PAKSI PAK SEKALA BRAK----- KERAJAAN DI CUKUT PESAGI,---- KIK PAK KHAM MAK PULIAK----- ADAT PUSAKA TUTOP DIHATI

Selayang Pandang Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak

Tabik Ngalimpura, Haguk Neram Rumpok Sunyinni. Dipermulaan sinji, Yaddo dia sekindua ngaturko buribu laksa nerimakasih radu nyenghaja nyemuka di Blog sederhana sinji. Selanjutni sekindua buharop Blog sinji dapok dipakai sebagai rang bubagi informasi rik ilmu pengetahuan, ulehni lamon sai mak ceto, mak pas disusun tindehni, astawa bubida pendapok, yaddo dia ram saling menghormati, tilapok ram kekurangan jama hal sai betik. Niat Betik Cara Betik. Nerimanihan. Tabik

Monday, 10 November 2014

Perkembangan Alam Gemiser Di Sekala Brak



Ditulis : Saliwa

Alam Gemiser / Aban Gemisir 

Alam Gemiser Tampak Samping
Mempelajari kebudayaan dengan menggali latar belakang dari setiap bentuk peninggalan lama baik berupa benda maupun berupa perhelatan adatnya merupakan hal yang menarik, sebab kita seolah bisa melihat masa silam dengan menelusuri kekayaan tradisi yang sejak dahulu hingga kini masih dilakoni dengan setia oleh masyarakatnya. Namun terkadang untuk memahami dan mengerti akan kebudayaan suatu masyarakat kita dihadapkan dengan kenyataan kurangnya literatur masa lalu berupa tulisan yang menjelaskan secara mendetail mengenai apa dan bagaimana suatu tradisi itu ada dan dilaksanakan, walaupun ada catatan masa lalu berupa tambo dan prasasti lainnya akan tetapi jumlah nya sangat sedikit dan tidak membahas adat tradisi secara menyeluruh. Kebanyakan tatanan tradisi itu hanya disampaikan secara oral dari mulut kemulut yang kemudian menjadi “ warahan “ antar generasi, sebagaimana cerita masalalu yang disampaikan orang tua kepada anaknya. 

Adalah Alam Gemiser yang merupakan salah satu peninggalan nenek moyang dibagian barat provinsi Lampung yang masih dijaga kelestariannya hingga ini. Alam Gemiser atau Aban Gemisir dan ada yang menyebutnya Awan Gemiser merupakan sebuah alat perlengkapan adat yang dihadirkan untuk seorang pimpinan adat atau saibatin yang akan melakukan prosesi “lapahan” atau perjalanan adat seperti arak arakan / buharak . Hingga kini “Alam Gemiser” masih dianggap hal yang spesial atau terkhusus, sebab tidak semua orang bisa memakainya. 
Saibatin Kepaksian Bejalan Diway Didalam Alam Gemiser
Alam Gemiser dibuat dari kayu yang dibentuk menyerupai kubus dan kemudian dihias dengan kain kain khas sekala brak, ukuran dan tatanan kainnyapun memiliki aturan tersendiri, untuk ukuran normalnya kubus yang dibuat dapat dimasuki empat orang didalamnya, dan dibagian atas kubus ditutupi pula dengan kain khas guna menutupi orang yang ada di dalam Alam Gemiser agar tidak terkena sinar matahari Langsung. Alam Gemiser diangkat oleh Empat Orang pada setiap sudut sisi kanan dan sisi kiri, dan orang yang bertugas untuk mengangkat alam gemisir ini pun sudah ditentukan berdasarkan kedudukan gelar nya didalam adat saibatin.

Dr. Harya Ramdhoni Julizaryah selaku Saibatin Marga Liwa menjelaskan bahwa Awan Gemisir adalah salah satu perangkat adat Sai Batin yang masih bertahan hingga kini merupakan hasil akulturasi budaya peperangan Islam dari jazirah Arab (Kana’an dan Syam) yang terinternalisasi di dalam adat Lampung Sai Batin melalui perantaraan kaum ekspeditor muslimin dari Samudera Pasai. Dari beberapa buku yang kami baca mengenai perang Sabil antara kaum muslimin melawan kaum nasrani, terdapat gambar Salahuddin Al Ayubi atau Saladin menerima penyerahan Yerusalem dari kaum Nasrani di bawah sebuah tenda yang amat mirip dengan Awan Gemisikih, demikian Saibatin Marga Liwa menjelaskan. 

Beliau juga menambahkan bahwa Menurut Mohd. Abdullah Syukri dari Institut ATMA-UKM proses penyebaran Islam di Sumatera telah dilakukan sejak kemunculan kerajaan Islam Peureulak yang berdiri pada tarikh 1 Muharram 225 H atau hari Rabu 12 Nopember 839 M. Akan tetapi secara intens dakwah tersebut baru diamalkan sejak tahun-tahun terakhir kekuasaan Sultan Makhdum Alaidin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat, 501–527 H (1108–1134 M). Selanjutnya pada masa kerajaan Pasai di bawah kekuasaan Meurah Silu atau Sultan Malik Al-Saleh, serombongan pendakwah dari Kana’an dan Negeri Syam tiba di kerajaan tersebut. Apabila mereka menemukan ternyata di wilayah Pasai dan Peureulak raja dan masyarakatnya telah memeluk Islam kelompok pendakwah ini meninggalkan kerajaan tersebut dan bertualang menuju selatan guna menyebarkan agama Islam kepada mayoritas penduduk Sumatera yang masih menyembah berhala. Salah satu ekspedisi dakwah tersebut adalah yang kemudian dikenal sebagai Empat Paksi yang datang ke tanah Sekala Bgha guna menyebarkan agama Islam dan berakhir dengan kejatuhan kerajaan Hindu-Animisme tersebut.

Alam Gemiser pada Festival Keraton Nusantara di Palembang
Utusan Kepaksian Pernong
Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak.
Sebagai alat kebesaran seorang pemimpin adat / saibatin, alat ini hadir sebagai wujud kecintaan masyarakat kepada pimpinan adatnya, karena dengan berada didalam alam gemiser seorang pemimpin akan diberi keteduhan dan jaminan keselamatan dari para punggawa yang mengiringinya selama perjalanan. Selain itu juga Alam Gemisir pada kenyataannya memang lebih terkesan sebagai peninggalan tradisi islam yang dibawa Empat Umpu penyebar ajaran islam di Sekala Brak, Alam gemiser atau Awan Gemiser dalam bahasa Lampung dapat diartikan sebagai Awan yang Bergeser atau Awan Yang Bergerak Mengiringi, sesuai dengan kisah nabi junjungan Muhammad SAW,  bahwa seorang pendeta Bahira dikejutkan oleh suatu pemandangan yang sangat aneh: munculnya hamparan awan di langit sambil bergerak maju sepanjang jalan. Dalam benaknya, angkasa yang panas biasanya hanya tampak suasana langit jernih kebiru-biruan, kini tiba-tiba ada awan keputih-putihan dan abu-abu yang bergerak. Makin lama perjalanan awan itu semakin dekat. Kemudian diketahuinya pula bahwa bersamaan dengan itu di tengah padang pasir yang terik, serombongan kafilah - ternyata salah satu anggota rombongannya adalah sosok Muhammad kecil -- sedang berjalan menuju Syam. 

"Aban Gemisikh" dibawakan oleh Utusan Kepaksian Buay Belunguh - Kenali
Festival Krakatau 1987
Zaman Gubernur Pudjiono Pranyoto

Foto : Ina Dalom Yusnani
Pada Perkembangannya saat ini “ alam gemiser juga sering ditampilkan pada saat karnaval budaya, kelompok masyarakat adat yang turut serta dalam karnaval tersebut berupaya menampilkan kekayaan tradisi peninggalan nenek moyang mereka, salah satunya di awal awal perhelatan festival krakatau digelar, utusan dari Kepaksian Belunguh ( Festival Krakatau 1987 ) dan Kepaksian Nyerupa ditahun yang lain pernah juga membawakan tema “ Lapahan Adat Saibatin “ dalam sebuah karnaval, yang didalam rangkaiannya diikut sertakan “Alam gemiser” untuk memperlihatkan apa saja Alat Kebesaran seorang Sai Batin. Di Era selanjutnya tak jarang tema –tema seperti itu dibawakan oleh kabupaten Lampung Barat yang mayoritas masyarakatnya beradat saibatin untuk ikut memeriahkan karnaval yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Lampung. Dengan adanya upaya pelestarian budaya untuk menjawab perkembangan zaman ini maka hal hal unik yang bersumber dari tatanan adat tradisi begitu menarik untuk dikemas dalam sebuah perhelatan, namun terkadang kita terjebak dalam Euforia sesaat untuk sekedar seremoni tanpa memperhatikan layak tidaknya suatu kemasan itu jika dilihat dari norma tradisi yang berlaku, yang selama ini dijunjung tinggi didaerah aslinya.
Aban Gemisir dibawakan saat Festival Krakatau akhir akhir ini
Harapan besar dari penulis adalah semoga Alam Gemiser dapat terus dijaga kelestariannya beserta dengan seluruh norma dan tatanan yang ada, sehingga fungsi dan kekhasan dari alam gemiser tidak akan melenceng jauh dari tatanan adat yang semestinya.




>> Baca juga bagaimana tatanan bagi seorang yang berkedudukan sebagai Seorang Saibatin, Klik Link : http://saliwanovanadiputra.blogspot.com/2013/12/kedudukan-sai-batin.html


Apah tiBaca

Ikuti Menjadi Sahabat Blog

PEMUDA DAN KEBERANIANNYA

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

dancer

TVRI