PAKSI PAK SEKALA BRAK----- KERAJAAN DI CUKUT PESAGI,---- KIK PAK KHAM MAK PULIAK----- ADAT PUSAKA TUTOP DIHATI

Selayang Pandang Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak

Tabik Ngalimpura, Haguk Neram Rumpok Sunyinni. Dipermulaan sinji, Yaddo dia sekindua ngaturko buribu laksa nerimakasih radu nyenghaja nyemuka di Blog sederhana sinji. Selanjutni sekindua buharop Blog sinji dapok dipakai sebagai rang bubagi informasi rik ilmu pengetahuan, ulehni lamon sai mak ceto, mak pas disusun tindehni, astawa bubida pendapok, yaddo dia ram saling menghormati, tilapok ram kekurangan jama hal sai betik. Niat Betik Cara Betik. Nerimanihan. Tabik

Thursday, 17 November 2011

Asal Muasal Orang Lampung dan Komering

1. ASAL MUASAL ORANG LAMPUNG
Sumber :  buaypernong.blogspot.com



Sekala Beghak, artinya tetesan yang mulia. Boleh jadi, kawasan ini dianggap sebagai kawasan tempat lahir dan hidup orang-orang mulia keturunan orang mulia pula. Sekala Beghak adalah kawasan di lereng Gunung Pesagi (2.262 m dpl), gunung tertinggi di Lampung. Kalau membaca peta daerah Lampung sekarang, Sekala Beghak masuk Kabupaten Lampung Barat. Pusat kerajaannya di sekitar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau, dan Kecamatan Balik Bukit. Di Lereng Gunung Pesagi itulah diyakini sebagai pusat Kerajaan Sekala Beghak yang menjadi pula asal usul suku bangsa Lampung.
Pengelana Tiongkok, I Tsing, pernah menyinggahi tempat ini, dan ia menyebut daerah ini sebagai “To Lang Pohwang”. Kata To Lang Pohwang berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak ampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.
Sekala Beghak (biasa ditulis Skala Brak), adalah kawasan yang sampai kini dapat disaksikan warisan peradabannya. Kawasan ini boleh dibilang kawasan yang “sudah hidup” sejak masa pra-sejarah. Batu-batu menhir mensitus dan tersebar di sejumlah titik di Lampung Barat. Bukti, ada tanda kehidupan menyejarah.

Sebuah batu prasasti di Bunuk Tenuar, Liwa berangka tahun 966 Saka atau tahun 1074 Masehi, menunjukkan ada jejak Hindu di kawasan tersebut. Bahkan di tengah rimba ditemukan bekas parit dan jalan Zaman Hindu. Ada lagi disebut-sebut bahwa Kenali yang dikenal sekarang sebagai ibukota Kecamatan Belunguh, adalah bekas kerajaan bernama “Kendali” dengan “Raja Sapalananlinda” sebagaimana disebut dalam “Kitab Tiongkok Kuno”. Kata “Sapalananlinda” oleh L.C. Westenenk ditafsir sebagai berasal dari kata “Sribaginda” dalam pengucapan dan telinga orang Cina. Jadi bukan nama orang tapi gelar penyebutan. Buku itu konon juga menyebut, bahwa Kendali itu berada di antara Jawa dan Siam-Kamboja. Kitab itu, menyebut angka tahun antara 454 – 464 Masehi. Kitab ini telah disalin ke dalam bahasa Inggris oleh Groenevelt (Wikipedia Indonesi, 2007). Meski belum seluruhnya terbaca, namun dapat disimpulkan: di situ tercatat suatu peradaban panjang. Suatu kawasan tua yang mencatatkan diri dalam sejarah umat manusia. Di wilayah ini pula pernah berdiri sebuah kerajaan. Ada yang menyebut kerajaan tersebut adalah Kerajaan Tulang Bawang, namun bukti-bukti keberadaannya sulit ditemukan. Sedang keyakinan yang terus hidup dan dipertahankan masyarakat khususnya di Lampung Barat serta keturunan mereka yang tersebar hingga seluruh wilayah Sumatera Selatan, menyebutkan Kerajaan Skala Beghak. Pendapat ini juga disokong oleh keberadaan para raja yang bergelar Sai Batin, hingga bukti-bukti bangunan dan alat-alat kebesaran kerajaan, upacara dan seni tradisi yang masih terjaga. Masih banyak bukti lain, namun perlu pembahasan terpisah.
Kalau membaca peta Propinsi Lampung sekarang, kisaran lokasi pusat Sekala Beghak berada di hampir seluruh wilayah Kabupaten Lampung Barat, sebagian Kecamatan Banding Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu, Propinsi Sumatera Selatan. “Pusat kerajaan” meliputi daerah pegunungan di lereng Gunung Pesagi di daerah Liwa, seputar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau dan Kecamatan Balik Bukit.
Sebagai kesatuan politik Kerajaan Sekala Beghak telah berakhir. Tetapi, sebagai kesatuan budaya (cultural based) keber¬adaannya turun temurun tewarisi melalui sejarah panjang yang menggurat kuat dan terbaca makna-maknanya hingga saat ini. Sekala Beghak dalam gelaran peta Tanah Lampung, pastilah tertoreh warna tegas, termasuk sebaran pengaruh kebudayaannya sampai saat ini.
Tata kehidupan berbasis adat tradisi Sekala Beghak juga masih dipertahankan dan dikembangkan. Terutama, Sekala Beghak setelah dalam pengaruh “Empat Umpu” penyebar agama Islam dan lahirnya masyarakat adat Sai Batin. Adat dan tradisi terus diacu dalam tata hidup keseharian masyarakat pendukungnya dan dapat menjadi salah satu sumber inspirasi dan motivasi pengembangan nilai budaya bangsa.
Hasil pembacaan atas segala yang ada dalam masyarakat berkebudayaan Sai Batin di Lampung, memperlihatkan kedudukan dan posisi penting Sekala Beghak sebagai satuan peradaban yang lengkap dan terwariskan. Keberadaan Sekala Beghak tampak sangat benderang dalam peta kebudayaan Sai Batin, sebagai satu tiang sangga utama pembangun masyarakat Lampung. Bahkan, telah diakui, Sekala Beghak sebagai cikal bakal atau asal muasal tertua leluhur “orang Lampung”. Bahkan keberadaan Skala Beghak, berada dalam kisaran waktu strategis perubahan peradaban besar di Nusantara, dari Hindu ke Islam.
Bukti kemashuran Sekala Beghak dirunut melalui penuturan lisan turun-temurun dalam wewarah, tambo, dan dalung yang mempertegas keberadaan Lampung dalam peta peradaban dan kebudayaan Nusantara. Kata Lampung itu sendiri banyak yang menyebut berasal dari kata “anjak lampung” atau “yang berasal dari ketinggian”. Pernyataan itu menunjukkan bahwa “orang Lampung” berasal dari lereng gunung (tempat yang tinggi), yang dalam hal ini Gunung Pesagi. Pendapat yang sama juga ditemukan dalam kronik perjalanan I Tsing. Disebutkan kisah pengelana dari Tiongkok, I Tsing (635-713). Seorang bhiksu yang berkelana dari Tiongkok (masa Dinasti Tang) ke India, dan kembali lagi ke Tiongkok. Ia tinggal di Kuil Xi Ming dan beberapa waktu pernah tingal di Chang’an. Ia menerjemahkan kitab agama Budha berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Cina.

Dalam perjalanannya itu, kronik menulis I Tsing singgah di Sriwijaya pada tahun 671. Ia mengunjungi pusat-pusat studi agama Budha di Sumatera, di antaranya selama dua bulan di Jambi dan setelah itu konon tinggal selama 10 tahun di Sriwijaya (685-695). Dalam perjalanannya itu, I Tsing dikabarkan menyebut nama suatu tempat dengan “To Lang Pohwang”. Kata “To Lang Pohwang” merupakan bahasa Hokian, bahasa yang digunakan I Tsing.

Ada yang menerjemahkan “To Lang Pohwang” sebagai Tulang Bawang. Salah satunya adalah Prof. Hilman Hadikusuma, ahli hukum adat dan budayawan Lampung tersebut memberi uraian perihal sejarah Lampung, khususnya dalam menafsir To Lang Pohwang sebagai Kerajaan Tulang Bawang. Disebut-sebut berada di sekitar Menggala, ibukota Kabupaten Tulang Bawang saat ini. Meski bekas-bekas atau artefaknya belum terlacak, garis silsilah raja dan istana, komunitas masyarakat pewaris tradisi, dan banyak hal lagi yang masih tidak bisa ditemukan. Tidak hanya dari sudut pandang semantis untuk memaknai kata “To Lang Pohwang”, namun perlu pula didampingi kajian sosiologis dan arkeologis yang lebih mendalam.
Kata “To Lang Pohwang” berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak lampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.Merujuk pada dua pendapat itu, maka penunjukan “orang atas” mengarah pada Suku Tumi yang tinggal di lereng Gunung Pesagi di Lampung Barat. Mereka inilah cikal-bakal Kerajaan Sekala Beghak. Kerajaan ini di kemudian hari ditundukkan oleh para penakluk, mujahid dan pendakwah Islam yang masuk ke Sekala Beghak dari Samudera Pasai melalui Pagaruyung Sumatera Barat. Di bawah Ratu Mumelar Paksi bersama putranya Ratu Ngegalang Paksi, disertai juga para Umpu, empat cucu Ratu Mumelar Paski. Mereka masuk untuk kemudian menguasai kawasan tersebut setelah menundukkan Suku Tumi. Para Umpu, keempat putra Ratu Ngegalang Paksi itulah yang kemudian melahirkan Paksi Pak Sekala Beghak dengan segala kebudayaannya, berkembang dan beranak pinak untuk kemudian menyebar ke seluruh Lampung dan sejumlah daerah. Karena kerajaan Sekala Beghak lama (animisme/dinamisme) telah dikalahkan dan dikuasai sepenuhnya oleh keempat Umpu keturunan Ratu Ngegalang Paksi, maka kemudian adat-istiadat dan kebudayaan yang berkembang dan dipertahankan hingga kini merupakan peninggalan Kerajaan Sekala Beghak Islam.
Dalam tambo-tambo ( tambo tambo terdahulu, disalin dari dalung (tarikh yang ditulis pada tembaga/kuningan), tanduk kerbau dan kitab kulit kayu ) dan wewarah, “Empat Umpu” ( Umpu Belunguh; Umpu Nyekhupa, dan Umpu Pernong; Umpu Bejalan Diway) banyak disebut memiliki peran sentral dalam membangun masyarakat adat Sai Batin, Paksi Pak Sekala Beghak. Pada periode selanjutnya, penyebaran orang-orang Sekala Beghak ini dapat dirunut dari kisah-kisah tentang kepergian mereka melalui sungai-sungai.
Bahkan, sebagian orang-orang Komering pun mengaku sebagai keturunan Sekala Beghak. Mereka diperkirakan keturunan Pasukan Margasana yang dikirim Kerajaan Sekala Beghak ke Komering untuk menghadang serangan sisa-sia prajurit Kerajaan Sriwijaya yang telah runtuh sebelumnya. Seperti halnya keberadaan Suku Ranau sekarang, diakui juga berasal dari Sekala Beghak, Lampung Barat. Di sekitar Danau Ranau di Banding Agung, Ogan Komering Ulu itu semula dihuni Suku Abung yang setelah kedatangan orang-orang Sekala Beghak pada abad ke-15 mereka pindah ke Lampung Tengah.
Seperti dikutip Harian KOMPAS, (11 Desember 2006:36), pada abad 15 datang empat kelompok masyarakat yang menduduki sekitar Danau Ranau. Di sebelah barat danau dihuni orang-orang yang datang dari Pagaruyung Sumatera Barat dipimpin Dipati Alam Padang. Sementara itu, tiga kelompok lainnya berasal dari Sekala Beghak. Tiga kelompok orang-orang Sekala Beghak itu dipimpin Raja Singa Jukhu (dari Kepaksian Bejalan Diway), menempati sisi timur danau. Di sisi timur danau pula, kelompok yang dipimpin Pangeran Liang Batu dan Pahlawan Sawangan (berasal dari Kepaksian Nyekhupa) menempat. Sementara kelompok yang dipimpin Umpu Sijadi Helau menempati sisi utara danau. Empu Sijadi Helau yang disebut-sebut itu bukan Umpu Jadi putra Ratu Buay Pernong, yang menjadi pewaris tahta Buay Pernong. Kemungkinan besar Umpu Sijadi di daerah Ranau tersebut adalah keturunan Kepaksian Pernong yang meninggalkan Kepaksian dan mendirikan negeri baru di Tenumbang kemudian menjadi Marga Tenumbang.
Ketiga kelompok dari Sekala Beghak ini kemudian berbaur dan menempati kawasan Banding Agung, Pematang Ribu, dan Warkuk. Sampai sekarang banyak orang Banding Agung mengaku keturunan Paksi Pak Sekala Beghak. Di samping itu, ada kisah-kisah perpindahan orang Sekala Beghak, sebagaimana ditulis dalam Wikipedia (7/3/07: 04.02), yang dipimpin Pangeran Tongkok Podang, Puyan Rakian, Puyang Nayan Sakti, Puyang Naga Berisang, Ratu Pikulun Siba, Adipati Raja Ngandum dan sebagainya. Bahkan, daerah Cikoneng di Banten ada daerah yang diberikan kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kepaksian Belunguh atas jasa-jasanya, dan banyak orang Sekala Beghak yang migrasi ke sana atau sebaliknya.
Kisah-kisah ini memperkuat suatu kenyataan bahwa Sekala Beghak tidak hanya sebagai sumber muasal secara geografis, melainkan juga sumber kultur masyarakat. Sekala Beghak adalah hulu suatu kebudayaan masyarakat. Dari Sekala Beghak ini juga lahir huruf Lampung yaitu Kaganga. Bagi sebuah kebudayaan, memiliki bahasa dan aksara sendiri merupakan bukti kebesaran masa lalu kebudayaan tersebut. Di Indonesia hanya sedikit kebudayaan yang memiliki aksara sendiri, yaitu Batak, Lampung (Sumatera Selatan), Jawa, Sunda, Bali, dan Bugis. Dan kebudayaan yang memiliki aksara sendiri dapat dikategorikan sebagai kebudayaan unggul. Karena bahasa merupakan alat komunikasi sekaligus simbol kemajuan peradaban.
Semua aksara Nusantara tersebut berasal dari bahasa Palava, yang berinduk pada bahasa Brahmi di India. Bahasa Palava digunakan di India dan Asia Tenggara. Di Nusantara bahasa ini mengalami penyebaran dan pengembangan, bermula dari bahasa Kawi, sebagai induk bahasa Nusantara. Dari bahasa Kawi menjadi bahasa : Jawa (Hanacaraka), Bali, Surat Batak, Lampung/Sumatera Selatan (Kaganga), dan Bugis.
Dari Kerajaan Sekala Beghak yang telah memiliki unsur-unsur “kebudayaan lengkap” ini pulalah “ideologi” Sai Batin dilahirkan dan disebarluaskan. Sampai saat ini, masih banyak yang bisa dibaca dari jejak-jejak yang tertinggal. Baik dari jejak fisik maupun jejak yang tidak kasat mata. Dari legenda, seni budaya, adat tata cara, bahasa lisan tulisan, artefak benda peninggalan, hingga falsafah hidup masih ada runut rujukannya. Dari Sekala Beghak itu di kemudian hari pengaruh budaya dan peradabannya berkembang dan berpengaruh luas ke seluruh Lampung bahkan sampai ke Komering di Sumatera Selatan sekarang. Tidak terhitung kemudian “pendukung budaya”-nya yang tersebar di seluruh Indonesia pada masa kini.

Perpindahan Warga negeri sekala brak :

( bisa diliha juga di : http://aldrinsyah.multiply.com/journal/item/79 )


Seperti yang telah diuraikan sebelumnya semua suku bangsa Lampung, baik yang berada di daerah Lampung, Palembang, dan Pantai Banten berpengakuan berasal dari Sekala Brak. Perpindahan Warga Negeri Sekala Brak ini bukannya sekaligus melainkan bertahap dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh beberapa peristiwa penting didalam sejarah seperti:
  1. Ketika suku bangsa Tumi yang mendiami Sekala Brak terusir dan Skala Brak jatuh ketangan Paksi Pak Sekala Brak, hingga mereka menyebar kedaerah lain.
  2. Perselisihan dan silang sengketa dikalangan keluarga yang mengakibatkan satu fihak meninggalkan Sekala Brak untuk mencari penghidupan ditempat lain.
  3. Adanya bencana alam berupa gempa bumi yang memaksa sebagian Warga Negeri Sekala Brak untuk berpindah dan mencari penghidupan yang baru.
  4. Adanya hubungan yang erat antara Kesultanan Banten dan Kebuayan Belunguh -Kenali, dimana dengan sengaja ditinggalkan disepanjang jalan beberapa orang suami istri untuk meluaskan daerah dan memudahkan perjalanan pulang pergi ke Banten. Sehingga berabad kemudian ditempat itu berdiri Pekon Pekon bahkan banyak yang sudah menjadi Marga. Hubungan inilah yang merupakan asal dari Cikoneng Pak Pekon di Pantai Banten.
  5. Perpindahan juga terjadi disebabkan peraturan adat yang mengikat yang menetapkan semua hak hak adat jatuh atau diwarisi oleh Putera Tertua, sehingga anak anak yang muda dipastikan tidak sepenuhnya memiliki hak apalagi kedudukan tertentu didalam adat. Dengan cara memilih untuk pindah kedaerah yang baru maka dapat dipastikan mereka memiliki kedudukan dan tingkatan didalam adat yang mereka bentuk sendiri ditempat yang baru.
Perpindahan penduduk dari Sekala Brak ini sebagian mengikuti aliran Way Komring yang dikepalai oleh Pangeran Tongkok Podang, untuk seterusnya beranak pinak dan mendirikan Pekon atau Negeri. Kesatuan dari Pekon Pekon ini kemudian menjadi Marga Atau Buay yang diperintah oleh seorang Raja atau Saibatin didaerah Komring –Palembang. Sebagian kelompok lagi pergi kearah Muara Dua, kemudian menuju keselatan menyusuri aliran Way Umpu hingga sampai di Bumi Agung. Kelompok ini terus berkembang dan kemudian dikenal dengan Lampung Daya atau Lampung Komring yang menempati daerah Marta Pura dan Muara Dua di Komring Ulu, serta daerah Kayu Agung dan Tanjung Raja atau Komring Ilir.
Kelompok yang lain yang dipimpin oleh Puyang Rakian dan Puyang Nayan Sakti menuju ke Pesisir Krui dan menempati Pesisir Krui mulai dari Bandar Agung di selatan pesisir hingga Pugung Tampak dan Pulau Pisang di utara. Kelompok yang dipimpin oleh Puyang Naga Berisang dan Ratu Piekulun Siba menyusuri Way Kanan menuju ke Pakuan Ratu, Blambangan Umpu dan Sungkai Bunga Mayang di barat laut Lampung untuk meneruskan jurai dan keturunannya hingga meliputi sebagian utara dataran Lampung.
Adipati Raja Ngandum memimpin kelompok yang menuju ke Pesisir Selatan Lampung Mengikuti aliran Way Semangka hingga kehilirnnya di Kubang Brak. Dari Kubang Brak sebagian rombongan ini terus menuju kearah Kota Agung, Talang Padang, Way Lima hingga ke selatan Lampung di Teluk Betung, Kalianda dan Labuhan Maringgai. Daerah Pantai Banten yang merupakan daerah Cikoneng Pak Pekon adalah wilayah yang diberikan sebagai hadiah kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kenali -Buay Belunguh setelah menumpas kerusuhan yang diakibatkan oleh Si Buyuh.
Sebagian lagi yang dikepalai oleh Menang Pemuka yang bergelar Ratu Di Puncak menyusuri sepanjang Way Rarem, Way Tulang Bawang dan Way Sekampung. Menang Pemuka atau Ratu Di Puncak memiliki tiga orang istri, istri yang pertama. berputera Nunyai, dari istri kedua memiliki dua orang anak yaitu seorang putera yang diberi nama Unyi dan seorang puteri yang bernama Nuban, sedangkan dari istri ketiga yang berasal dari Minangkabau memiliki seorang putera yang bernama Bettan Subing. Jurai Ratu Di Puncak inilah yang menurunkan orang Abung dan Tulang Bawang.



2. ASAL MUASAL ORANG KOMERING

Bandar Lampung, 12 Mei 2009 / Oleh : JAMA’UDDIN
Suku Komering adalah satu klan dari Suku Lampung yang berasal dari Kepaksian Sekala Brak yang telah lama bermigrasi ke dataran Sumatera Selatan pada sekitar abad ke-7 dan telah menjadi beberapa Kebuayan atau Marga. Nama Komering diambil dari nama Way atau Sungai di dataran Sumatera Selatan yang menandai daerah kekuasaan Komering.Sebagaimana juga ditulis Zawawi Kamil (Menggali Babad & Sedjarah Lampung) disebutkan dalam sajak dialek Komering/Minanga: "Adat lembaga sai ti pakaisa buasal jak Belasa Kapampang, Sajaman rik tanoh pagaruyung pemerintah bunda kandung, Cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, Sangon kok turun temurun jak ninik puyang paija, Cambai urai ti usung dilom adat pusako" Terjemahannya berarti "Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang, Sezaman dengan ranah pagaruyung pemerintah bundo kandung di Minang Kabau, Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Berak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa". ( Wikipedia )

Dalam kesempatan ini, penulis menyempatkan diri untuk membuat artikel yang berjudul “Suku Komering adalah Orang Lampung Juga”. Hal yang mendasari penulis membuat artikel ini adalah di karena ada pandangan dari sebagian masyarakat Komering (Sumatera Selatan) yang tidak mengaku sebagai bagian dari masyarakat Lampung. Hal tersebut perlu dikaji dengan bukti sejarah mengenai asal-usul dan perpindahan suku Komering, terutama ke Lampung.
Untuk lebih jelasnya mengenai asal-usul dan perpindahan suku Komering (dikutip dari Wacana Nusantara : Perjalanan Komering di Lampung) akan dijelaskan sebagai berikut :


1. Asal-Usul Tujuh Kepuhyangan
Pada suatu ketika bergeraklah sekelompok besar turun dari dataran tinggi Gunung Pesagi menyusuri sungai dengan segala cara seperti dengan rakit bambu, dan lain-lain. Menyusuri Sungai Komering menuju muara. Menyusuri atau mengikuti dalam dialek Komering lama adalah Samanda. Kelompok pertama ini kita kenal kemudian dengan nama Samandaway dari kata Samanda-Di-Way berarti mengikuti atau menyusuri sungai.
Pada artikel yang berjudul Kebesaran Sriwijaya yang Tak Tersisa -The Rise of Sriwijaya Empire- (Komentar Agung Arlan), disebutkan bahwa Kepuhyangan Samandaway yang merupakan kepuhyangan tertua komering menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Sriwijaya dengan Pu Hyang Jaya Naga (Sri Jaya Naga) sebagai Raja Sriwijaya pertama yang berkedudukan di daerah dekat Gunung Seminung dan kemudian berpindah ke Minanga (Setelah itu Pusat Ibu Kota berpindah ke Palembang, dan yang terakhir ke Jambi pada beberapa kurun masa Kerajaan Sriwijaya).

Kelompok ini akhirnya sampai di muara (Minanga) dan kemudian berpencar. Mereka mencari tempat-tempat strategis dan mendirikan tiga kepuhyangan. Kepuhyangan pertama menempati pangkal teluk yang agak membukit yang kini dikenal dengan nama Gunung Batu. Mereka berada di bawah pimpinan Pu Hyang Ratu Sabibul. Kepuhyangan kedua menempati suatu dataran rendah yang kemudian dinamakan Maluway di bawah pimpinan Pu Hyang Kaipatih Kandil. Kepuhyangan ketiga menempati muara dalam suatu teluk di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Ratu Damang Bing. Di tempat ini kemudian dikenal dengan nama Minanga.
Tak lama setelah rombongan pertama, timbul gerakan penyebaran rumpun Skala Brak ini. Menyusul pula gerakan penyebaran kedua yang seterusnya mendirikan kepuhyangan keempat. Kepuhyangan keempat menemukan suatu padang rumput yang luas kemudian menempatinya. Mereka di bawah pimpinan Pu Hyang Umpu Sipadang. Pekerjaan mereka membuka padang ini disebut Madang dan kemudian dijadikan nama Kepuhyangan Madang. Tempat pertama yang mereka duduki dinamakan Gunung Terang.
Kepuhyangan kelima di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Adipati yang konon kabarnya suka membawa peliung. Dari kegemarannya ini dinamakan pada nama kepuhyangan mereka menjadi “Pemuka Peliung”. Dari kepuhyangan ini kelak kemudian hari setelah Perang Abung menyebar mendirikan kepuhyangan baru, yaitu Kepuhyangan Banton oleh Pu Hyang Ratu Penghulu.
Kepuhyangan Pakuon oleh Puhyang itu dan Kepuhyangan Pulau Negara oleh Pu Hyang Umpu Ratu. Kepuhyangan Keenam di bawah pimpinan Pu Hyang Jati Keramat. Istrinya, menurut kepercayaan setempat, berasal dari atau keluar dari Bunga Mayang Pinang. Kepercayaan ini membekas dan diabadikan pada nama kepuhyangan mereka, yaitu Bunga Mayang (kelak kemudian hari, inilah cikal bakal Lampung Sungkai).
Kepuhyangan ketujuh di bawah pimpinan Pu Hyang Sibalakuang. Mereka pada mulanya menempatkan diri di daerah Mahanggin. Ada yang mengatakan kepuhyangan daya (dinamis/ulet). Kelak kemudian hari kepuhyangan ini menyebar mendirikan cabang-cabang di daerah sekitarnya seperti Sandang, Rawan, Rujung, Kiti, Lengkayap, dan lain-lain. Nama-nama marga atau kepuhyangan yang berasal dari rumpun kepuhyangan ini banyak menggunakan nama Bhu-Way (buway).
Nama kebhuwayan ini dibawa orang-orang dari Skala Brak baru generasi Paksi Pak. Ketujuh kepuhyangan yang mendiami lembah sungai yang kini dinamakan “Komering”. Masing-masing pada mulanya berdiri sendiri dengan pemerintahan sendiri. Di bawah seorang sesepuh yang dipanggil pu hyang. Mereka menguasai tanah dan air yang mereka tempati dengan batas-batas yang disepakati.
Ditinjau dari tujuan gerakan penyebaran (mempertahankan kelanjutan hidup kelompok untuk mencari tempat yang memberi jaminan kehidupan) serta cara mencari tempat yang strategis dalam mengikuti aliran sungai (samanda-diway), tampaknya Kepuhyangan Samandaway adalah yang pertama dan tertua. Orang-orang Samandaway menempati muara sampai di ujung tanjung (Gunung Batu).


2. Penyebaran Suku Komering Ke Lampung
Tak diragukan lagi, banyak orang Komering yang keluar dari daerah asal mereka di sepanjang aliran Way Komering untuk mencari penghidupan baru pindah ke wilayah yang dihuni etnis Lampung lain. Mereka membuka umbul maupun kampung (tiuh). Perpindahan kali pertama mungkin oleh marga Bunga Mayang yang kelak kemudian hari menjadi Lampung Sungkai/Bunga Mayang.
Seperti diutarakan Suntan Baginda Dulu (Lampung Ragom, 1997): “Kelompok Lampung Sungkai asal nenek moyang mereka adalah orang Komering di tahun 1800 M pindah dari Komering Bunga Mayang menyusur Way Sungkai lalu minta bagian tanah permukiman kepada tetua Abung Buway Nunyai pada tahun 1818 s.d. 1834 M kenyataan kemudian hari mereka maju. Mampu begawi menyembelih kerbau 64 ekor dan dibagi ke seluruh Kebuayan Abung.”
Oleh Abung, Sungkai dinyatakan sebagai Lampung Pepadun dan tanah yang sudah diserahkan Buay Nunyai mutlak menjadi milik mereka. Kemungkinan daerah sungkai yang pertama kali adalah Negara Tulang Bawang membawa nama kampung/marga Negeri Tulang Bawang asal mereka di Komering. Dari sini mereka kemudian menyebar ke Sungkai Utara, Sungkai Selatan, Sungkai Jaya, dan sebagainya. Di daerah Sungkai Utara, seperti diceritakan Tjik Agus (64) pernah menjabat kacabdin di daerah ini, banyak penduduk yang berasal dari Komering Kotanegara. Mereka adalah generasi keempat sampai kelima yang sudah menetap di sana.
Perpindahan berikutnya, dilakukan Kebuayan Semendaway, khususnya Minanga. Mereka menyebar ke Kasui, Bukit Kemuning, Napal Belah/Pulau Panggung, Bunglai, Cempaka (Sungkai Jaya) di Lampung Utara. Ke Sukadana Lampung Timur dekat Negeri Tuho. Juga masuk ke Pagelaran, Tanggamus.
Dua Kampung Komering di Lampung Tengah (Komering Agung/Putih), menurut pengakuan mereka, berasal dari Komering. Nenek moyang mereka berbaur dengan etnis Abung di Lampung-Tengah. Akan tetapi, mereka kurang mengetahui asal kebuayan nenek moyangnya (mungkin orang yang penulis temui kebanyakan usia muda <50 tahun). Mereka menyebut Komering yang di Palembang sebagai "nyapah" (terendam). Kemungkinan mereka juga berasal dari Minanga, karena kampung ini yang paling sering terendam air. Daerah Suka Banjar (Tiuh Gedung Komering, Negeri Sakti) Gedongtataan seperti diceritakan Herry Asnawi (56) dan Komaruzaman (70) (pensiunan BPN).
Penduduk di sana mengakui mereka berasal dari Komering (Dumanis) walaupun dialek mereka sudah tercampur dengan dialek Pubian. Tidak menutup kemungkinan dari daerah lain di Komering seperti Betung dan sebagainya, yang turut menyebar masuk daerah Lampung lain.
Melihat perjalanan dan penyebaran yang cukup panjang, peran dalam menyumbang etnis Lampung (Sungkai), serta menambah kebuayan Abung (Buay Nyerupa), tak ada salahnya kita mengetahui tentang dialek, tulisan, marga, maupun kepuhyangan yang ada di daerah Komering


3. Kesimpulan
Melihat asal-usul suku Komering yang awal mula berasal dari Skala Brak lalu menyebar ke daerah dataran Way Komering dan kemudian sebagian menyebar ke Lampung, dipastikan “suku komering adalah orang Lampung juga”. Dimana bahasa, huruf tulisan dan adat istiadat yang digunakan sama dengan orang Lampung.
Orang Komering melakukan perpindahan ke Lampung Tahun 1800-an, masuk ke daerah Abung Kebuayan Nunyai dan menetap disana menurunkan Lampung Sungkai (Bunga Mayang).
Kebuayan Semendaway (Kebuayan Tertua Komering) dari Minanga melakukan penyebaran ke Kasui, Bukit Kemuning, Napal Belah (Pulau Panggung), Bunglai, Cempaka – Sungkai Jaya (Lampung Utara), Sukadana (Lampung Timur dekat Negeri Tuho) dan Pagelaran (Tanggamus).
Selain itu juga mendirikan dua kampung yaitu Komering Agung/Putih (Lampung Tengah) dan Tiuh Gedung Komering – Negeri Sakti (Gedongtataan).
Pada artikel “Sejarah Keratuan Lampung” yang telah terbit sebelumnya, di daerah Komering khususnya di Martapura dulu telah berdiri Keratuan Pemanggilan. Keturunan Keratuan Pemanggilan menyebar ke daerah pesisir Barat Krui, Teluk Semaka, atau Teluk Lampung. Hal ini menjadi bukti bahwa sejak dulu masyarakat Komering yang tinggal di sekitar Martapura telah melakukan perpindahan ke berbagai daerah di Lampung (Pra atau Sejaman dengan Kepaksian Pak Skala Brak Abad ke-14) sebelum Sungkai Bunga Mayang pindah ke Lampung tahun 1800-an. Dari bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa orang Komering (Tua) yang telah melakukan perpindahan ke Lampung pada Pra atau Sejaman Kepaksian Pak menurunkan Suku Lampung Pesisir Pemanggilan (Lampung Pesesekh di Cukuh Balak, Kota Agung, Talang Padang, Kedondong dan Way Lima). Maka tidak dapat diragukan lagi bahwa “Suku Komering adalah Orang Lampung juga”.


===============================================================

3. TENTANG CIKONENG PAK PEKON

( Sumber : http://aldrinsyah.multiply.com/journal/item/79 )


Daerah Pantai Banten yang merupakan daerah Cikoneng Pak Pekon adalah wilayah yang diberikan sebagai hadiah kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kenali -Buay Belunguh setelah menumpas kerusuhan yang diakibatkan oleh Si Buyuh. dengan sebilah keris " senantan rangun" kepala si buyuh bisa diceraikan dengan badannya, keris beserta kepala sibuyuh disimpan oleh umpun belunguh hingga sekarang. ketika sultan banten hendak memenuhi janji sayembaranya yaitu pemberian separo dari kerajaan banten ternyata ditolak karena umpu junjungan sakti berterus terang ( dalam penyamarannya melakukan siba / In-cognitto ) bahwa kedudukannya adalah di sumatera. sebagai balas budi, sultan banten mengangkat beliau sebagai keluarga dan keturunannya dianggap sebagai bangsawan. disamping itu juga sultan banten menyerahkan satu sarung keris ( terapang) yang panjangnya dua hasta, terbuat dari emas berukir, sedangkan hulu balang yang menyertai Umpu junjungan sakti mendapat seutas tali, yang disebut "tali datu".

Tulang Bawang menurut cerita adalah terdiri dari 2 yaitu tulang/talang di komering dan bawang di pesagi, kedua2nya merupakan penyebaran awal masyarakat lampung yang bersala dari sekala berak kuno (SAKALA BAKA) di pesagi.. namun seiring berjalannya waktu.. keturunan talang mengikuti sungai komering (kemungkinan mendirikan sriwijaya), dan bawang ke pesisir barat krui dan selatan sampai kalianda-jabung (kemungkinan menurunkan kerajaan seputih/Yeh-Poti)..
Sedangkan dipedalaman lampung belum ada penghuninya (rimba).. Maka bisa dilihat peninggalan di daerah talang padang, pugung raharjo dll..

Baru pada penyebaran kedua terjadi setelah keturunan lampung asli bercampur dengan pendatang dari pagaruyung yang menyebarkan islam baru penyebarannya kedaerah2 pedalaman lampung sekarang, dan setelah itu baru berdiri adat pepadun (tahun 1700-an).. Sedangkan adat saibatin sudah sejak dulu dari nenek moyang di sekala berak sebelum islam..

Sedangkan pasukaan 40 orang dari lampung tersebut selain diambil dari skala berak, diambil dari keturunan lampung yang ada di pesisir selatan dan daerah tulang bawang yang keturunan komering.. Jadi orang lampung dulu tidak keberatan dia disebut dari sekala berak atau tulang bawang, ya asalnya nenek moyang mereka dari sekala berak juga (adat saibatin = sai-indra/sailendra = satu raja), sebelum adat pepadun berdiri..

WALLOHUA'LAM

71 comments :

  1. lihat foto situs purbakala di sekala brak : http://stories.reynoldsumayku.com/?p=1172

    ReplyDelete
  2. Duluan mana Paksi Pak Sekala Brak di Liwa dengan Paksi Pak Tungkok Pedang di Krui...? Sejarah kita perlu di runut kembali seperti sejarah di pulau jawa.. jangan loncat sana loncat sini kayak kodok.. ujungnya nyemplung di kali...

    ReplyDelete
    Replies
    1. asliamun sina,ram sebagai jelmalampung api salah na kan ngebudaya ko adat ram sayan sebagai mana nenek moyang ram saitidahuluko ho ngebudaya ko na munih.kita sebagai anak lampung wajib melestari kan budaya jagan cuman terpesona tau terkesan dg kesenian atau budaya dari daerah lain...

      Delete
    2. Paksi Pak Tungkok Pedang itu kemungkinan tidak pernah ada,, yang ada Penjelasannya adalah Suku Tumi yang dipimpin oleh seorang ratu.
      Karena munculnya sebutan Paksi hanyalah ketika Paksi Pak Berdiri (zaman islam ) setelah mengalahkan satu satunya ratu adigdaya " ratu Sekeghumong" pemipin terakhir kerajaan sekala brak kuno,,
      dan Cerita2 warahan tentang kepuyangan diatas masih sangat diragukan,,

      Delete
  3. silahkan terangkan saja analisis yang menurut anda benar, dengan senang hati saya membacanya,,,kan sama2 sharing,, tabik,,,

    dari krui??
    menurut pengetahuan saya, warahan/ cerita yg ditulis dari pak marwansyah warganegara,,
    ...Dari daerah Ranau ini keturunan Naga Barisang dibawah pimpinan Poyang Sakti pindah ke Cinggiring Skala Brak. Poyang Sakti sewaktu pindah dari Ranau masih berusia remaja, sedangkan kedua orang tuanya Poyang Naga Jaya sudah tua dan dalam keadaan sakit.

    Di Skala Brak Poyang Sakti berjumpa dengan Poyang Serata Di Langik dan Poyang Kuasa. Rombongan Poyang Sakti sebagian menetap di tiyuh Canggu dengan pimpinan Poyang Sai Jadi Saktiyang lain menuju cinggiring dibawah pimpinan Poyang Sakti. Sewaktu perjalanan menuju ke Cinggiring disekitar tiyuh Batu Brak, Poyang Sakti berjumpa dengan Poyang Pandak Sakti yang dating dari daerah Muara Dua. Mereka berempat sepakat membentuk persekutuan “Paksi Pak Tukket Pedang” yang terdiri dari :

    1. Poyang Sakti (Buay Balam)
    2. Ppoyang Kuasa Buay Semenguk)
    3. Poyang Serata Di Langik (Buay Nuwat)
    4. Poyang Pandak Sakti (Suku Pak Ngepuluh Buay Aji)

    itu menurut beliau,, mungkin lebih mengisahka kehidupan sebelum kedatangan empat umpu yang menjadi cikal baka paksi pak sekala brak,,

    nggak ada yang loncat2 disini, tapi menjelaskan dari berbagai sumber,, dan kalu dari anda aca cerita tentang kehidupan sebelum kedatangan 4 umpu tersebut, boleh2 boleh saja,, Tabik,,

    ReplyDelete
  4. Jelas bahwa komering adalah orang lampung.dari bahasanya saja sudah berbahasa lampung dialek A skala bghak.

    MINANGA dalam bhsa skala bghaknya berasal dari kata BUMI MENANG Sinonimnya = Minang, Menang, Lambung,dunggak,lambang, datas, tekhatas, tekhuggak, dati, tinggil, Bawang, ucung yang artinya atas atau tinggi, Bhsa halus untuk menyebut daerah yang ktinggiannya lebih tinggi dari daerah di sekitarnya di skala bghak di sebut BUMI MENANG.

    Org skla bghak menyebut orang lampung Komering SAMINANGA artinya bersal dari satu bukit (dataran tinggi/Bumi menang gunung pesagi dan sekitarnya).

    PALEMBANG dalam bahasa skala bghak PELAMBANG (taruh di Bagian atas) = PELAMBUNG (Bagian atas) = BAWANG LIMBANG (Bukit/gunung yg terjal). Jadi dari kedua nama tersebut menunjukkan bahwa orang minanga dan palembang berasal dari dataran Tinggi (Skala Bghak) atau gunung.

    KOMERING dalam bhasa skala bghak adalah MEGHING = TEGHING = ULOK = ULOK MULANG yang artinya aliran air di sungai, laut atau rawa yang memutar seperti pusaran, jadi Komering adalah sungai yang mempunyai pusaran air biasanya di muara/muagha/hamagha di sebut MUAGHA UPANG atau TEGHING CAGHOM (pusaran air yg banyak berkumpul).

    SAMANDAWAI dalam bhasa skala bghak adalah SAMANDA = SEMENDO Artinya menyebrang. dalam adat perakawinan di skala bghak ada istilah bakas samanda artinya laki-laki yang ikut/menyeberang mengikuti jurai istrinya.
    WAI = Air = Kata Wai sering di guanakan untuk memberi nama daerah yang ada sungai, atau danau atau daerah yang memiliki sumber air untuk kepentingan umun seperti telaga dll. Jadi SAMANDAWAI orang2 yang menyeebrangi air, bisa lewat sungai bisa lewat danau.

    JALMA DAYA = JAMMA DAYA = orang kuat/orang yang Berani.inilah masyarakat pertama skla bghak yang menyebar ke daerah lain, adok atau julukan jalma daya di berikan karena merekalah yang paling pertama berani dan sanggup untuk bermigrasi ke daerah lain, maka tidak aneh jika mereka memberi nama PALEMBANG di tempat mereka bermukim, karena mereka ingat akan asalnya dari dataran tinggi(Skala Bghak).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Palembang berasal dari bahasa Melayu karena daerah ini memang dipengaruhi oleh budaya Melayu. Palembang berasal dari kata Lembang yang berarti air yang merembes, atau air yang menggenang. Arti kata ini bisa kita telaah dengan jelas bahwa Palembang memiliki 108 anak sungai. Sehingga, kehidupan masyarakat Palembang hampir tidak bisa lepas dari sungai.
      jadi.... kalo Pelembang asal kata dari pelambung yaaaa salah besar pak.. jangan asal deh.

      Delete
    2. lagi2 hipotesis, selmat berbagi saudara..
      tak ada yang harus menang atau kalah disini,,
      setiap manusia diperkenankan mengungkapkan apa yg ada dibenaknya,, tentu saja kembali keyakinan masing2,,

      salam kemuakhian,,

      Delete
    3. tapi saya pikir-pikir... ada kemungkinan besar asal usul srivijaya itu dari minanga komering... dengan melihat karakter orang komering yang keras dan nekat. karena karakter keras itu lah yg dibutuhkan dalam membangun tentara... perkiraan dapunta hyang dari minangkabau adalah upaya legitimasi politik saja mungkin mengingat kondisi kultur dan sosial politik minangkabau itu lebih mapan....

      Delete
  5. tentang KOMERING, BISA ANDA BUKA JUGA CATATAN INI --KLIK ini:
    Tapak Tilas Asal Usul Suku Daya Bandar OKU Khususnya & Bangsa Komering serumpunnya

    http://www.facebook.com/topic.php?uid=126418054915&topic=16473

    ReplyDelete
  6. bagai mana dengan ini ?
    http://agen004.16mb.com/index.php?option=com_content&view=article&id=111&Itemid=133
    pendapat anda????

    ReplyDelete
  7. wah bukti kalo pernah ada kapal nabi nuh singgah di gunung seminung itu apa ya?? hee,, ngeri denger ceritanya,, butuh penerangan lagi

    ReplyDelete
  8. saudara saliwa, anda jangan menulis artikel sejarah berdasarkan versi anda. sangat berbahaya jika dibaca oleh orang yang tidak tau sejarah.

    terlalu egois jika anda mengatakan orang komering adalah orang lampung juga sperti judul anda diatas.

    orang komering tdk pernah mengatakan orang lampung adalah orang komering juga, meski lbh lanyak judul artikel anda. sperti itu.

    pertanyaanya untuk apa anda mengarang2 sejarah, banayk orang yang anda rugikan. generasi2 muda kita, bangsa, bahkan dunia.


    ada baiknya anda banyk belajar lebih dalam lagi tentang asal muasal suku komering, yang erat hubungannnya dengan, minanga sbg ibu kota karajaan sriwijaya, kemudian berpindah ke palembang, dan berakhir di jambi.

    trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. ANONIM,, kalo menyampaikan pendapat pergunakan lah bahasa yang baik bung..

      SEJARAH DIATAS MEMANG BENAR ADANYA,BAHWA LAMPUNG KOMRING BRASAL DARI SKALA BRAK,ARTIKEL NYA TIDAK SALAH,CUMA ANDA KURANG MEMAHAMI SEJARAH TERSEBUT.

      BIAR ANDA LEBIH PUAS,SILAHKAN ANDA MENULIS ARTIKEL VERSI ANDA SENDIRI,YANG MENURUT ANDA LEBIH BENAR DAN TEPAT JANGAN CUMA BISANYA MENYALAHKAN ARTIKEL ORANG LAIN....

      GITU AJA KOK REMPONG TAMONG2... TABIK

      Delete
    2. tabik, benar sekali admin marga liwa, silahkan tulisan dibalas tulisan. dengan artikel yang lebih ilmiah kalo memang ada. selamat berbagi dibelantara dunia canggih seperti saat ini.

      Delete
    3. mungkin yg lebih tepatnya lagi adalah berasal dari sekala brak kuno sebelum paksi pak terbentuk. tabik

      Delete
    4. kamu coba memisahkan antara paksi pak dan sekala brak, memperlihatkan anda benar2 tak memahami paksi pak dan sekala bral secara utuh, dan hanya sepenggal, yah.. selamat mencari titik terang dalam alam pikir anda itu.

      Delete
    5. loh memang kenyataanya seperti itu, penyebaran penduduk ke daerah komering adalah pada masa skala brak kuno.
      maen2 ke komering makanya, ngobrol dengan pemuka2 adat disana.. jgn cuma jadi sejarawan basic internet doank !!
      kamu sok paham sekali... memang siapa sih kamu??? raja bukan, punya kedudukan adat apa sih kamu?????

      Delete
    6. hehe,, sabar kawan, adat disekala brak ga nafsu jadi raja, kami sadar ruang n kapasitas. jadi rakyat biasa pun cukup. belajar sejarah bukan berarti ingin jadi sejarawan. apalagi sejarawan internet seperti celotehan anda itu. lucu sekali anda , apa yg di share di blog ini sekadar penyampaian. klo anda punya sesuatu ya monggo buat juga. bukan sok faham, ini sekadar menyampaikan apa adanya. dari berbagai sumber. termasuk tua2 adat. ga dirubah2 sedikitpun. oke kawan.. tanda tanya mu itu menerangkan bagaimana sejatinya dirimu. hehee...

      orang bilang tu kalo ceret isinya susu ya dari moncong ceret ya keluar susu. tapi didalam ceret ada comberan yg yg keluar dari moncongnya adalah comboran pula. jadi jaga mulut ya kawan. hehe... kita sama2 belajar lagi. oke

      Delete
  9. iya sau daraku anonim ( tanpa nama ),
    ini bukan versi saya tapi menurut tulisan orang, tapi saya meyakininya demikian. silahkan terangkan saja dari mana orang2 minanga itu berasal, kalau bukan dari sekala brak juga,

    ReplyDelete
  10. Tolong kalo ada ulasan mengenai sungai selabung dan suku-suku disepanjang sungai selabung sampai muaradua...

    ReplyDelete
  11. memang benar ada nya begitu sedikit banyaknya.hanya ada sedikit tapi menjadi ganjalan besar saat kita tinjau ulang tentang kepaksian dan sairaja terakhir sebelum paksipak berdiri.kemanakah ia,kemanakah sisa suku kita yang ia bawa,adakah hubungan nya dengan suku batin di jambi atau yang lainnya.karena sudah jelas terang lebihimatahari tengah hari.paksipak adalah perskutuan yang sama tinggi,mungkin buay yang lain dituakan tapi dia bkn putra lelaki buay tumi yang paling berhak menyandang hak raja tanoh&hulun lampung.yang secara adat juga genologis yang syahmengklaim hal tsbt.

    ReplyDelete
  12. tak ada yang harus diklaim puakhiku, karena posisi semuanya sama, sama2 datang kesekala brak, suku tumi dipimpin oleh sang ratu, dan ratu dikalahkan oleh paksi, paksi yang meneruskan adat membentuk persekutuan adat, dan tinggal di tanoh bumi.

    ReplyDelete
  13. sikham jolma kumoring betung, yakin watt hubungan rik jolma lampung, makmungkin bahasa pacak goh goh amon makwat kolpah piwari. Tabik.....

    ReplyDelete
  14. Terimakasih puakhi Bayu Noviando, sangun kham ji puakhi, bahasa kham gegoh, pasti ni tuyuk tamong kham tumbai lamon kaitanni, sehingga bahasa kham dapok gegoh,, terimakasih atas komentarni, kik wat data lain silako sharing dija,, tabik,,,

    ReplyDelete
  15. yu, hahaha sangobok lagi ulang tahun niku yo hahaha, gohgoh njuk sikandua niku 29 nyak 27, Selamat ulang tahun, dang mak rajokimu nayah saburai burai, dijuk kasihatan, sukses

    ReplyDelete
  16. aminnn terimakasih puakhi bayu,, kekalau jejama kham munyaian daleh mekhawan,, di lom lindungani Tuhan,, aminnn

    ReplyDelete
  17. saya sangat tertarik dengan komentar ANONIM di atas yang menyebutkan palembang dari bahasa melayu.suku melayu palembang adalah melayu muda.sedangkan suku/ lampung dengan sub suku sub suku nya adalah melayu tua.lihatlah palembang itu dari kata apa dlm catatan catatan lama.yakni pulimbang.coba tanya dengan jolma kumoring...aguk pa yai(mau kemana bang)--aguk pulimbang pai(pergi kepalembang dulu).
    juga tentang polemik "orang lampung adalah koering juga atau orang komering adalah lampung juga"tidak ada yang salah dengan pernyataan tsb jika di letakkan pada jalur yang tepat.etnis lampung terdiri dari berbagai sub suku yang saling berinteraksi dan saling berbaur,dalam tanoh marga di tanoh lampung baik yang masuk prov lampung kini,sumsel,enclave"pemukiman" di bengkulu,enclave di cikoneng pak ppekon prov banten sejak jaman lama.yang jadi masalah jika kita menggenalisir nya secara tidak proporsional.suku komering ada di prov lampung benar ada nya.komering adalah lampung juga(sebagai suku)benar juga.karena etnis lampung adalah etnis utama sedangkan suku komering,krui,abung,sungkai,semaka,dst dsb adalah sub suku nya bahkan seperti ranau dan kayu aguang adalah nama marga2

    ReplyDelete
  18. Alahko akal kutti khambak masa lalu no..
    ngekalau kutti dapok marok sebabalak awak lawan puyang khamik kutti no..
    nyak melehot pai tahi ni naga berisang no kittu dapok jadi emas balak balai

    ReplyDelete
  19. saya mau tanya,
    saya pernah dengar kalo di Lampung (perbatasan Lampung) ada suatu daerah bernama Kampung Banten, itu lokasinya di mana ? dekat kota mana ? terimakasih ..

    ReplyDelete
  20. kalo boleh tau penyebaran rumpun sekala brak yang ke daerah muara dua itu ke daerah mana saja?

    ReplyDelete
  21. yg saya dengar oyek makananya dn saya suka oyek..

    ReplyDelete
  22. daya gedor gawoh uy dunia sa puaqi

    ReplyDelete
  23. Pagaruyung ada tiang empat ada rajanya, Rejang ada pak petulai ada rajanya... LAMPUNG ada paksinya, mana rajanya? Jawabnya : "kabur, diusir oleh paksi pak sekalaberak..?" lho gimana disebut kerajaan kalau rajanya diusir...? Wkwkwkwk... :p

    ReplyDelete
  24. lampung ada rajanya, baca saja sejarahnya, jika kurang berkenan, sampaikan secara baik dengan artikel atau keilmuan yg cukup. terimakasih.

    ( itu jawaban yg ada dalam pernyatan panjenengan diatas agak ngawur )

    ReplyDelete
  25. ini ada tulisan baru lagi, dari saudara kita silahkan cek link nya :

    http://www.saranainformasi.com/2013/07/24/meluruskan-stikma-keliru-terhadap-asal-usul-suku-komering-sumatera-selatan/

    ReplyDelete
  26. saya selaku keturunan dari komering Rasuan,tidak ada kah Sejarah tentang Rasuan....?

    ReplyDelete
  27. ada sumber yang lebih jelas nggak ya.. yang terpercaya.. soalnya klu di internet "orang lampung ditulis berasal dari orang komering dan sebaliknya orang komering berasal dari orang lampung" jadi bingung mana yang benar ?...

    ReplyDelete
  28. salah dan benar itu kesimpulan masing masing pribadi, ga ada yang harus dipaksakan, semoga kita bisa menelusurinya lebih lanjut,, belantara internet ini harus bisa kita menyikapinya, sebab tidak ada yg bs melarang untuk saling berbagi data. terimakasih

    ReplyDelete
  29. Kunjungi situs saya :
    http://rahasia-dibeber.blogspot.com/2013/09/video-yang-jarang-dicari-umum.html

    atau klik pada nama saya

    penting, kaharingan dan kristen dayak mengancam Bugis di topix

    ReplyDelete
  30. lihat ini :

    suku Tumi yang tinggal di lereng Gunung Pesagi di Lampung Barat. Mereka inilah cikal-bakal Kerajaan Sekala Beghak. Kerajaan ini di kemudian hari ditundukkan oleh para penakluk, mujahid dan pendakwah Islam yang masuk ke Sekala Beghak dari Samudera Pasai melalui Pagaruyung Sumatera Barat.

    jika ingin konsisten dengan tulisan anda maka seharusnya bukan orang lampung tapi orang tumi !

    sejarah harus dikaji berdasarkan bukti yang kuat seperti tulisan, prasasti dan sebagainya. tidak boleh berdasarkan cerita legenda, dongeng, atau cerita lisan karena rentan perbedaan tafsir.

    untuk penulis hendaknya anda menggali dulu asal muasal kata lampung berdasarkan bukti tertulis, jangan berdasarkan tafsir cerita. setelah itu baru anda dapat melanjutkan penelitian anda.

    bandingkan dengan kata komering, yang konsisten ada secara bukti tertulis sejak jauh sebelum kata lampung ada.

    kemudian jika istilah lampung hanya berdasarkan "dari atas" hal tersebut terlalu sempit jika ditafsirkan dari bukit, apalagi langsung merujuk skala brak.

    untuk anda ketahui hingga sekarang orang2 tua jika hendak ke sumatra selatan akan menggunakan istilah "haga cakak" atau mau naik. dan sebaliknya orang2 dari sumatra selatan (komering) jika ingin ke lampung selalu menggunakan istilah "haga rogoh" ayau mau turun. nah jika anda konsisten dengan istilah anjak lambung, maka kata2 diatas dapat juga ditafsirkan sebagai asal usul orang lampung.

    hal ini dapat didukung dengan data banyaknya "enclave" orang2 komering dilampung seperti di gunung sugih,pagelaran tanggamus, lampung utara, tulang bawang, jalan surabaya kedaton dan banyak lagi.

    namun kita tidak pernah menemukan enclave "yang disebut suku lampung" di sekitaran sumatra selatan.

    untuk anda ketahui salah satu tradisi orang komering adalah merantau sehingga jika anda konsisten dengan pola penyebaran sebagai asal muasal suatu suku, maka orang komering lebih memperlihatkan perilaku yang mendukung sebagai suku yang lebih dahulu ada.

    hendaknya kepada penulis memperhatikan timeline keberadaan suku2 dan marga2 di komering dan bandingkan istilah kata orang lampung mulai dipakai sejak kapan. (tentunya harus berdasarkan bukti tulisan bukan cerita rakyat".

    saya pribadi lebih memandang komering dan lampung sebagai suku yang berbeda dan memiliki banyak perbedaan meskipun terdapat kesamaan.

    jika merunut pada fakta sejarah, komering, bugis,batak, lampung dan beberapa suku lainnya merupakan suku2 dari melayu tua sehingga banyak persamaan sehingga tidak bijak jika lampung selalu mengklaim orang komering berasal dari lampung karena ada kesamaan apalagi hanya berdasarkan bukti cerita rakyat yang dapat dengan mudah dibantah.

    hendaknya PR bagi anda penulis, untuk membuktikan terlebih dahulu asal muasal yang pasti dari kata LAMPUNG karena itu jauh lebih mengena untuk mengetahui asal usul. karena menurut paparan tulisan anda hampir tidak ada koneksi antara sekala brak dan lampung.

    akanlah lebih baik jika anda menyatakan anda orang SKALA BRAK daripada Orang LAMPUNG karena istilah dan kata skla brak lebih dapat dipertanggung jawabkan secara sejarah daripada istilah Lampung.

    Salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tak perlu khawatir apapun saudara, ini bukan tulisan saya selaku admin blog ini, tulisan diatas hanyalah membagi ulang data2 dari teman2 yg beredar di internet. Untuk penelitian lebih dalam tentu harus dilakukan orang2 yg mumpuni.

      Delete
  31. Lepas dulu penutup kepalamu itu !
    Saliwa !

    ReplyDelete
    Replies
    1. isnyaAlloh saudara, sumonggo buka dulu penutup mukamu ( bahasa ariel : buka dulu topengmu ).. :) salam

      Delete
  32. Piil-Pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri)
    Juluk-Adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya)
    Nemui-Nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu)
    Nengah-Nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis)
    Sakai-Sambaian (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya)
    itulah sifat2 orang lampung, apakah ada sifat tersebut didalam diri orang komering??itu menurut saya pribadi, apabila ada!! bisa dikatakan orang lampung,kemudian tentang kerajaan tulangbawang , kerajaan itu semangkin dicari akan semangkin hilang!!trims wasswrwb!!!

    ReplyDelete
  33. terimakasih pencerahan dan perenungannya puari,, sejatinya manusia tidak hanya mewarisi peninggalan berupa barang ( ketika dia turun dari sekala brak ) tapi juga membawa NILAI- NILAI keluhuran. diantaranya apa yang disebutkan puari diatas, yang juga tercantum dalam kitab kuntara raja niti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hikam jelma sungkay Sukadana Asli,ninik puyang Hikam Gral ni RATU SEBUGUS KASIH...
      klu secara logika,orang komring itu berasal dari lampung,mengapa saya bilang demikian,karna bahasa komring Ada bahasa lampung & ada bahasa palembang.
      bayang kan apa bila anda merantau kesalah satu daerah'tidak mungkin anda membawa bahasa daerah secarah penuh,tentu nya kita campur juga dengan bahasa setempat.....Bukam begitu
      na ngapo kalin jadi mak itu,ni jinguk aku asli lampung,tapi aku pacak bahaso palembang'Mak itu Baek Kalian sudem bingung'mak mane kalau yang sulit.?
      jadi klu ada yg tidak terima orag komring itu asl dari lampung (terserah)
      Sudah untung untung orang lampung mau nganggap komring lampung,,
      karna komring itu nyapah.dan nyapah itu pakek cerek.paham.
      Kmi lampung Gk ada cerek,klu cerek keluar dari adat,lagi pula dimurka oleh allah itulah kmi.
      Jangan Idak-idak dalam perut ado budak'jangan dak ado-ado besak perut pado ado.
      By.Putra Sukadana Sungkay Utara.

      Delete
  34. Hikam jelma sungkay Sukadana Asli,ninik puyang Hikam Gral ni RATU SEBUGUS KASIH...
    klu secara logika,orang komring itu berasal dari lampung,mengapa saya bilang demikian,karna bahasa komring Ada bahasa lampung & ada bahasa palembang.
    bayang kan apa bila anda merantau kesalah satu daerah'tidak mungkin anda membawa bahasa daerah secarah penuh,tentu nya kita campur juga dengan bahasa setempat.....Bukam begitu
    na ngapo kalin jadi mak itu,ni jinguk aku asli lampung,tapi aku pacak bahaso palembang'Mak itu Baek Kalian sudem bingung'mak mane kalau yang sulit.?
    jadi klu ada yg tidak terima orag komring itu asl dari lampung (terserah)
    Sudah untung untung orang lampung mau nganggap komring lampung,,
    karna komring itu nyapah.dan nyapah itu pakek cerek.paham.
    Kmi lampung Gk ada cerek,klu cerek keluar dari adat,lagi pula dimurka oleh allah itulah kmi.
    Jangan Idak-idak dalam perut ado budak'jangan dak ado-ado besak perut pado ado.
    By.Putra Sukadana Sungkay Utara.

    ReplyDelete
  35. Hikam jelma sungkay Sukadana Asli,ninik puyang Hikam Gral ni RATU SEBUGUS KASIH...
    klu secara logika,orang komring itu berasal dari lampung,mengapa saya bilang demikian,karna bahasa komring Ada bahasa lampung & ada bahasa palembang.
    bayang kan apa bila anda merantau kesalah satu daerah'tidak mungkin anda membawa bahasa daerah secarah penuh,tentu nya kita campur juga dengan bahasa setempat.....Bukam begitu
    na ngapo kalin jadi mak itu,ni jinguk aku asli lampung,tapi aku pacak bahaso palembang'Mak itu Baek Kalian sudem bingung'mak mane kalau yang sulit.?
    jadi klu ada yg tidak terima orag komring itu asl dari lampung (terserah)
    Sudah untung untung orang lampung mau nganggap komring lampung,,
    karna komring itu nyapah.dan nyapah itu pakek cerek.paham.
    Kmi lampung Gk ada cerek,klu cerek keluar dari adat,lagi pula dimurka oleh allah itulah kmi.
    Jangan Idak-idak dalam perut ado budak'jangan dak ado-ado besak perut pado ado.
    By.Putra Sukadana Sungkay Utara.

    ReplyDelete
  36. Hikam jelma sungkay Sukadana Asli,ninik puyang Hikam Gral ni RATU SEBUGUS KASIH...
    klu secara logika,orang komring itu berasal dari lampung,mengapa saya bilang demikian,karna bahasa komring Ada bahasa lampung & ada bahasa palembang.
    bayang kan apa bila anda merantau kesalah satu daerah'tidak mungkin anda membawa bahasa daerah secarah penuh,tentu nya kita campur juga dengan bahasa setempat.....Bukam begitu
    na ngapo kalin jadi mak itu,ni jinguk aku asli lampung,tapi aku pacak bahaso palembang'Mak itu Baek Kalian sudem bingung'mak mane kalau yang sulit.?
    jadi klu ada yg tidak terima orag komring itu asl dari lampung (terserah)
    Sudah untung untung orang lampung mau nganggap komring lampung,,
    karna komring itu nyapah.dan nyapah itu pakek cerek.paham.
    Kmi lampung Gk ada cerek,klu cerek keluar dari adat,lagi pula dimurka oleh allah itulah kmi.
    Jangan Idak-idak dalam perut ado budak'jangan dak ado-ado besak perut pado ado.
    By.Putra Sukadana Sungkay Utara.

    ReplyDelete
  37. Salam muakhi saunyin ni..
    Tidak perlu saling merasa paling benar,karena "kebenaran" itu hanya milik allah s.w.t knp tidak saling bahu membahu mencari yg terbaik...

    ReplyDelete
  38. mari saling bahu membahu, tabik

    ReplyDelete
  39. Yo sdh klo wong komering dak galak ngakui berasal dr lampung. Tp setau aq sbg wong plembang, adat lampung itu lebih lengkap drpd adat komering pun begitu jg dgn adat plembang lebih lengkap drpd adat komering. Artinyo adat komering itu adat mudo n adat perpaduan serta peralihan antara adat lampung dgn adat palembang. Payolah kawan sadar diri dikit jgn tekak jd wong

    ReplyDelete
  40. Ass,ane orang lampung kturunan smende(sumsel),oi kance! Slow ja dong?jgn pd nunjukin prangai keras sumateranya?kita ni sma2 sumatra bag slatan,beda dkit yah wajarlah?jangan selip dikit laju nak belage?damailah kanceku ulun lampung n wong kito,kiteni satu ninik puyang oi

    ReplyDelete
  41. Nyak ulun lampung kturunan smende,mw lampung or komering?kita ni masih satu kturunan,idak mak itulah ribut2,beda pendapat tu wajar,jangan selip dkit laju nak belage kance?jaga aja budaya masing2 n paling penting jangan saling ngejelekin satu sma lain,gitu aja kok repppot???

    ReplyDelete
  42. terimakasih saudara haris sudah singgah di blog ini, kita hanya sekedar berbagi,, :) jadi slow aja, artikel dibalas artikel, beres,,

    ReplyDelete
  43. aku kecewa sm org komring ni, pecak dak galak nian ngaku kalu org lampung... aku lebih menghormati org lampung yg bangga sm asal usul dan budayany,,,
    seolah2 org masyarakat lampung tuh kek mn ck itu,,,
    klo perangai org sumsel itu lembut,tpi klo dk seneng langsung nujah...

    ReplyDelete
  44. koreksi, klaim bahwa kata To-langpohwang berarti 'Orang atas' dalam bahasa Hokkian darimana dapatnya?
    kalau mengutip dari buku, si penulis buku dapatnya darimana?
    sebab dalam bahasa Hokkian klasik maupun modern tidak pernah dikenal kata-kata tersebut.

    ReplyDelete
  45. Jika anda ke jogjakarta insyaAlloh kita bs duduk bareng, dan saya ajak anda ke seorang yang tepat menjelaskan bahasa hokian itu. Bisa pula kita jumpai orang2 yang faham bahasa hokian. demikian. Nomer Hp sy sudah sy cantumkan diatas. Thank

    ReplyDelete
  46. Jadi begini baiknya,

    Menulis yang tujuannya ingin mencari kebenaran itu lain dengan menulis bikin profil perusahaan / organisasi. Kalau bikin organisasi ya penjelasannya sepihak semua. Tapi kalo ingin mencari kebenaran, ada baiknya kita belajar dari Bpk. Brigjen Edwardsyah Pernong yang merupakan seorang polisi. Seorang polisi dalam mengungkap kebenaran itu asasnya pasti Praduga Tak Bersalah. Maka sebelum memulai penyidikan / penyelidikan dia harus mensterilkan pikirannya. Lalu setiap ada pengakuan / temuan dari saksi2 jangan langsung dipercaya / ditelan bulat2, melainkan ditelaah dengan Skeptisisme yang berasaskan "Ah masa iya sih?", coba cari kebalikannya.
    saya rasa yang menilai anda terlalu subjektif dan mencari pembenaran bukan cuma saya, tapi diatas2 itu juga ada.

    kalo mau tau yang disebut netral dan steril itu seperti apa, ada baiknya kita baca blog ini http://hastiyanto.wordpress.com/2010/06/23/mitologi-dalam-sejarah-budaya-lampung/
    pure akademic minded

    mengenai kata Tolangpohwang, sebelumnya harus dibantah dulu kenapa bukan Tulang Bawang, lalu kata Anjak Lambung darimana dapatnya?

    mengenai asal usul bangsa Lampung, pertanyaannya masih seputar logika:
    katakanlah 4 umpu datang dan menumpas kerajaan skala brak lama, lalu mendirikan kepaksian skala brak islam,
    lalu keturunan yang non-putra mahkota berpencar ke seluruh penjuru lampung, termasuk ke menggala.
    bagaimana si perantau ini bisa punya anak dan mendirikan kampung kecuali dia bedol desa sama istrinya yang sedang hamil atau sudah punya anak sejak masih di skala brak,
    terdengar kurang masuk akal. buat saya lebih masuk akal kalau perantau dr skala brak ini datang ke Menggala yang sudah ada penduduknya sejak lama, lalu menikah dengan orang setempat. namun tentu tidak bisa dikatakan sebagai asal-usul (tunggal)

    ReplyDelete
  47. disini yang saya tangkap ada dua keinginan anda :

    1. Mengartikan Tolangpohwang sbg tulang bawang, alasan bahwa itu bahasa hokian telah kami utarakan, selebihnya penelitian perlu dilanjutkan. Coba anda cari jawabannya ke alamat FB ( Sholeh UG ) mengenai bahasa hokian itu.

    2. Anda ingin memisah kan antara paksi pak dengan sekala brak, selanjutnya mengaburkan nama sekala brak hingga naskah2 lama yang belum pula anda sentuh sekonyong konyong anda nafikan.

    nah dari keinginan keinginan anda itu blog ini tidak akan bisa memuaskan anda sebab banyak keterbatasan untuk menampilkan secara utuh, sejarah sebuah wangsa, tapi setidaknya inilah informasi informasi yang kami dapat dan kami sampaikan apa adanya. Dan tentu semua musti diteliti lebih lanjut. Jika anda memiliki hasil penelitian yang komperhensif monggo jelaskan terang benderang. kalau butuh diskusi lengkap nomer saya sudah saya cantumkan. begitu.

    ReplyDelete
  48. Sebagian benar.

    1. Menurut saya lebih baik anda yang mencari penjelasannya ke Sholeh UG lalu menulis penjelasannya di blog. Tapi lebih baik lagi bertanya ke orang keturunan Tionghoa yg paham bahasa Hokkian. Sebab saya masih khawatir nama yang disebut tadi masih termasuk orang dalam yg mungkin saja punya kecenderungan subjektif dan kepentingan emosional.

    2. Memang harus dipisahkan antara Paksi Pak dengan Skala Brak. Terlebih bila Paksi Pak dianggap sebagai asal usul orang Lampung termasuk marga Raja Basa. Di tempat lain saya pernah mengungkapkan bahwa Marga Rajabasa didirikan oleh perantau dari desa Damaian. Saat ia tiba di Pesisir gunung Rajabasa dan pulau2nya, tempat2 itu sudah dihuni turun temurun oleh masyarakat setempat. Lalu pada masa tahun 1600an Sultan Banten memberikan perintah kepada kepala marga Rajabasa tsb.
    Maka apabila "Kepala Marga Rajabasa" mulang tiyuh ke istana Sultan Skala Brak, darimana kaitannya? Ini harus dibuktikan dulu supaya tidak merusak reputasi Kepaksian Skala Brak.
    Dan atas dasar apa Bpk. Edwardsyah Pernong memposisikan dirinya sebagai Sultan melebihi marga-marga lainnya? Sedang Kepaksian Skala Brak tidak ada kaitan dengan sebagian (kecil/besar) marga di Lampung.

    Apabila orang2 Lampung adalah keturunan Kerajaan Skala Brak kuno yang ditumpas oleh 4 paksi, bukankah Kepaksian Skala Brak harusnya jadi musuh seluruh orang Lampung?

    ReplyDelete
  49. Terus kalau Mego Pak Tulang Bawang apakah ada hubungannya dengan paksi pak Sekala Brak?
    Sebelumnya terimakasih atas penjelasannya
    Ulun Menggala

    ReplyDelete
  50. salah satunya Buay Bulan di tulang bawang, itu asalnya dari sekala brak.

    ReplyDelete
  51. kenapa orang komering merasa berbeda dengan orang lampung... Kembali ke asal usul, komering memang berasal dari sekala brak (tua), kalo kembali kesejarah istilah nama lampung tidak ada pembuktian dari skala brak kecuali fakta tertulis lampohwang itupun masa masehi entah itu yang disebut tulang bawang atau lampung itu sendiri. Sebenarnya general bahasa saja, wilayah lampung dan memiliki suku dan marga (lampung). Contoh kecil sebenernya lampung, batak, pasemah dan suku2 lainnya di sumaterw adalah bagian dari subsuku melayu tua karena semua induk suku melayu tua bisa dibuktikan fakta zaman prasejarah.. Hal ini juga kalo kembali kepada pertanyaan kenapa orang madura/sunda tidak mau disebut orang jawa. Padahal mereka sendiri merupakan suku di jawa. Makna nama suku adalah orang seketurunan. Dan orang komering mengakui keturunan dari sekala brak namun sekala brak bukan hanya suku lampung hanya karena berada di provinsi lampung.

    ReplyDelete
  52. Mksh ulasannya jd sy yg keturunan langsung dr ayah sy yg asal sukau jd tau asal muasal leluhur kmi yg trnyata bkn hny cerita bohong krn bnyk peninggalan leluhur yg msh ada di rmh ayah sy d sukau, mksh bnyk y, jng brdebat yg gak perlu krn keturunan aslinya aja gak repot kok... Peace...

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal, kalo boleh tau siapa nama ayahnya? kaloa da data silahkan berbagi demi menambah pengetahuan dan informasi.

      Delete
  53. tabik pun puakhi !.
    di akui ataupun mawat, inji merupakon ilmu bagi neram generasi muda sai lamon mak pham akan sejarah tanoh lampung.makin lamon pendapok, makin lamon ilmu. kekalau melamon manfaat jama masing-masing indipidu sai ngebaca ya.
    tabik pun, "sanak liwa"salam anjak timur Tidore Maluku Utara

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaddo nihan, terimakasih, salam kemuarian.

      Delete

Apah tiBaca

Ikuti Menjadi Sahabat Blog

PEMUDA DAN KEBERANIANNYA

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

dancer

TVRI