SEKALA BRAK : Ranau Way Merilau ----- Seminung Cukutni Pesagi ---- Regah Lawoh Selalau ----- Tanjung Cina Uncukni

"TABIK NGALIMPURA SALAM NGEBUKA CAWA"

Haguk Neram Rumpok Sunyinni. Dipermulaan sinji, Yaddo dia sekindua ngaturko buribu laksa nerimakasih, puserumpok radu nyenghaja nyemuka di Blog sederhana sinji. Selanjutni jak isan sekindua buharop nyaman kantu Blog sinji dapok tipakai jadi rang bubagi informasi rik ilmu pengetahuan, ulehni lamon sai mak ceto, mak pas disusun tindehni, astawa bida dipendapok, yaddo dia ram saling ngehormati, tilapok ram kekurangan jama hal sai betik. Niat Betik Cara Betik. Nerimanihan. Tabik

Saturday, 26 November 2016

Pengabdian Pangeran Suhaimi Pahlawan Kusuma Bangsa

" SELAMAT HARI PAHLAWAN " 

Mengabdi Untuk Negara dan Adat Istiadat

PANGERAN SUHAIMI SULTAN LELA MUDA adalah salah satu putra terbaik dari bumi Lampung, Beliau lahir di Kecamatan Belalau Lampung Utara (kala itu) pada tahun 1908, Beliau adalah putra Dalom Haji Merah Dani atau dikenal Sultan Harmain gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja.

Pangeran Suhaimi Dimakamkan dalam suatu upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kedaton Bandar Lampung. Bertindak sebagai inspektur Upacara adalah Kasi Politik Korem 043 Garuda Hitam Mayor Yusuf, serta dihadiri oleh Sekwilda Alimudin Umar, SH yang mewakili Gubernur Lampung yang juga salah seorang keluarga besar dari Pangeran Suhaimi. Turut hadir juga dalam upacara pemakaman yaitu Walikota Madya Drs. Zulkarnain Subing, dan Ketua DPRD Kodya Bandar Lampung.

Pangeran Suhaimi Sultan Lela Muda salah satu putera daerah yang meninggalkan jejak pengabdian untuk tanah Lampung, baik selaku abdi masyarakat dalam pemerintahan begitu juga sebagai pejuang dalam pertempuran melawan penjajah. Selain itu, Pangeran Suhaimi juga mengemban amanah sebagai Pemuka Masyarakat Adat Pemimpin (Sai Batin / Sultan) di Sekala Brak Kepaksian Pernong, Beliau yang bergelar adat Sultan Lela Muda Pangeran Raja Selalau Sangon Guru Pemuka Agung Dengian Paksi, Sultan Kepaksian Pernong yg juga pernah menjadi Wedana kewedanaan krui ( kemudian menjadi kab. pesisir barat dan lampung barat sekarang ini ) juga Wedana Ogan Ulu Karesidenan Palembang (ber ibu kota di Batu Raja saat itu ) dan selanjutnya sebagai Pejabat Tinggi Bupati Kantor Gubernur di Tanjung Karang.

Tercatat dalam sejarah Beliau pernah menjadi acting Bupati Perang Lampung Tengah, Wedana Perang Pimpinan perlawanan Rakyat Bukit Kemuning Front Utara dan pada masa revolusi membentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) yang masuk ke jajaran TNI , setelah bergerilya di Lampung Utara juga sebagai wedana perang di Lampung Utara, kemudian berpindah ke Lampung Tengah dan sempat juga beliau sebagai acting Bupati Perang dan bergerilya di daerah Lampung Tengah dan Lampung Selatan.

Pangeran Suhaimi pensiun sebagai Bupati / Pegawai Tinggi Kotaprajaan pada Kantor Gubernur Lampung pada November 1967. Karier beliau dibidang pemerintahan dimulai sejak berhenti dari TNI AD dengan Pangkat Letnan II dan diangkat sebagai Camat Bukit Kemuning Lampung Utara, jabatan camat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat ternyata menjadi spesialisnya, terbukti dengan diangkatnya Pangeran Suhaimi untuk menjadi camat di Pekalongan, Jabung, Wonosobo, Gedong Tataan, Panaragan, Pakuwon Ratu ( Lampung Utara ).

Di daerah pesisir bagian barat beliau menjabat Camat Klas 1 dan Camat Pesisir Selatan, kemudian menjadi Wedana Krui. Pernah pula menjadi Wedana Ogan Ulu Baturaja, kemudian selaku Wedana di Kantor Residen Lampung.

Dengan surat Keputusan Residen Lampung tanggal 13 Desember 1949, Pangeran Suhaimi diangkat sebagai Akting Wedana dan Akting Bupati Lampung Tengah, Beliaulah yang menerima penyerahan daerah atau wilayah Lampung Tengah dari tangan Belanda tanggal 15 Desember 1949.

Karier Beliau dipemerintahan terus meningkat sesuai dengan pengkatan Menteri Dalam Negeri melalui SK No. UP. 7/138 – 265 menjadi Patih / Ahli Tatapraja TK.1 dan dilanjutkan dengan SK No. UP. 7/4.14-49 menjadi Bupati / Pegawai Tinggi Ketataprajaan pada Kantor Gubernur Lampung sampai pensiun pada bulan Desember 1967.

Karier Militer Almarhum dimulai ketika menjadi Pasirah di Batu Brak / Liwa, karena pada saat itu juga ia mengepalai Laskar API di Batu Brak. Karena jiwa perjuangannya, Komandan Resimen IV Divisi I mengangkatnya menjadi Letnan II dan diberi tugas sebagai Kastaf Batalyon I Resimen IV di Baturaja. Sebulan kemudian Pangeran Suhaimi dipindahkan ke Krui dan untuk pertama kalinya membentuk Batalyon III pada Pertengahan Tahun 1946 Pangeran Suhaimi pindah ke Batalyon IV Liwa sebagai Kastaf, kemudian Kastaf Batalyon III di Martapura dan Staf Resimen XII Baturaja, sampai kemudian mengundurkan diri pada bulan maret 1947 untuk meneruskan karirnya di Kepamong Prajaan.

Selama Perang Kemerdekaan II, Pangeran Suhaimi ikut bertempur bersama Sembilan pasukan yang berkantor di Kewedanaan Sukadana Lampung Tengah, menurut catatan beliaulah satu satunya Camat/ Wedana yang tidak pernah meninggalkan tugasnya dan tidak pernah menyerah ( karena saat itu ada istilah kolaborator yaitu para administratur pemerintah yang tidak mau masuk hutan dan dinina bobok kan Belanda terutama para wedana yg menjalankan pemerintahan sambil membantu Belanda seraya menikmati susu dan keju belanda tapi menjual rakyat dan tanah air nya, setelah itu suara nya lah yg paling keras seolah olah berjasa besar dan ikut berjuang yg ternyata berjuang dalam mimpi), Pangeran Suhaimi adalah pejuang serta selalu bergerilya bersama TNI dan pasukannya.

Tanda Jasa dan Penghargaan

Selain surat Tanda Pahlawan dalam perjuangan Gerilya, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II, Satya Lencana dalam ikut menumpas G.30 S/PKI, beliau juga mendapat bintang dari Gubernur Hindia Belanda atas jasanya menolong rakyat dari musibah gempa bumi tahun 1933, dan surat penghargaan dari Panglima Balatentara Dai Nipon di Palembang karena membantu dalam perang Asia Timur Raya tahun 1944.

Dari Residen Bengkulen, Pangeran Suhaimi mendapat titel Pangeran, Hadiah Tongkat serta Kancing Emas karena jasanya membuat banyak jalan baru serta menambah luas persawahan rakyat. Penghargaan Lain berupa Tanda jasa diberikan oleh Panglima TT.II Sumatra Selatan.

Atas jasanya untuk negara Pangeran Suhaimi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bandar Lampung bersama tiga puteranya yang mengikuti jejak kepahlawanan, ketiga putra Pangeran Suhaimi itu adalah Pangeran Maulana Balyan, Abdoel Moeis, Mayor AU. Moh. Bunyamin. Selain itu keluarga besar Pangeran Suhaimi yaitu Pahlawan Akmal juga dimakamkan di TMP Baturaja Sumatera Selatan, dan anak dari Pahlawan Akmal yaitu Letnan A. Zawawi Akmal dimakamkan di TMP Karet Jakarta.

Keturunan Pangeran Suhaimi.

Saat ini keturunan beliau selaku Abdi Negara di antaranya adalah Brigjend. Pol. Drs.Pangeran Edward Syah Pernong SH. MH. dan Brigjen Ike Edwin, SH. MH. Keduanya Putra Lampung pertama kali yang pernah menjabat Kapolda Lampung, Kombes. Pol. Dra.Tomsi Tohir Balau , msi , AKBP. Ulung Sampurna Jaya, Kolonek CHK Zulkifli Moeis SH, AKBP. Huari Moeis , Letkol . Hendra moeis , Letkol. Kav Topri Tohir Balaw SE, S.Sos. dan lainnya.

Keturunan Pangeran Suhaimi yang mengabdi dibidang lainnya adalah dr. Chairul Muluk, dr. Emilia SPPk, MKes., di bidang jurnalistik Hj. Syamsiar Sifarolla BA, sedangkan di bidang keilmuan di antaranya DR. Erlina Rufaidah M.Si dan DR. Muhammad Harya Ramdhoni Julizaryah. Seluruh anak keturunan beliau adalah penerus perjuangan untuk mengabdi pada masyarakat dan Negara serta tak lupa pada Bumi Sekala Brak tanoh Asal Usul Lampung.

Pangeran Suhaimi
Pangeran Suhaimi Sultan Lela Muda telah meninggalkan jejaknya pada sebagian besar wilayah Lampung, beliau mengabdi pantang menyerah, jiwa kepemimpinannya dalam membina masyarakat membuat beliau dipercaya menjadi camat , wedana dan acting bupati , berjuang bergerilya dibanyak tempat, jiwa patriotnya untuk selalu berjuang mencapai kemerdekaan NKRI. Setelah kemerdekaan di proklamirkan 17 Agustus 1945 maka tugas selanjutnya adalah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, kita sebagai generasi penerus hendaknya meneruskan semangat perjuangan para pahlawan.

Artikel Terpopuler

Ikuti Menjadi Sahabat Blog