PAKSI PAK SEKALA BRAK----- KERAJAAN DI CUKUT PESAGI,---- KIK PAK KHAM MAK PULIAK----- ADAT PUSAKA TUTOP DIHATI

Selayang Pandang Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak

Tabik Ngalimpura, Haguk Neram Rumpok Sunyinni. Dipermulaan sinji, Yaddo dia sekindua ngaturko buribu laksa nerimakasih radu nyenghaja nyemuka di Blog sederhana sinji. Selanjutni sekindua buharop Blog sinji dapok dipakai sebagai rang bubagi informasi rik ilmu pengetahuan, ulehni lamon sai mak ceto, mak pas disusun tindehni, astawa bubida pendapok, yaddo dia ram saling menghormati, tilapok ram kekurangan jama hal sai betik. Niat Betik Cara Betik. Nerimanihan. Tabik

Saturday, 14 May 2011

Profil: Kombes Pol Drs Edwardsyah Pernong


Cita-citanya sederhana saja kala menjadi perwira pertama polisi, hanya menjadi Kasat Reserse Polres Metropolitan Jakarta Pusat. Ini dilatar belakangi dengan kejadian yang tidak mengenakan. "Ketika penempatan pertama di PTIK. Ada keluarga saya dari Palembang ditangkap polisi di Jakarta Pusat. Saya datang dengan pangkat letnan. Kok nggak terlalu dianggap, mungkin karena saya di lemdik," kisahnya mengenang masa awal kariernya di kepolisian.

Kejadian itu sangat berbekas dalam hatinya. Di atas bajaj sewaktu mau pulang, dalam hati dia berdoa. "Ya Allah, kalau Tuhan adil, kabulkanlah cita-cita saya untuk bisa jadi Kasat Reserse Jakarta Pusat," kenangnya.


(saat menjabat kapolwiltabes semarang)

Tekadnya itu bukannya dengan maksud untuk membalas perbuatan yang kurang manusiawi itu, tapi katanya, ia tidak akan melakukan hal seperti itu terhadap orang lain. Dan, hanya beberapa tahun kemudian Edward menjadi Kasat Reserse Polres Metropolitan Jakarta Utara.

Kelahiran Jakarta, 27 Januari 1958, semula tidak ada niat menjadi polisi. Tapi menjadi tentara. "Saya ini darah tentara, orangtua saya tentara, kakak-kakak saya tentara," kata pria berperawakan tinggi dan berwajah "baby face" ini.

Dalam mewujudkan cita-cita itu tidak ada yang memandu, sehingga suatu hari ketika Edwar sakit, dia berobat ke RS Tentara Tanjungkarang di sana ditangani Mayor dr Onggo. "Masih muda sudah berpangkat mayor," batin Edward yang sangat terkesan dengan dr Onggo.

Dari sana dia mengetahui, bahwa setamat jadi sarjana orang bisa masuk tentara dan keluar menjadi perwira. Program ini sebenarnya disebut Sepamilsuk, atau di kepolisian disebut PPSS (penerimaan perwira sumber polisi). Edward lantas berfikir kalau begitu setamat SMA jadi sarjana dulu, baru masuk tentara.


Dengan tekad tinggi untuk menjadi sarjana, Edward lalu pergi ke Jogja, ia di sana mengikuti tes dan diterima masuk Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. Di Jogja baru dia mengetahui bahwa pembentukan perwira ternyata juga bisa dari tamat SMA yaitu melalui pendidikan di Akabri. "Tapi ya sudahlah," batinnya itu. Selama kuliah Edward mempersiapkan diri untuk menempuh cita-citanya, ia pun bergabung dengan Menwa. Segala pelatihan Menwa yang dibimbing oleh tentara dan kemudian juga melakukan pendakian gunung dia lakoni.

Selesai meraih sarjana tahun 1983, ia mendaftar masuk TNI di Bandung. Tapi karena waktu tes masuk tentara belum waktunya, dia masuk tes masuk kepolisian. Dan ia pun lulus. Perjalanan kariernya cukup fantastik. Pertama ditempatkan di PTIK tahun 1984. Setelah itu disekolahkan oleh Gubernur PTIK di Dikjur Serse. Jadi saya masuk kejuruan serse bukan setelah pindah, tapi disekolahkan Gubernur PTIK. Karena memperlihatkan hasil yang baik, lalu dipindahkan ke Reserse Mabes Polri, di Sat Idik Khusus.

Selain tugas pokok, Edwar juga banyak kegiatan-kegiatan temporer, misalnya ikut Satgas-satgas. Lalu masuk Selapa Dikreg XX tahun 1992, pas perubahan dari 6 bulan ke 9 bulan. Kata orang yang namanya berlian, dimana-mana akan bersinar. Di Selapa itu, dia juga berprestasi dengan lulus nomor satu. Kembali dia ditempatkan di Jakarta, kali ini di Polda Metro Jaya, sebagai Kasubnit I, Reserse Umum. Tidak lebih tiga bulan di sana, dipercayakan menjadi Kasat Serse Polres Metro Bekasi tahun 1992. "Tiga setengah tahun jadi Kasat Serse di Bekasi," akunya.

Masuk Bekasi, keahlian Edward langsung diuji. Kala itu Bekasi menjadi daerah rawan karena tiap hari ada perampokan dan segala jenis kejahatan. Bahkan terakhir ada perampokan berkelompok. 30 rumah sekali dirampok sementara perampok yang melakukan 150 orang. "Kita kerja keras dan berfikir keras, sering kerjar-kejaran, bahkan sampai ke Karawang atau daerah lain sekitar itu," kenangnya. Selain kasus rampok, kasus yang juga menyita perhatian adalah kasus pertanahan.

Tahun ketiga menjadi Kasat Serse, Edward dan timnya mencatat sejarah bahkan juga bagi Polisi. Tahun 1995 terjadi kasus perampokan sekaligus perkosaan yang membetot perhatian massa dan diblow up koran dan televisi yaitu pembantaian keluarga Acan. Hanya dalam waktu sebelas hari kasus ini dapat diungkap Edward. Pelakunya ditangkap dan dihukum sampai rata-rata 15 tahun.

Pengungkapan kasus itu membuat Presiden Soeharto waktu itu memanggilnya ke Istana Negara dan memberikan Lencana Adhi Satya Bhakti. "Itu adalah suatu penghargaan khas profesi kepolisian," kata Dibyo Widodo waktu itu. Dan ini menjadi sejarah karena pertama dan terakhir penghargaan diberikan Presiden RI kepada polisi karena keberhasilan mengungkap kasus besar.

Atas keberhasilan ini Edwarsyah Pernong dimutasi menjadi Kasat Serse Polres Metro Jakarta Pusat. Jabatan baru ini mempunyai makna tersendiri bagi Edward. Bukan saja sebagai amanah, namun juga sebagai jabatan yang dia cita-citakan. "Ternyata Tuhan itu ada," kata Edward yang langsung melakukan sujud syukur begitu dilantik.

Menjadi Kasat Serse di Jakarta Pusat kian menambah prestasi Edward dalam mengungkap kasus kriminalitas. Kali ini dia mendapat penghargaan dari Kapolri karena berhasil mengungkap kasus yang tak kalah fenomenalnta di dunia kriminal Indonesia, yaitu kasus Robot Gedek. Robot adalah pelaku yang menyodomi dan bahkan membunuh korbannya. Jumlahnya belasan.

Tak lama kemudian Edward dipromosikan menjadi Wakapolres Metro Jakata Utara. Selama bertugas di Jakarta Utara, pengalaman Edward adalah mengendalikan situasi agar tetap kondusif pasca meledaknya peristiwa 11 Mei 1998, yang merupakan persitiwa dramatis yaitu reformasi yang merubah tidak saja minta berhentinya Presiden RI Soeharto namun juga tatanan berbangsa dan bernegara. Jakarta Utara dapat mempertahankan diri dalam siatuasi ini.

Dari Wakapolres Jakarta Utara Edward masuk Sespim, sekolah yang mempersiapkan calon-calon pimpinan Polri. Ia selesai Sespim tahun 2000 dan ditempatkan sebagai Kabag Reserse Tipiter Polda Jawa Barat. Baru dua bulan keluar lagi surat perintah Edward menjadi Kabag Reserse Polwiltabes Bandung.
Di sini lagi-lagi nama Edward mencorong ke permukaan karena dengan timnya dia dapat mengungkap tersangka pelaku peledakan bom. "Waktu itu terjadi percobaan peledakan 11 gereja pada malam tahun baru," cerita Edward.


Karena kasusnya menonjol segala tim dikerahkan bahkan juga dari Mabes Polri. Tim Reserse dipimpin Edward dan Tim Intel Polwiltabes Bandung menangkap pelaku di Brebes, Jawa Tengah. Atas keberhasilan ini, Edwarsyah dipromosikan menjadi Kapolres Bandung Tengah. Selama Kapolres Bandung Tengah dari tahun 2001 sampai 2002, dia kemudian pindah menjadi menjadi Kapolres Bandung di Cibabat.

"Satu setengah tahun di sana, saya dipindahkan menjadi Wakapoltabes Palembang," ujar Edward. Hanya sembilan bulan di Palembang, Edward mendapat promosi menduduki jabatan komisaris besar kepolisian yaitu menjadi Kapolres Metro Bekasi. Dan melati tiga menghiasi pundaknya.

Di Bekasi itu Edward sempat terlibat membantu pelaksanaan proyek Jepang, masalah Community Policing yaitu Koban. Di sana diaplikasikan dengan apa yang dinamakan FKPM (Forum Kemitraan Polisi-Masyarakat). "Kita memback-up agar proyek Jepang itu bisa berjalan," ujar Edward yang berada di Bekasi ibarat kembali ke rumah sendiri. Karena di Bekasilah ketajaman dan keberhasilannya bermula. Awal 2006, Edward dipindahkan lagi menjadi Kapolres Metro Jakarta Barat sampai sekarang. Baik di Bekasi maupun di Jakarta Barat, nama Edward terus menerus media massa karena keberhasilan anggotanya mengungkap kasus-kasus menonjol.

Menariknya kasus-kasus menonjol itu rata-rata diungkap dibawah 24 jam. Bahkan terakhir hanya dalam delapan jam. Soal kasus pembunuhan sadis yang dapat diungkap di bawah delapan jam, Edward punya cerita menarik dengan Kapolseknya yang kebetulan orang Palembang. "Ini berkah kau selalu makan kue matsuba," kata Edward kepada anggotanya itu. Di Palembang kue matsuba terkenal enak karena untuk memasaknya dibutuhkan waktu paling sedikit delapan jam.

Adakah yang berubah dari pola Edward kini setelah berada pada jabatan Kasatwil yang secara operasional tidak lagi mengurus detil seperti kala menjadi Kasat Serse misalnya? Walau sekarang berkiprah sebagai pengambil kebijakan, Edward merasa tetap harus turun, walau dengan porsi yang berbeda. Karena kecenderungan di Polisi bahwa para pimpinan juga turun ke bawah. Beda dengan di Jepang, di mana makin tinggi pangkatnya, makin senang dia.

"Setingkat Kapolda di sana ia ketemu dengan tokoh ini dan tokoh itu. Kemudian komunikasi seminar. Kalau di kita bukan begitu. Karena apa, karena ternyata budaya paternalistik kita itu tinggi. Keberadaan pimpinan itu ternyata sangat memberikan makna di lapangan. Seorang pimpian itu harus paripurna, harus selalu berada di tengah-tengah anggotanya," ujar Edward.

Dia menyatakan sebagai top leader, secara konseptual memegang kendali, setelah membagi habis pekerjaan kepada kasat-kasat fungsi dan kesatuan kewilayahan Polsek. "Kita tarok pengendali-pengendalinya, yaitu Kasat-kasat itu sekaligus sebagai perwira pengendalinya. Waka itu langsung mengendalikan kegiatan-kegiatan dari dalam, bidang pembinaan. Kabag Ops membantu kita mengendalikan operasional. Kita melakukan langkah-langkah kebijakan. Tapi juga harus turun ke bawah untuk memotivasi anggota."

Selain itu gunanya adalah dalam rangka melakukan pengendalian atau kontrol. Soal ini di ingat pesan seniornya Kapolres Jakarta Utara dulu. "Dik, dari seluruh rangkaian manajemen itu, Anda harus hati-hati dalam hal yang terakhir itu, kontrol atau dal itu, karena dal itu sangat menentukan betul."

Dan Edward merasakan betul. Dia mengatakan bagaimana pun hebatnya perencanaan tak memberi hasil maksimal, kalau "dal" ini tidak kuat. Tapi walau semuanya biasa-biasa saja, tapi kalau "dal-nya" kuat, target tercapai dan semuanya bergerak.

Dan bagi Edward dalam menggerakan organisasi dia akan melihat kemampuan seluruh personilnya satu persatu "Kita harus tahu orang-orang kita. Saya harus tahu Kapolsek ini atau kapolsek mana yang berkualitas. Dimana yang kira-kira lemah, di situ yang akan saya dorong, dan saya harus sering ke sana. Kalau saya sering ke suatu tempat, kadang-kadang di sana kuat juga, tapi saya lihat bahwa itu cukup rawan, yang memang memerlukan suatu sentuhan yang lebih."

Dan strategi dalam mencapai tujuan, Edward mengibaratkan dengan pola bermain catur. Dalam permainan catur itu, kadang-kadang bagi saya tidak semua biji dimainkan. "Semuanya kita perankan. Tapi pada situasi tertentu kita melihat ternyata hanya beberapa biji catur saja, ya itu saja yang kita mainkan."

Dalam mencapai target yang diinginkan, Edward mengaku kerap membuat sesuatu di luar struktur yang ada. Misalnya sewaktu menjabat Kasat Reserese, selain Tim Buser, Tim Resmob, Tim Khusus, dia bikin Tim Saring dan Tim Keris. "Tim Saring itu, tim sanggong dan ringkus, kalau Keris kejar dan ringkus." Sebagai senior di bidang reserse, Edward menyatakan keberhasilan tak lepas dari menggerak segenap potensi. Namun yang dirasakan kurang selama ini salah satunya adalah masalah anggaran.

"Bagaimana juga man, money dan material. Setelah manusianya, anggaran itu juga sangat mempengaruhi. Karena angggaran itu bukan hanya dipelukan untuk operasional saja, tapi perlu untuk membangun jaringan. Seorang reserse itu seperti gunung es, dalam sehari-harinya perlu membangun jaringan-jaringan. Makanya dia bisa mengungkap. Dan jaringan itu selain budi baik, atensi dan lain sebagainya, ternyata harus didukung oleh anggaran."

Selain dana masalah kedua masalah teknologi rserse itu, yang saat ini sudah mulai ada, tapi belum lengkap. Namun yang merisaukan Edward adalah kurangnya kita memelihara aset yang sudah ada terutama dalam masalah kerahasiaan cara-cara mengungkap kasus. "Seluruh teknik-teknik pengungkapan seluruh instrumen-instrumen reserse itu harusnya tidak boleh diketahui orang. Karena akan susah lagi digunakan untuk mengungkap kasus lain."

Sekarang ini, katanya, penangkapan kasus bom dengan bangganya diceritakan. Dipaparkan bahwa nangkapnya melalui telepon segala macam, akhirnya kita tak pernah lagi menangkap dengan cara itu. Bagi saya cukup orang tahu bahwa pelaku sudah ditangkap. Sehingga reserse itu masih bisa mengembangkan."

Sekarang ini kan susah terus reserse. "Kasihan saya melihat. Sudah mengungkap dengan cara ini, caranya itu diberitahu, bahkan sampai detailnya. Mulai dari Tommy ditangkap dengan cara begini, udah nggak kan bisa lagi ditangkap dengan cara itu. Diberitahu pakai handphone, ya orang nggak mau lagi pakai itu. Sekarang E-mail, orang udah nggak mau lagi pakai. Itu yang saya heran. Jadi statement-statement pimpinan itu jangan memberatkan reserse," katanya.

Dapat kenaikan pangkat kombes dalam masa karier 20 tahun di kepolisian, apalagi bukan berasal dari Akademi Kepolisian, membuat nama Edward menjadi pembicaraan dan tak jarang menjadi contoh kasus bagi polisi-polisi muda lainnya. Bahwa kalau ingin berkiprah di kepolisian, dari manapun asalnya akan berhasil tergantung orangnya. Bahkan kisah sukses Edward dijadikan juga untuk memotivasi para anggota kepolisian yang bukan berasal dari Akabri, bahwa prestasi bisa didapat kalau mau menjalankan.

Lantas apa rahasia sukses Edward? Menurut Edward semua keberhasilan yang dia raih, selain karena bekerja keras dan berfikir keras juga terdapat juga keberuntungan. Apa itu? Yaitu bahwa dulu dia pernah bertugas di PTIK. "Jadi dengan satu setengah tahun atau dua tahun dinas di PTIK, saya banyak mengenal senior-senior di kepolisian. Begitu saya masuk ke wilayah, saya ketemu dengan mereka, dan mereka memberi saya kepercayaan," katanya. Selain punya kemampuan, kita juga harus punya human invest. Human invest itu bisa kita lakukan apabila orang percaya sama kita. "Salah satu cara untuk percaya, orang itu melihat bahwa kerja kita itu benar. Kita bertanggung jawab. Kita tidak pernah melepaskan tanggung kawab, kita tidak berhenti kalau belum berhasil. Akhirnya muncul kepercayaan. Dengan kepercayaan dari senior itu kita akan diberi tugas. Diberi kesempatan. Karena kalau kita tidak diberi kesempatan, maka tidak akan bisa berkiprah juga."

Dalam membangun human invest, salah satu syaratnya adalah bekerja dengan benar. "Kalau saja waktu di PTIK kerjanya nggak benar, mungkin nggak begini juga. Jadinya kontra produktif. Semua teman kita alumni Selapa yang tugas di PTIK dulu, cukup memberi warna lah," tambahnya.

Sebagai seorang alumni, dia melihat Selapa itu sekarang sudah berkembang. Para alumninya sudah eksis kalau di tingkat middle manager. Semua pendidikan yang sudah dipaketkan itu katanya bagus semua. "Tergantung bagaimana implementasinya pada saat dipraktekkan. Karena semua permasalahan-permasalahan yang mungkin akan muncul itu sudah dilatihkan dan sudah diajarkan secara teoritis, dan paket-paket pendidikan itu sudah terpola, sehingga produk tertentu disiapkan untuk menghadapi situasi tertentu pula."

Selapa itu adalah paket pendidikan yang mempersiapkan untuk middle manager dan langsung menjawab sitruasi di lapangan secara cepat. Masa pendidikannya juga lebih singkat, padat dan langsung merespon situasi. Selapa kan lebih menjawab permasalahan lapangan oleh produk-produk yang cepat didik siap pakai karena pendidikan 6 bulan.

Bagaimana dengan user terhadap alumni Selapa? Edwarsyah Pernong menyatakan dari pengalaman dirinya dia tidak membedakan alumni Selapa dengan dari sumber lain. "Tetap saja bagi saya tergantung orangnya. "Mereka dari Selapa kata Edward mempunyai warna masing-masing. Kalau Selapa, pengalaman mereka itu kan banyak dari Bintara, kemudian dari Sepa. Kalau yang dari Bintara itu sarat dengan pengalaman lapangan. Tapi mereka-mereka yang dari Sepa sarat dengan ilmu pengetahuan, scientifik juga yang lebih bersifat umum.

Dalam pendidikan sembilan bulan itu kita dulu diinteraksikan, dicampur dan dibentuk sindikat segala macam, jadi bisa saling mengisi. Jadi mereka yang dari Sepa itu juga lebih banyak mendapatkan masukan-masukan yang berarti. Para bintara yang masuk Selapa itu adalah bintara yang sudah lulus seleksi alam. Bintara-bintara yang punya kualitas sendiri. Sehingga waktu dia dididik oleh Selapa itu, memang dia mendapatkan sesuatu warisan yang lebih mematangkannya, khususnya dalam pengambilan-pengambilan keputusan.

Namun di semua itu implementasi di dalam tugas punya seni tersendiri. Ia ingat kata Prof Satjipto Rahardjo SH bahwa polisi itu harus ada otot, ada otak, dan ada hati nurani. Tapi menurut Kapolres Jakarta Barat ini, itu masih kurang. Yaitu diperlukan lagi satu kata: yaitu Nyali. Soalnya kalau dia tidak punya nyali, maka ketiga hal itu tidak ada gunanya. Karena polisi itu pertama harus punya nyali.

"Yang paling utama itu harus punya nyali, karena dia akan berhadapan dengan situasi yang tidak terprediksi. Situasi-situasi seketika. Situasi yang kadangkalanya dia tidak tahu untuk mengambil keputusan yang bagaimana. Tapi dia sudah punya naluri, sudah punya pola harus begini. Jadi memang seni lapangan itu. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang punya nyali," ujarnya.

Nyali itu katanya, kalau dia punya pengetahuan yang memadai, kepercayaan diri tinggi, dia pasti punya nyali. "Orang yang tidak punya nyali itu ragu, karena dia tidak punya pengetahuan. Dia tidak punya pengalaman. Kadang-kadang pengalaman itu adalah pengalaman dari diri sendiri, atau pengalaman dari orang lain."

Namun jangan lupa, ada juga nyali itu memang sudah dari bawaan. Soal ini, memang, tak terbantahkan. Edward misalnya, dia memang sudah dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Karena dalam kesukuannya di Lampung dirinya adalah seorang raja. Di Lampung masyarakat adatnya terdiri dari dua tradisi, masyarakat adat Saibatin dan Pepadun. Jika Pepadun bernuansa demokratis sementara Saibatin nuansa aristrokrasinya yang lebih kental, pimpinan karena faktor keturunan. Dan ayah seorang puteri berumur lima belas tahun itu, adalah Raja dari masyarakat adat Saibatin.

Apa obsesi Edward sekarang? "Dengan jadi Kasat Serse Metropolitan Jakarta Utara, cita-cita saya sudah berakhir. Apa yang saya dapat sekarang dan seterusnya saya anggap merupakan bonus," ungkap Edwardsyah Pernong di suatu malam kepada selapa news.(*)

26 comments :

  1. Tulisan ini dikutip dari Selapa News edisi pertama. Dan saya adalah konsultan yang mengerjakan majalah itu, termasuk Profil Pak Edwarsyah Pernong ini. Kami, saya dan seorang rekan, mewawancarainya di Hotel Croen, Jakarta pada pukul 01 dinihari....

    ReplyDelete
  2. Terimakasih telah mengingatkan dan infonya.,. tabik... salam..

    ReplyDelete
  3. Hebat !!! saya jadi semakin kagum dengan Beliau (sambil memandangi Foto Beliau yg dipajang di ruang tamu rumah Akan(Ayah)ku.Jadi makin cinta dengan saibatin) :)

    ReplyDelete
  4. wai abung J T B15 December 2012 19:52

    salam sai bumi ruwai jurai, satu ibu misi ruh wai jembatan unggul ratu indonesia. salam kepaksian adat, kenali...
    " kepaksian naga liman " udara laut darat, TNI nusantara sakti jaya raya.

    ReplyDelete
  5. salam SANG Bumi Ruwa Jurai..

    ReplyDelete
  6. Selamat !!! Sdh dipercayakan lg ke wilayah jd Wakapolda Sulteng yg baru. Semoga alumni "Sekolah Sore" makin bny yg diberi kesempatan dan kepercayaan oleh pimpinan di pusat utk memegang wilayah.

    ReplyDelete
  7. Selamat buat beliau, dipercayakan lg k wilayah sbg Wakapolda Sulteng yg baru. Semoga alumni "Sekolah Sore" makin diberi kesempatan dan kepercayaan oleh pimpinan di Jkt utk memegang wilayah, semogaaa..

    ReplyDelete
  8. Selamat atas diangkatnya beliau jd Wakapolda Sulteng yg baru. Semoga alumni "Sekolah Sore" makin diberi kesempatan dan kepercayaan oleh pimpinan di pusat utk memegang Wilayah..

    ReplyDelete
  9. semoga beliau Yang Mulia selalu dalam lindungan oleh Allah SWT, amin,, terimakasih,,

    ReplyDelete
  10. Sukses slalu buat beliau, smoga slalu dpat Menginspirasi kita semua...

    ReplyDelete
  11. Sukses slalu buat beliau,smoga slalu dapat Menginspirasi kita semua...

    ReplyDelete
  12. Sebagai pengagum beliau KOmbes Edward Syah Pernong saya sangat kecewa, karena sejak dikeluarkanya TR sebagai Wakapolda Sulteng, hingga hari ini beliau belum menjabat, dan dengar2 jabatan beliau dianulir...!!!

    ReplyDelete
  13. insyaAlloh doa kita bersama beliau, keselamatan dan kesuksesan selalu dalam lindungan Alloh SWT.

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. yang terbaik buat beliau,amin,, Beliau telah menegaskan tidak akan maju dalam pemilihan gubernur Lampung atau berpolitik praktis,, yang teman tak akan pernah menjadi lawan kata beliau.

    ReplyDelete
  17. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  18. amin,,, begitu juga dengan kita smua amin,,,

    ReplyDelete
  19. .
    insyaAlloh doa kita bersama beliau, keselamatan dan kesuksesan selalu dalam lindungan Alloh SWT.

    ReplyDelete
  20. Amin,, saat ini beliau menjabat wakapolda maluku utara. terimakasih doanya. amin,,

    ReplyDelete
  21. semoga beliau dapok menjadi pemimpin dilampung, sikam marga ketibung mendukungni

    ReplyDelete
  22. beliau sangun memimpin adat,,

    ReplyDelete
  23. Assalamu'alaikum
    Salam kenal minak muakhi.
    Numpang tanya, anakni Pak Edwarsyah Pernong wek sai kuliah di UI mek ya? terimakasih infoni.

    ReplyDelete
  24. Salam Kenal Moloh,

    Anakni Puniakan Dalom Beliauan sangun alumnus Sarjana Hukum UI, yado Dalom Putri Regina Nareswarifiruzzaurrahma Pernong.

    ReplyDelete

Apah tiBaca

Ikuti Menjadi Sahabat Blog

PEMUDA DAN KEBERANIANNYA

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

dancer

TVRI