PAKSI PAK SEKALA BRAK----- KERAJAAN DI CUKUT PESAGI,---- KIK PAK KHAM MAK PULIAK----- ADAT PUSAKA TUTOP DIHATI

Selayang Pandang Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak

Tabik Ngalimpura, Haguk Neram Rumpok Sunyinni. Dipermulaan sinji, Yaddo dia sekindua ngaturko buribu laksa nerimakasih radu nyenghaja nyemuka di Blog sederhana sinji. Selanjutni sekindua buharop Blog sinji dapok dipakai sebagai rang bubagi informasi rik ilmu pengetahuan, ulehni lamon sai mak ceto, mak pas disusun tindehni, astawa bubida pendapok, yaddo dia ram saling menghormati, tilapok ram kekurangan jama hal sai betik. Niat Betik Cara Betik. Nerimanihan. Tabik

Friday, 1 March 2013

Brigjen Pol. Ike Edwin Perdana Menteri Kerajaan

Brigjen Pol. Ike Edwin : Gusti Batin Mangkunegara, Perdana Menteri Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak

BUDAYA lokal dan tradisional terus tergerus. Itu menjadi kesadaran Edwardsyah Pernong dan Ike Edwin untuk menjaga kembali silsilah, petatah-petitih, dan eksistensi Kerajaan Sekala Brak, Lampung Barat.

Sejarah mencatat dan menempatkan Kerajaan Sekala Brak di posisi paling atas dalam nasab orang Lampung. Silsilah ini dinilai amat penting oleh Brigjen Pol. Ike Edwin dan keluarga besarnya. Sebab, ini menyangkut eksistensi dari satu garis kehidupan dan peradaban suatu klan besar di Lampung.

Kesadaran itu muncul dan menjadi spirit baru keluarga besar asal Batu Brak, Liwa, Lampung Barat. Meski berkarier sebagai abdi keamanan di Jakarta, bersama sang kakak, Brigjen Pol. Edwarsyah Pernong, ia intens pulang kampung dengan menghidupkan lebih terang lagi sinar budaya di daerahnya.

Struktur kerajaan yang memang masih terang benderang ditegaskan lagi. Secara garis nasab, Edwardsyah Pernong adalah raja Kerajaan Sekala Brak atau sultan generasi ke-59. Sedangkan Ike Edwin adalah perdana menteri.

Saat berkunjung ke redaksi Lampung Post, Sabtu (19-1), Ike Edwin menjelaskan mengajak diskusi tentang masa depan budaya Lampung. Ike mengaku merasa sangat perlu sharing tentang keberadaan Kerajaan Sekala Brak kepada semua warga Lampung.

"Ini sama sekali bukan untuk pamer atau menunjukkan arogansi. Ini semata karena tanggung jawab saya hanya ingin melestarikan budaya yang ada. Yakni, keberadaan Kerajaan Sekala Brak sejak abad ke-3," kata Ike.

Ia menjelaskan Kerajaan Sekala Brak sebenarnya adalah kerajaan tertua di Indonesia karena muncul sebelum Kerajaan Kutai Kertanegara, yang selama ini disebut sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Kerajaan ini mengalami dua era, yaitu era Hindu Buddha dan era Islam. "Raja Laula adalah raja pertama di Sekala Brak kuno," kata dia.

Raja terakhir Sekala Brak kuno yang beragama Hindu adalah Raja Sekarmong pada abad ke-11. Karena tidak mau masuk Islam, terjadilah perpecahan antara raja tersebut dan Ratu Penggalang Paksi dan Sultan Zulkarnaen dari Aceh sehingga pada abad 11 muncullah Paksi Pak Sekala Brak, yang merupakan awal dari masuknya Islam di Sekala Brak.

Keempat paksi tersebut, yaitu Kepaksian Bejalan Diway, Kepaksian Nyerupa, Kepaksian Pernong, dan Kepaksian Belunguh.

Pada abad ke-15, Sekala Brak mulai berperang dengan Portugis dan Belanda. Saat Sekala Brak kalah perang, Belanda tidak mengizinkan seluruh warga kerajaan memakai artibut dan gelar adat.

Karena menolak hal itu, para raja kemudian bergerilya ke berbagai daerah. Pada abad 15, panglima perang Sekala Brak membuat kampung di berbagai daerah, seperti di Tanggamus, Komering, dan Way Kanan. Mereka membawa 20 keturunan dan kemudian membesarkan keturunan baru. Pada abad ke-18, jumlah keturunan tersebut sudah lebih dari 3.000-an orang.

Ike menyebutkan Sekala Brak sebenarnya bukan satu-satunya kerajaan yang berasal dari Lampung. Pada abad ke-13, muncul Kerajaan Tulangbawang, tapi tidak bertahan lama dan akhirnya punah. Hanya Kerajaan Sekala Brak yang masih bertahan sampai saat ini.

Budaya yang DilupakanIke menyebutkan banyak tradisi yang kini mulai ditinggalkan. Sebut saja tari sekura atau tari topeng yang tidak dikenal oleh masyarakat luas. Ada pula tari saibatin yang juga menjadi aset daerah, tetapi tidak dilestarikan. "Sekarang ini di kampung-kampung malah menyelenggarakan organ tunggal, bukannya mementaskan tarian khas daerahnya," kata dia.

Tradisi turun di wai, seperti prosesi siraman pada adat Jawa, juga sudah tidak dilakukan lagi oleh masyarakat Lampung. "Di Kampung Sekala Berak, hal-hal ini masih dipertahankan," kata dia.

Salah satu tradisi yang masih dilakoni di Sekala Brak sampai saat ini adalah membersihkan diri dengan mandi secara beramai-ramai sebelum memasuki bulan puasa.

Sang Perdana Menteri itu menjelaskan, beberapa waktu lalu, Raja Solo mengumpulkan semua raja yang ada di Indonesia. Di bawah Yayasan Raja dan Sultan Nusantara, kini ada 115 aset nusantara yang diakui nasional, dan Kerajaan Sekala Brak adalah salah satunya.

Walaupun pernah dihapus oleh Soekarno pada 1949, kerajaan ini tetap ada sebagai kerajaan adat. "Kerajaan Sekala Brak masih ada sebagai kerajaan adat, bukan pemerintahan," kata Ike.

Ia juga menjelaskan di belakang rumahnya yang berada di Lampung Barat terdapat sumur yang telah berusia 900 tahun. Sayangnya, sumur yang memiliki nilai histori tersebut kurang terurus. "Padahal sumur itu dulunya menjadi tempat mandi para raja dan bidadari," ujar Ike.

Selain itu, ada juga batu yang digunakan untuk melakukan eksekusi atau pemenggalan kepala perempuan untuk persembahan kepada dewa. "Dulu, perempuan tercantik di daerah itu dipenggal untuk dipersembahkan," kata dia.

Batu bersejarah itu juga tidak mendapat perhatian khusus. Ia berharap agar pemerintah memberikan perhatian untuk melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah yang masih ada di Lampung Barat.

Melihat konflik horizontal yang kerap terjadi di Lampung, pribumi Lampung yang memiliki wawasan nasional ini mengimbau semua pihak agar menganggap warga pendatang sebagai saudara. Ia menjelaskan warga nonpribumi yang datang ke kampungnya diberi gelar adat sehingga menjadi bagian dari keluarga adat Lampung.

"Warga nonpribumi tersebut diizinkan masuk dalam rumah adat dan diundang dalam acara adat," kata dia.

Ike menegaskan adat yang diwariskan oleh leluhur harus dilestarikan. Pada era reformasi saat ini, kerajaan adat sebaiknya tidak digunakan untuk arogansi. (DELIMA NAPITUPULU/M-1)


Sumber:
Lentera, Lampung Post, Minggu, 20 Januari 2013 
 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Empat Sultan Dalam Singgasana Pada Saat Himpun Agung ( Musyawarah Agung)

  Kembalikan Kejayaan Skala Brak

Radar Lampung - Minggu, 20 Januari 2013 # POSTED BY: Ayep Kancee 
BANDARLAMPUNG – Masyarakat Lampung harusnya bangga karena memiliki Kerajaan Skala Brak yang tergolong sebagai salah satu kerajaan tertua di nusantara. Kerajaan yang telah berdiri sejak abad ketiga Masehi ini memiliki peranan penting terutama pada era penjajahan.

    Demikian disampaikan Brigjen Pol. Drs. Ike Edwin, S.H., M.H. selaku perdana menteri Kerajaan Adat Paksi Pak Skala Brak saat mengunjungi Graha Pena Lampung tadi malam (19/1).

    Namun sayang, dalam perjalanannya, kerajaan ini seperti kehilangan aura. Itu terjadi lantaran kebijakan pemerintah pada 1949 yang menghapuskan seluruh kerajaan di nusantara kecuali Kerajaan Jogjakarta. Baru pada masa reformasi 1998, keberadaan kerajaan di nusantara kembali bangkit.

    ’’Inilah sebabnya Kerajaan Skala Brak baru terdengar lagi sekitar sepuluh tahun terakhir,” ungkapnya didampingi sejumlah kerabat kerajaan.

    Namun selama vakum, lanjut Ike, seluruh rangkaian adat istiadat dan budaya tetap mereka jaga dan pertahankan. ’’Selama ini, adat Lampung hanya digunakan saat perkawinan. Padahal, banyak sekali adat istiadat dan budaya lainnya seperti tari Sekura dan tari Sai Batin. Tetapi hanya di lingkup kerajaan ini masih diterapkan,” sesalnya.

    Mantan direktur Tipikor Mabes Polri ini juga menyesalkan sikap banyak pihak yang terkesan meragukan keabsahan Kerajaan Skala Brak. ’’Padahal, banyak bukti yang menguatkan. Mulai silsilah, prasasti, hingga barang-barang peninggalan kerajaan,” kata mantan kepala Kepolisian Wilayah (Kapolwil) Surabaya ini.
 Ia menegaskan, pihaknya hanya ingin mempertahankan adat istiadat kerajaan, bukan untuk arogansi ataupun menyombongkan diri. ’’Diakui atau tidak oleh masyarakat Lampung, kami tak mempermasalahkan. Namun yang jelas, kami ingin melestarikan adat dan budaya Lampung, bukan mau sombong atau arogan,” tegasnya.

    Pada kunjungan tadi malam, Ike juga memaparkan sejarah panjang Kerajaan Skala Brak mulai dihuni suku Tumi, berdirinya Skala Brak hingga turunan ke-59 saat ini. ’’Saat masuk Islam sekitar abad 11, Skala Brak dibagi menjadi empat paksi, yaitu Pernong, Belungu, Nyerupa, dan Bejalan Di Way. Jadi kerajaan tetap satu, namun memiliki empat sultan yang memiliki kedudukan sama dan bersatu dalam Kerajaan Paksi Pak Skala Brak,” bebernya.

    Mengenai adanya image bahwa Kerajaan Skala Brak hanya milik Lampung Barat, Ike menegaskan hal itu tidak benar. ’’Selama ini, Kerajaan Skala Brak hanya ditopang dan diakui oleh Pemkab Lambar. Padahal, kerajaan ini milik masyarakat Lampung. Itulah mengapa Skala Brak kerap diidentikkan dengan Lambar, apalagi memang pusat pemerintahan kami berada di Lambar,” tuturnya. (hyt/p5/c1/fik)

2 comments:

  1. mantap gan blognya , ini blog cukup bagus senang bisa berkunjung ke blog saudara...melesatarikan kebudayaan memang haru gan..

    oys jsnghsn lups berkunjung ke blog saya gan

    http://mediausul.blogspot.com
    http://pokeronlinein.blogspot.com

    siapa tau bisa saling berbagi..tks.. salam bloger

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih banyak, semoga kita bisa saling berbagi dan bersilaturahmi amin,,

      Delete

Apah tiBaca

Ikuti Menjadi Sahabat Blog

PEMUDA DAN KEBERANIANNYA

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

dancer

TVRI