PAKSI PAK SEKALA BRAK----- KERAJAAN DI CUKUT PESAGI,---- KIK PAK KHAM MAK PULIAK----- ADAT PUSAKA TUTOP DIHATI

Selayang Pandang Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak

Tabik Ngalimpura, Haguk Neram Rumpok Sunyinni. Dipermulaan sinji, Yaddo dia sekindua ngaturko buribu laksa nerimakasih radu nyenghaja nyemuka di Blog sederhana sinji. Selanjutni sekindua buharop Blog sinji dapok dipakai sebagai rang bubagi informasi rik ilmu pengetahuan, ulehni lamon sai mak ceto, mak pas disusun tindehni, astawa bubida pendapok, yaddo dia ram saling menghormati, tilapok ram kekurangan jama hal sai betik. Niat Betik Cara Betik. Nerimanihan. Tabik

Saturday, 4 February 2012

Tokoh Nasional Dari Liwa ( Sekala Brak ) Bidang Kesehatan

( Foto dari Novan Saliwa saat acara arakan adat Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak di TMII, Lampung Jejamo )


(lahir di Liwa, Lampung Barat, Lampung, 28 Juni 1944) adalah Menteri Kesehatan pada Kabinet Reformasi Pembangunan.Keluarga Moeloek merupakan salah satu dinasti dokter sukses di Indonesia. Istrinya Nila Djuwita Anfasa Moeloek hampir duduk sebagai Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II. Ayahnya, dr H. Abdul Moeloek yang berasal dari Padangpanjang, Sumatera Barat, mengelola rumah sakit di Tanjung Karang, Lampung. Adiknya Nukman Moeloek, menjadi salah seorang guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Pendidikan beliau :

Karier beliau:
  • Dosen di FK UI (1971-sekarang) Dosen Pascasarjana bagian Obstetri dan Ginekologi FK UI
  • Kepala Subbagian Kesehatan Reproduksi Klinik Raden Saleh
  • Deputi Direktur Bidang Akademik, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1990-1996
  • Direktur Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1996-1998
  • Menteri Kesehatan RI Kabinet Pembangunan VII
  • Menteri Kesehatan RI Kabinet Reformasi Pembangunan
  • Anggota MPR RI (1999)

Profesi masa lampau:
  • Ketua Eksekutif, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (PB POGI)
  • Ketua Umum, Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI)
  • Ketua, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Jakarta Chapter
  • General Chairman, of the VIII World Congress on Human Reproduction and IV World Conference ob Fallopian Tube in Health and Disease in Bali, 4-6 April 1993
  • Ketua Umum, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI-IMA), (2003 – 2006)
  • Berperan aktif dalam penyelesaian Rumah Sakit Umum Liwa, Lampung Barat, 1998
  • Berperan aktif dalam penyelesaian pendirian Fakultas Kedokteran di Universitas Lampung (Unila), 1998-sampai saat ini
  • Ketua Penanggung Jawab, Ketua Pengarah Tim Pemeriksaan Calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (2004)
  • Tim Penilai Independen Pengendalian Dampak Lingkungan, Menteri Negara Lingkungan Hidup (2006—2008)
  • President, Medical Association of South East Asia Nation / Masean Council (2003 – 2006)
Keanggotaan kehormatan:
  • Honorary Member of International Society on Human Reproduction
  • Honorary Member of Society on Fallopian Tube in Health and Disease

Penghargaan kepa beliau:
  • Bintang Republik Indonesia Maha Putra Adipradana (1999)
  • Satyalancana Karya Satya Republik Indonesia XXX Tahun (2002)
  • Penghargaan Adi Satya Utama dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) (1996)
  • Penghargaan 'Prof Mohtar Award' dalam bidang Ilmiah dan Riset, dari Indonesian Public Health Association (IAKMI) (2007)
  • Penghargaan Bina Ekatama dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) (2002)
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Faried_Anfasa_Moeloek

KAKEK NYA ( Abdoel Moeloek )

KOTA Krui dan Liwa di Lampung Barat adalah tempat pengabdian pertama Abdoel Moeloek di Lampung. Lima tahun (1940--1945) menjadi dokter di sana, sentuhan tangannya identik dengan kesembuhan orang sakit.

Kehadiran Abdoel Moeloek di Krui dan Liwa telah membuka kesadaran masyarakat tentang dunia medis. Apa pun jenis penyakitnya, masyarakat optimis sembuh jika diobati dokter asal Sumatera Barat itu. Pasiennya bahkan meluas sampai daerah Muara Dua, Sumatera Selatan.

"Saya mengenal bapak (Abdoel Moeloek) tahun 1940. Waktu itu, beliau menjadi dokter untuk dua kabupaten, yaitu Muara Dua dan Krui," kata Jafri Mahyudin (82), anak angkat dr. Abdoel Moeloek.

Namanya kini diabadikan pada rumah sakit milik negara di Bandar Lampung: Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Haji Abdul Moeloek. Dia adalah direktur kelima Rumah Sakit Tanjungkarang (sebelum diubah menjadi RSUD dr. Haji Abdoel Moeloek), dan paling lama memegang jabatan sebagai direktur (selama 12 tahun, dari 1945 hingga 1957).

Karier Abdoel Moeloek di dunia medis diawali setelah ia lulus dari sekolah dokter Stovia/GH, Jakarta (1932). Tahun 1935, ayah mantan Menteri Kesehatan Farid Anfasa Moeloek ini diangkat sebagai kepala RS Bangkiang. Dua tahun kemudian (1937), dokter kelahiran Padang Panjang, 10 Maret 1905 ini ditempatkan lagi di RS Kariadi Semarang.

Pada zaman perang kemerdekaan (1940--1945) dia ditugaskan menjadi dokter untuk wilayah Lampung (Krui dan Liwa) dan Sumatera Selatan (Muara Dua). Abdoel Moeloek pun sempat diangkat sebagai "Bupati Perang" di Liwa dengan pangkat mayor tituler. "Gubernur Perang"-nya adalah dr. Abdul Gani yang saat itu gubernur Sumatera Selatan.

Abdoel Moeloek dikenal sangat disiplin, pekerja keras, tegas, jujur, dan dekat pada masyarakat. Ketika militer Jepang merekrut banyak warga untuk dijadikan romusa (pekerja paksa yang tak dibayar) di Palembang, misalnya, dia punya trik khusus. Saat itu, banyak romusa yang tidak pulang lagi karena meninggal akibat sakit atau kurang makan.

"Bapak memberikan surat keterangan sakit pada warga agar tidak dijadikan romusa oleh tentara Jepang," kata Jafri. "Saya dimasukkan jadi polisi. Waktu itu polisi seperti palang merah, yang bertugas menolong rakyat."

Setelah lima tahun di pesisir barat Lampung-Sumsel, Abdoel Moeloek ditempatkan di RS Tanjungkarang (1945). Satu-satunya dokter saat itu, dia menjabat Kepala RS Tanjungkarang dan RS Tentara Tanjungkarang, setelah kedua rumah sakit itu diambil alih dari tangan Jepang.

Peranan Abdoel Moeloek menjadi penting dan sangat strategis pada saat perang kemerdekaan (1945--1950). Ia menyuplai obat-obatan kepada para gerilyawan Lampung. Ia juga terjun langsung menangani korban perang.

Meski demikian, ia tetap menjaga dedikasi dan profesionalitasnya sebagai dokter. Suatu hari, terjadi clash (pertempuran) antara tentara gerilya dan Belanda. Dengan pita palang merah di lengan, ia mengobati korban-korban. Bukan hanya pejuang Republik, melainkan juga tentara Belanda.

Untuk merawat korban perang yang terus berdatangan, Abdoel Moeloek dan paramedis RS Tanjungkarang bekerja siang dan malam. Dia amanatkan pada seluruh tenaga medis agar mengobati siapa saja yang dibawa ke rumah sakit. Tidak membeda-bedakan prajurit Indonesia atau Belanda.

Nilai-nilai sosial-kemanusiaan dan dedikasi yang ditunjukkan Abdoel Moeloek itu selalu melekat di ingatan Farid Anfasa Moeloek; pun saat di kemudian hari ia mengikuti karier ayahnya. "Waktu itu saya masih kecil, tapi ingat. Saya simpati melihat dedikasi ayah," kata Farid.

Jadi Teladan

Abdoel Moeloek sangat suka membaca dan belajar. Di kediamannya dahulu (depan RSUD dr. Abdoel Moeloek Bandar Lampung) ia mendesain sebuah ruangan ukuran 3 x 4 meter untuk ruang perpustakaan. Jika tidak sedang bekerja, ia menghabiskan waktunya di situ: Berkutat dengan buku-buku.

Dalam mendidik kelima putra-putrinya, metode yang dilakukan Abdoel Moeloek patut diteladani. Dia mendidik mereka dengan perbuatan (disiplin, sikap jujur, dan tanggung jawab), bukan dengan perkataan.

"Enam belas tahun saya ikut beliau, sampai saya punya anak dua, tidak pernah sehari pun bapak telat melaksanakan salat subuh," kata Jafri. Apa yang dilakukan Abdoel Moeloek itupun diikuti anak-anaknya.

Sebelum ajal menjemputnya tahun 1973, Abdoel Moeloek berpesan pada istri dan anak-anaknya: Jasadnya tidak dimakamkan di Makam Pahlawan. Dia beralasan agar pusaranya dekat masyarakat dan bisa dikunjungi kapan dan oleh siapa saja. Sedangkan jika dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, keluarga dan kerabat hanya berziarah pada saat-saat tertentu atau hari besar nasional.

Atas wasiat itu, sanak-keluarga kemudian memakamkan jasadnya di Taman Permakaman Umum (TPU) Lungsir di Telukbetung Utara.

Karier dan pengabdian Abdoel Moeloek diwarisi dua anaknya: Farid Anfasa Moeloek dan Herwin Moeloek. Keduanya adalah guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Sejak tahun 1984, Rumah Sakit Tanjungkarang diubah namanya menjadi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Haji Abdul Moeloek (SK Gubernur Provinsi Lampung No.G/180/B/HK/1984, tanggal 7 Agustus 1984). Selanjutnya, berdasar pada Perda Provinsi Lampung No.8 Tahun 1985 tanggal 27 Februari 1995, namanya berubah lagi menjadi Rumah Sakit Umum Daerah dr. Haji Abdul Moeloek Provinsi Daerah Tingkat I Lampung (disahkan Menteri Dalam Negeri dengan SK Nomor 139 Tahun 1995 dan diundangkan dalam Lembaran Daerah Provinsi Lampung Nomor 173 Tahun 1995 pada 28 November 1995. n


BIODATA


Nama: Dr. H. Abdoel Moeloek
Tempat, tanggal lahir: Padang Panjang, 10 Maret 1905
Meninggal: Bandar Lampung, 1973
Pendidikan: Dokter lulusan STOVIA/GH, Jakarta, 1932
Nama istri: Hj. Poeti Alam Naisjah
Tempat, tanggal lahir: Solok, 29 Oktober 1914
Jumlah anak: 5 orang (3 laki-laki dan 2 perempuan)
Meninggal dunia di Tanjungkarang pada tahun 1973

Riwayat Pekerjaan:
1. Kepala RS Bangkinang, 1935
2. Dokter di RS Kariadi, Semarang, 1937
3. Dokter di Krui, Liwa, 1940--1945
4. Mengambil alih RS Tanjungkarang dan RS Tentara Tanjungkarang dari tangan Jepang, 1945.
5. Kepala RS Tanjungkarang dan Kepala RS Tentara Tanjungkarang.

Pengalaman Semasa Perjuangan
1. Menyuplai obat-obatan untuk para gerilya pada saat perang kemerdekaan (1945--1950)
2. Atas prkarsa dan bantuan WHO, mencari sumber air bersih untuk penduduk, sebagai cikal-bakal PDAM (1950--1955)
3. Atas prakarsa dan bantuan WHO, mengadakan program pembasmian malaria yang terbesar di Asia (1950--1960)
4. Mendatangkan dokter-dokter spesialis yang diperlukan RS Tanjungkarang dan RS Tentara Tanjungkarang. Dan, bekerja sama dengan WHO, karena RS sangat kekurangan dokter spesialis pada saat itu. Terdapat sekitar 15 dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran gigi, baik dari dalam maupun luar negeri yang tersedia untuk kedua RS itu.



Sumber:
Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 22-25.

No comments :

Post a Comment

Apah tiBaca

Ikuti Menjadi Sahabat Blog

PEMUDA DAN KEBERANIANNYA

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

dancer

TVRI