PAKSI PAK SEKALA BRAK----- KERAJAAN DI CUKUT PESAGI,---- KIK PAK KHAM MAK PULIAK----- ADAT PUSAKA TUTOP DIHATI

Selayang Pandang Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak

Tabik Ngalimpura, Haguk Neram Rumpok Sunyinni. Dipermulaan sinji, Yaddo dia sekindua ngaturko buribu laksa nerimakasih radu nyenghaja nyemuka di Blog sederhana sinji. Selanjutni sekindua buharop Blog sinji dapok dipakai sebagai rang bubagi informasi rik ilmu pengetahuan, ulehni lamon sai mak ceto, mak pas disusun tindehni, astawa bubida pendapok, yaddo dia ram saling menghormati, tilapok ram kekurangan jama hal sai betik. Niat Betik Cara Betik. Nerimanihan. Tabik

Sunday, 13 July 2014

SEJARAH MARGA RANAU




LETAK DAN LUAS MARGA RANAU
Ditulis oleh :
M. Muslimin Gelar Sutan Singa Juru
 Klik untuk Profil Beliau : http://paksibuaybelunguh.blogspot.com/2014/01/pangeran-singajuru-jepara-ranau-kerabat.html



( Disalin Ulang oleh Ina Dalom Yusnani Pn Jayadilampung, diposting pertama kali oleh Saliwa )
 
Bentuk tanah ranau ini bolehlah kita samakan dengan  empat persegi diklilingi oleh gunung seminung dengan bukit dan lembahnya di kaki gunung Seminung walaupun bukitnya curam tapi ranau tanahnya datar jurang-jurang banyak didapat arah kesebelah Utara dan Timur dari lembah. Adapun asal penduduk asli dari lembah ini yag masih ada sekarang yang terbesar datangnya dari Sekala Brak yaitu dari satu bagian (streek) yang masuk bagian Onderafdeeling Krui Keresidenan Bengkulen.

Penduduk asli dari ranau ini ada tebagi dari 5 (lima) kturunan yang berarti 5 keturunan ini datangnya dari Sekala Brak bukan bersama sama tapi berturut turut. Yang terutama sekali dari ketrunan ini yang datang mendiami tanah Ranau ini yalah Puyang dari Pasirah Amrah Muslimin Pasirah Ranau yang bergelar Pangeran Singa Juru,  beliau ini datang di tanah ranau kira-kira 15 tahun Masehi. Mula pertama beliau ke Ranau,didapatinya disana bangsa Abung. Mula-mula beliau datang keranau, bertempat didusun Kotabumi yang mana dusun ini sekarang tidak ada lagi tetapi tempatnya dahulu kira-kira sebelah barat dusun sukajaya, kini makam beliau ada sebagai saksi. Dan sejak orang-orang Abung meninggalkan lembah tanah Ranau ini maka seluruh lembah ini telah menjadi urusan anak cucu dari Pangeran Singajuru. 

Ketika 2 abad kemudian setelah orang abung meninggalkan lembah ini, maka datang pula seorang bangsawan dari sekala Brak nama Umpu Sujadi bersama pengiringnya mendiami lembah ini, mula-mula Umpu Sujadi besrta pengiringnya menumpang bercocok tanam saja pada Pangeran Wirataha anak cucu dari Pangeran Singajuru, karna tingkah laku Umpu Sujadi pada pangeran wirataha baik keduanya menjadi sahabat karib, maka Umpu Sujadi diberilah tanah oleh Pangeran Wirataha untuk menjadi penghidupannya,  sampai dikemudian hari tanah yang dikasih Pangeran Wiratama untuk Umpu Sujadi yaitu dari batu gejumbun ke batumata tahun, dan dari batu mata tahun milir mengikuti wala sampai kemuara wai telanai dan darisana mudik mengikuti air telanai sampai ditelaga balak dari sini turun lagi kedanau ranau melalui perbatasan mendapatkan batu gejumbun tadi. Tanah yg diserahkan oleh Pangeran Wirataha pada Umpu Sujadi yalah yang menjadi tanah Marga Banding Agung dari keturunan Umpu Sujadi ini yang masih hidup yalah pamili jenusin (batin purba) dan yang kedua famili dari mangkuraja dusun banding agung. 

Dan kemudian menyusul pula dari Sekala Brak bagian sukau nama Prajurit  Sawang serta pengiringnya, Prajurit  sawang menghadap Pangeran Natakesuma tua anak cucu pangeran singajuru dan minta tanah pula untuk penghidupan mereka, atas kemurahan hati Pangeran Natakesuma tua maka diberi pulalah Pajurit Sawangan tanah dari anak hamara wai warkuk naik kepematang durian helau dari sini turun kewai pandak tanah ini diserahkan pula oleh Pangeran Nata Kesuma Tua pada prajurit sawangan untuk kehidupannya kelak, dan berdirilah sebuah dusun yang bernama pagardewa, anak cucunya yalah Depati Mahalatin dan Haji Mustapa dusun pagardewa.

 Setelah itu menyusul pula dari Sekala Brak dari dusun teratas nama Depati Unang mintak tanah pula dari Pangeran Natakesuma (anak Pangeran Natakesuma Tua) untuk menjadi tempat penghidupannya dan pengiringnya dari Pangeran Natakesuma dikasih pula tanah dari hamara warkuk kepematang durian helau belok keutara ke pematang.rangla turun kewai handak menuju kaur tebak sampai didanau ranau mendapatkan hamara wai warkuk dan akhirnya kemudian berdiri Dusun Tanjung Jati diatas tanah yang diserahkan oleh Pangeran Nata Kesuma Muda pada Depati Unang. Zuriat depati unang yalah Haji Sarif Dusun Tanjung Jati.

 Tidak berapa lama dari itu datang pula Pangeran Liang Ratu asal dari Sekala Brak minta tanah pada Pangeran Mangkiuda Tuha yaitu turunan Singajuru anak dari Pangeran Natakesuma Muda. Dari Pangeran maka Pangeran Liang Ratu dikasih tanah dari hamara unga-unga mudik menurut air warkuk sampai diwai handak dari belok sebelah barat naik dikaki gunung seminung menuju kepinggir Danau Ranau kepring kunjir dari sini lurus mendapatkan hamara unga-unga, sangking girangnya Pangeran Liang Ratu mendapatkan tanah itu maka pada suatu hari ia memotong seekor kerbau dihamara unga-unga dengan Pangeran Mangkiuda Tuha mengadakan pesta bersama orang-orang banyak dengan melepaskan tembakan meriam dan menjelaskan Pangeran Liang Ratu dikasih tanah seperti tersebut diatas, zuriat (keturunan) dari Pangeran Liang Ratu yalah Tjik'Agus dusun kotabatu. 

Kalau menilik apa-apa yang diterangkan diatas nyata pada kita bahwa lembah tanah ranau yang dahulu bekas menjadi satu saja kemudian dibagi menjadi lima bagian maka tiap-tiap bagian dikepalai oleh seorang pangeran of Adipati. Demikian ditanah ranau ini ada kira-kira 50 a 100 sebelum bendera belanda berkibar disini ada 5 buah marga:
1.       Marga Batang Ribu dikepalai turunan Pangeran Singajuru turunan Pangeran Amrah Muslimin Pasirah Ranau.
2.       Marga Banding Agung dikepalai turunan Umpu Sujadi Keturunan Batin Purbasa bandingagung.
3.       Dusun Tanjung Jati dikepalai oleh Depati Unang dan turunannya yaitu keturunan dari Haji Sarif dusun tanjung jati.
4.       Dusun Pagar Dewa dikepalai oleh Prajurit Sawang serta turunanannya yaitu keturunan dari Depati Mahalatin dan Hj Mustapa.
5.       Dusun Kota Batu dikepalai oleh Pangeran Liang Ratu serta turunannya Tjik' Agus dusun Kotabatu.

50 a 60 bendera belanda berkibar dilembah tanah ranau ini maka atas praturan kanjeng Gouvernement maka dusun tanjung jati, pagardewa dan kotabatu, yang dahulunya berdiri sendiri serta tiap-tiap bagian diperintah oleh seorang pasirah, maka marga-marga itu dicampurkan menjadi satu dan dijadikan satu marga saja dan dinamakan Marga Warkuk, pasirahnya mula-mula dari turunan Depati Unang dari dusun Tanjungjati sudah berhenti diambilkan pula dari turunan Penjurit Sawang dari dusun pagardewa dan setelah itu diganti pula dari turun Pangeran Liang Ratu dusun kota batu, pasirah terakhir yang memerintah marga warkuk yaitu Depati Djakidin dusun kotabatu. sesudh beliau ini brhenti maka Warkuk digabungkan dengan Marga Batangribu dan marga warkuk dimatikan. 

Dalam tahun 1908 dan pada tahun 1909 sesudah Depati Lanang dusun Banding Agung berhenti maka Banding Agung disatukan lagi dengan Marga Batang Ribu, dengan penggabungan ini maka nama ketiga marga tadi dihapuskan dan dijadikan Marga Ranau sampai sekarang. 

Pangeran Singajuru meninggal diganti anaknya bernama Puyang Depati Kumbang Mibor pindah dari dusun Kotabumi kedusun Radjok (dusun ini sekarang tak ada lagi tapi tempatnya kira-kira sebelah darat dusun kotabatu sekarang). Dan beliau tidak lama tinggal didusun rajok itu dan beliau serta pengiringnya pindah membuat sebuah dusun pula di Tandjung Mebah dipinggir Danau Ranau dikaki gunung seminung. Depati Kumbang Mibor beranak bernama Depati Rentaka. 

Depati Kumbang Mibor ini sewaktu ia lagi memerintah didusun Tanjung Mebah maka ia dipanggil oleh Pangeran Sindang Kunajan dari Palembang buat membantu Palembang perang dengan jambi sehingga palembang mendapat kemenangan dan Depati Kumbang Mibor terus tinggal di Palembang bersama Pangeran Kunayan sehingga meninggal di Palembang dan dimakamkan di Sabah Kingking satu tempat dengan Pangeran Sidang Kunajan. Ketika mendapat khabar Puyang Depati Kumbang Mibor telah meninggal di Palembang maka rakyat Marga Ranau mengangkat putranya bernama Depati Rantaka menjadi ikutan marga. Dizaman Depati Rentaka ini maka dusun tanjung rebah ditinggalkan dan pindah didusun jepara tua, dusun ini tidak ada lagi tapi tempatnya kira-kira disebelah barat jepara sekarang, dan ibu saya adalah putri tertua dari Pangeran Jayadilampung, turunan Buay Belunguh Kenali Kerajaan Sekala Brak.

sumber : https://www.facebook.com/notes/yusnani-pn-jaya-dilampung/letak-dn-luas-marga-ranau-diambil-dari-catatan-mmuslimin-gelar-sutan-singa-juru-/683984318340433

Apah tiBaca

Ikuti Menjadi Sahabat Blog

PEMUDA DAN KEBERANIANNYA

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

dancer

TVRI