PAKSI PAK SEKALA BRAK----- KERAJAAN DI CUKUT PESAGI,---- KIK PAK KHAM MAK PULIAK----- ADAT PUSAKA TUTOP DIHATI

Selayang Pandang Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak

Tabik Ngalimpura, Haguk Neram Rumpok Sunyinni. Dipermulaan sinji, Yaddo dia sekindua ngaturko buribu laksa nerimakasih radu nyenghaja nyemuka di Blog sederhana sinji. Selanjutni sekindua buharop Blog sinji dapok dipakai sebagai rang bubagi informasi rik ilmu pengetahuan, ulehni lamon sai mak ceto, mak pas disusun tindehni, astawa bubida pendapok, yaddo dia ram saling menghormati, tilapok ram kekurangan jama hal sai betik. Niat Betik Cara Betik. Nerimanihan. Tabik

Wednesday, 16 April 2014

Piagam Sukau Dari Sultan Banten


" Dizaman Sai Batin Paksi Buay Nyerupa Si Rasan Pikulun Ratu Di Lampung, beliau melakukan siba di Banten memenuhi undangan Sultan Abdul Muhasin Zainul Abidin, yang memerintah banten tahun 1690 M. Ratu Pikulun diberi gelar oleh sultan banten dengan gelar kebangsawanan Tubagus Makmur Hidayatullah dan diberi Prasasti Tambo Tembaga dari Kuningan, Tombak serta Keris Pusaka. Sebagai tanda pengakuan keluarga Kebangsawanan Lampung beliau meninggalkan satu Penggawa diwilayah Banten Cikoneng ". 
( Puniakan Dalom Salman Parsi : Sultan Piekulun Jayadiningrat, Sultan Paksi Buay Nyerupa )

****

Sekilas salinan tulisan dari Ahmad Syafei adok Sultan Ratu Pikulun
( Sai Batin Paksi Buay Belunguh 3 Zaman, Belanda - Jepang - RI )
Sekedar penjelasan, Sultan Abumahasin yang mengeluarkan piagam ini memerintah di Banten antara tahun 1690-1733. Pada waktu itu daerah Lampung tunduk dibawah pengaruh kekuasaan Banten, dalam arti bahwa tiap-tiap tahun datang peru0tusan dari daerah Banten, dibawah pimpinan seorang jenang yang mempunyai wewenang untuk mengangkat dan memecat kepala - kepala daerah dan mempunyai wewenang untuk mengumpulkan merica untuk Banten.

Rupanya pada waktu itu perdagangan orang dan perbudakan masih ada tetapi semua itu harus dari izin dari Sultan Banten berjual beli orang boleh asal ada surat izin dan cap dari Sultan. Agaknya berbeda dengan keadaan di Palembang. Dalam surat - surat piagam dari Sultan Palembang yang bersama waktunya dengan piagam Banten ini sering dijumpai keterangan bahwa berjual beli orang itu dilarang karena hal itu merupakan pantangan Sultan.

Tentang ibunegeri Jalan di Wai tadinya bernama Puncak berobah menjadi Negeri Ratu. Berapa tahun sehabis gempa bumi Pangeran berpindah tempat kesimpang Kembahang kampung yang baru itu diberi nama Puncak dalom. Lain halnya dengan kedua rekannya yang mana sejak dahulu sampai sekarang tetap mempertahankan nama Aslinya, 1, Buay Belunguh dengan ibu negeri Kenali. 2. Buay Kenyangan/Pernong ibu negeri Batu Brak. 

Kira-kira pada Abad  17 sebagian yang dari mengungsi ke semangka itu kembali ke Asalnya menggabung pada mereka yang terdahulu karena kuatir mendapat serangan kembali dari kesultanan Palembang, Mereka bersama-sama dengan penduduk pesisir Krui yang tidak kena diperangi oleh kejawen menggabungkan daerahnya pada Sultan Banten. Tentang ini dibuktikan oleh dua lembar prasasti tembaga (piagam) yang sampai sekarang disimpan oleh keturunan Lurus dari Umpu nyerupa bernama Syafulah Hakim glr Sultan Akbar di Sukau, ditulis dalam huruf jawa kuno dari Sri Sultan Abulmahasin Muhammad Zainul Abidin yang memerintah kerajaan SURASOWaN (Banten) antara tahun 1690-1733 ditujukan pada Punggawa Negara Sukung (Sukau), jadi pada waktu itu tata pemerintahan di Lampung telah diatur oleh Sultan terdiri daerah kepunggawaan tidak dikecualikan Punggawa Sukung. Kemudian pada zaman Kompeni Inggeris menjadi Marga Sukau tetapi kepada Kepalanya masih masih dipakai sebutan Raja, sewaktu bunyi surat pemerintah Belanda waktu permulaan menguasai daerah ini yang masih ada disimpan penulis.

Sebutan kata-kata Negara itu bukan saja daerah Sukung tetapi tiap-tiap kepunggawaan disebut Negara menunjukan negara itu bukan dalam pengertian sekarang tetapi kesatuan kampong-kampung (Marga) seperti yang dimaksut dalam prasasti Tebaga itu. Berhubung Sri Sultan mengetahui bahwa Sukau adalah salah satu dari bekas Kerajaan Paksi Pak (Nyerupa) yang mempunyai daerah luas dipegunungan sampai dipantai laut, apalagi Sukaulah yg mempelopori seluruh Krui untuk menggabungkan diri kepada kesultanan Banten itu terlebih pula tempatnya berbatasan dengan Bengkulu (tempat Kompeni Inggeris) dan dipegunungan berbatasan dengan Sultan Palembang yang pertahanannya harus diperkuat, makanya kepunggawaan Sukung ini dianggap lebih Penting dari kepunggawaan lainnya dengan bukti Prasasti itu ditujukan dengan Punggawa Sukung jika tidak disebabkan adanya Prasasti tembaga itu terdapat di Sukau yang mirip dengan sebutan Sukung, tentu kita akan berpendapat bahwa sebutan Sukung itu dimaksudkan nama dari daerah Krui keseluruhannya.

 Bagaimanapun juga telah jelas oleh Sultan diterapkan tata pemerintahan didaerah lampung dengan sistim kepunggawaan, dimana tiap-tiap tahun diutus seorang utusan disebut "JENANG" dengan wewenang mengangkat dan memberhentikan Kepala-kepala Daerah. Walaupun demikian yang memberi keputusan dan melantik orang-orang  yang telah diangkat itu yalah Sri Sultan sendiri, termasuk apa yg disebut "Perjalanan Siba di Banten" Karena Sultan Banten disebut Pangeran gusti menganggap Kompeni Belanda menolong membantunya mengalahkan pengikut Ratu Surya Fatimah Permaisuri Sultan Abdul Fattah Muhammad Syah yang meninggal dunia pada tahun 1750 Maka pada tahun 1751 seluruh Lampung diserahkannya sebagai hadiah kompeni Belanda (perbuatan terkutuk). Adapun kesan baik yang kita proleh dari Banten yaitu kita telah mempunyai Adat yang cukup baik mengatur tatacara kehidupan bermasyarakat dan dapat dipakai serta sebagian besar masih berjalan sampai dewasa ini meskipun diantaranya ada pula adat sejak zaman Sekala Brak dan ada pula berasal dari Pagaruyung.

Piagam Sukau

Apah tiBaca

Ikuti Menjadi Sahabat Blog

PEMUDA DAN KEBERANIANNYA

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

dancer

TVRI