala Brak, Paksi Buay Nyerupa bertulis huruf arab melayu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada Saat Berdirinya Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak ini , diwilayah pesisir Krui belum berdiri marga-marga. wilayah ini masih ditempati oleh suku Tumi, yang sebagian merupakan pelarian dari Sekala Brak. Marga marga baru berdiri diwilayah ini diperkirakan pada abad 15 M. mereka berdatangan dari berbagai daerah di sumatra bagian selatan, seperti Palembang, Komering dan Bengkulu. Sebelum menetap di Pesisir Krui, marga marga ini sempat berpindah pindah dari berbagai tempat di bagian barat Lampung, terutama tempat yang terdapat aliran sungai. Sebagai mana ditulis dalam tambo tambo marga di pesisir Krui-seperti Marga tenumbang, Penggawa Lima, Way Sindi dan Pugung tampak-bahwa mereka juga memerangi suku tumi yang telah lebih dahulu menetap diwilayah ini. sebagian suku tumi ini ada yang merupakan pelarian dari kekalahan mereka melawan Paksi Pak Sekala Brak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad 16 wilayah Sekala Brak mengalami masa keemasan dalam hal perdagangan. Keadaan ini terkait kebijakan banten dibwah Sultan Hasanuddin yang menitik beratkan pada pengembangan perdagangan. Terutama setelah ditaklukkanya Sunda Kelapa pada tahun 1527, yang kemudian berganti nama Jayakarta. Sehingga banten memegang peranan lebih penting serta dapat menarik perdagangan lada ke pelabuhannya. Lada merupakan Komoditas Utama perdagangan internasional, yang didatangkan dari wilayah kekuasaan Banten seperti Jayakarta, Lampung, dan Bengkulu. Banyak Kepala- kepala marga baik di Sekalabrak maupun krui yang melakukan "Siba" atau kunjungan kehormatan ke kesultanan banten. Mereka kerap kali bertukar simbol simbol kenegaraannya. lampung memang pada akhirnya mengakui kekuasaan Banten, meskipun pemerintahannya dijalankan secara otonomi. selain hubungan perdagangan juga dalam hal keagamaan, banyak pemuka adat yang berkunjung dan menetap ke Banten. walaupun Islam diwilayah Sekala Brak bukan dari banten melainkan dari utara/pagaruyung. unutk memperlancar hubungan mereka, pada tahun 1570 banten mengangkat "Jemjem"/Jonjom untuk beberapa wilayah Lampung. Jenjm adalah jabatan semacam duta bagi kerajaan banten untuk wilayah wilayah yang dikuasainya. Jenjem Pertama untuk wilayah pesisir krui adalah Ki Arya Wiraraja dan Depati Natanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);" class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Rata Penuh"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Rata Penuh" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Hubungan perdagangan antara Paksi Pak Sekala Brak dengan Kesultanan banten, salah satunya dapat dilihat dalam Piagam Paksi Buay Nyerupa Sukau. Piagam tersebut dibuat tahun 1691 pada masa pemerintahan Sultan Abdul Muahsin Muhammad Zaina Abidin di banten kepada Sultan Nyerupa yaitu Pangeran Si Rasan Pikulun Ratu Di Lampung. salah satu isinya adalah tentang kesepakatan untuk saling membantu, Sultan banten Juga berhak untuk mengangkat dan memecat kepala kepala marga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemelut terjadi ketika VOC ingin menguasai kesultanan banten , sehingga atas bantuan VOC pada tanggal 7 April 1682 Sultan Agung Tirtayasa disingkirkan anaknya sendiri, dan SUltan Haji dinobatkan menjadi SUltan banten. Perjanjian  antara VOC dan Sultan Haji menghasilkan piagam tertanggal 27 Agustus 1682 bahwa pengawasan dan monopoli perdagangan rempah rempah atas daerah Lampung diserahkan Oleh Sultan banten kepada VOC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Tokoh-tokoh penguasa di LAmpung, berhubungan dagang dengan VOC bukan hal yang menguntungkan, sebab mereka erikat dengan harga yang ditetapkan VOC, seingga mereka lebih memilih berdagang dengan Kesultanan palembang, yang dapat berdagang secara bebas tidak terikat. Maka dalam beberapa ekspedisi dagang kapal kapal VOC  ke Lampung selalu gagal. persoalan yang dialami VOC bertambah ketika kekuasaan Gubernur East Indian Company ( EIC) Yoseph Callas semakin kuat dibengkulu, terjadi tarik menarik moopoli perdagangan antara VOC dan EIC di Wilayah Lampung Barat. Sampai akhir tahun 1740, EIC mendirikan loji di pugung tampak. karena memang sangat strategis sebab arus perdagangan lada dan rempah rempah yang mengalir ke pasar Banten, melalui pelabuhan krui, membukan kesempatan besar EIC untuk memonopoli perdagangan lada diwilayah ini, yang banyak dipasok dari Pulau Pisang dan Olok pandan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya perdaganganEIC berjalan lancar sebab menggunakan pendekatan persuasif terhadap marga marga dipesisir krui. salah satunya adalah mengakui eksistetnsi kekuasaan para kepala adat. berbeda dengan kekuasaan belanda kelak. EIC tidak pernah melakukan pemecahan terhadap wilayah marga marga. pengangkatan jurai jurai untuk menjadi kepala marga hanya dilakukan EIC setalah ditetapkan oleh adat. hal ini yang membuat EIC relatif dapat diterima bagi masyarakat adat. namun ketika  Tahun 1755 terjadilah keributan antara petugas loji dengan seorang warga. tanpa diduga keributan terus berkembang, sehingga memunculkaan perlawanan warga . terutama munculnya Pangeran SIagul-agul yang merupakan Sai Batin marga Way Sindi. mulai saat itulah terjadi peperangan panjang antara EIC dengan marga marga yang dipimpin Pangeran Siagul-agul bahkan dengan sepasukan rakyat yang diambil dari sepanjang pesisir Krui, pangeran memimpin penghancuran Loji-Loji EIC. Setelah melewati peperangan yang panjang akhirnya EIC mengubah siasat perangnya. meraka mendekati para tetuamarga untuk dapat meluluhkan semangat balatentara Pengeran Siagul-agul, siasat ini memang cukup ampuh, sebab akhirnya pasukan pangeran siagul agul kian melemah dan perlawanan ini berkahir tahun 1758, dengan perjanjian antara pangeran Siagul agul dengan Hew Stuart dari pihak EIC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarik menarik EIC dan VOC masih terjadi di Lampung Barat, tapi keunggulan EIC lebih mendahului memonopoli perdagangan diwilayah Lampung Barat, Perjanjian dengan marga marga juga terus meluas termasuk juga Tahun 1799 Pengeran Natamarga Buay Belunguh Ikut Pula melakukan Perjanjian pada tanggal 13 Maret 1799. Disusul kemudian pangeran Alib jaya Buay Penong dengan surat perjanjian ddo.7 Agustus 1799.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri belanda thun 1795 berhasil ditaklukkan Napoleon, karenanya daerah koloni belanda yaitu Indonesia terancam oleh armada inggris dari calcutta India. Untuk itu, VOC dibubarkan dan pemerintahannya diambil alih oleh pemerintah Kerajaan belanda. Tanggal 18 januari 1807 HW Deandels diangkat menjadi Gubernur Jendral untuk memerintah Hindia belanda dengan Pusat kekuasaan batavia. Tahun 1811 armada Inggris datng dengan 100 kapal dengan 12.000 tentara dibawah jendral Auchmutty, memporak porandakan pertahanan belanda di batavia yang akhirnya belanda mengibarkan bendera putih, dan ditandatanganilah Kapitulasi Tuntang pada tahun yang sama yang berisi penyerahan pulau Jawa dan sekitarnya yang dikuasai belanda ketangan INggri, dan diangkatlah Thomas Stanford Raffles sebagai Letnan Gubernur untuk daerah Jawa dan sekitarnya. Raffles sempat mengadakan pertemuan dengan kepala kepala marga Lampugng dan banten di banten, pada kesempatan itu raffles mengakui eksistensi kepala marga, untuk mengatur pemerintahannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1813 Residen krui disatukan dengan bengkulu. Sehingga seluruh marga dipesisir Krui praktis berada dibawah kekuasaan raffles. termasuk juga wilayah kekuasaan Buay Nyerupa dan Buay Bejalan Diway yang dimasukkan ke keresidenan Krui. meskipun Wilayah kekuasaan Buay Pernong dan Buay belunguh tetap dibawah Pemerintahan belanda, yaitu Afdelling Komering Ulu Palembang. Bersamaan dengan peristiwa tersebut , di wilayah pesisir Krui, penduduk asal kembahang mendirikan marga Ngambur. dari Wilayah marga Buay Nyeryupa juga didirikan marga Ngaray, bengkunat, belimbing, Pugung Bandar dan Pugung Malay. Selanjutnya didekat Way Krui oleh penduduk Pawuh, Liba haji, semangka dan bengkulu didirikan pula 4 kampung, yaitu kampung Pawuh, kampung Liba Haji, Kampung Semangka dan Kampung Bengkulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjarak satutahun kemudian, Gelombang perang di Eropa berkahir, Kaisar Napoleon Bonaparte akhirnya tumbang dan dibuang ke pulau elba. akibantnya banyak terjadi perjanjian perjanjian antara inggrisa dan belanda, tahun 1824 terjadi kembal perjanjian antara Inggris dan Belanda yang dituangkan dalam ( Treaty of London), Traktat London atau Perjanjian London,  salah satu kausulnya adalah Keharusan belanda menyerahkan malaka kepada inggris sebagai gantinya belanda diberikan hak untuk mendapatkan wilayah Bengkulu. Setahun kemudian menyebarlah surat Plakat ompeni Inggris di Bengkulu, yang memberitahukan kepada semua kepala marga marga bahwa telah terjadi pertukaran daerah dan pimpinan dari kompeni inggris kepada belanda.  mulai dari hari dan bulan tersebut, berkuasalah belanda memerintah dan memimpin marga marga termasuk juga Buay Nyerupa dan Buay Bejalan Diway yang sebelumnya masuk dalam kekuasaan Inggris di bengkulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa inilah banyak berdiri marga marga baru. Pola sekarang terkait dengan Siasat Licik Belanda untuk melemahkan kekuatan penduduk yang terhimpun dalam pemerintahan adat, khusunya Kerajaan Adat Paksi pak Sekala Brak. Sehingga apabila terdapat marga yang memiliki wilayah yang cukup luas, oleh belanda segera dilakukan pemecahan kekuasaan masyarakat adat dengn membentuk marga baru. sehingga banyak pekon pekon yang merupakan perkampungan kecil, diangkat statusnya menjadi marga. pada saat itu marga marga diwilaya Krui terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Belimbing, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bengkunat, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ngaras, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penggawa Lima ( Perpas, Negeri, bandar, menyancang dan pedada) ,&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Ngambur, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tenumbang, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;way Sindi, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pugung Tampak, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pugung Bandar, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pugung Malaya,&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sukau,&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kembahang.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Termasuk juga 4 kampung yang terletak didekat Way Krui misalnya: kampung pawuh, Kampung Semaka, Kampung Liba Haji, Kapung bengkulu yang masing masing ada penghulunya. Pada tahun 1852, di Krui kembali Berdiri Satu Marga, yaitu marga Way Napal, mereka berasal dari afdeling kaur ( Bintuhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melakukan pemecahan wilayah menjadi marga, serdadu serdadu belanda juga melakukan pemerasan terhadap penduduk, sehingga menimbulkan pkebencian dan perlawanan dari tokoh tokoh di Lampung, Seperti Radin Inton (Lamsel0, Batin Mangunang (Kampung Teratas-Semangka), Dalom mangkunegara 1837, namun hingga 1853 kekuasaan Dalom Mangkunegara yang berkedudukan di Bumi Ratu berhasil di hancurkan belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak sendiri perlawanan terhadap belanda juga terjadi, salah satunya di pimpin oleh Sultan Ali Akbar Hidayatullah Waliyullah, Jurai ke16 dari Buay Nyerupa.Tahun 1868 Beliau melakukan perang gerilya diwilayah Gunung Pesagi, Gunung Seminung, Belalau sampai ke Pugung Tampak, belanda mengajak berunding Sultan Ali Akbar agar melakukan perdamaian. kan tetapi tawaran tersebut ditolak, kecuali belanda tidak memeach belah kekuasaan Paksi. permintaan tersebut tentu ditolak, dengan siasat liciknya belanda menangkap Sultatan Ali Akbar dan dibuang kemuko muko bengkulu selama dua tahun, didalam pembuangannya Sultan Ali Akbar miminta izin kepada belanda untuk menunaikan ibadah haji. Diiringin oleh para pangeran pagar alam, beliau berangkat melalui pelabuahn Menggala. Namun Takdir membwanya wafat ditanah suci, masyarakat buay nyerupa mengenangnnya dengan ungkapan "terbang burung, terbang sangkarnya" .&lt;br /&gt;Masyarakat Paksi pak Sekala brak memang tengah mengalami kegoncangan, Politik "devide at Impera, dengan memecah belah wilayah kekuasaan paksi juga belanda dianggap telah terlalu campur tangan dan tidak menghormati sistem pemerintahan masyarakat adat. Miasalnya dengan peraturan mengenai pangkat pesirah bagi marga marga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gouvernments besluit ddo.6 Maar n.18, ( Maklumat Gubernur jendral  tertanggal 6 Maret 1844. No. 18), melarang Paksi Pak  memakai nama Kerajaan dan dilarang :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pangkat Maharaja dan Raja pada Kebuayan dan marga marga tidak boleh lagi dipergunakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;sebutan bagi pemimpin masyarakat adat adalah Pesirah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Blanda berupaya menanamkan nilai nilai kepercayaan ajaran kristiani di sekitar Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak / Lampung Barat.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Politik Devide at Impera salah satunya dilakukan dengan memecah Paksi Buay nyerupa dengan Membentuk Marga Liwa, Marga ULu Krui, Sukau dalam wilayah Kepaksian Nyerupa juga menjadi marga Sukau dengan Pesirah H. Abdl, Hamid. Meskipun bebrbetuk marga, Walaupun scara adat meraka sebenarnya masih mengakui sebagai keturunan dari Buay Nyerupa. Sebelumnya pada tahun 1860, di Krui Berdiri Marga Pasar Krui yang memerintah empat buah kamung, yaitu, Pawuh, semangka, liba haji dan bengkulu namun kemudian pekon tersebut juga dijadikan Marga. pada tahun 1871 didirikan pula marga Penggawa Lima Ulu, Penggawa Lima Ilir, Penggawa LIma Tengah, yang merupakan pecahan dari marga Penggawa Lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 17 Oktober 1879 Buay Pernong dan Buay Belunguh yang sebelumnya termasuk kedalam wilayah afdeling Muara Dua Palembang, dimasukkan kembali kedalam wiwlayah kekuasaan residen bengkulu, terjadi pada masa Sultan Sampurna Jaya yang memerintah Buay Pernong dan Sultan bala Seribu IV yang memerintah Buay Belunguh. Saat itu terbentuk Pula marga baru yaitu Marga Suoh yang merupakan pecahan dai buay Pernong, meskipun marga suwoh hanya bertahan setengah abad sebab pada 4 April 1933 marga ini dimatikan dan disatukan Kembali dengan Buay kenyangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki awal Abad 20, ditandai dengan lahirnya politik etis. Politik ini merupakan politik balas budi Belanda kepada bangsa Indonesia. Karena Bangsa indonesia telah menylamatkan Belanda dari kesulitan keuangan sehingga bukan hanya hutang terbayar tetapi belanda juga dapat membangun ekonominya dengan baik. Gagasan politik ini pertama kali diungkapakan oleh Van Dedem sebagai anggota parlemen belanda. Politik etis akhirnya juga memaksa pemerintah Hindia belanda di Lampung Barat mengalami perbaikan dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Salah satunya pada tahun 1927 Dilakukan Pembuatan jalan sepanjang 8 KM di Buay Pernong, yang menggerakkan 270 tenaga kerja. serta pembuatan sawah sawah baru didataran Tuning Liwau Bulan Bara, Hanibung, Remelai, dan Sebakow. ahun 1929 Sultan Pangeran SUhaimi dari buay pernong mendapat penghargaan dari Belanda karena dianggap meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mebangun pasar yang terletak di Ujung pekon balak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1922, Pulau Pisang hendak dipisahkan dari marga Way SIndi untuk dibentuk menjadi marga tersendiri. Dengan Alasan bahwa Pesirah marga Way Sindi bernama Burhanuddin gelar Radin Indera nata, mengaku tidak dapat  memerintah wilayah yang berada ditengah pulau tersebut. Namun secara adat, Pesirah marga Pulau Pisang masih keturunan jurai dari Marga Way SIndi. HIngga kini marga Pulau Pisang tetap berpegang teguh kepada marga Way Sindi, walaupun pemerintahannya tidak algi dibawah pemerintahan Marga Way Sindi. hal tersebut tertuang dalam Perjanjian kedua Marga ddo.12 Oktober 1933.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1928, memberlakukan kebijakan baru mengenai wilayah kekuasaan Marga marga, yaitu berdasarkan geneologis-teritorial menjadi teritorial-geneologis. Setiap marga dipimpin oleh seorang kepala Marga yang diangkat atas dasar pemilihan punyimbang punyimbanga dat yang bersangkutan. Sejak saat itu marga marga yang terdapat di lampung Barat antara lain adalah:&lt;br /&gt;Buay belunguh, Buay Pernong, Buay Bejalan Diway, Buay Nyerupa, Liwa, Suwoh, Way SIndi, La'ai, bandar Krui, Pedada, Ulu Krui, Pasar Krui, Way Napal, Tenumbang, Ngambur, Ngaras, bengkunat, belimbing, Pugung penengahan, Pugung Malaya, Pugung Tambak dan Pulau Pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NANTIKAN POSTINGAN SELANJUTNYA ADALAH SEJARAH MASING MASING MARGA....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-2849466453914264218?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/2849466453914264218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/berdirinya-marga-di-kerajaan-paksi-pak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/2849466453914264218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/2849466453914264218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/berdirinya-marga-di-kerajaan-paksi-pak.html' title='Berdirinya Marga Di Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-HaPVwOIAkOs/Tuh4dTS96OI/AAAAAAAAA3I/Vuzci-4AvlM/s72-c/DSCI0648%2B-%2BCopy.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-7090310360724554032</id><published>2011-12-13T09:05:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T09:09:40.805-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>Profil Sultan Paksi Nyerupa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-5ei0CRwU9HQ/TueGlzJtmMI/AAAAAAAAA2w/-Y7wb6gSzZQ/s1600/260257_230397030303905_100000008301045_1076849_4691870_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 226px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-5ei0CRwU9HQ/TueGlzJtmMI/AAAAAAAAA2w/-Y7wb6gSzZQ/s320/260257_230397030303905_100000008301045_1076849_4691870_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685661038522767554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SALMAN PARSI&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( ADOK : SULTAN PIEKULUN JAYADININGRAT )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Paksi Buay Nyerupa Paksi Pak Sekala brak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;TTL        : Sukau, 29 April  1948&lt;br /&gt;Alamat        : Jl. Ciasem IV No. 298 RT 08/014 Kel-Abadi Jaya, Kec. Sukmajaya - Kota Depok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan    :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;SD Sukau Lam-Bar 1961&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SMP / PGAP Jogjakarta tahun 1964 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;SMA di Yogyakarta 1967&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sarjana Muda Tahun 1974 Fakultas Hukum Universitas Jaya Baya Jakarta&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pekerjaan     :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;BPS Pusat 1972&lt;/li&gt;&lt;li&gt;BPS Bogor 1975&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mantri Statistik Kec. Citeureup Tahun 1976&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kep. BPS Kota Depok Tahun 1983&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pensiun BPS Kab. Bogor &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pendiri PII Cab. Jogoyudan Jogja&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketua Komisariat HMI Universitar Jaya Baya Tahun 1973&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendiri IPPM lambar tahun 1972-1975&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendiri LBSR Lambar Tahun 1972&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pendiri Badan Koordinasi Kebudayaan Lampung Pesisir ( BKKLP ) Jakarta&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendiri Ikatan Mahasiswa Hukum Se jakarta Raya Tahun 1974&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Aktivis Kesatuan Aksi KAPPI&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengurus Lembaga Masyarakat  Adat Lampung (L-MAL) Lambar&lt;/li&gt;&lt;li style="font-weight: bold;"&gt;Pembina Adat Sai Batin Keluarga Paksi Buay Nyerupa Se Provinsi Lampung&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Penulis : SALIWA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-7090310360724554032?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/7090310360724554032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/profil-sultan-paksi-nyerupa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7090310360724554032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7090310360724554032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/profil-sultan-paksi-nyerupa.html' title='Profil Sultan Paksi Nyerupa'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5ei0CRwU9HQ/TueGlzJtmMI/AAAAAAAAA2w/-Y7wb6gSzZQ/s72-c/260257_230397030303905_100000008301045_1076849_4691870_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-5499609114026050597</id><published>2011-12-09T21:52:00.000-08:00</published><updated>2011-12-09T22:18:37.595-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI[KRITIK'/><title type='text'>GAMBUS LAMPUNG PESISIR</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : Novan Saliwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="yiv720793003MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-psARl_ejbWQ/TuL34d0ItvI/AAAAAAAAA2M/qEvuoU6arGM/s1600/165149_103388166405291_100002023241528_20330_6219058_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-psARl_ejbWQ/TuL34d0ItvI/AAAAAAAAA2M/qEvuoU6arGM/s320/165149_103388166405291_100002023241528_20330_6219058_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684378229143025394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;( digedung TVRI jogja, saliwa bersama Aang Anshori Sofyana S.Sn Musisi, Pengrajin, Pencipta Gambus Bernuk Lampung. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Keberadaan alat musik gambus adalah salah satu yang menarik dicermati, menurut para ahli, seperti Kurt Sachs, Hornbostel, Kunst, Farmer dan lain-lain, setelah mengadakan perbandingan-perbandingan dalam penelitian etnomusikologis meliputi wilayah Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Indonesia, berpendapat bahwa instrumen &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;gambus&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; tersebut berasal dari Arabia.&lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Masuknya musik dan alat musik &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;gambus&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; ke daerah-daerah di Indonesia, bersamaan dengan masuknya pengaruh Islam ke daerah yang bersangkutan, sehingga warna musiknya pun bernafaskan Islam dengan syair berbahasa Arab. Dalam perkembangannya, musik &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;gambus&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; juga diperkaya dengan syair berbahasa Melayu dan India di samping juga membawakan lagu-lagu daerah dengan berbagai ragam variasi dalam jumlah kelengkapan alat musiknya. Akhimya, tidak jarang kita menemukan di pelosok-pelosok, sebuah orkes kecil mempergunakan instrumen bernama &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;gambus&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, atau tiruan dari gambus dengan lagu-lagu dalam bahasa daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-SoQG18nJaKY/TuL34auGyeI/AAAAAAAAA2Y/uHA-V_C8p_U/s1600/IMG_9022.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 408px; height: 301px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-SoQG18nJaKY/TuL34auGyeI/AAAAAAAAA2Y/uHA-V_C8p_U/s320/IMG_9022.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684378228312426978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Saat mempersembahkan gambus bernuk buat Bapak Gubernur Lampung di Jogja )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Apa yang dimaksud dengan music gambus bagi masyarakat Lampung Pesisir adalah seperti nyanyian solo dengan iringan instrument yang disebut oleh ulun lampung adalah gambus balak ( besar), ada beberapa istilah ulun lampung untuk menyebut bagian-bagian gambus, seperti hulu atau kepala untuk menyebut head pegs, cuping atau kuping untuk menyebut bagian pegs, galah atau leher untuk menyebut bagian neck, betong atau perut untuk menyebut bagian tabung resonator, dan putt untuk menyebut bagian capping strip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam sebuah lagu, umumnya si pemain gambus merangkap sebagai penyanyi. Lagu atau nyanyian dengan iringan gambus lampung semacam ini disebut dengan “ peting gambus tunggal ” atau gambus klasik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sedikitnya ada dua macam bentuk kreasi dalam music gambus yang dimaksud, yaitu pertama, penambahan instrument lain seperti rebana ataupun biola, kedua, penggabungan gambus dengan instrument combo band dan ketipung yang memainkan irama dangdut ataupun orkes melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Keberadaan dan perkembanganya di daerah Lampung bertumbuh subur pada masyarakat Peminggir yang melingkupi kabupaten Lampung barat, Lampung Selatan, Tanggamus, Pesawaran dan sekitarnya. Terbukti banyaknya kesenian dan lomba lomba gambus pada perhelatan festival ataupun event lainnya, sekitar tahun 90-an masyarakat Lampung Barat khusunya masyarakat liwa, batu brak, belalau, krui terdapat banyak group orkes gambus dari tiap pekonnya walau kini sulit dijumpai. Pada tahun 2006 masih dapat disaksikan lomba orkes gambus antar kecamatan pada event Festival Teluk Stabas Lampung Barat, namun mulai tahun 2007 hingga penyelenggaraan tahun lalu perlombaan tersebut sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Salah satu Sanggar yang telah lama menggeluti dunia musik tradisi seperti gambus adalah sanggar “Andan Muakhi Group” pada tahun 90-an, yang salah satunya dipromotori oleh musisi tua bapak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Haiman Sukri (59) dari pekon kenali, menurut penuturan beliau pada zamannya perkembangan gambus di Lampung Barat sangat subur dengan banyaknya group music gambus dari tiap pekon, namun disayangkan tak berlangsung lama karena mulai terkikis oleh datangnya pengaruh music barat yang dipilih menjadi penghibur pada waktu pesta pesta digelar, namun di kabupaten Tanggamus menurutnya kesenian gambus ini masih mungkin terjaga, karena masih banyak group music gambus yang bertahan hingga saat ini, seperti yang dipelopori oleh maestro gambus  A. Ronni HS dengan Roni’s groupnya, diantara karyanya yang memasyarakat adalah “ Liwa Digenjokh Kukuk”, “Anak Ngura”, “Pulipang” dan lain sebagainya, masih banyak musisi gambus lampung yang masih bisa bertahan dengan usaha meraka sendiri diantaranya, Arifin yang berusia 60-an tahun serta Edy Pulampas, Hilla hambala,dan Syafruddin yang berusia lima puluhan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gambus Bernuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seorang seniman Lampung di jogjakarta pencipta gambus bernuk Lampung yaitu Aang anshori sofyana S.Sn, selain sebagai musisi beliau juga sudah sejak lama menggeluti pembuatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa karya berbentuk gambus salah satunya yang terbuat dari buah brenuk. Nama buah brenuk atau dalam bahasa Indonesia disebut buah maja ini memang belum populer dimasyarakat. Menurut beliau pohon bernuk biasanya tumbuh di daerah pesawahan atau kawasan hutan. Buah brenuk yang cocok dijadikan gambus adalah buah yang sudah tua. Kulit buahnya keras, berwarna kecoklatan dan mengkilap. Sedangkan brenuk muda berwarna hijau dengan kulit yang agak lunak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selain memiliki karakteristik suara yang khas, gambus bernuk juga memiliki bentuk yang unik, bisa dikategorikan sebagai gambus lunik atau kecil dan dapat dibentuk sedemikian rupa mulai dari bagian kepala dapat dibentuk alami seperti cabang cabang pohon, ukiran ornament khas Lampung dibagian gagang gambus, hingga ukiran aksara Lampung di bagian perut gambus yang terbuat dari kulit buah bernuk. Salah satu kreasi gambus bernuknya telah diberikan kepada gubernur Lampung Sjachroedin ZP pada saat berkunjung ke jogja tahun 2009, gambus bernuk tersebut juga sebagai masukan dan kritik untuk pemerintah provinsi maupun kabupaten kota se-provinsi Lampung untuk dapat lebih memberdayagunakan alat-alat kesenian local yang hampir punah seperti gambus, juga mengajak pelaku pelaku seni DiLampung untuk menggali kearifan dan kekayaan kesenian local agar dapat menjawab tantangan kemodernan seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-5NS8oo0JV_Y/TuL35d7-U0I/AAAAAAAAA2k/DCxkM_IAqD0/s1600/6730_1022060367509_1705201480_41726_7855955_n%2B%25282%2529.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-5NS8oo0JV_Y/TuL35d7-U0I/AAAAAAAAA2k/DCxkM_IAqD0/s320/6730_1022060367509_1705201480_41726_7855955_n%2B%25282%2529.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684378246355768130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Latihan kesenian Mahasiswa Jogja di Asrama Lampung Jogja )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div class="yiv720793003MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Selayaknya karya karya seniman music Lampung khusunya musik gambus terus mendapat penghargaan dan perhatian dari pemerintah untuk segera merevitalisasi genre music Lampung ini, agar kekayaan khazanahnya tidak cepat punah tergerus oleh perkembangan zaman. Melihat begitu merakyatnya music gambus pada masanya, sebaiknya instansi terkait seperti dinas pendidikan memasukkan music gambus ini menjadi salah satu muatan local pada kurikulum pembelajaran disekolah, memberi sarana dan membuka lebar lebar wahana bermusik tradisi bagi para pemuda, juga menjadi pekerjaan rumah bagi para seniman untuk mengkolaborasikan dan mengkreasikan music gambus agar lebih dapat diterima oleh semua kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TUGAS KITA MASIH BANYAK DAN PANJANG PUAKHI,,, !!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-5499609114026050597?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/5499609114026050597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/gambus-lampung-pesisir.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5499609114026050597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5499609114026050597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/gambus-lampung-pesisir.html' title='GAMBUS LAMPUNG PESISIR'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-psARl_ejbWQ/TuL34d0ItvI/AAAAAAAAA2M/qEvuoU6arGM/s72-c/165149_103388166405291_100002023241528_20330_6219058_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-2731874049123607917</id><published>2011-12-08T03:17:00.000-08:00</published><updated>2011-12-08T03:24:40.827-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI[KRITIK'/><title type='text'>Kisah Gamolan Pekhing</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://ulunlampung.blogspot.com/2011/12/gamolan-musik-lampung-di-relief.html"&gt;‘Gamolan’, Musik Lampung di Relief Borobudur&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-k0RFQq_luoU/TuCdWB19taI/AAAAAAAAA2A/8LOZjoWsdSg/s1600/32101_114396425271515_100001034741014_90096_4801114_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 189px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-k0RFQq_luoU/TuCdWB19taI/AAAAAAAAA2A/8LOZjoWsdSg/s320/32101_114396425271515_100001034741014_90096_4801114_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683715731519026594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   * Diandra Natakembahang : Gamolan Pekhing juga terpahat pada relief diCandi Borobudur abad 8 M dibangun oleh dinasti Sriwijaya yang notabene berasal dari Sekala Brak. Sriwijaya didirikon Dapunta Hyang Sri Jayanaga seorang Raja Budhist anjak Danau Ranau~Sekala Brak pentolan Jurai Sailendra sai tijuluki Raja Pegunungan atau Sailendravarmsa. Jadi mak heran kik Gamolan Pekhing wat diCandi Borobudur sai dibangun Sriwijaya. Setelah perpindahan jak Sekala Brak, Sriwijaya 3 kali pindah Ibu Negeri, sai pertama Minanga Komering, pindah mit Bukit Siguntang Palembang, terakhir diDarmasraya Jambi, wat muneh sai berpendapat Pattani Thailand Ibu Negeri terakhir. ---Link FB klik ( &lt;a class="passiveName" href="http://www.facebook.com/diandra.natakembahang" hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=1714078587"&gt;Diandra Natakembahang&lt;/a&gt; )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   *    Muhammad Harya Ramdhoni : Sebelum tahun 683 Masehi, ibukota Sriwijaya terletak di daerah pegunungan agak jauh dari Palembang.Tempat itu dipayungi oleh dua gunung dan dilatari sebuah dangau.Itulah sebabnya Sailendra dan keluarganya disebut Raja Pegunungan atau "family of the King of the Mountains (Sailendravarmsa)". Mereka memiliki hubungan kerabat dengan bangsawan Tamil Chola dan bangsawan Nepal" [Lawrence Palmer Briggs,... "The Origin of the Sailendra Dynasty Present Status of the Question", Journal of the American Oriental Society, Vol. 70, No. 2, Apr-Jun 1950:78. Ini jurnal tahun 1950.Lawrence Palmer Briggs sang penulis adalah ahli Sriwijaya dan Khmer. Dia bilang dicatatan kakinya di jurnal itu bhw yg dimaksud "dipayungi dua gunung dan dilatari sebuah dangau" terletak di Karesidenan Lampung,Sumatera Selatan.Tak disebut nama Liwa disitu tp mana lagi tempat di Lampung yg memiliki dua gunung bersebelahan dan sebuah dangau (danau) selain Lampung Barat yaitu G.Pesagi dan G.Seminung + Danau Ranau?Setelah itu menurut Lawrence ibukota Sriwijaya pindah ke Minanga (Komering sekitar tahun 670 M),kemudian ke Palembang setelah penyerbuan besar2an di bawah pimpinan Dapunta Hyang Sri Jayanga (683 M) dan terakhir setelah dihancurkan oleh sepupu mereka sendiri yaitu kerajaan Cholamandala, Sriwijaya pindah ke Jambi (akhir abad 12 M).Kesimpulannya Sriwijaya memiliki 4 ibukota berbeda selama kurun waktu hampir 500 tahun: dataran tinggi Sekala Bgha-Minanga-Palembang-Jambi. -- Link FB (&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100001945583637" hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=100001945583637"&gt; Muhammad Harya Ramdhoni&lt;/a&gt; )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PECAHKAN REKOR. Sejumlah mahasiswa Unila bermain gamolan dalam Museum Rekor Dunia Indonesia di lapangan Korpri, Pemprov Lampung Bandar Lampung, Rabu (7-12). (LAMPUNG POST/MG3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemecahan rekor Muri ini diharapkan bisa memperkenalkan gamolan kepada masyarakat dan pencinta musik tradisional untuk dilestarikan sebagai salah satu alat musik tertua Indonesia. "Saya senang ada yang mengangkat kembali gamolan Lampung karena ini adalah alat musik tertua Lampung. Saya pernah menelitinya pada 1980," kata Margareth J. Kartomi, penulis sekaligus peneliti gamolan Lampung, di lapangan Korpri, Pemprov Lampung, Rabu (7-12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor asal Universitas Monash, Australia, itu menjelaskan dia berkenalan dengan gamolan di Krui, Lampung Barat, tahun 1980. Gamolan yang ditemukan terbuat dari bambu, kayu, dan dimainkan dua orang. "Saya waktu itu dari Bengkulu bersama suami. Saya pikir itu sama dengan gamelan dari Jawa. Ternyata bukan, itu gamolan. Suaranya berbeda, lebih indah. Gamelan juga merupakan seperangkat alat musik, sedangkan gamolan hanya sebuah alat musik," kata wanita kelahiran 24 November 1960 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memprediksi gamolan ada sejak abad ke-3 Masehi karena tergambar di relief Candi Borobudur. Gamolan terdiri dari bambu dan kayu yang disebut kendang dan tawak-tawak. Alat musik ini, menurut dia, berasal dari perpaduan seni India dan China yang terbawa ke Lampung melalui Way Kanan. "Tapi dulu nadanya lengkap dari do re mi fa sol la si do. Tapi sekarang fa-nya hilang. Ini menarik untuk diteliti lagi," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, dosen Program Studi Seni Tari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung Hasyimkan mengatakan gamolan merupakan bagian kebudayaan Nusantara. Gamolan berasal dari kata begamol yang dalam bahasa Lampung sama dengan begumul atau berkumpul dalam bahasa Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instrumentalia ini terdiri dari delapan lempengan bambu diikat bersambungan dengan tali rotan yang disusupkan melalui sebuah lubang yang ada di setiap lempengan dan simpul di bagian teratas lempengan. Gamolan dan gamelan memiliki nama yang nyaris sama tetapi berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tangga nada gamolan Lampung berdasar arkeologi atau instrumen, yakni do re mi so la si do. Sedangkan gamelan Jawa slendro instrumennya do re mi so la si," kata dia. (LIN/U-1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Lampung Post, Kamis, 8 Desember 2011&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-2731874049123607917?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/2731874049123607917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/kisah-gamolan-pekhing_08.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/2731874049123607917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/2731874049123607917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/kisah-gamolan-pekhing_08.html' title='Kisah Gamolan Pekhing'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-k0RFQq_luoU/TuCdWB19taI/AAAAAAAAA2A/8LOZjoWsdSg/s72-c/32101_114396425271515_100001034741014_90096_4801114_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-4863560311203617176</id><published>2011-12-05T21:34:00.000-08:00</published><updated>2011-12-05T21:46:22.055-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI[KRITIK'/><title type='text'>Suku Ranau Ingin Bergabung Ke Kabupaten Lampung Barat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-x37Yokg7NdE/Tt2rZ7RTAMI/AAAAAAAAA1k/680mBR8BhHo/s1600/71611_1633190075712_1415482315_31610676_3048821_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 216px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-x37Yokg7NdE/Tt2rZ7RTAMI/AAAAAAAAA1k/680mBR8BhHo/s320/71611_1633190075712_1415482315_31610676_3048821_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682886766706753730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Perahu hias khas adat Ranau, diatas Danau Ranau Sekala Bgha,&lt;br /&gt;Foto : Budhi Marta Utama&lt;/span&gt; )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://radarlambar.co.id/berita-utama/3090-eks-marga-ranau-dianaktirikan" class="contentpagetitle"&gt;Eks Marga Ranau Dianaktirikan&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 14 Juni 2010 | 20:25 WIB &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BALIKBUKIT – Merasa dianaktirikan oleh Pemerintahan Kabupaten (Pemkab)  Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan, sejumlah tokoh  masyarakat eks marga Ranau mewacanakan bergabung ke Kabupaten Lam pung  Barat (Lambar). Terlebih dari segi adat budaya, bahasa, dan letak  geografisnya berasal dari Lambar.   “Kemudian sejak dimekarkan menjadi kabupaten tersendiri, sejumlah  wilayah yang didiami eks marga Ranau tidak tersentuh pembangunan,”  ungkap salah satu tokoh pemuda dan masyarakat Kecamatan Warkuk Ranau  Selatan, Hr. Dewa Perkasa, kepada wartawan koran ini, kemarin.&lt;br /&gt;Dewa  pun berharap Bupati Lambar bisa mencarikan solusinya agar eks marga  Rabau tersebut bergabung ke Lambar. “Apalagi jarak tempuh kami untuk  megurus administrasi pemerintahan justru lebih dekat ke Liwa,”  ungkapnya.&lt;br /&gt;Berdasarkan survei yang dilakukan sejumlah elemen di eks  marga Ranau yang terdiri dari tiga kecamatan yakni Warkuk Ranau Selatan,  Banding Agung, dan Buay Pematang Ribu, lanjutnya, warga sepakat  bergabung ke Lambar.&lt;br /&gt;“Sebab dari segi bahasa sehari-hari, masyarakat  juga menggunakan bahasa Lampung. Insfrastuktur pendukung lalu lintas  juga lebih baik ke arah Liwa dibandingkan di daerah kami ini,” keluhnya.&lt;br /&gt;Serupa  diungkapkan tokoh masyarakat setempat lainnya, Samsul Jeffri Ibrahim.  Terlebih menurutnya kini Pemkab Lambar lebih banyak memperhatikan  kesejahteraan masyarakatnya. Seperti dianggarkannya biaya bantuan  persalinan di puskesmas, gratis biaya pendidikan, gratis pembuatan KTP,  KK, dan pembuatan akta kelahiran. “Atas dasar itulah, kami dari tiga  kecamatan mewacanakan bergabung ke Lambar. Apalagi jika ke depan, Pemkab  OKU Selatan tidak memperhatikan kami yang kini dianaktirikan. Kami  tidak main-main untuk membuat surat pernyataan menindaklanjuti rencana  ini, “ ancam Samsul Jeffri Ibrahim.&lt;br /&gt;(mujitahidin/haris t)&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.radarlambar.co.id/berita-utama/3128-eks-marga-ranau-kumpulkan-dukungan" class="contentpagetitle"&gt;Eks Marga Ranau Kumpulkan Dukungan&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 16 Juni 2010 | 19:09 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAIKBUKIT- Sejumlah tokoh pemuda eks marga Ranau segera mengumpulkan  tandatangan sebagai dukungan wacana untuk bergabung ke Kabupaten Lampung  Barat dan melepaskan diri dari pemerintahan OKU Selatan.&lt;br /&gt;Bentuk dukungan itu akan di kumpulkan dari seluruh tokoh masyarakat,  adat, agam dan elemen masyarakat lainnya yang sependapat untuk masuk ke  wilayah Lambar.&lt;br /&gt;“Termasuk semua kepala desa (Kades) yang ada di  tiga kecamatan yang masuk dalam eks marga ranau ini akan kita mintai  dukungan tandatangannya untuk mewujudkan rencana kita ini,” ungkap salah  satu tokoh pemuda Kecamatan Warkuk, Ranau Selatan, Hr. Dewa Perkasa  kepada Radar Lambar kemarin.&lt;br /&gt;Dengan alasan persamaan adat budaya,  bahasa, dan letak geografis wilayah yang didiami eks marga ranau, para  penggagas wacana pemisahan tiga kecamatan di wilayah kabupaten OKU  Selatan tersebut merupakan modal utama dalam mencari dukungan elemen  masyarakat setempat dalam mewujudkan rencana pemisahan tersebut.&lt;br /&gt;“Selain  memang kenyataan yang ada daerah kita ini tidak tersentuh pembangunan  selama kepemimpinan bupati yang kin i kembali terpilih dalam Pilkada  kemarin itu, dan kami berharap Pemkab Lambar dalam hal ini bupati  bersama jajarannya bisa mencarikan solusinya agar kami bisa bergabung ke  Lambar,” kata dia.&lt;br /&gt;Sementara itu, salah satu pejabat pemkab Lambar  yang enggan disebutkan namanya mengaku keinginan sejumlah tokoh eks  marga ranau itu adalah suatu hal yang wajar, tapi untuk merealisasikan  hal itu, pemkab Lambar tidak dapat berbuat banyak, pasalnya jika benar  tiga kecamatan itu ingin memisahkan diri, sebagai daerah yang dituju  Pemkab Lambar jelas akan menerima calon daerah baru itu.&lt;br /&gt;“Kita kan  menerima, kita siap-siap saja menerima kalau mereka ingin bergabung,  tapi itu juga tergantung dari pemkab OKU Selatan dilepas atau tidaknya  ketiga kecamatan itu,” kata dia singkat seraya meminta agar  indentitasnya tidak ditulis.&lt;br /&gt;(mujitahidin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://radarlambar.co.id/berita-utama/3090-eks-marga-ranau-dianaktirikan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-4863560311203617176?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/4863560311203617176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/suku-ranau-ingin-bergabung-ke-kabupaten.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/4863560311203617176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/4863560311203617176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/suku-ranau-ingin-bergabung-ke-kabupaten.html' title='Suku Ranau Ingin Bergabung Ke Kabupaten Lampung Barat'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-x37Yokg7NdE/Tt2rZ7RTAMI/AAAAAAAAA1k/680mBR8BhHo/s72-c/71611_1633190075712_1415482315_31610676_3048821_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-3553748655072737381</id><published>2011-12-05T21:01:00.000-08:00</published><updated>2011-12-15T23:50:06.680-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>MARGA BANDING AGUNG - RANAU</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt; &lt;a href="http://umpubatintuha.blogspot.com/2009/03/keturunan-sai-batin-banding-agung.html"&gt;KETURUNAN SAI BATIN BANDING AGUNG&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-HPwwiKULXG4/Tt2n7n4RUMI/AAAAAAAAA1Y/h9rEduo-odw/s1600/saibatin.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 280px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-HPwwiKULXG4/Tt2n7n4RUMI/AAAAAAAAA1Y/h9rEduo-odw/s320/saibatin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682882947570553026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;/h3&gt; &lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SURAT KETURUNAN&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;Adapun diadakan abduling (rapat) hari ini,&lt;br /&gt;berdiri empat paksi, artinya yang asal radja dibalik bukit.&lt;br /&gt;Ratu  umpu buai bujalan di way, keturunan pesirah marga kembahang, yaitu  sudah 18 zaman yang telah lalu sampai kepada zaman dalom jaya kesuma  sekarang.&lt;br /&gt;Ratu umpu buai pernong, keturunan pesirah marga tenubang  dan pesirah marga batu berak yaitu sudah 18 zaman yang telah lalu sampai  kepada sultan mangku tenumbang dan sultan laila muda sekarang.  Begitupun banding agung dalam s.negara&lt;br /&gt;Ratu umpu buay belangah,  keturunan pangeran marga kenali yaitu sudah 18 zaman yang lalu sampai  kepada pangeran jaya dilampung sekarang.&lt;br /&gt;Ratu umpu buay nyerupa,  keturunan merah hasan gelar sultan ratu pikulan marga sukau yaitu sudah  16 zaman yang telah lalu sampai sekarang.&lt;br /&gt;Keturunan yang tersebut  diatas ialah yang dinamakan faksi keempat, raja yang asal dibalik bukit  abdoling krui, menurut bunyinya surat-surat keturunan kami yang tersebut  diatas, maka kami berlima menaruh tanda tangan dibawah ini.&lt;br /&gt;Pangeran  kenali, Pesirah kembahang ,Pangeran liwa, Pesirah marga Depatih marga semambang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tertulis pada tanggal 4 Oktober 1928&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tertanda :&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Kenali (ttd dan Cap)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Pesirah Kembahang(ttd dan Cap)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Pesirah Marga Buay Kenjangan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ttd dan Cap)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pangeran Liwa(ttd dan Cap)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kepaksian Marga Senubang(ttd dan Cap[)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KETURUNAN MARGA BANDING AGUNG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keluar  dari Paksi Hanibung Batu Berak, Kebuaian Sepernong yang bernama Umpu  Sejadi helau yang menetapkan istana banding agung. Adapun Umpu Sejadi  Helau beranak laki-laki 3 orang, anaknya sulung bernama Umpu Batin Tuha  maka Umpu Batin Tuha inilah yang mewarisi kerajaan dahulu kala, jadi  inilah puyang keturunan Marga Banding Agung, adapun Silsilah keturunan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Umpu Batin Tuha beranakkan&lt;br /&gt;Kiyai Gunung Tuha beranakkan&lt;br /&gt;Pamuka Kumala Gagah beranakkan&lt;br /&gt;Raja Kumala Ratu beranakkan&lt;br /&gt;Dalom Bangsa Ratu bernakkaan&lt;br /&gt;Dalom Mangku Alam baranakkan&lt;br /&gt;Dalom Mangku Bumi beranakkan&lt;br /&gt;Dalom Bangsa Ratu beranakkan&lt;br /&gt;Dalom  Kemala Raja beranakkan&lt;br /&gt;Dalom Mangku Marga beranakkan&lt;br /&gt;Depati Belang Galah beranakkan&lt;br /&gt;Pangeran Sura Dilaga Tuha beranakkan&lt;br /&gt;Pangeran Kecik beranakkan&lt;br /&gt;Raja Kemala Ratu beranakkan&lt;br /&gt;Depati Jais beranakkan&lt;br /&gt;Per. Rekno beranakkan 2 orang, yang laki-laki bernama cikmat, dan yang tertua perempuan  bernama Siti Rokna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waktu  anak depati jais (rikno 2 orang) meninggal anak-anaknya tersebut itu  terserahlah kepada solihin gelar mangku raja yaitu anak saudara depati  agus yang perempuan jadi sejak dari pangeran suradilaga tuha meletakkan  jabatannya sebab meninggal dunia, maka yang memerintah marga banding  agung yaitu Raja Penghulu (wakil) lebih kurang lamanya 2 tahun. Sesudah  ini barulah terserah kepada anaknya Raja Penghulu nama PUASA gelar  Pangeran Sura Dilaga, Pangeran Sura Dila berhenti digantikan anaknya  bernama LANANG glr. Depati Pawira Kesuma lamanya memerintah lebih kurang  2 thn. Sesudah itu terserah kepada Amrah Muslimin glr. Dalom Kemala  Raja Dalom Marga Jepara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak dari Pangeran Sura Dilaga Tuha,  meletakkan jabatannya sebab meninggal dunia, maka yang meeruskan  Pemerintahan MARGA BANDING AGUNG, yaitu RAJA PENGHULU sebagai wakil,  lamanya kurang lebih 2 (dua) tahun. Sesudah itu barulah  turun kepada anaknya nama PUASA glr. Pangeran Sura Dilaga, Pangeran Sura  Dilaga berhenti digantikan anaknya nama LANANG glr. Depati Pawira  Kesuma, Depati Pawira Kesuma beranakkan :1. Aguscik dan 2. Tjikwi  (Nawawi).&lt;br /&gt;        Sesudah Depati Pawira Kesuma berhenti, maka  Marga Banding Agung dihapuskan bersamaan dengan Marga Warkuk, Yaitu 3  (tiga) Marga :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marga Banding Agung.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Marga Batang Ribu.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Marga Warkuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dijadikan satu marga, bernama MARGA RANAU yang memerintah pada saat itu : AMRAH MUSLIMIN glr. Pangeran Kemala Raja.&lt;br /&gt;         Sekalipun ketiga marga ini telah dihimpun menjadi satu  Marga, yaitu Marga Ranau namun tentang keturunan dan keutuhan Adat  Istiadat yang diwarisi Puyang masing-masing daerah masih berjalan terus  sebagaimana biasa, yang dipimpin oleh Raja Adat di masing-masing tempat,  begitu pula halnya didaerah Banding Agung, dipimpin dan diawasi oleh  Raja Adat keturunan Umpu Batin Tuha, yang mendapat warisan dari paksi  Empat yang bertahta Kerajaan di Balik Bukit, yaitu keluar dari Paksi  HANIBUNG, Marga Batu Berak sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;            Barang-barang Pusaka  dari Umpu Batin Tuha yang masih ada sekarang, masih tersimpan baik pada  anak cucu keturunan UMPU BATIN TUHA, seperti di Banding Agung disimpan  dan dipelihara dengan baik oleh TJIK OESIN. HZ. Urutan ke XVII glr  SUNTAN KEMALA RAJA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NAMA BARANG-BARANG PUSAKA YANG MASIH ADA :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Piagam Bukti dari pada loyang bertulisan Jawa Kuno.&lt;br /&gt;Sebuah Keris senimbang peninggalan Umpu Batin Tuha&lt;br /&gt;Sebuah Gelang dari Gangsa Bertahtakan Ular.&lt;br /&gt;Sebuah Kopiah dari kulit, pakaian laki-laki.&lt;br /&gt;Sebuah topi bamban, pakaian perempuan.&lt;br /&gt;Sebuah bersluit dari Res.Palembang tgl. 01 juli 1825 No.11.&lt;br /&gt;a/n PANGERAN SURA DILAGA TUHA.&lt;br /&gt;Menurut  keterangan dari orang tua-tua barang-barang Pusaka ini banyak dan  lengkap seperti alat kerajaan dahulu kala, tetapi dikarenakan di Banding  Agung dahulu pernah terjadi bencana alam kebakaran, sebagian besar  banyak yang ikut terbakar dan pada tahun 1933 terjadi gempa bumi, sisa  masih ada sekarang adalah seperti tersebut diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUKU EMPAT RAJA ADAT BANDING AGUNG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kebuayan Anak Tuha Batin Meralip glr Batin Bangsawan dusun Banding Agung&lt;br /&gt;2. Kebuayan Anak Tuha Marga, Mukminin glr Batin Kapitan dusun Sugih Waras&lt;br /&gt;3. Kebuayan Angkat Jaman, Abdoellah glr Batin Bahuga dusun Banding Agung&lt;br /&gt;4. Kebuayan Lamban Lunik, Aboerachim glr Batin Sari Banding Agung&lt;br /&gt;Raden nanoem, turunan Hulu Balang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pepateh  marga Banding Agung dahulu ada 12 orang tetapi sekarang tidak lagi  berjumlah 12 malahan sudah lebih, berhubung sudah bertambahnya anak cucu  dari puyang tersebut, sekarang yang massih menginginkan adat istiadat  tersebut.&lt;br /&gt;Sekalipun turunan Umpu Batin Tuha ini sudah berjalan sampai  18 gilir sampai pada TJIK,OESIN HZ sekarang, namun kerja sama yang erat  antara AGUESTJIK/TJIK WI dan TJIK’OESIN HZ tentang mengenai urusan adat  istiadat yang berlaku sejak dahulu kala sampai sekarang ini di Banding  Agung masih merupakan persatuan yang erat seperti halnya ikan dan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Demikianlah  surat keturunan ini dibuat dengan sebenarnya oleh saya nama TJIK’OESIN  HZ gelar Dalom Nata Diraja, yang dikutip dari surat tambo keturunan  paksi hanibung, asalmula jadi istana kerajaan Sekala Berak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dikutip dari Surat Keturunan Banding Agung yang dibuat oleh :&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raja Adat Banding Agung TJIK’OESIN HZ Gelar Dalom Nata Diraja Diangkat oleh Pepateh Empat Menjadi Suntan Kemala Raja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dibuat pada tanggal 10 Juli 1962&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GARIS KETURUNAN ( SILSILAH )&lt;br /&gt;ADAT BANDING AGUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun  keturunan RAJA ADAT MARGA BANDING AGUNG, dahulu kalanya berpacah atau  keluar dari PAKSI HANIBUNG, MARGA BATU BERAK, Kebuayan UMPU PERNONG yang  memegang dan menguasakan,serta penetapan ADAT ISTIADAT yang TETAP DAN  SENTOSA DI DALAM KERAJAAN DI MARGA KENYANGAN ( BATU BERAK), yaitu  sebagaimana di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;YANG MENETAPKAN ISTANA BANDING AGUNG :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.                      UMPU BATIN TUHA&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;II.                     KIYAI GUNUNG TUHA&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;III.                    PEMUKA KUMALA GAGAH&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;IV.                    RAJA KUMALA RATU&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;V.                     DALOM BANGSA RATU&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;VI.                    PANGERAN MANGKU ALAM&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;VII.                   PANGERAN MANGKU BUMI&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;VIII.                  PENGERAN BANGSA RATU&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;IX.                    PANGERAN KUMALA RAJA&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;X.                     PANGERAN MANGKU MARGA&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;XI.        a.         DEPATI BELANG GALAH&lt;br /&gt;        b.         PANGERAN SENUKA RATU&lt;br /&gt;                    a. Beranakkan&lt;br /&gt;XII.                   PANGERAN SURA DILAGA TUHA. Besl.Res.Plg.tgl.01-07-1825 NO.11&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;XIII.                  PENGERAN KECIK&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;XIV.                 RAJA KEMALA RATU&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;XV.                  DEPATI  JAIS&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;XVI.                 Per. REKNO&lt;br /&gt;                    Beranakkan&lt;br /&gt;        a.         SITI ROKNA&lt;br /&gt;        b.         TCIK MAT&lt;br /&gt;                    a. beranakkan&lt;br /&gt;XVII.                1. TJIK OESIN.HZ      2. TJIK DEN. HZ        3. NURJANAH (LEKOK)&lt;br /&gt;                        1. Beranakkan&lt;br /&gt;XVIII.                       1.  AHMAD BACHORI, Glr. SUNTAN TAKDIR SYAH&lt;br /&gt;                            2. M. SJAHFERI, Glr. RAJA SIMBANGAN DALOM&lt;br /&gt;                            3. SYAHRIAL HUSNI, Glr DALOM MANGKU ALAM&lt;br /&gt;                            4. SAMSUN RIZAL Glr BATIN JAYA&lt;br /&gt;                            5. SAKTA HUSANDA (Alm)&lt;br /&gt;                            6. FARIMA PUTRI&lt;br /&gt;                            7. JULIARTI KERAMAWATI&lt;br /&gt;                        2. Beranakan :&lt;br /&gt;                            1. M.K.MUNSYI&lt;br /&gt;                            2. SOLMANA&lt;br /&gt;                            3. YURNAL&lt;br /&gt;                            4. M. JAMAL NASIR&lt;br /&gt;                            5. SARMUN&lt;br /&gt;                            6. SELAMAT&lt;br /&gt;                        3. Beranakan :&lt;br /&gt;                            1. HUZAIRIN&lt;br /&gt;                            2. MASRI&lt;br /&gt;                            3. MUKRODI&lt;br /&gt;                            4. MAMI&lt;br /&gt;                            5. FIZUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keturunan dari TJEK OESIN HZ dari yang tertua yaitu :&lt;br /&gt;A. BACHORI  glr Sutan Takdir Syah MEMPUNYAI 3 Isteri :&lt;br /&gt;        Isteri ke 1( FARIDA ) beranakan :&lt;br /&gt;        1. SRI JUWITA&lt;br /&gt;        2. MARLENTINA Bersuami : Nanang Rahmat&lt;br /&gt;        Isteri ke 2 ( RUSLAINI )beranakan :&lt;br /&gt;        3. DEWI PURNAMASARI, S.IP Bersuami :  Rizal&lt;br /&gt;        4. BETI WAHYUNI&lt;br /&gt;        5. HAMZATA AMRI, A.Md&lt;br /&gt;        6. MAYA FITRIANA, SE&lt;br /&gt;        7. ARIF HIDAYAT&lt;br /&gt;        8. DEDI RAHMAN, A.M.Kep&lt;br /&gt;        Isteri ke 3 (-) beranakan :&lt;br /&gt;        -&lt;br /&gt;B. SYAHFERI beranakan :&lt;br /&gt;        1. IDE MADA PATRIKA PRIMORDIA (MADA) Beristri :…….&lt;br /&gt;        2. BADRIANSYAH ( A’AN )  Beristri :……..&lt;br /&gt;        3. RIZKI DIANA IKA RAMDANI&lt;br /&gt;        4. YANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. SYAHRIAL HUSNI, S.SOS  Gelar Dalom Mangku Alam&lt;br /&gt;beristerikan : RAUDATUL DJANNAH, A.Ma&lt;br /&gt;        Mempunyai putra putri bernama :&lt;br /&gt;        1. NELLY AQUARIDA, SH   Bersuami :  DEVI ANSYORI, SE&lt;br /&gt;        2. BAMBANG FADMA WINATA, ST  Beristeri :  Dr. MAS NURA&lt;br /&gt;        3. KAMAL FIKRI, ST  Beriteri :  YENI SUSANA, A.M.Kep&lt;br /&gt;        4. KANTY SUTIA NINGSIH, A.M.Kep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. FARIMA PUTRI Bersuamikan : NASCHOIRI, S.Ag&lt;br /&gt;        Mempunyai putra putrid bernama :&lt;br /&gt;        1. DESTIANA PUTRI PUGURA, A.M.Kep&lt;br /&gt;        2. INDRIANI PUTRI PUGURA&lt;br /&gt;        3. TRI SATRIA PUGURA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TJIK OESIN HZ Mempunyai anak angkat yaitu :&lt;br /&gt;1. TARMIZI SAHRI ( SURABAYA )&lt;br /&gt;2. ASUAN ( TALANG SEGUROH )&lt;br /&gt;3. UJANG TANTAWI&lt;br /&gt;4. TARMIZI ( BLAMBANGAN )&lt;br /&gt;5. AMANYUNI ( GUNUNG CAHYA )&lt;br /&gt;6. ANAM AMINUDDIN&lt;br /&gt;7. SOPIAN TAMIMI ALWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D&lt;span style="font-style: italic;"&gt;emikianlah  surat keterangan KETURUNAN GARIS LURUS YANG SAMPAI PADA GILIRAN YANG KE  XVIII atas nama “ AHMAD BACHORI ” (Glr SUNTAN TAKDIR SYAH ) dusun  Bandar Agung Ranau berdasarkan kutipan TAMBO turunan UMPU BATIN TUHA  yang bermakam di PENDAGAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEPATEH MARGA BANDING AGUNG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;RADEN SINGA BANDING AGUNG&lt;/li&gt;&lt;li&gt;MEKIAN BANDING AGUNG&lt;/li&gt;&lt;li&gt;ARIF BUSTAMI BANDING AGUNG&lt;/li&gt;&lt;li&gt;BATIN BANGSAWAN (JOHAN SANTRI) BANDAR AGUNG&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KAKHIB (TARMIZI) BANDING AGUNG&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KAILANI SURABAYA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;BATIN PENDITA / ARBI (NAWAR SAKDAN) SURABAYA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;RADEN MUTOR ( MADRIS SUMADI) SURABAYA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;H. IBRAHIM SURABAYA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;RADEN SYAH ALAM (H.HASAN) SURABAYA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;RADEN JAUHARI SUNTAN BADARUDIN SURABAYA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;H. MUSLIM (JAILANI) SURABAYA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;H. SENAWI (CIK MAT) SURABAYA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;BATIN SINGA (AKMAL) SURABAYA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;NASRUDIN BANDAR AGUNG&lt;/li&gt;&lt;li&gt;BATIN SYAH ALAM SUGIHWARAS&lt;/li&gt;&lt;li&gt;BATIN SAMPURNA SUGIHWARAS&lt;/li&gt;&lt;li&gt;RADEN PERSI / BATIN SINGA SUGIHWARAS&lt;/li&gt;&lt;li&gt;ALIAN SUGIHWARAS&lt;/li&gt;&lt;li&gt;TAMBAT SUGIHWARAS&lt;/li&gt;&lt;li&gt;MAT NUH SUKANEGRI&lt;/li&gt;&lt;li&gt;USIN BAGUS ANANG SUKANEGERI&lt;/li&gt;&lt;li&gt;NURTA SUKANEGRI&lt;/li&gt;&lt;li&gt;MINAK SANTRI SUKANEGRI&lt;/li&gt;&lt;li&gt;H. SOLIHIN BANDING AGUNG&lt;/li&gt;&lt;li&gt;ARIFIN H. MUSTOPA SBA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SEBANI SBA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;ABDUL HAMIN BANDING AGUNG&lt;/li&gt;&lt;li&gt;H. MAKNAN SBA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;H. SAHRI SBA&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dikutip dari daftar nama-nama Pepateh Marga /  suku pak dari jurai tuha Umpu Batin Tuha Banding Agung Kec. Banding agung&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dibuat pada tanggal 26 November 1994 dan ditandatangani oleh Raja Adat Banding Agung, Tjik’oesin Hz Gelar Suntan Kemala Raja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KETERANGAN DARI ANAK CUCU BATIN TUHA&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;YANG MENETAPKAN ADAT ISTIADAT DALAM&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LINGKUNGAN BANDING AGUNG (RANAU).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.    Umpu Batin Tuha, berkuasa dan siba di BANTEN JAWA BARAT.&lt;br /&gt;2.    Kiyai Gunung Tuha, berkuasa.&lt;br /&gt;3.    Pemuka Kumala Gagah, berkuasa.&lt;br /&gt;4.    Raja Kemala Ratu, berkuasa.&lt;br /&gt;5.    Dalom Bangsa Ratu, berkuasa.&lt;br /&gt;6.    Pangeran Mangku Alam, berkuasa.&lt;br /&gt;7.    Pangeran Mangku Bumi, berkuasa.&lt;br /&gt;8.    Pangeran Bangsa Ratu, berkuasa.&lt;br /&gt;9.    Pangeran Kemala Raja, berkuasa.&lt;br /&gt;10.  Pangeran Mangku Marga, berkuasa.&lt;br /&gt;11.  Depati Belang Galah, berkuasa. Pangeran Senuka Ratu adik Depati Belang Galah juga berkuasa.&lt;br /&gt;12.  Pangeran Sura Dilaga Tuha, berkuasa.&lt;br /&gt;13.  Pangeran Kecik, berkuasa.&lt;br /&gt;14.  Raja Kemala Ratu, tidak berkuasa.&lt;br /&gt;15.  Depati Jais, berkuasa (Pembarab)&lt;br /&gt;16.  Per. Rikno, tidak berkuasa.&lt;br /&gt;Per. Siti Rokna, tidak berkuasa.&lt;br /&gt;17.   Tjik Oesin. HZ. Glr. Suntan Kemala Raja, Pensiunan Pegawai Negeri. SK.  MDN. Tgl. 06/02/1981 No.SK.812.682.3.499 dilahirkan di Bandar Agung  (Ranau) pada tahun 1924.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANDING AGUNG, 19 Maret  2009&lt;br /&gt;PENULIS,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYAHRIAL HUSNI, S.Sos&lt;br /&gt;(DALOM MANGKU ALAM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Saliwa :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Ketua Pemangku Adat Ranau Ruslan Tamimi, penghuni pertama  kawasan danau Ranau adalah suku Abung. Mereka hidup menjadi penangkap  ikan, bertani atau berladang.&lt;br /&gt;Dari peninggalan sejarah di kawasan danau Ranau berupa lesung batu dari  zaman Megalitik menandakan bahwa suku Abung termasuk rumpun Proto  Malayan.&lt;br /&gt;Pada abad ke-15 kawasan danau Ranau didatangi empat komunitas suku  pendatang yang menduduki kawasan danau Ranau. Satu kelompok berasal dari  Pagaruyung yang dipimpin Depati Alam Padang menempati sebelah barat  danau Ranau. Tiga kelompok lagi berasal dari Sakala Brak Lampung, yang  dipimpin Raja Singa Juhku menetap di sebelah timur, kelompok yang  dipimpin Puyang Empu Sejadi Helau di sebelah utara, dan kelompok  terakhir dipimpin Pangeran Liang Batu serta Pahlawan Sawangan menempati  sebelah timur.&lt;br /&gt;Keempat kelompok itu kemudian saling berbaur dan kemudian terpilah lagi  dalam tiga kawasan, yaitu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Banding Agung, Pematang Ribu dan Warku&lt;/span&gt;k. Mereka  inilah yang menjadi cikal bakal dan akhirnya disebut suku Ranau.  Sedangkan suku Abung sebagai penghuni pertama danau Ranau yang suka  mengisolasi diri. Merasa terusik dan berusaha mempertahankan wilayahnya.  Tetapi karena kalah jumlah dan persenjataan yang dimiliki kaum  pendatang lebih maju membuat suku Abung semakin terdesak dan terpaksa  hijrah ke wilayah Lampung Tengah'.  http://wisatadanbudaya.blogspot.com/2010/01/suku-ranau-mereka-berasal-dari-lampung.html.&lt;br /&gt;Sering terjadi perdebatan diantara peneliti, siapa sebenarnya suku Ranau  itu. Suku Abung atau keempat suku pendatang yang hingga kini menempati  kawasan danau Ranau. tapi yang jelas adat istiadat yang ada Di Ranau masih berjalan hingga sampai sat ini, seperti apa yang telah dituliskan oleh sai batin marga banding agung Ranau.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-3553748655072737381?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/3553748655072737381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/surat-tua-marga-banding-agung-ranau.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/3553748655072737381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/3553748655072737381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/surat-tua-marga-banding-agung-ranau.html' title='MARGA BANDING AGUNG - RANAU'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-HPwwiKULXG4/Tt2n7n4RUMI/AAAAAAAAA1Y/h9rEduo-odw/s72-c/saibatin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-164977146226567703</id><published>2011-12-05T20:28:00.000-08:00</published><updated>2011-12-05T20:40:24.725-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>Suku Ranau Bagian Dari Paksi Pak Sekala Brak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-9KBDjmJ3eX4/Tt2bgHQaIiI/AAAAAAAAA1M/dbfQq0mlbT0/s1600/ranau%2Bdan%2Bseminung.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 455px; height: 166px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-9KBDjmJ3eX4/Tt2bgHQaIiI/AAAAAAAAA1M/dbfQq0mlbT0/s320/ranau%2Bdan%2Bseminung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682869280817422882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Danau Ranau dan Gunung Seminung Lampung Barat, foto : Endang Guntoro Canggu )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;" id="uds-searchControl"&gt;&lt;a name="uds-search-results"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://wisatadanbudaya.blogspot.com/2010/01/suku-ranau-mereka-berasal-dari-lampung.html"&gt;Suku Ranau, Mereka Berasal dari Lampung&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 class="post-title"&gt; &lt;/h3&gt;   &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suku Ranau sebenarnya berasal dari  Lampung Barat. Mereka pindah dari daerah asalnya, kemudian menetap di  tepian danau di Banding Agung, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan,  Sumatera Selatan, sejak abad ke-15. Suku asli yang sebelumnya tinggal di  kawasan danau justru hijrah ke Lampung Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya cerita  itulah yang banyak beredar di tengah masyarakat. Tidak ada bukti  tertulis, seperti prasasti atau manuskrip, yang mendukung kisah  asal-usul suku tersebut. Kebenaran sejarah itu lebih banyak bertumpu  pada penuturan nenek moyang, ditambah adanya sejumlah makam tetua suku  yang masih bisa dijumpai sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Pemangku  Adat Ranau Ruslan Tamimi, saat ditemui awal November lalu, kawasan Danau  Ranau semula didiami suku Abung, yang berkembang sekitar tahun 1.400.  Mereka hidup menjadi penangkap ikan, bertani, atau berkebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  abad ke-15 datang empat kelompok masyarakat yang menduduki Ranau. Satu  kelompok berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat, yang dipimpin Depati  Alam Padang yang menempati sebelah barat Ranau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga kelompok  lagi dari Sekala Brak, Lampung. Kelompok Sekala Brak yang dipimpin Raja  Singa Juhku menetap di sebelah timur, kelompok pimpinan Puyang Empu  Sejadi Helau di sebelah utara, dan kelompok yang dipimpin Pangeran Liang  Batu serta Pahlawan Sawangan menempati wilayah timur Ranau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat  kelompok itu kemudian berbaur dan terpilah lagi dalam tiga kawasan,  yaitu di Banding Agung, Pematang Ribu, dan Warku. Kehidupan semua  kelompok diatur dengan sistem marga yang masing-masing dipimpin seorang  pesirah. Mereka itulah yang menjadi cikal bakal dan akhirnya disebut  suku Ranau sampai sekarang. Adapun suku asli, suku Abung, terdesak dan  akhirnya hijrah ke Lampung Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bertahan Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Rata Penuh"&gt;&lt;img src="http://wisatadanbudaya.blogspot.com/2010/01/img/blank.gif" alt="Rata Penuh" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Hingga  kini suku Ranau mempertahankan hidup dengan cara bertani, berladang,  dan menangkap ikan. Sebagian sawah yang ada memiliki irigasi teknis  sehingga bisa panen tiga kali setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pemerintahan marga  mengatur hampir semua sisi kehidupan masyarakat. Suku Ranau otonom dan  tidak tunduk kepada kerajaan mana pun, termasuk Kerajaan Palembang  Darussalam yang berpusat di Palembang (abad XVI-XVIII).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad  XVIII, suku Ranau ditaklukkan Belanda. Pada tahun 1908, Belanda  menyatukan tiga marga suku Ranau menjadi satu marga saja yang dipimpin  satu pesirah yang berkedudukan di Banding Agung. Pesirah pertama adalah  Pangeran Amrah Depati Muslimin, disusul Ahmad Abi Sujak Berlian, Depati  Nawawi, Depati Johansyahfri, dan terakhir Depati Ruslan Tamimi, yang  memimpin marga Ranau pada tahun 1980-1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas pesirah adalah mengatur pemerintahan, adat, dan budaya anggota suku yang tersebar di 32 desa yang disebut kriyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  bawah sistem marga, suku Ranau memiliki semacam anggaran belanja  sendiri yang disebut nilayan marga, yang mengatur pemasukan dan  pengeluaran pemerintahan marga. Pesirah dibantu kriyo (setara dengan  kepala desa) dan penggawo (setara dengan kepala dusun). Ada juga  pengurus air yang disebut uae lampai ni salah dan bagian keamanan yang  disebut kenit.&lt;br /&gt;"Selama ratusan tahun sistem marga memiliki wibawa dan  ditaati secara tradisional sehingga kehidupan suku Ranau relatif  terjaga. Etika, seni budaya, dan hukum adat istiadat dapat ditegakkan  dengan baik. Pentas kesenian, gotong royong, dan pelestarian lingkungan  dijunjung tinggi," ungkap Ruslan Tamimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem marga berhenti  pada tahun 1994, setelah Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menerapkan  Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, yang  mengubah sistem marga menjadi sistem desa. Pemerintahan suku Ranau  kemudian dipimpin seorang camat yang berkedudukan di Banding Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,  adat istiadat tetap diurus secara terpisah oleh seorang pemangku adat  terpilih, yang dijabat Ruslan Tamimi sejak tahun 1992 hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penambangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak  dikendalikan dengan sistem pemerintahan desa yang longgar dan  birokratis, kehidupan suku Ranau berangsur berubah. Sendi-sendi adat,  sikap gotong royong, serta kesadaran untuk melestarikan lingkungan  secara perlahan berkurang. Salah satu contoh nyata, sebagian dari Bukit  Barisan yang mengelilingi Danau Ranau sebelah timur dan utara rusak  parah akibat ditambang secara liar sejak pertengahan tahun 1990-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambangan  menggerogoti Bukit Petambon yang terdapat di Desa Subik dan Jepara,  Kecamatan Banding Agung. Setidaknya ada lima lokasi penambangan di  kawasan sepanjang sekitar tiga kilometer itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Kompas&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-164977146226567703?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/164977146226567703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/suku-ranau-bagian-dari-paksi-pak-sekala.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/164977146226567703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/164977146226567703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/suku-ranau-bagian-dari-paksi-pak-sekala.html' title='Suku Ranau Bagian Dari Paksi Pak Sekala Brak'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-9KBDjmJ3eX4/Tt2bgHQaIiI/AAAAAAAAA1M/dbfQq0mlbT0/s72-c/ranau%2Bdan%2Bseminung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-5641739378473329216</id><published>2011-12-03T00:29:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T00:40:27.838-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>Kolonialisme Baru dalam Kebudayaan Lampung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-YvGLVtj2QS8/TtnfqmDA5LI/AAAAAAAAA1A/gr4iB4crGpY/s1600/Trav_mepadun%2B%25282%2529.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-YvGLVtj2QS8/TtnfqmDA5LI/AAAAAAAAA1A/gr4iB4crGpY/s320/Trav_mepadun%2B%25282%2529.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5681818327765279922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Upacara yang digelar oleh para Punyimbang untuk menaikkan gelar atau adok kepada seseorang )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Budi Hutasuhut*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Radar Lampung, Rabu, 28 Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;KONSEP  negara menjadi hagemoni baru di Lampung. Di tangan para  ’’intelektual  penjilat’’, konsep ini makin kuat daya cengkram cakarnya.  Maka,  masyarakat yang kaya akan nilai budaya –yang diwarisi dari  ratusan marga  dan masing-masing memiliki penyimbang atau saibatin–  tanpa sadar  dimiskinkan dengan hanya mengakui satu penyimbang atau satu  saibatin.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;DENGAN  suka cita,  masyarakat adat Lampung menyaksikan Majelis Penyimbang Adat  Lampung  (MPAL) memberi gelar adat Kanjeng Yang Tuan Suntan Mangkunegara   Junjungan Pemangku Sai Bumi Ruwa Jurai kepada Gubernur Lampung   Sjachroeddin Z.P. dan Pun Yang Tuan Suntan Pengetahuan Pemangku Sai Bumi   Ruwa Jurai kepada Ketua DPRD Marwan Cik Asan. Mereka tertawa,   tersenyum, dan berbahagia, meski dimiskinkan secara budaya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Posisi   penyimbang atau saibatin dalam masyarakat marga di Lampung tak ada   kaitannya dengan konsep negara. Seseorang menjadi penyimbang atau   saibatin karena garis darah patriarkhi, yang didapat secara   turun-temurun. Bukan pemberian, apalagi dikait-kaitkan status sosial dan   kedudukan dalam sistem pemerintahan negara.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebab itu,  pemberian  gelar adat kepada gubernur dan ketua DPRD Lampung adalah  kemunduran  dalam tradisi budaya Lampung. Tak ada kearifan tradisional  pada fenomena  ini. Terlebih, dilihat sebagai peristiwa politik yang  digadang-gadang  segelintir elite karena ingin memperjuangkan  kepentingan personalnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pemberian  gelar adat karena  berorientasi kepada jabatan pernah berlangsung sangat  fenomenal di  lingkungan masyarakat adat Lampung di zaman kolonialisme  Belanda.  Ketika pemerintah Hindia Belanda ingin menancapkan kuku-kuku  kekuasaan  penjajahannya di lingkungan masyarakat adat Lampung pasca  jatuhnya  Kesultanan Banten, Belanda mesti berhadapan dengan  perlawan-perlawanan  sengit dari para penyimbang atau saibatin masyarakat  adat yang salah  satunya digelorakan Radin Intan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meski Radin  Intan hanya  seorang radin, bukanlah saibatin posisi tertinggi dalam  kultur  kesaibatinan masyarakat adat Lampung pesisir Selatan. Tapi, ia  mampu  memberikan perlawanan yang merepotkan Belanda. Keradinan yang  melekat  dalam dirinya adalah nilai seorang saibatin yang selalu  memikirkan  nasib dan masa depan dari masyarakat marganya, yang melihat  betapa  Belanda akan membawa mudarat bagi kehidupan seluruh lapisan  masyarakat  marga.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena Radin Intan hanyalah saibatin bagi   masyarakat marganya, sedangkan Lampung terdiri atas ratusan masyarakat   marga, gelora perlawanan terhadap Belanda yang diembuskannya hanya mampu   memengaruhi masyarakat marga di mana Radin Intan menempati posisi   sebagai radin. Belanda memahami konsep kesaibatinan ini, lalu   memengaruhi masyarakat marga lain dan mengadu-domba.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk   memuluskan politik adu-dombanya, Belanda mengangkat tokoh-tokoh adat   dari lingkungan masyarakat marga lainnya sebagai pesirah dalam sistem   pemerintahan baru bentukan Belanda. Setiap pesirah yang ditunjuk, diberi   gaji bulanan dan bekerja untuk Pemerintah Belanda dengan tugas-tugas   mulia menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kita  tahu,  Radin Intan kemudian menjadi musuh bersama. Saibatin masyarakat  marga  pesisir itu diposisikan sebagai pemberontak, diberi cap sebagai   perompak. Lalu, sebagian besar masyarakat marga yang telah diberi   kedudukan, posisi, dan kenyamanan jabatan oleh Belanda, beramai-ramai   memusuhi Radin Intan sampai kemudian pejuang nasional itu tertangkap.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;APA   yang dilakukan Belanda di zaman kolonialisme, kini dicontoh MPAL. MPAL   adalah organisasi non-pemerintah, tetapi organisasi yang dibentuk   setelah gubernur Lampung dijabat Sjachroeddin Z.P. ini belakangan   seolah-olah menjadi instansi/badan vertikal yang mengurusi masalah   kebudayaan dalam sistem birokrasi Pemda Lampung –melampaui wewenang yang   sudah inklud di tubuh dinas pariwisata dan kebudayaan serta dinas   pendidikan. Organisasi ini dimodali dana APBD. Tapi, dana-dana itu tak   sampai ke daerah, organisasi MPAL yang ada di kabupaten/kota.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena   dimodali dana APBD meskipun tak pernah transparan bagaimana lembaga  ini  mengelola dana-dana rakyat itu, MPAL banyak melakukan kegiatan yang   mengarahkan dirinya sebagai penjaga kebudayaan Lampung. Cuma, MPAL  yang  diisi para tokoh budaya dan sebagian besar berlatar belakang  pejabat  atau pegawai negeri sipil, tidak bekerja sebagai intelektual  budaya.  Mereka bekerja layaknya PNS, yang sangat ditentukan oleh  hirarki  kepangkatan sehingga ruang lingkup kerjanya banyak mencaplok  hal-hal  yang seharusnya menjadi beban kerja Dinas Pariwisata dan  Kebudayaan  Lampung atau Dinas Pendidikan Lampung.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kondisinya  semakin parah  ketika sebagai tokoh adat, tingkat pemahaman dan  pengetahuan setiap  anggota MPAL tentang nilai-nilai budaya  masing-masing sangat kuat  dipengaruhi oleh pengalaman mereka selama  menjadi pejabat di  pemerintahan. Artinya, konsep kebudayaan Lampung  bagi mereka adalah  konsep kebudayaan yang mengakar dari Bhinneka  Tunggal Ika. Budaya  Lampung dipahami hanya sebagai budaya Lampung  sembari mengabaikan bahwa  budaya Lampung merupakan representasi dari  nilai-nilai yang diwariskan  ratusan masyarakat marga Lampung.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi,  karena persepsi dan  pemahaman penggerak MPAL bahwa kebudayaan identik  dengan pemegang  kekuasaan pemerintahan sebagaimana di zaman Orde Baru  konsep kebudayaan  identik dengan Presiden Suharto yang berasal dari  lingkungan kebudayan  Jawa, maka kebudayaan Lampung identik dengan  kebudayaan yang melahirkan  Gubernur Lampung Sjachroeddin ZP.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebab  itu, konsep kebudayaan  Lampung yang diperkenalkan oleh MPAL dan  didukung oleh intelektual  kebudayaan dari Universitas Lampung, adalah  kebudayaan yang memosisikan  Sjachroeddin Z.P. sebagai penyimbang marga.  Sementara posisi penyimbang  atau saibatin ratusan marga lainnya berada  di bawah bayang-bayang  masyarakat marga yang melahirkan sosok  Sjachroeddin Z.P.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada  tataran inilah perlu dipertanyakan  di mana posisi saibatin marga Paksi  Pak Skala Brak, masyarakat marga  yang diyakini sebagai leluhur budaya  seluruh masyarakat adat Lampung?  Sebab itu, bisa dibilang kebudayaan  Lampung adalah kebudayaan politis.  Kebudayaan yang perkembangannya,  pemahamannya, dan pemikirannya, selalu  mundur ke belakang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;* Budi Hutasuhut, Peneliti Budaya Lampung untuk Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://ulunlampung.blogspot.com/2010/07/adat-dppal-nilai-pemberian-gelar-tak.html"&gt;Adat: DPPAL Nilai Pemberian Gelar Tak Sesuai Aturan&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt; &lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   GEDONGTATAAN (Lampost): Dewan Perwakilan Penyimbang Adat Lampung  (DPPAL)  menilai selama ini pemberian gelar (adok) adat tidak sesuai  dengan tata  cara adat Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Maulana Raja Niti, ketua  DPPAL,  pemberian gelar adat tak diberikan kepada sembarang orang dan  jabatan  semata karena gelar menunjukkan nilai luhur seseorang dalam  keadatan  Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemberian gelar bukan semata untuk mencari  kepentingan.  Pemberian gelar itu pun perlu penilaian dan harus mendapat  persetujuan  dari penyimbang adat," kata Maulana Raja Niti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  tata  keadatan Lampung, kata dia, para penyimbang berpedoman pada  Kuntara Raja  Niti dan Kuntara Raja Sa sehingga pemberian gelar tidak  diberikan  secara sembarangan. Dia khawatir sikap para penyimbang yang  memberikan  gelar terlalu bebas akan membuat nilai-nilai luhur dari  sebuah gelar  justru tak memiliki sifat keluhurannya di masyarakat adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain   itu, dia mencontohkan pada pemberian gelar adat kepada Gubernur  Lampung  Sjachroedin Z.P. yang mendapat gelar Kanjeng Sutan Pemangku  Negara  justru diberikan oleh penyimbang adat yang gelarnya masih berada   setingkat di bawah gelar yang diberikan kepada Gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam   tata cara pemberian adat sudah dijelaskan bahwa penyimbang yang berhak   memberikan gelar keadatan harus memiliki gelar yang setingkat lebih   tinggi dari yang diberikan gelar," kata Maulana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, kata   Maulana, selama ini sejak prosesi pemberian gelar sampai yang  memberikan  gelar saja sudah melenceng jauh dari tata cara keadatan  Lampung. "Ini  yang perlu kami luruskan, agar tata cara keadatan Lampung  tak diremehkan  dan dianggap terlalu gampang," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  dia, sejumlah  penyimbang dari berbagai marga di Lampung pun mengakui  sikap  keprihatinan mereka terhadap terlalu mudahnya para penyimbang  adat lain  memberikan gelar keadatan kepada seseorang yang sedang  memangku jabatan.  Apalagi hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan  tanpa melihat  nilai-nilai dari tata cara keadatan Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau  keadatan saja  sudah dibuat terlalu rendah seperti itu, bagaimana kita  sebagai  penyimbang bisa menjaga keberlangsungan dari pelestarian adat  Lampung  ini," kata Maulana. (SWA/D-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Sabtu, 24 Juli 2010 &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-5641739378473329216?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/5641739378473329216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/kolonialisme-baru-dalam-kebudayaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5641739378473329216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/5641739378473329216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/12/kolonialisme-baru-dalam-kebudayaan.html' title='Kolonialisme Baru dalam Kebudayaan Lampung'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-YvGLVtj2QS8/TtnfqmDA5LI/AAAAAAAAA1A/gr4iB4crGpY/s72-c/Trav_mepadun%2B%25282%2529.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-8732168578513494184</id><published>2011-11-30T00:13:00.000-08:00</published><updated>2012-01-03T00:31:17.643-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SASTRA'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>Amanat Pangeran Pernong</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Kepada seluruh Komunitas Adat Kepaksian Pernong&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;melalui Udo SEEM R. CANGGU&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;diketik ulang oleh : ENDANG GUNTORO CANGGU&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-wsL12EGCKYo/TtXmZa3k4fI/AAAAAAAAA00/az5j-blEbME/s1600/7.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-wsL12EGCKYo/TtXmZa3k4fI/AAAAAAAAA00/az5j-blEbME/s320/7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680699829381292530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adinda SEEM, wat penasehat Raja Louis XIII, gekhal na &lt;em&gt;Niccollo Machiaveli&lt;/em&gt;,  ia ngelajakh rakyat Perancis tentang cicca, ki kerajaan haga mubalak,  muhanggum, mukhapot dalih ni segani kerajaan bakhih, cicca na ki dilom  bahasa Indonesia &lt;strong&gt;“&lt;em&gt;benteng terakhir dari suatu negeri ada dalam hati prajurit-prajuritnya”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Malih  pai jak sinno, ki kham di Kepaksian Pernong, ki kham cawa Kepaksian  guggoh dilom istilah Kerajaan, kidang ki cawa Buay atau Kebuayan khati  na keturunan asal, jadi mak guggoh, ki khuppok nanya “Jak ipa kutti?  Asal jak ipa?” jawab kham “Jak Kepaksian Pernong Sekala Brak”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kidang  ki khuppok nanya “Jak asal keturunan ni sapa kutti?” maka jawab na  “Sikam jak Buay Pernong” khatti na keturunan Pernong, nyin jelas.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kham  muloh di cicca jinna, untuk Kepaksian Pernong cicca hinno berlaku  kidang benteng terakhir Kepaksian Pernong lain ikah ditangan jamma balak  ni Saibatin, kepala kebu, kepala sumbai, kepala jukku, kappung batin,  pepatih, hulu balang, pemapah, lain kemanno gaoh, lain tian no gaoh.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Benteng  terakhir ni Kepaksian Pernong wat di hati ni nyunyin kerabat, minak  muakhi dalih sunyin rakyat Kepaksian Pernong baik sai di wilayah Sekala  Brak maupun sai khadu tersebar diluar wilayah Sekala Brak, sunyin na wat  tanggung jawab sejarah, tanggung jawab darah, tanggung jawab ikatan,  tanggung jawab kekerabatan, tanggung jawab moral, semangat, kesetiaan,  kerelaan, ketulusan dan keberanian untuk mempertahankon tegak na,  berkibarnya na, bersinar na cicca Kepaksian Pernong sai jak tumbai  menumbai “KIJANG MELIPIT TEBING, BATANG MENITI ARUS”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ti tambah  cicca pekhkilu, penghakhop du’a kham terhadap Allah SWT waktu kham hadir  memenuhi undangan Jumenangan Dalem Sri Paku Buwono XII Surakarta, yaitu  “MESUNAKH MAK KETENGGAKHAH”. Hijjo lah cicca kham.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Terus pertanyaan na :&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sapa  sai dapok mempertahanko cicca sejak tumbai menumbai hinno?, ya kutti  nyunyin na terutama generasi muda, generasi masa depan kepaksian kham,  apikah kijang melipit tebing dapok nyunakh ko cicca na? Mucalak, mubani,  mucakhangil, meliokh mak tekusakh? Mesunakh mak ketenggakhah.  Tergantung tian, tergantung ajaran, contoh pemahaman mendidik khasa  cinta khik bangga lawan Kepaksian Pernong, salah satu kerajaan sai tuha  di tanoh lappung sai kemurnian, tetes darah na berdasarko turunan sai  lurus khik mak terputus tertua jak garis Ratu, tetap menjadi kebanggaan,  kehangguman, sai tiarahko menjadi perbuatan tawaddu, rendah hati,  mengharap ridho jak sang pemilik kebesaran kekuasaan yang menggenggam  seluruh milik dan kemuliaan  Allah SWT sebagai pengikat persatuan,  pengikat silaturahmi, pengikat cinta kasih keminak muakhian, pengukuh  kekerabatan, sebagai tanggung jawab dan ibadah kepada Allah SWT.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sapa  sai haga ngelajuko api sai khadu tirintis, ti guai ko? Di zaman kham  khadu dapok titunjukko dengan susah payah, dengan pertarungan yang  berdarah-darah, kham upaya ngiwak ko kepaksian dimata dunia, hasil na  walau masih jaoh jak hakhapan, kidang khadu wat sengikh na cutik.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Api selanjut na?&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Waktu masih berjalan, kunci na SETIA.... SETIA....&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mak  bikhik’an lom kesetiaan lawan Saibatin, mana Saibatin adalah sai batang  tindingan, khang ni tekhakkop bulung, pappang mid batang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertahanko  batang no nyin tetap kokoh, kuat, sehat, menjulang, mengayomi,  memayungi, sehingga batang hinno mejadi batang utuh sai beguna,  bermanfaat, bufungsi khik muhanggum, mekhanggal, mubetik khik mujadi  khang bersyukur kehaguk Allah SWT.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi kata kunci na “SETIA..... SETIA....”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dang  nyadang ko tatanan kidang jaga dalih pertahanko tatanan sebagai pusaka  dalih sejarah sai harus tijaga sampai di hari sai paling kemudian.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Paham  SEEM, resapko dalih amalko kutti nyunyin ni komunitas kepaksian Pernong  dengan komitmen sai teguh, kuat dan tidak tergoyahkan dengan cara  apipun, Amin.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salam jama keunyinna minak muakhi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Peniakan Dalom Beliau Drs. &lt;strong&gt;Pangeran &lt;/strong&gt;Edward Syah Pernong, SH, MH&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Glr. Sultan Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-XXIII&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-8732168578513494184?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/8732168578513494184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/amanat-pangeran-pernong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/8732168578513494184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/8732168578513494184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/amanat-pangeran-pernong.html' title='Amanat Pangeran Pernong'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-wsL12EGCKYo/TtXmZa3k4fI/AAAAAAAAA00/az5j-blEbME/s72-c/7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-7632682518386459788</id><published>2011-11-29T23:07:00.000-08:00</published><updated>2011-12-18T22:54:49.479-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SASTRA'/><title type='text'>Sajak Cinta Pangeran Pernong</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-j6Yx7Gc7sLc/TtXX5PKh7qI/AAAAAAAAA0k/o6pWOF3Gn20/s1600/379522_2309626223223_1326378112_32157902_1031970251_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 258px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-j6Yx7Gc7sLc/TtXX5PKh7qI/AAAAAAAAA0k/o6pWOF3Gn20/s320/379522_2309626223223_1326378112_32157902_1031970251_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680683883320962722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Untuk Anak Dalom Pangeran ALPRINCE SYAH PERNONG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Ciptaan : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Akan* Dalom Pangeran EDWARD SYAH PERNONG )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: center;"&gt;Diketik ulang oleh : ENDANG GUNTORO CANGGU&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;ALPRINCE,&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;Engkau adalah idaman yang bertahta di kedalaman samudera biru&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;Engkau adalah angan-angan yang bertasbih di ketinggian lazuardi&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;Engkau adalah pinta dihadapan multazam,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;permohonan di raudah,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;do’a ditengah sengat matahari arafah,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;yang tertelan dalam penantian bersama jejak langkah kaum mu,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;kerabat mu, masyarakat mu,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;dalam sengal nafas keletihan pendakian di puncak gunung pertapaan PESAGI,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;di dera permohonan yang bertalu-talu,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;luapan pinta para hamba ALLAH&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;untuk kehadiran sang penerus darah kebangsawanan tertinggi&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;yang bersipongang disetiap masjid,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;disekelumit lembah,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;sebongkah wilayah,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;di salah satu tengkuk pegunungan Bukit Barisan&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;Engkau adalah harapan diatas segala harapan&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;yang kelak akan ku titipkan pesan&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;dan masa depan sebuah komunitas kehidupan&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;yang telah begitu panjang menorehkan sejarah peradaban&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;yang belum pernah terputus dalam menggenggam cinta,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;pengabdian dan kesetiaan,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;Manakala asa tinggal sepenggalan&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;dan engah nafas lelah nyaris mengubur harap,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;Engkau hadir menyapa.....&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;Akan Dalom Pangeran EDWARD SYAH PERNONG&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;Sultan Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-XXIII&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-m8ThNbW-aII/TtXX5FrBd0I/AAAAAAAAA0c/LZpjPWMO9Sk/s1600/385918_2309628583282_1326378112_32157904_1348107148_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-m8ThNbW-aII/TtXX5FrBd0I/AAAAAAAAA0c/LZpjPWMO9Sk/s320/385918_2309628583282_1326378112_32157904_1348107148_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680683880772892482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Catatan Saliwa : * Akan adalah sebutan Ayahanda terkhusus untuk seorang Sultan Sai Batin, panggilan dari anggota keluarga kepada sang Sultan. Di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-7632682518386459788?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/7632682518386459788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/sajak-cinta-pangeran-pernong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7632682518386459788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7632682518386459788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/sajak-cinta-pangeran-pernong.html' title='Sajak Cinta Pangeran Pernong'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-j6Yx7Gc7sLc/TtXX5PKh7qI/AAAAAAAAA0k/o6pWOF3Gn20/s72-c/379522_2309626223223_1326378112_32157902_1031970251_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-1257031831516997427</id><published>2011-11-27T01:03:00.000-08:00</published><updated>2011-11-27T01:22:05.375-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEJARAH KERAJAAN'/><title type='text'>Perbincangan Mengenai Sekala Bgha</title><content type='html'>Baru baru ini saya dapatkan perbincangan hangat di facebook mengenai kaitan Sekala Bgha dengan Sriwijaya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-cAAvIaF1ciM/TtIA5Wte-RI/AAAAAAAAA0Q/oYWhwPDnW-w/s1600/keraton.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-cAAvIaF1ciM/TtIA5Wte-RI/AAAAAAAAA0Q/oYWhwPDnW-w/s320/keraton.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5679603065416513810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;( foto ini : pada  Januari 2011 kapal pesiar Odessy Clipper asal Amerika Serikat yang  membawa 103 wisatawan mancanegara merapat di pantai Krui, lalu  menyinggahi Gedung Dalom kepaksian Pernong Kerajaan Adat &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000099063882" hovercardx="/ajax/hovercard/user.php?id=100000099063882"&gt;Paksi Pak Sekala Bekhak&lt;/a&gt;,  disuguhi beragam khas seni tradisi Sekala Brak, Nyambai, Silat,  Tari2an, Hadra dan perbincangan dengan Dalom Putri Regina Pernong.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100001945583637" hovercardx="/ajax/hovercard/user.php?id=100001945583637"&gt; Muhammad Harya Ramdhoni : &lt;/a&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;( Sutan Pangeran Indrapati Cakranegara, Marga Liwa )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;"Sebelum  tahun 683 Masehi, ibukota Sriwijaya terletak di daerah pegunungan agak  jauh dari Palembang.Tempat itu dipayungi oleh dua gunung dan dilatari  sebuah dangau.Itulah sebabnya Sailendra dan keluarganya disebut Raja  Pegunungan atau "family of the King of the Mountains (Sailendravarmsa)".  Mereka memiliki hubungan kerabat dengan bangsawan Tamil Chola dan  bangsawan Nepal" [Lawrence Palmer Briggs,&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;  "The Origin of the Sailendra Dynasty Present Status of the Question",  Journal of the American Oriental Society, Vol. 70, No. 2, Apr-Jun  1950:78].&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;&lt;span&gt;: Ini jurnal tahun  1950.Lawrence Palmer Briggs sang penulis adalah ahli Sriwijaya dan  Khmer.Dia bilang dicatatan kakinya di jurnal itu bhw yg dimaksud  "dipayungi dua gunung dan dilatari sebuah dangau" terletak di  Karesidenan Lampung,Sumatera Selatan.Tak disebut nama Liwa disitu tp  mana lagi tempat di Lampung yg memiliki dua gunung bersebelahan dan  sebuah dangau (danau) selain Lampung Barat yaitu G.Pesagi dan G.Seminung  + Danau Ranau?Setelah itu menurut Lawrence ibukota Sriwijaya pindah ke  Minanga (Komering sekitar tahun 670 M),kemudian ke Palembang setelah  penyerbuan besar2an di bawah pimpinan Dapunta Hyang Sri Jayanga (683 M)  dan terakhir setelah dihancurkan oleh sepupu mereka sendiri yaitu  kerajaan Cholamandala, Sriwijaya pindah ke Jambi (akhir abad 12  M).Kesimpulannya Sriwijaya memiliki 4 ibukota berbeda selama kurun waktu  hampir 500 tahun: dataran tinggi Sekala Bgha-Minanga-Palembang-Jam&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;bi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;Sayangni,unyinni data ttg SB ( Sekala Bgha)  khik Sriwijaya makngedok di Indonesia.Tiyan [pihak kolonial] khadu  ngusung naskah2 kham mit Eropa.Mak heran WS Rendra betungga jama patung  kuno jak Sekala Bgha di Zurich,Swiss atau wat juga naskah kuno SB di  Berlin.Sejarah SB khik Sriwijaya sejarah sai tuha + purba jak zaman  tumbai.sejarah peradaban Nusantara jak 2.000 tahun lalu.khadu mesaka  nihan.Tugasni kham sai ngukha ngakuk naskah2 kheno scr sabar kik  terencana.sebagai alat bukti jama tiyan sai bareh.wat masani kanah  Sekala Bgha haga cakak luwot di zaman kham.Insya Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; ( Saat Pun Harya Ramdhoni Menginap di kediaman WS Rendra)&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; Semalam  nginap di kediaman mendiang WS Rendra. saya takjub ternyata rumah beliau  adlh rumah adat Lampung Sai Batin yg langsung dipesan dari Lampung.  Beliau ternyata punya perhatian besar kpd Lampung &amp;amp; tamadunnya.  Sepertimana Rendra pernah berujar:"Lampung adalah masa dpn Indonesia!"&lt;/span&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Puluhan  tahun sblm novel PPH terbit,mendiang WS Rendra &amp;amp; istrinya Ken  Zuraida yg seorang arkeolog telah memulai riset tentang Sekala Bgha.  Beliau ber2 bkn skadar tahu ttg Sekeghumong sbg jurai terakhir Sekala  Bgha lama namun jg menemukan fakta2 seputar kerajaan purba itu. Pasangan  suami istri pecinta sejarah Nusantara itu bahkan mencari data ttg  Lampung &amp;amp; Sekala Bgha hingga museum Zurich dì Swiss dan perpustakaan  Berlin. Bagi alm Rendra &amp;amp; Mbak Ken Zuraida Sekala Bgha &amp;amp;  Lampung adalah sejarah yg mempesona &amp;amp; mencengangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1687080584" hovercardx="/ajax/hovercard/hovercard.php?id=1687080584"&gt; Dr. Rina Martiara&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;( Dosen Seni Tari ISI Jogja )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Ada beberapa pendapat tentang Sakala Bhra (salah satunya dari Arlan  Ismail, dalam buku Periodisasi Sejarah Sriwijaya, 2003, yang mengatakan:  Sakala Bhra menunjukkan pada identitas suku bangsa yang menempati satu  tempat di lembah utara gunung seminung, yang merupakan basis wilayah  Sriwijaya Pemula. Mereka mengenal diri mereka sebagai wangsa SAKALA BHRA  (Purba). Sakala berarti "Titisan" dan BHRA berarti "yang mulia". Jadi  Sakala Bhra berarti "Titisan Dewa". Catatan dari saya (Rina): Perhatikan  arti Sakala dan Niskala dalam bahasa Bali, jadi tulisan Brak seharusnya  tetap dipahami sebagai Bhra, karena kadang orang menuliskannya menjadi  "Berak' --yang seringkali diartikan sebagai kata kerja untuk membuang hajat besar--&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-1257031831516997427?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/1257031831516997427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/perbincangan-mengenai-sekala-bgha.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/1257031831516997427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/1257031831516997427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/perbincangan-mengenai-sekala-bgha.html' title='Perbincangan Mengenai Sekala Bgha'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-cAAvIaF1ciM/TtIA5Wte-RI/AAAAAAAAA0Q/oYWhwPDnW-w/s72-c/keraton.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-4602255535388995406</id><published>2011-11-23T23:30:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T06:07:43.781-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TATA ADAT'/><title type='text'>Harta Pusaka Sekala Brak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh : Novan Saliwa &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dari Peradaban tua sekala brak, hingga saat ini meninggalkan ragam kekayaan budaya tradisi yang luhur yang patut dilestarikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya memiliki akar kata dari bahasa  Sansekerta : buddhayah. Budhayah merupakan bentuk jamak dari kata  buddhi, yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan  akal manusia. Dalam bahasa Indonesia, kebudayaan juga sering dipakai  dengan istilah kultur, sebuah kata serapan dari bahasa Inggris :  culture. Kata culture itu sendiri berasal dari bahasa Latin : Colere,  yang berarti mengolah atau mengerjakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Sekala Brak Memiliki arti yang begitu penting, Sekala Beghak, artinya  tetesan yang mulia. Boleh jadi, kawasan ini dianggap sebagai kawasan  tempat lahir dan hidup orang-orang mulia keturunan orang mulia pula.  Sekala Beghak adalah kawasan di lereng Gunung Pesagi (2.262 m dpl),  gunung tertinggi di Lampung. Kalau membaca peta daerah Lampung sekarang,  Sekala Beghak masuk Kabupaten Lampung Barat. Pusat kerajaannya di  sekitar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau, dan  Kecamatan Balik Bukit. Di Lereng Gunung Pesagi itulah diyakini sebagai  pusat Kerajaan Sekala Beghak yang menjadi pula asal usul suku bangsa  Lampung.  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Pengelana  Tiongkok, I Tsing, pernah menyinggahi tempat ini, dan ia menyebut  daerah ini sebagai “To Lang Pohwang”. Kata To Lang Pohwang berasal dari  bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan,  orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat  yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang”  memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak ampung”, sama-sama berarti  orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah  Gunung Pesagi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;dari Sekian Banyak Peninggalan Budaya ( Harta Pusaka ) yang tak ternilai harganya, dapat kami sajikan sebagai berikut hasil dari jepretan fotografer lampung, di antaranya bang Budhi Marta Utama, Eka Pendiaspara, Endang Guntoro Canggu :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Pekon ( desa ) tua yang masih tersebar di sebagian daerah Sekala Brak&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Lokasi : Pekon Hujung Belalau&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Fotografer : Endang Guntoro Canggu&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kx8VpC-04Ig/Ts336UOXNuI/AAAAAAAAAzg/ZyRHdxbDeZ4/s1600/296622_2000597177690_1326378112_31942282_7868691_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 237px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-kx8VpC-04Ig/Ts336UOXNuI/AAAAAAAAAzg/ZyRHdxbDeZ4/s320/296622_2000597177690_1326378112_31942282_7868691_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678467286417487586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;----------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Keluhuran dan kearifan keseharian masyarakat Paksi Pak Sekala Brak hingga saat ini&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Lokasi : Pasar Tradisional Sukau&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Fotografer : Eka Pendi Aspara&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-q1Wpb3y1FfE/Ts33RnGn23I/AAAAAAAAAzM/VfVifUzyoFA/s1600/74405_173559275994180_100000203257896_648040_5826798_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-q1Wpb3y1FfE/Ts33RnGn23I/AAAAAAAAAzM/VfVifUzyoFA/s320/74405_173559275994180_100000203257896_648040_5826798_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678466587110660978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;Bakul Haneling/ Sumbuk untuk mengantar "sesuduk" pada saat perhelatan "nayuh"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;Fotografer : Endang Guntoro Canggu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-axiKX04yk2M/Ts4QWTh6ehI/AAAAAAAAA0E/QW0Rci-bcuI/s1600/389977_2282608667801_1326378112_32145686_875205748_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 217px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-axiKX04yk2M/Ts4QWTh6ehI/AAAAAAAAA0E/QW0Rci-bcuI/s320/389977_2282608667801_1326378112_32145686_875205748_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678494155546458642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Pesta Budaya Sekura Cakak Buah yang menggambarkan kebahagian dan rasa syukur, silaturahmi, ketulusan yang digambarkan oleh sekura betik,  kebebasan berekspresi melalu beragam jenis topeng sekura kamak, dilaksanakan pada hari-hari besar dan 1 minggu di awal bulan syawal secara bergiliran dari pekon ke pekon.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Lokasi : Lapangan Pemda Lambar, Sekala Brak&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Fotografer : Endang Guntoro Canggu&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-sVAzqpdlLvo/Ts33Rt2SiiI/AAAAAAAAAzE/x9bHYoOWVoY/s1600/314604_2073285474852_1326378112_32014241_1714065164_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 238px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-sVAzqpdlLvo/Ts33Rt2SiiI/AAAAAAAAAzE/x9bHYoOWVoY/s320/314604_2073285474852_1326378112_32014241_1714065164_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678466588921203234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;-------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Keagungan Paksi Pak Sekala Brak, yang di pimpin oleh empat (pak) Sultan Kepaksian, Bejalan Diway, Nyerupa, Belunguh, dan  Pernong&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Lokasi : Gedung Dalom Kepaksian Pernong, dalam perhelatan adat&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-kJMXO5cx_80/Ts33RFx1yTI/AAAAAAAAAys/F40GnGFIYEs/s1600/228250_225463297470444_100000203257896_1084193_2177055_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-kJMXO5cx_80/Ts33RFx1yTI/AAAAAAAAAys/F40GnGFIYEs/s320/228250_225463297470444_100000203257896_1084193_2177055_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678466578165123378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Leluhokh atau kain sulaman khas sekala brak dignakan sebagai pelaminan pengantin dan singgasana Sultan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-8uvxV5QvVf0/Ts33Q0A6iUI/AAAAAAAAAyk/jYRBaWQd3MI/s1600/317418_203839339678602_100001576131542_567646_2286670_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8uvxV5QvVf0/Ts33Q0A6iUI/AAAAAAAAAyk/jYRBaWQd3MI/s320/317418_203839339678602_100001576131542_567646_2286670_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678466573396511042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Singgasana Sultan Kepaksian Pernong, di batu brak&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Lixbwfvunoc/Ts32ldn76EI/AAAAAAAAAyc/i475Vs50az4/s1600/167007_194706920546082_100000203257896_826837_5566372_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Lixbwfvunoc/Ts32ldn76EI/AAAAAAAAAyc/i475Vs50az4/s320/167007_194706920546082_100000203257896_826837_5566372_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678465828651788354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Baju Besi dan Tameng Prajurit Kerajaan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-pq8w2NO8qCU/Ts34CbLYbcI/AAAAAAAAAzs/aaKSs--JvTY/s1600/165146_194706983879409_100000203257896_826840_7002002_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-pq8w2NO8qCU/Ts34CbLYbcI/AAAAAAAAAzs/aaKSs--JvTY/s320/165146_194706983879409_100000203257896_826840_7002002_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678467425722985922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Tari Sai Batin "  terkhusus untuk Sai Batin Sultan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-vxodT4cBpRA/Ts33RD1ZE6I/AAAAAAAAAy8/AIxtLco-w88/s1600/sai%2Bbatin%2Btari.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-vxodT4cBpRA/Ts33RD1ZE6I/AAAAAAAAAy8/AIxtLco-w88/s320/sai%2Bbatin%2Btari.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678466577643148194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Tarian Silat Pedang dalam prosesi penyambutan dan arakan di kerajaan, tetamu agung di sambut dan diarak menggunakan awan gemisir ( tandu ) yang di bopong oleh 4 orang dihiasi kain sulaman khas sekala brak&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Pu72DfQhII8/Ts32lCmN1MI/AAAAAAAAAyM/JB9pvVMMEJs/s1600/167087_194709847212456_100000203257896_826898_5944624_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Pu72DfQhII8/Ts32lCmN1MI/AAAAAAAAAyM/JB9pvVMMEJs/s320/167087_194709847212456_100000203257896_826898_5944624_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678465821396817090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Musik hadra bernuansa islami di isi dengan lantunan syair berbahasa arab, seni tradisi khas Paksi pak sekala brak&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-WNt9y-X7drg/Ts32kfRmEhI/AAAAAAAAAyE/xa0-y9BFG2A/s1600/penutupan%2B%252846%2529.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-WNt9y-X7drg/Ts32kfRmEhI/AAAAAAAAAyE/xa0-y9BFG2A/s320/penutupan%2B%252846%2529.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678465811915084306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Kesenian Nyambai biasa juga dilakukan oleh muli mekhanai ( bujang gadis) dalam acara pesta perkawinan, ada yang bertugas menjadi penabuh alat musik guna mengiringi tarian muda mudi yang asyik berbalas pantun.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-4ZYlzKPVtK8/Ts32kKzlAEI/AAAAAAAAAx0/7-3BXAr6lNo/s1600/DSC_0553.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-4ZYlzKPVtK8/Ts32kKzlAEI/AAAAAAAAAx0/7-3BXAr6lNo/s320/DSC_0553.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678465806420475970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;-------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Pahar alat yang digunakan untuk menyajikan makanan pada perhelatan pernikahan ataupun acara adat pemberian gelar. dengan tradisi "ngantak pahar" merupakan bentuk solidaritas masyarakat sekala brak untuk saling berbagi dan juga sebagai bukti kehangguman  dan kecintaan masyarakat kepada Sai Batinnya pada saat Sai Batinnya ngedok guwaian menggelar acara adat ( tayuhan )&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Lokasi : Krui Lambar, Sekala Brak&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Fotografer : Budhi Marta Utama&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-zOTsrKQJrdQ/Ts32jzpKeaI/AAAAAAAAAxo/uhzyZJ7u5nM/s1600/199736_1908043106866_1415482315_32118497_1891482_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 220px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-zOTsrKQJrdQ/Ts32jzpKeaI/AAAAAAAAAxo/uhzyZJ7u5nM/s320/199736_1908043106866_1415482315_32118497_1891482_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678465800202779042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-wYhyRMSp8i0/Ts4QWY1F4rI/AAAAAAAAAz4/4EXXP4w7awo/s1600/302582_278059042227130_127262583973444_860200_1389748763_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 209px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-wYhyRMSp8i0/Ts4QWY1F4rI/AAAAAAAAAz4/4EXXP4w7awo/s320/302582_278059042227130_127262583973444_860200_1389748763_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678494156969075378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;-------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Tradisi Ngelemang, yang lumrah dilakukan masyarakat melayu khususnya masyarakat paksi pak sekala brak, menjelang lebaran dan untuk acara pesta pernikahan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Lokasi : Linkungan Negara Batin Marga Liwa&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-UZVzJrGjwKA/Ts30OVJr7hI/AAAAAAAAAxc/ltLZgGXxJPw/s1600/284537_157321217678652_100002023241528_326173_4896582_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-UZVzJrGjwKA/Ts30OVJr7hI/AAAAAAAAAxc/ltLZgGXxJPw/s320/284537_157321217678652_100002023241528_326173_4896582_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678463232217181714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Alat Musik Tiup Tradisional Sekala Brak " Serdam " terbuat dari bambu, yang kini sudah amat jarang ditemukan, dan diperlukan perhatian khusu agar tetap lestari. suaranya sendu seperti orang menangis, alunannya mengalir dari hati mengungkap an kegundahan dalam hati. Seruling ini di buat di kenali lampung barat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-mHlK9GqAAcE/Ts30N68L-bI/AAAAAAAAAw4/vNGDvUFi6LM/s1600/6250_1032384625609_1705201480_62710_1022049_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-mHlK9GqAAcE/Ts30N68L-bI/AAAAAAAAAw4/vNGDvUFi6LM/s320/6250_1032384625609_1705201480_62710_1022049_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678463225181239730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-kyafMbn3XRY/Ts30ONhBKgI/AAAAAAAAAxE/0xjAlFiKfzQ/s1600/6250_1032381505531_1705201480_62697_2974545_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 211px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-kyafMbn3XRY/Ts30ONhBKgI/AAAAAAAAAxE/0xjAlFiKfzQ/s320/6250_1032381505531_1705201480_62697_2974545_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678463230167558658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-cNU46wxVMEg/Ts30ORlUE8I/AAAAAAAAAxM/YCC-1Tvv5fw/s1600/6250_1032384585608_1705201480_62709_1187103_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 239px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-cNU46wxVMEg/Ts30ORlUE8I/AAAAAAAAAxM/YCC-1Tvv5fw/s320/6250_1032384585608_1705201480_62709_1187103_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678463231259317186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Alat musik Gamolan Pekhing, asal dan asli dari sekala brak.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-lq-f0XHh9yU/Ts30Ng39l2I/AAAAAAAAAws/N2vFsJa2AFo/s1600/19-LIWA1-A.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-lq-f0XHh9yU/Ts30Ng39l2I/AAAAAAAAAws/N2vFsJa2AFo/s320/19-LIWA1-A.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678463218184197986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan masih banyak lagi adat tradisi dan kebudayaan sebagai warisan leluhur yang memiliki nilai yang tak pernah luntur dibawa oleh masyarakat pemilik budayanya, semoga akan tetap dipertahankan beserta nilai kearifannya, karena dirasa kita tak lebih pintara dari pendahulu kita, untuk membuat kearifan yang sama nilainya. Bedikikh/ bedikekh, hahiwang, muayak, butetah, malaman, dan masih banyak lagi adalah harta pusaka masyarakat sekala brak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-4602255535388995406?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/4602255535388995406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/harta-pusaka-sekala-brak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/4602255535388995406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/4602255535388995406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/harta-pusaka-sekala-brak.html' title='Harta Pusaka Sekala Brak'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-kx8VpC-04Ig/Ts336UOXNuI/AAAAAAAAAzg/ZyRHdxbDeZ4/s72-c/296622_2000597177690_1326378112_31942282_7868691_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-270143567166591977</id><published>2011-11-21T00:37:00.000-08:00</published><updated>2011-11-21T01:01:46.548-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEJARAH KERAJAAN'/><title type='text'>Sekala Brak, Lembaran Sejarah Lampung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Slq1WtkLD5A/TsoTMjrJTnI/AAAAAAAAApk/vgKwSd_PNq4/s1600/logo-kompas11.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 209px; height: 64px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Slq1WtkLD5A/TsoTMjrJTnI/AAAAAAAAApk/vgKwSd_PNq4/s320/logo-kompas11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677371386709495410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;KOMPAS Klasika, Senin, 21 November 2011 [ Jawa Tengah &amp;amp; Jogjakarta ]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peninggalan Masa Lalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sekala Brak, Lembaran Sejarah Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-sh3k7rmwWFw/TsoR1sGdEaI/AAAAAAAAAo0/tFznsKKZYgM/s1600/57367266.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 196px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-sh3k7rmwWFw/TsoR1sGdEaI/AAAAAAAAAo0/tFznsKKZYgM/s320/57367266.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677369894322901410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-8kIYBbk0BSo/TsoR1xkJslI/AAAAAAAAApA/Q1QAokjPweA/s1600/57366710.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 184px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8kIYBbk0BSo/TsoR1xkJslI/AAAAAAAAApA/Q1QAokjPweA/s320/57366710.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677369895789638226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Peninggalan - peninggalan zaman megalitikum ditemukan secara acak di Indonesia. Salah satunya di Provinsi Lampung. Sekala Brak namanya. Situs yang masuk dalam daftar cagar budaya ini menyajikan bebatuan besar berupa dolmen, menhir, dan batu datar yang tersusun amat rapi. Jumlahnya cukup banyak terdiri dari 50 menhir, 30 dolmen, dan 3 batu datar. Situs ini ditemukan pada 1951 Oleh Biro Rekonstruksi Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan sebutan sekala brak sendiri memiliki beberapa versi. Pertama, dari kata "Sakala Bhra" yang berarti titisan dewa. Kedua " Segara  Brak" yang berarti genangan air yang luas. Genangan air ini merujuk pada Danau Ranau. Ketiga, " Sekala Brak" yang bearti tumbuhan sekala ( tanaman yang banyak tumbuh di Pesagi dan dataran tingginya) dalam jumlah banyak dan meluas. Keempat, "Sekala Beghak" yang artinya tetesan yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain merupakan situs megalitikum, keberadaan Sekala Brak ( baca; Sekala Beghak) disinyalir merupakan cikal bakal suku bangsa etnis Lampung. Pada zama dahulu, sekala brak merupakan sebuah kerajaan hindu. Namun, Setelah kedatangan empat umpu dari pagaruyung yang menyebarkan islam, kerajaan sekala brak menjadi Kepaksian Sekala Brak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan ini berlokasi didataran belalau, sebelah selatan danau Ranau, Lampung Barat. Dari sinilah konon Sekala Brak Menyebar ke berbagai penjuru Lampung mengikuti aliran "way" atau sungai-sungai. diantaranya adalah Way Komering, Way Kanan, Way Seputih, Way Sekampung, Waya Semangka, dan Way Tulang Bawang dengan anak sungainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istana Kerajaan Sekala Brak sebenarnya telah hancur oleh serangan belanda antara 1810 - 1820. Kini, yang tersisa adalah Gedung Dalom, yang merupakan pengganti istana. Gedung Dalom dibangun pada tahun 1830.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Area lahan seluas ratusan hektar yang dahulunya dipenuhi rumah rumah suku kini tinggal 3000 meter persegi. Area ini kini dihuni kepala suku dan sejumlah rakyatnya. Legitimasi seorang raja masih ada. Sebab, hingga kini, raja baru terus dipilih berdasarkan tradisi kesaibatinan atau tampuk pemerintahan berdasarkan keturunan tertua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah mengetahui tentang sejarah etnis Lampung, lantas dari mana sebutan kata lampung? sebenarnya,  kata " lampung" konon berasal dari kata "anjak lambung" yang bermakna dari ketinggian. Hal ini seturut dengan catatan penjelajah China, I Tsing, bangsa Lampung pertama kali bermukim didataran tinggi di lereng Gunung Pesagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Peradaban Sekala Brak memang meninggalkan sejumlah artefak kuno dan situs bersejarah lainnya. namun, menjadi "tugas" selanjutnya adalah bagaimana menghargai rantai sejarah ini hingga bertahan pada masa depan....[MIL]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ACZAnD6TZaU/TsoR2FOAgEI/AAAAAAAAApc/fk73OISOEFI/s1600/megalitik.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ACZAnD6TZaU/TsoR2FOAgEI/AAAAAAAAApc/fk73OISOEFI/s320/megalitik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677369901065470018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-oOLiQeNH5Pk/TsoR2FKSFUI/AAAAAAAAApI/err0H3ZHp7Q/s1600/57368556.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 182px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-oOLiQeNH5Pk/TsoR2FKSFUI/AAAAAAAAApI/err0H3ZHp7Q/s320/57368556.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677369901049845058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa saja jenis situnya : baca juga http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/07/peninggalan-megalitik-di-sekala-brak.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-270143567166591977?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/270143567166591977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/sekala-brak-lembaran-sejarah-lampung.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/270143567166591977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/270143567166591977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/sekala-brak-lembaran-sejarah-lampung.html' title='Sekala Brak, Lembaran Sejarah Lampung'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Slq1WtkLD5A/TsoTMjrJTnI/AAAAAAAAApk/vgKwSd_PNq4/s72-c/logo-kompas11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-4608377778061009849</id><published>2011-11-18T07:20:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T08:08:00.578-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KEPEMUDAAN'/><title type='text'>LKDO IKPM Lam-Bar Jogja 2011</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-4XLrJ5rL8D8/TsaA_SaOJ7I/AAAAAAAAAoQ/BiLJnj2QoO4/s1600/384483_1614530698891_1705022040_851850_1500281988_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-4XLrJ5rL8D8/TsaA_SaOJ7I/AAAAAAAAAoQ/BiLJnj2QoO4/s320/384483_1614530698891_1705022040_851850_1500281988_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676366205109020594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Reporter : Novan Saliwa &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Pemateri Peran Pemuda Lampung Barat Dalam Mempertahankan Identitas Budaya Tradisi, pada LKDO IKPM Lam-Bar 2011 )&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Latihan Kepemimpinan Dasar Organisasi (LKDO) merupakan program kerja dari kepengurusan IKPM Lam-Bar 2011 ini. Kegiatan yg bertujuan untuk menanamkan dasar-dasar  organisasi bagi pemuda-pemuda generasi penerus IKPM Lam-Bar Jogja.&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt; Latihan Kepemimpinan Dasar Organisasi {LKDO} ini dilaksanakan dua hari sabtu - minggu, tepatnya pada tanggal 12 s/d  13 November 2011, bertempat di Bumi Perkemahan Srimulyo, Pangkah RT 06, Dukuh Kabregan, Srimulyo,  Piyungan Bantul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua hari, lebih dari 30 peserta yang mengikuti pelatihan tersebut di berikan materi materi tentang keorganisasian, seperti ke IKPMan, manajemen administrasi organisasi dan manajemen konflik, selanjutnya juga di isi dengan wawasan umum seperti kebudayaan lampung dan humanitas, tak lupa seluruh peserta dibekali dengan materi kepribadian seperti tentang kepemudaan, religiusitas dan kepemimpinan. LDKO diakheri dengan materi outbond yang mensiratkan kebersamaan, kekompakan, kecerdasan dan kepekaan sosial yang di isi oleh mentor yang disiapkan oleh panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IKPM Lam-Bar Yogyakarta sebagai salah satu organisasi yang mewadahi kreatifitas dan ide para pemuda dari lampung barat yang sadar akan peran dan tanggung jawabnya sebagai ( agent of change ), yang memiliki kepedulian dan kontribusi konkret terhadap kemajuan provinsi Lampung pada umumnya dan kabupaten lampung barat pada khususnya, yang kemudian bernilai pengabdian sebagai suatu pembelajaran untuk kelak pemuda menjadi pemimpin dimanapun ia berada terlebih didaerah asalnya Lampung Barat tercinta. Karena secara alami, diakui atau tidak kami merasa bahwa keberadaan pemuda di  kota “Budaya” ini dapat dijadikan sebagi media untuk mempromosikan dan  memperkenalkan kesenian, kebudayaan, dan potensi pariwisata Lampung  khususnya Lampung Barat (Duta Wisata). Hal ini dilakuan oleh  “Muli-Mekhanai” Lampung dalam setiap kesempatan baik itu dalam bentuk  diskusi, seminar bahkan sampai pada pertunjukan dan publikasi di media  masa maupun televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu IKPM Lambar Yogyakarta bermaksut menanamkan mindstream ini kepada seluruh pemuda lampung barat yang berkepedulian dan sedang menimba ilmu di kota budaya kota pelajar, DI Yogyakarta, dengan mengadakan LKDO ini yang mengusung tema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;" Kembalikan Semangat Jiwa Ke-IKPM-an,&lt;br /&gt;lakukan Perubahan Untuk Dirimu dan Sekitarmu"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto dokumentasi outbond :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ViKuSv0l7uA/TsaA_vWFoJI/AAAAAAAAAoc/DQ6jVHVHh2I/s1600/315794_1616764754741_1705022040_853279_531107718_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ViKuSv0l7uA/TsaA_vWFoJI/AAAAAAAAAoc/DQ6jVHVHh2I/s320/315794_1616764754741_1705022040_853279_531107718_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676366212876312722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-l3krrRhJEKo/TsaA_8vKzkI/AAAAAAAAAoo/TJ32HRZVyZ8/s1600/386296_1616717713565_1705022040_853245_925331317_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-l3krrRhJEKo/TsaA_8vKzkI/AAAAAAAAAoo/TJ32HRZVyZ8/s320/386296_1616717713565_1705022040_853245_925331317_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676366216471170626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kebersamaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JAZDo-Azuc4/TsaA-Z3YhWI/AAAAAAAAAoE/wbC26-AUD14/s1600/376304_310961832247424_100000008301045_1386343_571878745_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-JAZDo-Azuc4/TsaA-Z3YhWI/AAAAAAAAAoE/wbC26-AUD14/s320/376304_310961832247424_100000008301045_1386343_571878745_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676366189930513762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Y1wcozH18KE/TsaA-BgZQeI/AAAAAAAAAn4/moXV7srKp9s/s1600/308100_309814249028849_100000008301045_1383548_1094817238_n.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Y1wcozH18KE/TsaA-BgZQeI/AAAAAAAAAn4/moXV7srKp9s/s320/308100_309814249028849_100000008301045_1383548_1094817238_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676366183391642082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;sampai batas yang tak ditentukan,&lt;br /&gt;maju terus IKPM Lam-Bar&lt;br /&gt;Seangkonan, seuyunan, sekahuta, semuakhian, sehakhian&lt;br /&gt;Sang Bumi Sai Hati Di Tanoh Rantau...&lt;br /&gt;Tabik,,,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-4608377778061009849?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/4608377778061009849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/lkdo-ikpm-lam-bar-jogja-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/4608377778061009849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/4608377778061009849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/lkdo-ikpm-lam-bar-jogja-2011.html' title='LKDO IKPM Lam-Bar Jogja 2011'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-4XLrJ5rL8D8/TsaA_SaOJ7I/AAAAAAAAAoQ/BiLJnj2QoO4/s72-c/384483_1614530698891_1705022040_851850_1500281988_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-8843404043561795766</id><published>2011-11-17T22:30:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T00:13:59.181-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI[KRITIK'/><title type='text'>Gamolan Pekhing</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-OQb9T2ihQpM/TsYTAy31SnI/AAAAAAAAAns/EPkDRuhfio0/s1600/19-LIWA1-A.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 398px; height: 186px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-OQb9T2ihQpM/TsYTAy31SnI/AAAAAAAAAns/EPkDRuhfio0/s320/19-LIWA1-A.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676245284723968626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;( Gamolan Pekhing di usung oleh para sekura di Sekala brak )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gamolan Pekhing Bagian Khazana Nusantara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : Novan Saliwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan musik Indonesia (nusantara) seperti &lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;Masa sebelum masuknya pengaruh Hindu- Buddha dimana&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;pada masa ini, musik dipakai sebagai bagian dari kegiatan ritual  masyarakat. Dalam beberapa kelompok, bunyi- bunyian yang dihasilkan oleh  anggota badan atau alat tertentu diyakini memiliki kekuatan magis. Instrumen atau alat musik yang digunakan umumnya berasal dari alam sekitarnya salah satunya alat musik yang terbuat dari tumbuhan bambu. dan pada periode ini alat musik terrgolong alat musik generasi tua yang pernah ada di bumi nusantara ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada berbagai macam alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, seperti, sasando sebuah alat musik petikberasal dari  pulau Rote Nusa Tenggara Timur,  calung adalah alat musik Sunda yang sejenis dengan angklung, saluang alat musik tiup tradisional khas Minangkabau Sumatra  Barat, angklung alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi  disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi  yang bergetar, jegog alat musik khas Jembrana  Bali yang mirip dengan  gamelan namun terbuat dari bambu berupa bilahan  setengah bambu yang ditata berjajar dan dibawahnya terdapat bambu yang  utuh namun dilubangi bagian atasnya sebagai lubang resonansi, dan gamolan pering alat musik yang berasal dari Sekala Brak Lampung.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari beberapa alat musik yang terbuat dari bambu diatas, gamolan pering nampaknya alat musik tradisional yang cukup asing bagi sebagian masyarakat lampung atau bahkan masyarakat nusantara pada umumnya, terbukti baru tahun 2011 ini Pemerintah Provinsi Lampung akan mengupayakan hak paten untuk alat musik  tradisional "gamolan" dengan maksud keberadaannya dapat diakui dan tidak  direbut oleh negara lain. padahal penunjang hak paten tersebut sangat diperlukan upaya keras dari berbagai pihak seperti yang selama ini dilakukan oleh dewan kesenian lampung untuk menghilangkan kesa " asing " di hati masyarakat lampung sendiri terhadap keberadaan gamolan pering, memperbanyak upaya memasyarakatkan gamolan pering.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syafril Yamin, salah satu seniman Gamolan Pering Lampung seperti ditulis dalam kompas.com pernah mengatakan, alat  musik ini merupakan alat musik tradisi Lampung yang sangat lambat perkembangannya.  Sebelum 1990, cetik hanya dikenal sebagai alat musik yang dimainkan  saat upacara adat atau upacara penyambutan tamu, serta dalam memainkannya memiliki aturan aturan baku dalam memainkan nadanya.  Bersama Dewan Kesenian Lampung para seniman juga terus menerus melakukan  pelatihan permainan cetik bagi pelajar dan mahasiswa di Lampung guna turut  mendukung perkembangan pelestarian alat musik Gamolan Pering ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Dalam perkembangannya salah satu seniman lampung seperti&lt;span lang="EN-US"&gt; I Wayan Dana Arta &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;juga &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;pernah  meneliti dan menemukan laras nada gamolan pering, ia mengeksplorasi  menyamakan nada yang keluar dari tiupan suling bali dengan suara gamolan pering, dan hasilnya ia menyimpulkan bahwa gamolan  pering memiliki laras yang tidak sama atau disebut laras pelog. dan berkat usahanya juga gamolan pering bisa di hadirkan dalam undangan workshop di beberapa perguruan tinggi seperti &lt;/span&gt; ISI Solo maupun STSI Bandung,  Seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, ISI Denpasar,  dan STSI Padang Panjang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baru baru ini juga Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) menggelar Seminar Internasional  Alat Musik Tradisional Lampung yang bernama "Gamolan", di Balai Keratun,  Kantor Gubernur Provinsi Lampung, guna memperkenalkan sejarah alat  musik itu. kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pembicara di antaranya, Prof  Margaret J Kartomi, dari Monash University Melbourne, Australia, yg pernah meneliti alat musik gamolan pada tahun 1983 dan  Hasyimkan serta Henry Susanto dari Universitas  Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari setiap usaha para seniman diatas, terlihat upaya yang tak kenal lelah guna mempertahankan kekayaan tradisi lampung yang merupakan warisan nenek moyang sejak dahulu kala, tentunya dengan tetap berupaya menghormati nilai nilai  luhur yang  terkandung didalam hasil cipta rasa dan karsa nenek moyang tersebut sembari mengembangkannya agar mampu bersanding dengan alat musik bambu dari belahan nusantara lainnya yang memang sudah lebih dahulu mengakar pada masyarakat pemiliknya begitu juga telah lebih dahulu terdengar gaungnya di mancanegara, seperti halnya saluang dengan sedikit tiupan nadanya  saja kita bisa merasakan ruh minangkabau yang keluar dari instrumen tersebut. begitu juga dengan alat musik tradisional lampung yang terbuat dari bambu seperti gamolan pering dan mungkin masih banyak lagi seperti serdam alat musik tiup tradisional yang masih belum tereksplorasi oleh tangan tangan kreatif seniman di lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-8843404043561795766?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/8843404043561795766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/gamolan-pekhing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/8843404043561795766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/8843404043561795766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/gamolan-pekhing.html' title='Gamolan Pekhing'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-OQb9T2ihQpM/TsYTAy31SnI/AAAAAAAAAns/EPkDRuhfio0/s72-c/19-LIWA1-A.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-7941770286416089094</id><published>2011-11-17T03:14:00.000-08:00</published><updated>2011-11-17T04:37:07.964-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SEJARAH KERAJAAN'/><title type='text'>Asal Muasal Orang Lampung dan Komering</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Asal Muasal Orang lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****  buaypernong.blogspot.com ****&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:lucida grande;" class="widget-content"&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sekala  Beghak, artinya tetesan yang mulia. Boleh jadi, kawasan ini dianggap  sebagai kawasan tempat lahir dan hidup orang-orang mulia keturunan orang  mulia pula. Sekala Beghak adalah kawasan di lereng Gunung Pesagi (2.262  m dpl), gunung tertinggi di Lampung. Kalau membaca peta daerah Lampung  sekarang, Sekala Beghak masuk Kabupaten Lampung Barat. Pusat kerajaannya  di sekitar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau, dan  Kecamatan Balik Bukit. Di Lereng Gunung Pesagi itulah diyakini sebagai  pusat Kerajaan Sekala Beghak yang menjadi pula asal usul suku bangsa  Lampung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pengelana  Tiongkok, I Tsing, pernah menyinggahi tempat ini, dan ia menyebut  daerah ini sebagai “To Lang Pohwang”. Kata To Lang Pohwang berasal dari  bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan,  orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat  yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang”  memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak ampung”, sama-sama berarti  orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah  Gunung Pesagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sekala Beghak (biasa ditulis  Skala Brak), adalah kawasan yang sampai kini dapat disaksikan warisan  peradabannya. Kawasan ini boleh dibilang kawasan yang “sudah hidup”  sejak masa pra-sejarah. Batu-batu menhir mensitus dan tersebar di  sejumlah titik di Lampung Barat. Bukti, ada tanda kehidupan menyejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div face="lucida grande" style="text-align: justify; font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Vi3HtmWuP_I/TsTyHjMYa3I/AAAAAAAAAng/wEoHszLFaxA/s1600/DSCI0505.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Vi3HtmWuP_I/TsTyHjMYa3I/AAAAAAAAAng/wEoHszLFaxA/s320/DSCI0505.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5675927641913846642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;   Sebuah batu prasasti di Bunuk Tenuar, Liwa berangka tahun 966 Saka  atau tahun 1074 Masehi, menunjukkan ada jejak Hindu di kawasan tersebut.  Bahkan di tengah rimba ditemukan bekas parit dan jalan Zaman Hindu. Ada  lagi disebut-sebut bahwa Kenali yang dikenal sekarang sebagai ibukota  Kecamatan Belunguh, adalah bekas kerajaan bernama “Kendali” dengan “Raja  Sapalananlinda” sebagaimana disebut dalam “Kitab Tiongkok Kuno”. Kata  “Sapalananlinda” oleh L.C. Westenenk ditafsir sebagai berasal dari kata  “Sribaginda” dalam pengucapan dan telinga orang Cina. Jadi bukan nama  orang tapi gelar penyebutan. Buku itu konon juga menyebut, bahwa Kendali  itu berada di antara Jawa dan Siam-Kamboja. Kitab itu, menyebut angka  tahun antara 454 – 464 Masehi. Kitab ini telah disalin ke dalam bahasa  Inggris oleh Groenevelt (Wikipedia Indonesi, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;   Meski belum seluru&lt;/span&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;hnya terbac&lt;/span&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;a,  namun dapat disimpulkan: di situ tercatat suatu peradaban panjang.  Suatu kawasan tua yang mencatatkan diri dalam sejarah umat manusia. Di  wilayah ini pula pernah berdiri sebuah kerajaan. Ada yan&lt;/span&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;g  menyebut kerajaan tersebut adalah Kerajaan Tulang Bawang, namun  bukti-bukti keberadaannya sulit ditemukan. Sedang keyakinan yang terus  hidup dan dipertahankan masyarakat khususnya di Lampung Barat serta  keturunan mereka yang tersebar hingga seluruh wilayah Sumatera Selatan,  menyebutkan Kerajaan Skala Beghak. Pendapat ini juga disokong oleh  keberadaan para raja yang bergelar Sai Batin, hingga bukti-bukti  bangunan dan alat-alat kebesaran kerajaan, upacara dan seni tradisi yang  masih terjaga. Masih banyak bukti lain, namun perlu pembahasan  terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;Kalau membaca&lt;/span&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt; peta Propinsi Lampung sek&lt;/span&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;arang,  kisaran lokasi pusat Sekala Beghak berada di hampir seluruh wilayah  Kabupaten Lampung Barat, sebagian Kecamatan Banding Agung Kabupaten Ogan  Komering Ulu, Propinsi Sumatera Selatan. “Pusat kerajaan” meliputi  daerah pegunungan di lereng Gunung Pesagi di daerah Liwa, seputar  Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau dan Kecamatan  Balik Bukit. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;   Sebagai kesatuan  politik Kerajaan Sekala Beghak telah berakhir. Tetapi, sebagai kesatuan  budaya (cultural based) keber¬adaannya turun temurun tewarisi melalui  sejarah panjang yang menggurat kuat dan terbaca makna-maknanya hingga  saat ini. Sekala Beghak dalam gelaran peta Tanah Lampung, pastilah  tertoreh warna tega&lt;/span&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;s, termasuk sebaran pengaruh kebudayaannya sampai saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;    Tata kehidupan berbasis adat tradisi Sekala Beghak juga masih  dipertahankan dan dikembangkan. Terutama, Sekala Beghak setelah dalam  pengaruh “Empat Umpu” penyebar agama Islam dan lahirnya masyarakat adat  Sai Batin. Adat dan tradisi terus diacu dalam tata hidup keseharian  masyarakat pendukungnya dan dapat menjadi salah satu sumber inspirasi  dan motivasi pengembangan nilai budaya bangsa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;Hasil  pembacaan atas segala yang ada dalam masyarakat berkebudayaan Sai Batin  di Lampung, memperlihatkan kedudukan dan posisi penting Sekala Beghak  sebagai satuan peradaban yang lengkap dan terwariskan. Keberadaan Sekala  Beghak tampak sangat benderang dalam peta kebudayaan Sai Batin, sebagai  satu tiang sangga utama pembangun masyarakat Lampung. Bahkan, telah  diakui, Sekala Beghak sebagai cikal bakal atau asal muasal tertua  leluhur “orang Lampung”. Bahkan keberadaan Skala Beghak, berada dalam  kisaran waktu strategis perubahan peradaban besar di Nusantara, dari  Hindu ke Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;   Bukti kemashuran  Sekala Beghak dirunut melalui penuturan lisan turun-temurun dalam  wewarah, tambo, dan dalung yang mempertegas keberadaan Lampung dalam  peta peradaban dan kebudayaan Nusantara. Kata Lampung itu sendiri banyak  yang menyebut berasal dari kata “anjak lampung” atau “yang berasal dari  ketinggian”. Pernyataan itu menunjukkan bahwa “orang Lampung” berasal  dari lereng gunung (tempat yang tinggi), yang dalam hal ini Gunung  Pesagi. Pendapat yang sama juga ditemukan dalam kronik perjalanan I  Tsing. Disebutkan kisah pengelana dari Tiongkok, I Tsing (635-713).  Seorang bhiksu yang berkelana dari Tiongkok (masa Dinasti Tang) ke  India, dan kembali lagi ke Tiongkok. Ia tinggal di Kuil Xi Ming dan  beberapa waktu pernah tingal di Chang’an. Ia menerjemahkan kitab agama  Budha berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya itu,  kronik menulis I Tsing singgah di Sriwijaya pada tahun 671. Ia  mengunjungi pusat-pusat studi agama Budha di Sumatera, di antaranya  selama dua bulan di Jambi dan setelah itu konon tinggal selama 10 tahun  di Sriwijaya (685-695). Dalam perjalanannya itu, I Tsing dikabarkan  menyebut nama suatu tempat dengan “To Lang Pohwang”. Kata “To Lang  Pohwang” merupakan bahasa Hokian, bahasa yang digunakan I Tsing.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;    Ada yang menerjemahkan “To Lang Pohwang” sebagai Tulang Bawang. Salah  satunya adalah Prof. Hilman Hadikusuma, ahli hukum adat dan budayawan  Lampung tersebut memberi uraian perihal sejarah Lampung, khususnya dalam  menafsir To Lang Pohwang sebagai Kerajaan Tulang Bawang. Disebut-sebut  berada di sekitar Menggala, ibukota Kabupaten Tulang Bawang saat ini.  Meski bekas-bekas atau artefaknya belum terlacak, garis silsilah raja  dan istana, komunitas masyarakat pewaris tradisi, dan banyak hal lagi  yang masih tidak bisa ditemukan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;Tidak hanya dari sudut pandang semantis untuk memaknai kata “To Lang  Pohwang”, namun perlu pula didampingi kajian sosiologis dan arkeologis  yang lebih mendalam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;   Kata “To  Lang Pohwang” berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’.  Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di  atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan  I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak  lampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas.  Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.&lt;/span&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;Merujuk  pada dua pendapat itu, maka penunjukan “orang atas” mengarah pada Suku  Tumi yang tinggal di lereng Gunung Pesagi di Lampung Barat. Mereka  inilah cikal-bakal Kerajaan Sekala Beghak. Kerajaan ini di kemudian hari  ditundukkan oleh para penakluk, mujahid dan pendakwah Islam yang masuk  ke Sekala Beghak dari Samudera Pasai melalui Pagaruyung Sumatera Barat.  Di bawah Ratu Mumelar Paksi bersama putranya Ratu Ngegalang Paksi,  disertai juga para Umpu, empat cucu Ratu Mumelar Paski. Mereka masuk  untuk kemudian menguasai kawasan tersebut setelah menundukkan Suku Tumi.  Para Umpu, keempat putra Ratu Ngegalang Paksi itulah yang kemudian  melahirkan Paksi Pak Sekala Beghak dengan segala kebudayaannya,  berkembang dan beranak pinak untuk kemudian menyebar ke seluruh Lampung  dan sejumlah daerah. Karena kerajaan Sekala Beghak lama  (animisme/dinamisme) telah dikalahkan dan dikuasai sepenuhnya oleh  keempat Umpu keturunan Ratu Ngegalang Paksi, maka kemudian adat-istiadat  dan kebudayaan yang berkembang dan dipertahankan hingga kini merupakan  peninggalan Kerajaan Sekala Beghak Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;    Dalam tambo-tambo ( &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tambo tambo terdahulu, disalin dari dalung (tarikh yang ditulis pada tembaga/kuningan), tanduk kerbau dan kitab kulit kayu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; )&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt; dan wewarah, “Empat Umpu” ( Umpu  Belunguh; Umpu Nyekhupa, dan Umpu Pernong; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;Umpu Bejalan Diway&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;) banyak disebut memiliki  peran sentral dalam membangun masyarakat adat Sai Batin, Paksi Pak  Sekala Beghak. Pada periode selanjutnya, penyebaran orang-orang Sekala  Beghak ini dapat dirunut dari kisah-kisah tentang kepergian mereka  melalui sungai-sungai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;   Bahkan,  sebagian orang-orang Komering pun mengaku sebagai keturunan Sekala  Beghak. Mereka diperkirakan keturunan Pasukan Margasana yang dikirim  Kerajaan Sekala Beghak ke Komering untuk menghadang serangan sisa-sia  prajurit Kerajaan Sriwijaya yang telah runtuh sebelumnya. Seperti halnya  keberadaan Suku Ranau sekarang, diakui juga berasal dari Sekala Beghak,  Lampung Barat. Di sekitar Danau Ranau di Banding Agung, Ogan Komering  Ulu itu semula dihuni Suku Abung yang setelah kedatangan orang-orang  Sekala Beghak pada abad ke-15 mereka pindah ke Lampung Tengah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;    Seperti dikutip Harian KOMPAS, (11 Desember 2006:36), pada abad 15  datang empat kelompok masyarakat yang menduduki sekitar Danau Ranau. Di  sebelah barat danau dihuni orang-orang yang datang dari Pagaruyung  Sumatera Barat dipimpin Dipati Alam Padang. Sementara itu, tiga kelompok  lainnya berasal dari Sekala Beghak. Tiga kelompok orang-orang Sekala  Beghak itu dipimpin Raja Singa Jukhu (dari Kepaksian Bejalan Diway),  menempati sisi timur danau. Di sisi timur danau pula, kelompok yang  dipimpin Pangeran Liang Batu dan Pahlawan Sawangan (berasal dari  Kepaksian Nyekhupa) menempat. Sementara kelompok yang dipimpin Umpu  Sijadi Helau menempati sisi utara danau. Empu Sijadi Helau yang  disebut-sebut itu bukan Umpu Jadi putra Ratu Buay Pernong, yang menjadi  pewaris tahta Buay Pernong. Kemungkinan besar Umpu Sijadi di daerah  Ranau tersebut adalah keturunan Kepaksian Pernong yang meninggalkan  Kepaksian dan mendirikan negeri baru di Tenumbang kemudian menjadi Marga  Tenumbang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;   Ketiga kelompok dari  Sekala Beghak ini kemudian berbaur dan menempati kawasan Banding Agung,  Pematang Ribu, dan Warkuk. Sampai sekarang banyak orang Banding Agung  mengaku keturunan Paksi Pak Sekala Beghak. Di samping itu, ada  kisah-kisah perpindahan orang Sekala Beghak, sebagaimana ditulis dalam  Wikipedia (7/3/07: 04.02), yang dipimpin Pangeran Tongkok Podang, Puyan  Rakian, Puyang Nayan Sakti, Puyang Naga Berisang, Ratu Pikulun Siba,  Adipati Raja Ngandum dan sebagainya. Bahkan, daerah Cikoneng di Banten  ada daerah yang diberikan kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kepaksian  Belunguh atas jasa-jasanya, dan banyak orang Sekala Beghak yang migrasi  ke sana atau sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;    Kisah-kisah ini memperkuat suatu kenyataan bahwa Sekala Beghak tidak  hanya sebagai sumber muasal secara geografis, melainkan juga sumber  kultur masyarakat. Sekala Beghak adalah hulu suatu kebudayaan  masyarakat. Dari Sekala Beghak ini juga lahir huruf Lampung yaitu  Kaganga. Bagi sebuah kebudayaan, memiliki bahasa dan aksara sendiri  merupakan bukti kebesaran masa lalu kebudayaan tersebut. Di Indonesia  hanya sedikit kebudayaan yang memiliki aksara sendiri, yaitu Batak,  Lampung (Sumatera Selatan), Jawa, Sunda, Bali, dan Bugis. Dan kebudayaan  yang memiliki aksara sendiri dapat dikategorikan sebagai kebudayaan  unggul. Karena bahasa merupakan alat komunikasi sekaligus simbol  kemajuan peradaban.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;   Semua aksara  Nusantara tersebut berasal dari bahasa Palava, yang berinduk pada bahasa  Brahmi di India. Bahasa Palava digunakan di India dan Asia Tenggara. Di  Nusantara bahasa ini mengalami penyebaran dan pengembangan, bermula  dari bahasa Kawi, sebagai induk bahasa Nusantara. Dari bahasa Kawi  menjadi bahasa : Jawa (Hanacaraka), Bali, Surat Batak, Lampung/Sumatera  Selatan (Kaganga), dan Bugis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;   Dari Kerajaan Sekala Beghak yang telah memiliki &lt;/span&gt;unsur-unsur  “kebudayaan lengkap” ini pulalah “ideologi” Sai Batin dilahirkan dan  disebarluaskan. Sampai saat ini, masih banyak yang bisa dibaca dari  jejak-jejak yang tertinggal. Baik dari jejak fisik maupun jejak yang  tidak kasat mata. Dari legenda, seni budaya, adat tata cara, bahasa  lisan tulisan, artefak benda peninggalan, hingga falsafah hidup masih  ada runut rujukannya. Dari Sekala Beghak itu di kemudian hari pengaruh  budaya dan peradabannya berkembang dan berpengaruh luas ke seluruh  Lampung bahkan sampai ke Komering di Sumatera Selatan sekarang. Tidak  terhitung kemudian “pendukung budaya”-nya yang tersebar di seluruh  Indonesia pada masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perpindahan Warga negeri sekala brak :&lt;br /&gt;( bisa diliha juga di : http://aldrinsyah.multiply.com/journal/item/79 )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div id="item_body" class="bodytext"&gt;&lt;p align="justify"&gt;Seperti  yang telah diuraikan sebelumnya semua suku bangsa Lampung, baik yang  berada di daerah Lampung, Palembang, dan Pantai Banten berpengakuan  berasal dari Sekala Brak. Perpindahan Warga Negeri Sekala Brak ini  bukannya sekaligus melainkan bertahap dari waktu ke waktu yang  dipengaruhi oleh beberapa peristiwa penting didalam sejarah seperti:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify"&gt;Ketika  suku bangsa Tumi yang mendiami Sekala Brak terusir dan Skala Brak jatuh  ketangan Paksi Pak Sekala Brak, hingga mereka menyebar kedaerah lain. &lt;/div&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify"&gt;Perselisihan  dan silang sengketa dikalangan keluarga yang mengakibatkan satu fihak  meninggalkan Sekala Brak untuk mencari penghidupan ditempat lain. &lt;/div&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify"&gt;Adanya  bencana alam berupa gempa bumi yang memaksa sebagian Warga Negeri  Sekala Brak untuk berpindah dan mencari penghidupan yang baru. &lt;/div&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify"&gt;Adanya  hubungan yang erat antara Kesultanan Banten dan Kebuayan Belunguh  -Kenali, dimana dengan sengaja ditinggalkan disepanjang jalan beberapa  orang suami istri untuk meluaskan daerah dan memudahkan perjalanan  pulang pergi ke Banten. Sehingga berabad kemudian ditempat itu berdiri  Pekon Pekon bahkan banyak yang sudah menjadi Marga. Hubungan inilah yang  merupakan asal dari Cikoneng Pak Pekon di Pantai Banten. &lt;/div&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;div align="justify"&gt;Perpindahan  juga terjadi disebabkan peraturan adat yang mengikat yang menetapkan  semua hak hak adat jatuh atau diwarisi oleh Putera Tertua, sehingga anak  anak yang muda dipastikan tidak sepenuhnya memiliki hak apalagi  kedudukan tertentu didalam adat. Dengan cara memilih untuk pindah  kedaerah yang baru maka dapat dipastikan mereka memiliki kedudukan dan  tingkatan didalam adat yang mereka bentuk sendiri ditempat yang baru. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p align="justify"&gt;Perpindahan  penduduk dari Sekala Brak ini sebagian mengikuti aliran Way Komring  yang dikepalai oleh Pangeran Tongkok Podang, untuk seterusnya beranak  pinak dan mendirikan Pekon atau Negeri. Kesatuan dari Pekon Pekon ini  kemudian menjadi Marga Atau Buay yang diperintah oleh seorang Raja atau  Saibatin didaerah Komring –Palembang. Sebagian kelompok lagi pergi  kearah Muara Dua, kemudian menuju keselatan menyusuri aliran Way Umpu  hingga sampai di Bumi Agung. Kelompok ini terus berkembang dan kemudian  dikenal dengan Lampung Daya atau Lampung Komring yang menempati daerah  Marta Pura dan Muara Dua di Komring Ulu, serta daerah Kayu Agung dan  Tanjung Raja atau Komring Ilir.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kelompok yang  lain yang dipimpin oleh Puyang Rakian dan Puyang Nayan Sakti menuju ke  Pesisir Krui dan menempati Pesisir Krui mulai dari Bandar Agung di  selatan pesisir hingga Pugung Tampak dan Pulau Pisang di utara. Kelompok  yang dipimpin oleh Puyang Naga Berisang dan Ratu Piekulun Siba  menyusuri Way Kanan menuju ke Pakuan Ratu, Blambangan Umpu dan Sungkai  Bunga Mayang di barat laut Lampung untuk meneruskan jurai dan  keturunannya hingga meliputi sebagian utara dataran Lampung.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Adipati  Raja Ngandum memimpin kelompok yang menuju ke Pesisir Selatan Lampung  Mengikuti aliran Way Semangka hingga kehilirnnya di Kubang Brak. Dari  Kubang Brak sebagian rombongan ini terus menuju kearah Kota Agung,  Talang Padang, Way Lima hingga ke selatan Lampung di Teluk Betung,  Kalianda dan Labuhan Maringgai. Daerah Pantai Banten yang merupakan  daerah Cikoneng Pak Pekon adalah wilayah yang diberikan sebagai hadiah  kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kenali -Buay Belunguh setelah menumpas  kerusuhan yang diakibatkan oleh Si Buyuh.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sebagian  lagi yang dikepalai oleh Menang Pemuka yang bergelar Ratu Di Puncak  menyusuri sepanjang Way Rarem, Way Tulang Bawang dan Way Sekampung.  Menang Pemuka atau Ratu Di Puncak memiliki tiga orang istri, istri yang  pertama. berputera Nunyai, dari istri kedua memiliki dua orang anak  yaitu seorang putera yang diberi nama Unyi dan seorang puteri yang  bernama Nuban, sedangkan dari istri ketiga yang berasal dari Minangkabau  memiliki seorang putera yang bernama Bettan Subing. Jurai Ratu Di  Puncak inilah yang menurunkan orang Abung dan Tulang Bawang.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Asal Muasal Orang Komering&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h6 style="text-align: justify; font-weight: normal;" class="uiStreamMessage" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="messageBody" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Suku  Komering adalah satu klan dari Suku Lampung yang berasal dari Kepaksian  Sekala Brak yang telah lama bermigrasi ke dataran Sumatera Selatan pada  sekitar abad ke-7 dan telah menjadi beberapa Kebuayan atau Marga. Nama  Komering diambil dari nama Way atau Sungai di dataran Sumatera Selatan  yang menandai daerah kekuasaan Komering.Sebagaimana juga ditulis Zawawi  Kamil (Menggali Babad &amp;amp; Sedjarah Lampung) disebutkan dalam sajak  dialek Komering/Minanga: "Adat lembaga sai ti pakaisa buasal jak Belasa  Kapampang, Sajaman rik tanoh pagaruyung pemerintah bunda kandung, Cakak  di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, Sangon kok turun temurun jak  ninik puyang paija, Cambai urai ti usung dilom adat pusako"  Terjemahannya berarti "Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari  Belasa Kepampang (Nangka Bercabang, Sezaman dengan ranah pagaruyung  pemerintah bundo kandung di Minang Kabau, Naik di Gunung Pesagi turun di  Sekala Berak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu,  Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib  tanda tidak berbangsa". ( Wikipedia )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam kesempatan ini, penulis menyempatkan diri untuk membuat artikel  yang berjudul “Suku Komering adalah Orang Lampung Juga”. Hal yang  mendasari penulis membuat artikel ini adalah di karena ada pandangan  dari sebagian masyarakat Komering (Sumatera Selatan) yang tidak mengaku  sebagai bagian dari masyarakat Lampung. Hal tersebut perlu dikaji dengan  bukti sejarah mengenai asal-usul dan perpindahan suku Komering,  terutama ke Lampung.&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya mengenai asal-usul dan perpindahan suku Komering  (dikutip dari Wacana Nusantara : Perjalanan Komering di Lampung) akan  dijelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Asal-Usul Tujuh Kepuhyangan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika bergeraklah sekelompok besar turun dari dataran tinggi  Gunung Pesagi menyusuri sungai dengan segala cara seperti dengan rakit  bambu, dan lain-lain. Menyusuri Sungai Komering menuju muara. Menyusuri  atau mengikuti dalam dialek Komering lama adalah Samanda. Kelompok  pertama ini kita kenal kemudian dengan nama Samandaway dari kata  Samanda-Di-Way berarti mengikuti atau menyusuri sungai.&lt;br /&gt;Pada artikel yang berjudul Kebesaran Sriwijaya yang Tak Tersisa -The  Rise of Sriwijaya Empire- (Komentar Agung Arlan), disebutkan bahwa  Kepuhyangan Samandaway yang merupakan kepuhyangan tertua komering  menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Sriwijaya dengan Pu Hyang Jaya  Naga (Sri Jaya Naga) sebagai Raja Sriwijaya pertama yang berkedudukan di  daerah dekat Gunung Seminung dan kemudian berpindah ke Minanga (Setelah  itu Pusat Ibu Kota berpindah ke Palembang, dan yang terakhir ke Jambi  pada beberapa kurun masa Kerajaan Sriwijaya).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kelompok ini akhirnya sampai di muara (Minanga) dan kemudian  berpencar. Mereka mencari tempat-tempat strategis dan mendirikan tiga  kepuhyangan. Kepuhyangan pertama menempati pangkal teluk yang agak  membukit yang kini dikenal dengan nama Gunung Batu. Mereka berada di  bawah pimpinan Pu Hyang Ratu Sabibul. Kepuhyangan kedua menempati suatu  dataran rendah yang kemudian dinamakan Maluway di bawah pimpinan Pu  Hyang Kaipatih Kandil. Kepuhyangan ketiga menempati muara dalam suatu  teluk di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Ratu Damang Bing. Di tempat ini  kemudian dikenal dengan nama Minanga.&lt;br /&gt;Tak lama setelah rombongan pertama, timbul gerakan penyebaran rumpun  Skala Brak ini. Menyusul pula gerakan penyebaran kedua yang seterusnya  mendirikan kepuhyangan keempat. Kepuhyangan keempat menemukan suatu  padang rumput yang luas kemudian menempatinya. Mereka di bawah pimpinan  Pu Hyang Umpu Sipadang. Pekerjaan mereka membuka padang ini disebut  Madang dan kemudian dijadikan nama Kepuhyangan Madang. Tempat pertama  yang mereka duduki dinamakan Gunung Terang.&lt;br /&gt;Kepuhyangan kelima di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Adipati yang konon  kabarnya suka membawa peliung. Dari kegemarannya ini dinamakan pada nama  kepuhyangan mereka menjadi “Pemuka Peliung”. Dari kepuhyangan ini kelak  kemudian hari setelah Perang Abung menyebar mendirikan kepuhyangan  baru, yaitu Kepuhyangan Banton oleh Pu Hyang Ratu Penghulu.&lt;br /&gt;Kepuhyangan Pakuon oleh Puhyang itu dan Kepuhyangan Pulau Negara oleh Pu  Hyang Umpu Ratu. Kepuhyangan Keenam di bawah pimpinan Pu Hyang Jati  Keramat. Istrinya, menurut kepercayaan setempat, berasal dari atau  keluar dari Bunga Mayang Pinang. Kepercayaan ini membekas dan diabadikan  pada nama kepuhyangan mereka, yaitu Bunga Mayang (kelak kemudian hari,  inilah cikal bakal Lampung Sungkai).&lt;br /&gt;Kepuhyangan ketujuh di bawah pimpinan Pu Hyang Sibalakuang. Mereka pada  mulanya menempatkan diri di daerah Mahanggin. Ada yang mengatakan  kepuhyangan daya (dinamis/ulet). Kelak kemudian hari kepuhyangan ini  menyebar mendirikan cabang-cabang di daerah sekitarnya seperti Sandang,  Rawan, Rujung, Kiti, Lengkayap, dan lain-lain. Nama-nama marga atau  kepuhyangan yang berasal dari rumpun kepuhyangan ini banyak menggunakan  nama Bhu-Way (buway).&lt;br /&gt;Nama kebhuwayan ini dibawa orang-orang dari Skala Brak baru generasi  Paksi Pak. Ketujuh kepuhyangan yang mendiami lembah sungai yang kini  dinamakan “Komering”. Masing-masing pada mulanya berdiri sendiri dengan  pemerintahan sendiri. Di bawah seorang sesepuh yang dipanggil pu hyang.  Mereka menguasai tanah dan air yang mereka tempati dengan batas-batas  yang disepakati.&lt;br /&gt;Ditinjau dari tujuan gerakan penyebaran (mempertahankan kelanjutan hidup  kelompok untuk mencari tempat yang memberi jaminan kehidupan) serta  cara mencari tempat yang strategis dalam mengikuti aliran sungai  (samanda-diway), tampaknya Kepuhyangan Samandaway adalah yang pertama  dan tertua. Orang-orang Samandaway menempati muara sampai di ujung  tanjung (Gunung Batu).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Penyebaran Suku Komering Ke Lampung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tak diragukan lagi, banyak orang Komering yang keluar dari daerah asal  mereka di sepanjang aliran Way Komering untuk mencari penghidupan baru  pindah ke wilayah yang dihuni etnis Lampung lain. Mereka membuka umbul  maupun kampung (tiuh). Perpindahan kali pertama mungkin oleh marga Bunga  Mayang yang kelak kemudian hari menjadi Lampung Sungkai/Bunga Mayang.&lt;br /&gt;Seperti diutarakan Suntan Baginda Dulu (Lampung Ragom, 1997): “Kelompok  Lampung Sungkai asal nenek moyang mereka adalah orang Komering di tahun  1800 M pindah dari Komering Bunga Mayang menyusur Way Sungkai lalu minta  bagian tanah permukiman kepada tetua Abung Buway Nunyai pada tahun 1818  s.d. 1834 M kenyataan kemudian hari mereka maju. Mampu begawi  menyembelih kerbau 64 ekor dan dibagi ke seluruh Kebuayan Abung.”&lt;br /&gt;Oleh Abung, Sungkai dinyatakan sebagai Lampung Pepadun dan tanah yang  sudah diserahkan Buay Nunyai mutlak menjadi milik mereka. Kemungkinan  daerah sungkai yang pertama kali adalah Negara Tulang Bawang membawa  nama kampung/marga Negeri Tulang Bawang asal mereka di Komering. Dari  sini mereka kemudian menyebar ke Sungkai Utara, Sungkai Selatan, Sungkai  Jaya, dan sebagainya. Di daerah Sungkai Utara, seperti diceritakan Tjik  Agus (64) pernah menjabat kacabdin di daerah ini, banyak penduduk yang  berasal dari Komering Kotanegara. Mereka adalah generasi keempat sampai  kelima yang sudah menetap di sana.&lt;br /&gt;Perpindahan berikutnya, dilakukan Kebuayan Semendaway, khususnya  Minanga. Mereka menyebar ke Kasui, Bukit Kemuning, Napal Belah/Pulau  Panggung, Bunglai, Cempaka (Sungkai Jaya) di Lampung Utara. Ke Sukadana  Lampung Timur dekat Negeri Tuho. Juga masuk ke Pagelaran, Tanggamus.&lt;br /&gt;Dua Kampung Komering di Lampung Tengah (Komering Agung/Putih), menurut  pengakuan mereka, berasal dari Komering. Nenek moyang mereka berbaur  dengan etnis Abung di Lampung-Tengah. Akan tetapi, mereka kurang  mengetahui asal kebuayan nenek moyangnya (mungkin orang yang penulis  temui kebanyakan usia muda &amp;lt;50 tahun). Mereka menyebut Komering yang  di Palembang sebagai "nyapah" (terendam). Kemungkinan mereka juga  berasal dari Minanga, karena kampung ini yang paling sering terendam  air. Daerah Suka Banjar (Tiuh Gedung Komering, Negeri Sakti)  Gedongtataan seperti diceritakan Herry Asnawi (56) dan Komaruzaman (70)  (pensiunan BPN).&lt;br /&gt;Penduduk di sana mengakui mereka berasal dari Komering (Dumanis)  walaupun dialek mereka sudah tercampur dengan dialek Pubian. Tidak  menutup kemungkinan dari daerah lain di Komering seperti Betung dan  sebagainya, yang turut menyebar masuk daerah Lampung lain.&lt;br /&gt;Melihat perjalanan dan penyebaran yang cukup panjang, peran dalam  menyumbang etnis Lampung (Sungkai), serta menambah kebuayan Abung (Buay  Nyerupa), tak ada salahnya kita mengetahui tentang dialek, tulisan,  marga, maupun kepuhyangan yang ada di daerah Komering&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Melihat asal-usul suku Komering yang awal mula berasal dari Skala Brak  lalu menyebar ke daerah dataran Way Komering dan kemudian sebagian  menyebar ke Lampung, dipastikan “suku komering adalah orang Lampung  juga”. Dimana bahasa, huruf tulisan dan adat istiadat yang digunakan  sama dengan orang Lampung.&lt;br /&gt;Orang Komering melakukan perpindahan ke Lampung Tahun 1800-an, masuk ke  daerah Abung Kebuayan Nunyai dan menetap disana menurunkan Lampung  Sungkai (Bunga Mayang).&lt;br /&gt;Kebuayan Semendaway (Kebuayan Tertua Komering) dari Minanga melakukan  penyebaran ke Kasui, Bukit Kemuning, Napal Belah (Pulau Panggung),  Bunglai, Cempaka – Sungkai Jaya (Lampung Utara), Sukadana (Lampung Timur  dekat Negeri Tuho) dan Pagelaran (Tanggamus).&lt;br /&gt;Selain itu juga mendirikan dua kampung yaitu Komering Agung/Putih  (Lampung Tengah) dan Tiuh Gedung Komering – Negeri Sakti (Gedongtataan).&lt;br /&gt;Pada artikel “Sejarah Keratuan Lampung” yang telah terbit sebelumnya, di  daerah Komering khususnya di Martapura dulu telah berdiri Keratuan  Pemanggilan. Keturunan Keratuan Pemanggilan menyebar ke daerah pesisir  Barat Krui, Teluk Semaka, atau Teluk Lampung. Hal ini menjadi bukti  bahwa sejak dulu masyarakat Komering yang tinggal di sekitar Martapura  telah melakukan perpindahan ke berbagai daerah di Lampung (Pra atau  Sejaman dengan Kepaksian Pak Skala Brak Abad ke-14) sebelum Sungkai  Bunga Mayang pindah ke Lampung tahun 1800-an. Dari bukti tersebut dapat  disimpulkan bahwa orang Komering (Tua) yang telah melakukan perpindahan  ke Lampung pada Pra atau Sejaman Kepaksian Pak menurunkan Suku Lampung  Pesisir Pemanggilan (Lampung Pesesekh di Cukuh Balak, Kota Agung, Talang  Padang, Kedondong dan Way Lima). Maka tidak dapat diragukan lagi bahwa  “Suku Komering adalah Orang Lampung juga”.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; Bandar Lampung, 12 Mei 2009 / Oleh : JAMA’UDDIN&lt;br /&gt;===============================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TENTANG CIKONENG PAK PEKON &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ( bisa anda lihat juga di : http://aldrinsyah.multiply.com/journal/item/79 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Daerah Pantai Banten yang merupakan daerah Cikoneng Pak Pekon adalah  wilayah yang diberikan sebagai hadiah kepada Umpu Junjungan Sakti dari  Kenali -Buay Belunguh setelah menumpas kerusuhan yang diakibatkan oleh  Si Buyuh. dengan sebilah keris " senantan rangun" kepala si buyuh bisa diceraikan dengan badannya, keris beserta  kepala sibuyuh disimpan oleh umpun belunguh hingga sekarang. ketika sultan banten hendak memenuhi janji sayembaranya yaitu pemberian separo dari kerajaan banten ternyata ditolak karena umpu junjungan sakti berterus terang ( dalam penyamarannya melakukan siba / In-cognitto ) bahwa kedudukannya adalah di sumatera. sebagai balas budi, sultan banten mengangkat beliau sebagai keluarga dan keturunannya dianggap sebagai bangsawan. disamping itu juga sultan banten menyerahkan satu sarung keris ( terapang) yang panjangnya dua hasta, terbuat dari emas berukir, sedangkan hulu balang yang menyertai Umpu junjungan sakti mendapat seutas tali, yang disebut "tali datu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulang Bawang menurut cerita adalah terdiri dari 2 yaitu  tulang/talang di komering dan bawang di pesagi, kedua2nya merupakan  penyebaran awal masyarakat lampung yang bersala dari sekala berak kuno  (SAKALA BAKA) di pesagi.. namun seiring berjalannya waktu.. keturunan  talang mengikuti sungai komering (kemungkinan mendirikan sriwijaya), dan  bawang ke pesisir barat krui dan selatan sampai kalianda-jabung  (kemungkinan menurunkan kerajaan seputih/Yeh-Poti)..&lt;br /&gt;Sedangkan  dipedalaman lampung belum ada penghuninya (rimba).. Maka bisa dilihat  peninggalan di daerah talang padang, pugung raharjo dll..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru  pada penyebaran kedua terjadi setelah keturunan lampung asli bercampur  dengan pendatang dari pagaruyung yang menyebarkan islam baru  penyebarannya kedaerah2 pedalaman lampung sekarang, dan setelah itu baru  berdiri adat pepadun (tahun 1700-an).. Sedangkan adat saibatin sudah  sejak dulu dari nenek moyang di sekala berak sebelum islam..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan  pasukaan 40 orang dari lampung tersebut selain diambil dari skala  berak, diambil dari keturunan lampung yang ada di pesisir selatan dan  daerah tulang bawang yang keturunan komering.. Jadi orang lampung dulu  tidak keberatan dia disebut dari sekala berak atau tulang bawang, ya  asalnya nenek moyang mereka dari sekala berak juga (adat saibatin =  sai-indra/sailendra = satu raja), sebelum adat pepadun berdiri..&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-7941770286416089094?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/7941770286416089094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/asal-muasal-orang-lampung.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7941770286416089094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/7941770286416089094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/asal-muasal-orang-lampung.html' title='Asal Muasal Orang Lampung dan Komering'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Vi3HtmWuP_I/TsTyHjMYa3I/AAAAAAAAAng/wEoHszLFaxA/s72-c/DSCI0505.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-3679683519202069147</id><published>2011-11-14T08:45:00.000-08:00</published><updated>2011-11-14T08:50:43.721-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SASTRA'/><title type='text'>Surat Cintaku</title><content type='html'>&lt;table width="95%" align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span class="judul-berita"&gt;Surat cinta untukmu kekasihku&lt;/span&gt;    &lt;/td&gt;                 &lt;td align="right"&gt;&lt;span style="position: relative; top: 5px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;               &lt;tr&gt;                 &lt;td colspan="3"&gt;&lt;em&gt;oleh : Ratih Septiana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;               &lt;tr&gt;                 &lt;td colspan="3"&gt; &lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;               &lt;tr&gt;                 &lt;td colspan="3" class="text-content"&gt;                &lt;p&gt;Assalamualaikum cinta, apa kabar? &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa kabar dengan hati yang lama tak pernah ku jumpa?&lt;br /&gt; Apa kabar dengan hati yang masih dalam perjuangannya demi menggapai  ridho-Nya?&lt;br /&gt; Apa kabar dengan setia dan kejujuran?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cinta...,  andai saja aku bisa mengungkap semua kata dan  rasa dalam hati yang aku  punya ini..., maka seribu lembar kertas pun tak akan  cukup untukku  menuangkannya. Banyak sekali cinta, banyak yang ingin aku ungkap  secara  langsung di hadapmu nanti. Andai kau tahu, aku hambar tanpa pengisi   kasih dan pedulimu padaku, andai saja kau tahu apa yang aku rasakan ini   untukmu....&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Cinta bukan yang bernama keegoisan rasa, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;bukan yang megucap “ bagaimana?” namun “ aku mengerti...”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;bukan “ kamu di mana?” tapi “aku di sini....”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bukan “ aku ingin kamu seperti ini....” akan tetapi “ aku  mencintaimu dengan apa adanya  dirimu...”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;sepinya diriku tanpa kau di sini, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;hampanya hatiku karena ku tahu dengan nyata kau tak  berada di sampingku, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;seringnya kau patahkan aku...., namun aku bukan  seorang yang mudah menyerah...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;aku bertahan, karena ada kejujuranku... untuk  mengasihimu....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;luka itu memang sakit cinta, akan tetapi lebih sakit lagi jika aku  membohongi diri ini.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mungkin  aku bisa menggunakan dusta putihku, namun selama aku masih  bisa  menjaga kebaikan dalam jujurku, sungguh... demi Dia yang Maha  Menghargai,  ku akan berjalan di sini tanpa ada paksa dari siapapun, dan  yang ututh adalah  hanya ada nurani dan hati yang suci. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika  luka – luka telah mengering, Selama itu pula aku  haus untuk  merindukanmu, pun selama luka itu masih basah dan masih pekat terasa   ngilu di ulu hatiku.  Cinta, inginnya aku  bersamamu, menjaga hati mu,  mendampingi mu ketika resah dan gundah melandamu,  ahh... cinta akankah  kau tahu begitu dalamnya kasihku. Sehingga semua luka dan  kecewa itu  tak akan mampu mengubahnya, sekalipun pernah kau memintanya untuk  aku  melakukannya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Maafkan cinta, maafkan aku,  karena aku terlalu jujur pada perasaanku. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Dan semua, semua.... masih tetap utuh pada tempatnya. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Rasa  yang bercampur baur, ada duka, ada kecewa, namun  ada pula rasa percaya  di antara sejuta ragu, ada setitik cahya diantara  gelapnya cakrawala. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika  smua terhempas karena sia – sia, maka akan ku  coba pelajari kesedihan  ini, kesakitan ini, dan ku anggap ini sebagai hadiah  “besar”-Nya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Derita  ini adalah  anugerah dan suatu kehormatan tersendiri bagiku di atasnya  dan di bawah  kekuasaan-Nya. Jiwa  tak akan pernah  mengenal arti tegar  jika ia hanya datar merasakan perjalanan hidupnya. Hati tak  akan pernah  mengerti rasa sakit, jika ia selalu bahagia, Maha Suci Tuhan  Semesta  Alam atas segala rangakaian hidup yang sempurna ini. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan  cinta...., kau membuatku banyak belajar dalam  sakitnya aku ketika aku  terhujam mendekam dalam tebing bebatuan yang tajam. Kau  membuatku  menjadi orang “ besar” dalam rasa kesyukuranku pada-Nya. Terima kasih   cinta, kau membuat aku menjadi jiwa yang sabar atas segala penantian dan   pengertian. Secuil apapun itu harapan adalah tetap menjadi harapan.  Dimana ia  juga bisa tumbuh dari rasa kecewa, dari rasa luka. Maka  biarkanlah ia tumbuh  menjadi dewasa dalam matangnya pemahaman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mungkin  aku akan berdiri di atas rangakain jerami yang  selalu ada di depanku  ketika aku berjalan, dan tiada lain adalah rasa sabar  ketika aku harus  membersihkannya , tiada lain dari rasa ikhlas ketika aku  merasa lelah  untuk merapikannya agar ia tak melukaiku. Namun ketika goresan  luka itu  ada , tiada lain pula rasa bertahan dan pengupayaan untukku   mengobatinya. Dan tiada lain dengan rasa tulus aku melakukannya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Begitu pula dengan mu cinta..., &lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;jika pun harus ada air mata, maka biarlah ia menjadi  teman sedihku untuk menyayangimu...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;jika ada rasa sakit mendera, maka biarkanlah ia  menjadi teman setiaku dalam bertahan atas segala kejujuranku padamu ....&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Sungguh  aku bersyukur, karena aku mengenalmu cinta,  sekalipun aku tak pernah  utuh memilikimu, sekalipun utuh yang kau punya  takhanya untukku...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;jangan tanyakan tentang kesedihan yang kau pun tahu  cinta, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;jangan bertanya tentang rasa sakitku, bila kau pun  merasakannya...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;aku memang manusia biasa, yang tak sempurna, dan  kadang salah...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;namun rasa kasihku telah mengalahkan rasa sakitku,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;rasa asihku mengalahkan egoku …&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dan sayangku...., telah mampu mengobati luka – luka  itu. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Cinta, kapan aku bisa menyentuhmu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Dimana aku bisa menemui hangatnya jemarimu mengusap  semua peluhku?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Ataupun sebaliknya aku yang mengusap peluh di  wajahmu...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Dan aku yang akan membelai lembut bahumu ketika kau  goyah di jalan perjuanganmu bersamaku, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;agar kau tahu betapa pedulinya aku terhadapmu...&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-60AwGip0B80/TsFGnuuzSgI/AAAAAAAAAnU/SobdGNgTx94/s1600/love-heart-clipart.png"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 264px; height: 235px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-60AwGip0B80/TsFGnuuzSgI/AAAAAAAAAnU/SobdGNgTx94/s320/love-heart-clipart.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674894653836708354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Cinta, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;dalam sujudku pada-Nya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;ku titipkan doa dan pintaku.....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;semoga kau senantiasa dalam penjagaan-Nya ketika  penjagaanku tak sampai padamu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;semoga kau selalu dikasihi dan disayangi -Nya ketika  kasih dan sayangku tak mampu melampaui dimana kau berada saat ini. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ku pin&lt;/em&gt;&lt;em&gt;ta pada-Nya agar Cinta-Nya selalu ada untukmu,  ketika aku tak sanggup lagi mencintai &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Ku tegarkan, segala kerapuhan, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;kan ku indahkan segala kesedihan...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;bahagia mu adalah doa dan harapku....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;senyumu, menjadi suatu cita – cita dimana aku bisa  merasakannya itu tulus hanya untuku...&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Semoga kan selalu baik adanya , meskipun jalan ini  tak sempurna....&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;ucap terakhirku, ku harap kan terbaca jelas di mata  dan hatimu...&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;aku mengerti...., aku di sini, dan aku mencintaimu  apapun adanya kau dengan segala kurangmu...&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;dan biarlah........., biarlakanlah tulusku...yang  mencintaimu....&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Semoga kau dengar wahai cinta...., &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wassalamualaikum, &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang Mencintaimu....,&lt;br /&gt; Ratih Septiana&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;white_roses_fromfs@yahoo.co.id&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-3679683519202069147?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/3679683519202069147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/surat-cintaku.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/3679683519202069147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/3679683519202069147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/surat-cintaku.html' title='Surat Cintaku'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-60AwGip0B80/TsFGnuuzSgI/AAAAAAAAAnU/SobdGNgTx94/s72-c/love-heart-clipart.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-6909025370546272304</id><published>2011-11-13T22:27:00.000-08:00</published><updated>2011-11-13T22:42:53.754-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SASTRA'/><title type='text'>Tentang : Emha Ainun Nadjib - Kiyai Kanjeng</title><content type='html'>Gamelan Bukan Sembarang Gamelan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/--aBrWwAkmHA/TsC4O2hw0PI/AAAAAAAAAnI/9SJlw1iKhzE/s1600/n23270977421_709043_2549.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 347px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/--aBrWwAkmHA/TsC4O2hw0PI/AAAAAAAAAnI/9SJlw1iKhzE/s320/n23270977421_709043_2549.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674738095781630194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;G&lt;/span&gt;amelan Kiai Kanjeng bukan nama grup  musik, melainkan nama sebuah konsep nada pada alat musik “tradisional”  gamelan yang diciptakan oleh Novi Budianto. Kalau dalam khasanah musik  Jawa terutama pada gamelan lazimnya sistem tangga nada yang dipakai  adalah laras pentatonis yang terbagi ke dalam dua jenis nada yakni pelog  dan slendro, maka gamelan yang digubah oleh Novi ini tidak berada pada  jalur salah satunya, alias bukan pelog bukan slendro.&lt;div style="text-align: justify;" id="mainContent"&gt;&lt;div class="spacing"&gt;&lt;div class="post" id="post-2"&gt;&lt;div class="entry"&gt; &lt;p&gt;Disebut demikian karena memang bila ditilik dari konsep tangga  nadanya, ia berbeda dengan gamelan-gamelan pentatonis baik yang  pelog  maupun slendro. Meskipun bila ditinjau dari segi bahan dan bentuknya  gamelan KiaiKanjeng tetaplah sama dengan gamelan Jawa pada umumnya. Dan  perbedaan nada tersebut terletak pada jumlah bilahannya serta kenyataan  bahwa gamelan KiaiKanjeng juga merambah ke wilayah diatonis, meski tidak  sepenuhnya. Tepatnya: sel-la-si-do-re-mi-fa-sol, dengan nada dasar G=do  atau E Minor.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;K&lt;/span&gt;onsep nada Gamelan KiaiKanjeng adalah  solmisasi yang belum sempurna: sel, la, si, do, re, mi, fa, sol.  Penyempurnaan terus dilakukan dengan &lt;em&gt;ninthing&lt;/em&gt; instrumen gamelan  (saron, bonang dan sebagainya) yang baru, karena sesungguhnya yang  diperlukan jauh melebihi yang sekarang ada. Pelarasan nada ini oleh Novi  Budianto pada mulanya dipilih berdasarkan pengalamannya menata  musik-puisi Emha Ainun Nadjib sejak berproses bersama di teater Dinasti.&lt;/p&gt; &lt;h3&gt;Sistem Notasi&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;N&lt;/span&gt;geng&lt;/em&gt; atau metode kesepakatan  bunyi yang lahir dari naluri musikal dan kepekaan akan pijakan nada,  merupakan system notasi yang dipakai oleh musik Kiai Kanjeng. Potensi &lt;em&gt;sense of ngeng&lt;/em&gt; inilah yang menjadi faktor mendasar dalam berolah musik. Ngeng juga menjadi &lt;em&gt;partitur abstrak&lt;/em&gt; dalam &lt;em&gt;pe-notasi-an&lt;/em&gt; dan acuan penciptaan musik KiaiKanjeng.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meskipun demikian, tidak menutup penggunaan system notasi yang lain,  sebagaimana diambil oleh para pemain musik dari Latar belakang,  keberangkatan dan kemampuan musikal yang berbeda. Notasi balok dipakai  pada instrument biola, flute, karena memang pemainnya berangkat dari  latar belakang musik klasik dan lingkungan akademik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagi yang kemampuan musikalnya biasa saja, maka penggunaan notasi  angka menjadi pegangan yang mendasar, dan ini biasa dipakai oleh para  pemain saron, demung, dan bonang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber : ( http://www.kiaikanjeng.com/about/ ) juga ( http://id-id.facebook.com/KiaiKanjengDotCom?v=info&amp;amp;sk=info )&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;====================================================================&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;            &lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;           &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;" class="post-title entry-title"&gt; &lt;/h3&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;" class="post-title entry-title"&gt;Khazanah: Kiai Kanjeng Melintasi Terowongan Budaya Barat &lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  -&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- Muhammadun AS*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI  berbagai grup musik di Indonesia, nama Kiai Kanjeng tidaklah asing. Kiai  Kanjeng dianggap grup musik yang berbeda dari musik Indonesia pada  umumnya. Kegiatan keliling Kiai Kanjeng merupakan bagian dari pekerjaan  sosial Emha Ainun Nadjib langsung di masyarakat, terutama grassroot dan  menengah bawah. Kegiatan itu multikonteks meliputi budaya, keagamaan,  spiritual, social problem solving, dan pendidikan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksplorasi  musik Kiai Kanjeng hampir tidak membatasi diri pada jenis atau aliran  musik. Karena secara musikal, alat Kiai Kanjeng memiliki berbagai  kemungkinan. Untuk itu, pengembaraan cipta mereka sangat ragam. Dari  eksplorasi musik tradisional Jawa, Sunda, Melayu, dan China, termasuk  penggalian dari berbagai etnik lain seperti Madura, Mandar, dan Bugis  (Kiai Kanjeng berulang kali tampil dalam Festival Gamelan Internasional)  - Kiai Kanjeng juga tidak menutup diri untuk memainkan musik Barat  modern, pop, blues, dan jazz (Kiai Kanjeng tampil juga dalam Festival  Jak-Jazz).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa juga dangdut. Ketika tur ke enam kota di  Mesir, Kiai Kanjeng mengkhususkan diri mengaransemen kembali lagu-lagu  Si Bintang Timur Ummi Kultsum. Sebagai grup musik, Kiai Kanjeng telah  melahirkan sejumlah album musik yakni Tombo Ati, Raja Diraja, Wirid  Padang Bulan, Jaman Wis Akhir, Menyorong Rembulan, Perahu Nuh, Allah  Merasa Heran, Cinta Sepanjang Jaman, Kepada-Mu Kekasihku, dan Maiyah  Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, Kiai Kanjeng bukanlah kelompok musik  sebagaimana biasanya kelompok musik. Terutama karena fokus utama  kegiatannya bukanlah musik atau kesenian, melainkan proses dan  komunikasi sosial yang komprehensif. Fenomena seperti itu tidak lazim  sehingga Kiai Kanjeng hanya dikenal dari mulut ke mulut - namun relatif  tidak dikenal di dalam konstelasi musik Indonesia, terutama konstelasi  musik industri Indonesia. Kiai Kanjeng hadir sebagai salah satu strategi  perjuangan Cak Nun dalam mendakwahkan nilai-nilai Islam dan nilai  kemanusiaan. Kiai Kanjenglah yang menemani Cak Nun dalam berbagai forum,  khususnya menemani acara maiyah setiap tanggal 17 setiap bulan di  Kasihan. Juga, dalam acara Padhang Bulan di Jombang, Kenduri Cinta di  Jakarta, dan berbagai wilayah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ditemani Kiai  Kanjeng, dalam berbagai forum pertunjukan Cak Nun selalu berusaha  meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna  etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah,  dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada  parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  suatu maiyah di Kasihan, Cak Nun menyebut eksplorasi global Gamelan Kiai  Kanjeng itu sebagai suatu bentuk sikap pascaglobalisme yang juga  diterapkan di berbagai bidang kehidupan manusia dan masyarakat. Cak Nun  dan Kiai Kanjeng tidak anti terhadap musik tradisional, namun tidak juga  menolak musik modern dunia --tetapi tidak bersedia diperbudak oleh  keduanya. Bertahan konservatif dalam budaya tradisi membuat manusia  lenyap dari sejarah, tetapi menyediakan diri diseret oleh budaya  globalisasi membuat manusia menjadi budak kebudayaan yang dipanglimai  oleh kapitalisme industri. Melawan globalisasi tidak dengan puritanisme  tradisional-lokal, tapi dengan memijakkan kaki di tanah tradisi sambil  menelan tawaran globalisasi untuk diolah dengan kepribadian yang  mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya dalam budaya musik saja Cak Nun dan Kiai  Kanjeng mewujudkan sikap pascaglobalis, melainkan juga di segala bidang.  Cak Nun dan Kiai Kanjeng bersentuhan terus menerus dengan berbagai  segmen masyarakat dalam konteks budaya, keagamaan, teknologi, dan  birokrasi - namun tidak terkooptasi oleh segmentasi itu. Bergaul  terus-menerus dengan berbagai wilayah politik, namun tetap  mempertahankan independensi, nasionalisme murni, dan nurani kemanusiaan  sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Spirit Kiai Kanjeng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihitung  dari tahun keenam berdirinya, yakni sejak Juni 1998 hingga Desember  2005, Kiai Kanjeng telah mengunjungi lebih dari 21 provinsi, 376  kabupaten, 930 kecamatan, dan 1.300 desa di seluruh wilayah Nusantara.  Tidak hanya itu, Kiai Kanjeng juga kerap kali diundang ke mancanegara,  di antaranya adalah tur enam kota di Mesir, Malaysia, rangkaian ke Eropa  yang meliputi Inggris, Jerman, Skotlandia, dan Italia. Maret 2006, Kiai  Kanjeng kembali diundang Malaysia dan Brunei Darussalam. Akhir 2006,  mereka melakukan serangkaian perjalanan ke Finlandia pada acara Amazing  Asia dan Culture Forums atas undangan Union for Christian Culture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan  Kiai Kanjeng menembus terowongan budaya Barat dibuktikan dengan  keikutsertaannya dalam festival musik kelas dunia di Mekah-nya musik  kelas dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konservatorio Napoli. Di Napoli itulah, pentas musik  kelas wahid dunia diselenggarakan. Sudah barang tentu, nama grup musik  yang ikut serta akan tercatat dalam cakrawala musik dunia yang  mengharumkan nama bangsanya. Tak mengherankan kemudian kalau Kiai  Kanjeng mendapatkan undangan mengalir dari berbagai negara Eropa,  termasuk Kanada, Amerika Serikat, dan Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan Kiai  Kanjeng menembus budaya Barat tanpa harus kehilangan pijakan kebudayaan  Nusantara merupakan catatan prestasi yang layak dicatat bangsa  Indonesia. Kiai Kanjeng bisa membuat bangsa Indonesia bangga karena bisa  sejajar dengan berbagai negara maju. Dengan khazanah kebudayaan  Nusantara yang melimpah, Kiai Kanjeng bisa membawa Indonesia sejajar  dengan Barat. Kiai Kanjeng bukan sekadar capaian sukses grup musik,  lebih dari itu, Kiai Kanjeng merupakan capaian sukses sebuah kebudayaan  dan peradaban Indonesia. Jejak-jejak spirit Kiai Kanjeng itulah yang  selayaknya menjadi spirit generasi bangsa untuk menghadirkan Indonesia  sebagai bangsa yang berkebudayaan dan dengan peradaban tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammadun AS&lt;/span&gt;, Pemerhati Budaya, Pengelola Perpustakaan Al-Hikmah Pati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;, Minggu, 27 Januari 2008&lt;br /&gt;disalin : ( http://cabiklunik.blogspot.com/2008/01/khazanah-kiai-kanjeng-melintasi.html )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-6909025370546272304?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/6909025370546272304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/tentang-emha-ainun-nadjib-kiyai-kanjeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/6909025370546272304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/6909025370546272304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/tentang-emha-ainun-nadjib-kiyai-kanjeng.html' title='Tentang : Emha Ainun Nadjib - Kiyai Kanjeng'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/--aBrWwAkmHA/TsC4O2hw0PI/AAAAAAAAAnI/9SJlw1iKhzE/s72-c/n23270977421_709043_2549.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-1252956655792827925</id><published>2011-11-13T21:42:00.000-08:00</published><updated>2011-11-13T21:52:40.953-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AGAMA'/><title type='text'>Emha Ainun Nadjib: SAYA ANTI DEMOKRASI ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-RXSU5gVTudU/TsCr2_bqiEI/AAAAAAAAAm8/H84F-fsDcvo/s1600/Emha.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 239px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-RXSU5gVTudU/TsCr2_bqiEI/AAAAAAAAAm8/H84F-fsDcvo/s320/Emha.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674724491715577922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau  ada bentrok antara Ustadz  dengan Pastur, pihak Depag, Polsek,   dan  Danramil harus menyalahkan  Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya    diktator mayoritas.  Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang    mayoritas bukan  yang selain Islam - harus mengalah dan wajib kalah.    Kalau mayoritas  kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan  mayoritasnya   Islam dan  minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya  Kristen dan    minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar  namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau    Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam.  Kalau Palestina  banyak   teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam  Hussein  nranyak, yang   salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah   Indonesia 350 tahun,   yang salah bukan Kristen. Kalau amerika Serikat   jumawa dan adigang   adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah   bukan Kristen. Bahkan   sesudah ribuan bom dihujankan di seantero   Bagdad, Amerika Serikatlah   pemegang sertifikat kebenaran, sementara   yang salah pasti adalah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Agama"    yang paling benar adalah  demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan    dan iblis. Cara mengukur  siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra    demokrasi, ditentukan  pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam    mendapat jatah menjadi  pihak yang diplonco dan dites terus menerus  oleh   subyektivisme kaum  non-Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kaum  Muslimin diwajibkan   menjadi penganut demokrasi  agar diakui oleh  peradaban dunia. Dan untuk   mempelajari demokrasi,  mereka dilarang  membaca kelakuan kecurangan   informasi jaringan media  massa Barat atas  kesunyatan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang-orang    non-Muslim,  terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlese dari    Tuhan untuk  mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan    menghayati Sunnah  Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai  dari   sudut pandang  mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka  kalau penghuni peradaban   global dunia bersikap  anti-Islam tanpa  melalui apresiasi terhadap   Qur'an, saya juga akan  siap menyatakan  diri sebagai anti-demokrasi   karena saya jembek dan  muak terhadap  kelakuan Amerika Serikat di   berbagai belahan dunia. Dan  dari sudut  itulah demokrasi saya nilai,   sebagaimana dari sudut yang  semacam juga  menilai Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di   Yogya  teman-teman musik Kiai  Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang   karena  bersentuhan dengan  syair-syair saya, maka merekapun memasuki   wilayah  musikal Ummi  Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai   Kanjeng  mengandung  unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa   lagi.  Seorang teman  menyapa: "Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali    bikin yang etnis  'gitu..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lho kok Arab bukan etnis?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukan.    Nada-nada arab  bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak  diakui   sebagai warga  etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama  kolak,   sama-sama  sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia  Islam-menjadi bukan   kolak,  bukan sambal, dan bukan lalap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau  Sam Bimbo   menyanyikan lagu  puji-puji atas Rasul dengan mengambil  nada Espanyola,   itu primordial  namanya. Kalau Gipsy King mentransfer  kasidah "Yarim   Wadi-sakib...",  itu universal namanya. Bahasa jelasnya  begini: apa saja,   kalau  menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak  universal, bodoh,    ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik  dan tidak bisa masuk    jamaah peradaban dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itulah  matahari baru yang kini   masih  semburat. Tetapi kegelapan yang  ditimpakan oleh peradapan yang   fasiq  dan penuh dhonn kepada Islam,  telah terakumulasi sedemikian   parahnya.  Perlakuan-perlakuan curang  atas Islam telah mengendap menjadi   gumpalan  rasa perih di kalbu  jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam   dan  Kaum Muslimin itu  bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin    yang mau tidak mau  terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme    sistem peradaban  yang dominan dan tak ada kompetitornya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"&lt;i&gt;Al-Islamu mahjubun bil-muslimin&lt;/i&gt;". Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Endapan-endapan     dalam kalbu kollektif ummat Islam itu, kalau pada suatu momentum     menemukan titik bocor - maka akan meledak. Pemerintah Indonesia kayaknya     harus segera mervisi metoda dan strategi penanganan antar ummat     beragama. Kita perlu menyelenggarakan 'sidang pleno' yang transparan,     berhati jernih dan berfikiran adil. Sebab kalau tidak, berarti kita     sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber:&lt;/div&gt;&amp;gt; Buku Emha &lt;a href="http://www.goodreads.com/book/show/1380373.Iblis_Nusantara_Dajjal_Dunia" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.goodreads.com/book/show/1380373.Iblis_Nusantara_Dajjal_Dunia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&amp;gt; disalin dari http://tetes-pena.blogspot.com/2011/05/emha-ainun-nadjib-saya-anti-demokrasi.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5640491855338225368-1252956655792827925?l=saliwanovanadiputra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/feeds/1252956655792827925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/emha-ainun-nadjib-saya-anti-demokrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/1252956655792827925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5640491855338225368/posts/default/1252956655792827925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2011/11/emha-ainun-nadjib-saya-anti-demokrasi.html' title='Emha Ainun Nadjib: SAYA ANTI DEMOKRASI ?'/><author><name>SALIWA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02179715213855405901</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_t3s3UmnFHiM/TR7TYgB4BiI/AAAAAAAAALc/PkWpTv2NJL4/S220/20561_1093644117058_1705201480_174481_4848361_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-RXSU5gVTudU/TsCr2_bqiEI/AAAAAAAAAm8/H84F-fsDcvo/s72-c/Emha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5640491855338225368.post-4303842675996002161</id><published>2011-11-10T06:06:00.000-08:00</published><updated>2011-11-13T16:35:16.581-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINI[KRITIK'/><title type='text'>Menjunjung Adat Bukanlah Momok Menakutkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;MERAJUT KEBERAGAMAN UPAYA MENANGKAL FAHAM ETNOSENTRISME&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;( Menengok Usaha Paksi Melestarikan Adat )&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-r6E6L9g2Xo0/TrveidksD7I/AAAAAAAAAmw/djin922QMjU/s1600/pun%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 228px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-r6E6L9g2Xo0/TrveidksD7I/AAAAAAAAAmw/djin922QMjU/s320/pun%2B2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673372839238700978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Usaha Para Sultan Kepaksian bersama Rakyat yang mencintainya menjaga adat tradisi&lt;/span&gt; )&lt;br /&gt;      &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;          Pertanyaan dibenakku - jika benar -, mengapa memandang  bangkitnya satu kepaksian sebagai momok yang menakutkan ?, mengapa pula  menyangka muncul kepermukaanya satu kepaksian dianggap sebagai  nilai merendahkan kepaksian atau marga yang lain ? tidakkah meraka  sadari usaha dan jerih payah manusia itu mesti menemui hasilnya ?,  mengagumkan, membanggakan atau bahkan sebaliknya mengenaskan ?.  menghargai setiap usaha manusia sebagai hasil karya yang akan berbuah  manis kelaknya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;           Bukankah identitas kita sama, berasal dari  asal yang sama, dari bangsa yang sama, sama sama menjunjung adat  budayadan seluruh kearifannya?. Beramal dan menjaga niatan niatan murni  dan tulus dalam hidupkita semoga menjadi pandangan hidup kita untuk  terus berbaik sangka kepada siapapun, dan menjadi modal awal munculnya  kebaikan kebaikan yang lainnya. karena pada akhirnya identitas kita  bersama yang menjadi titik tolak dalam perkembangan dan kemajuannya  lewat usaha dari masing masing kita, usaha dari masing masing kepaksian  atau marga pada umumnya, lewat usaha yang beraneka ragamnya. tiada  alasan untuk melahirkan kebencian atas dasar kesalah fahaman dan  keangkuhan  pikiran kita yang menunjukkan kedewasaan kita.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;&lt;div id="id_4ebbd1163133b8e07109560" class="text_exposed_root text_exposed"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menurut saya ada beberapa sikap yang tepat untuk menyikapi perbedaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pandanglah perbedaan bukan sebagai “momok yang menakutkan”,  sehingg menghambat ruang gerak dalam berelasi satu sama lain. seperti Sebagai  pemeluk agama yang memang samp&lt;span class="text_exposed_show"&gt;ai  kapan pun tidak akan menjadi satu dan sama, marilah kita belajar untuk  memandang yang lain sebagai “sesama saudara ciptaan Tuhan” yang adalah  hadiah yang indah bagi saya. Begitu juga adat budaya adalah bagian karunia Tuhan yang patut disyukuri dengan menjaga dan melestarikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pandanglah yang lain (yang  berbeda) bukan sebagai “lawan” atau “musuh” yang harus ditakhlukan dan  dikalahkan. Hidup ini bukan soal kalah-menang, bukan soal menakhlukan  yang berbeda dengan saya agar menjadi sama dengan saya, masuk dalam  kelompok saya,. Kematangan spiritual seseorang akan terbaca dari  bagaimana dia memperlakukan yang lain. Pandanglah dan terimalah yang  lain sebagai kawan, sebagai sahabat, sebagai rekan dalam mewujudkan  tatanan dunia ini menjadi lebih bermartabat meski pun dia  berbeda dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga,  pandanglah aneka persoalan lain yang meliliti dunia ini yang membutuhkan  penanganan bersama sebagai sesama makhluk penghuni bumi ini. Ada banyak  kenyataan kemiskinan, ketidakadilan sosial, rusaknya ekologi yang  menjadi permasalahan global. Semua permasalahan tersebut membutuhkan  penanganan bersama semua orang tanpa memandang perbedaan agama. Ketika  bencana alam terjadi, bantulah sesama dengan tulus, tanpa membawa  bendera agama. Karena ketulusan bisa diukur dari motivasi kita menolong  yang sedang dalam kesulitan. Inilah hakekat dialog kehidupan, di mana  semua orang dalam keragaman perbedaannya sama-sama menyingsingkan lengan  baju untuk mewujudkan tantanan dunia ini menjadi lebih baik, sehingga  menjadi kenyataan surga bagi semuanya. Surga bukan perkara nanti, tetapi  harus mulai diwujudkan saat ini, di dunia ini. Karena dunia ini  diciptakan juga agar menjadi tempat yang nyaman dihuni bagi semua  makhluk. Itulah sederhananya definisi surga dalam kesempitan pikiranku.  Bagaimana bisa menjadi tempat yang nyaman dihuni jika di mana-mana  terjadi gontok-gontokkan, perang, pembunuhan, penghancuran, karena tidak  bijak menyikapi perbedaan? Bagaimana bumi bisa menjadi tempat yang  layak dihuni, jika bumi terus memanas seperti saat ini? Realitas sosial  yang tidak adil dan ekologi yang rusak menjadi undangan bagi semua  orang, apa pun agamanya, apa pun latar belakang perbedaannya untuk  bergandengan tangan menanganinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, sebagai sebuah  bangsa, ada banyak persoalan bersama bangsa ini yang perlu kita hadapi  bersama dari sekedar berkelahi karena kenyataan perbedaan. Banyak  persoalan sosial dan ekologi yang terjadi di tengah bangsa ini yang  membutuhkan uluran tangan dan kerja sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan semakin  banyak orang menyadari dan menghargai bahwa perbedaan itu kekayaan yang  bisa membentuk sebuah simfoni kehidupan yang indah, maka semua makluk  tidak perlu menantikan menikmati surga sesudah kematian tetapi bisa  mulai mengecapi  nikmatnya surga  (kedamaian) itu mulai dari saat ini, sejak hari  ini, dalam kehidupan bersama di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" jsid="text" class="commentBody"&gt;MENANGKAL FAHAM ETNOSENTRISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span jsid="text" class="commentBody"&gt;1. The Melting Pot Policy&lt;br /&gt;The Melting Pot Policy adalah kebijakan pemerintah Amerika Serikat pada  abad ke-19 hingga awal abad ke -20 untuk mempercepat proses asimilasi  para imigran. Kebijakan ini adala&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;h  langkah revolusioner untuk meng-Amerika-kan berbagai suku  bangsa(imigran) yang ada di Benua Amerika. Tujuannya sangat sederhana  yaitu bagaimana agar berbagai suku bangsa yang ada di sana bisa  menghilangkan sentimen kesuku-bangsaannya masing-masing dan meleburkan  diri mereka menjadi Bangsa Amerika tanpa harus menoleh kembali ke latar  belakang asal-usul suku bangsa mereka. Apakah kebijakan tersebut  berhasil? Tidak! Ternyata ide tersebut gagal total karena adalah tidak  mungkin menghilangkan identitas etnik setiap suku bangsa(imigran) yang  ada di Amerika. Sama halnya dengan orang Australia. Pada saat kita  berbicara dengan mereka, mereka pasti akan bangga memperkenalkan tentang  asal-usul negara mereka seperti Italia, Belanda, Spanyol, Francis,  Nigeria, Polandia, Inggris, dan lain-lain, kendatipun mereka adalah  bangsa Australia. 
