SEKALA BRAK : Ranau Way Merilau ----- Seminung Cukutni Pesagi ---- Regah Lawoh Selalau ----- Tanjung Cina Uncukni

"TABIK NGALIMPURA SALAM NGEBUKA CAWA"

Haguk Neram Rumpok Sunyinni. Dipermulaan sinji, Yaddo dia sekindua ngaturko buribu laksa nerimakasih, puserumpok radu nyenghaja nyemuka di Blog sederhana sinji. Selanjutni jak isan sekindua buharop nyaman kantu Blog sinji dapok tipakai jadi rang bubagi informasi rik ilmu pengetahuan, ulehni lamon sai mak ceto, mak pas disusun tindehni, astawa bida dipendapok, yaddo dia ram saling ngehormati, tilapok ram kekurangan jama hal sai betik. Niat Betik Cara Betik. Nerimanihan. Tabik

Wednesday, 22 June 2016

Buku Gamolan Pekhing dari Sekala Brak


Data buku:

Gamolan Pekhing, Musik Bambu dari Sekala Berak

I Wayan Sumerta Dana Arta

Sekelek, Bandar Lampung

I, November 2012

xiii + 125 hlm.

SENI senantiasa berkembang mengikuti zaman. Pergeseran-pergeseran bentuk, fungsi dan makna kerap tak terhindarkan oleh campur tangan kreativitas seniman. Karena itu, penelitian atau pengkajian secara ilmiah menjadi sisi lain yang dibutuhkan sebagai acuan untuk memahami dan menjaga keutuhan suatu karya seni. Karena itu apa yang ditulis I Wayan Sumerta Dana Arta dalam Gamolan Pekhing Musik Bambu Dari Sekala Berak (Penerbit Sekelek, November 2012, editor Christian Heru Cahyo Saputro) menjadi bagian yang memperkaya literatur khasanah kesenian, khususnya seni musik tradisional Lampung.


Buku yang bertolak dari tesis Wayan Sumerta pada Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan di Universitas Hindu Indonesia Denpasar ini semula berjudul Gamolan Pekhing di Lampung Barat, Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna. Yang juga didedikasikan sebagai upaya mendiskripsikan dan mendokumentasikan musik tradisional Lampung gamolan pering.

Banyak hal tentang gamolan pekhing yang disajikan dalam buku yang terdiri dari 6 bab dan 125 halaman ini. Mulai dari eksistensi gamolan pekhing, hubungannya dalam masyarakat adat Lampung khususnya Paksi Pak Sekala Brak, mengenai bentuk dan cara pembuatannya, fungsi dan makna serta notasi hingga momen gamolan pekhing mendapatkan rekor Muri.

Tidak mudah tentunya membukukan hasil penelitian dengan data yang komprehensif berdasarkan pada sinergi pendekatan sosial budaya. Terlebih buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto yang dikemas cukup lux sehingga Ida Bagus Gunadha, direktur Pascasarjana UNHI Denpasar, menuturkan lewat kata pengantarnya bahwa I Wayan Sumerta berhasil mengangkat dan mengkaji gamolan pekhing dengan menyoroti tiga hal penting yaitu: bentuk (fisik, cara pembuatan, teknik permainan, dan penotasian), multifungsi (religius dan sosial), serta makna (gotong royong, etika moral, dan pendidikan).

Memang bila kita cermati buku ini tidak saja mencerminkan kesungguhan Wayan Sumerta memberikan konstribusi positif bagi perkembangan dunia musik tradisional Lampung, tetapi pula sebagai suatu upaya memelihara keutuhan gamolan pekhing dari Sekala Berak, Lampung Barat. Kita pantas memberikan apresiasi bagi Wayan Sumerta yang sebelumnya telah mendapatkan penghargaan Mutiara Bangsa dalam pengembangan seni dan budaya Lampung, penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia sebagai penemu laras pelog enam nada dalam gamolan pekhing, di mana hak cipta untuk penemuan ini telah terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Memperkuat pandangan itu, argumentasi berikut mungkin dapat dipandang logis. Pertama, gamolan pekhing dalam konteks bentuk; untuk mewariskan cara pembuatan kiranya memang diperlukan adanya panduan, baik dari seniman yang lebih dulu menekuni gamolan pekhing maupun melalui literatur. Mengenai teknik permainan dan notasi, mengingat banyak seniman yang bisa memainkan gamolan pekhing lewat mendengar secara oral tradisi atau secara turun-temurun, belajar pada pakar seni atau lewat sanggar-sanggar kesenian, maka bukan mustahil akan terjadi pergeseran-pergeseran nilai keaslian pukulan dan teknik permainan.

Kedua, dalam konteks fungsi dan makna. Gamolan pekhing dengan beragam jenis tabuh, seperti tabuh sambai agung untuk menyambut orang-orang yang dihormati, tabuh labung angin yang umum mengiringi perpisahan pengantin wanita, tabuh jarang untuk mengiringi Saibatin yang meninggal dunia ke permakaman, dan lain-lain. Dengan demikian, gamolan pekhing yang dipakai hanya pada prosesi adat seperti perkawinan, kematian ataupun menyambut tamu agung, memungkinkan makin sedikitnya peminat yang mempelajari dan menekuninya.

Ketiga, dalam konteks kreativitas. Notasi gamolan pekhing yang unik dan khas membuka ruang kreativitas untuk dikolaborasikan dengan instrumen musik modern maupun instrumen musik tradisional dari daerah lain.

Karena itu, buku ini menarik untuk menjadi bahan bacaan dan referensi yang representatif untuk mempelajari dan memahami gamolan pekhing bagi kalangan pelajar, guru, musisi, maupun masyarakat umum dalam bidang musik.

Syaiful Irba Tanpaka, Seniman

Sumber: Lampung Post, Minggu, 20 Januari 2013 
 

 

Artikel Terpopuler

Ikuti Menjadi Sahabat Blog