PAKSI PAK SEKALA BRAK----- KERAJAAN DI CUKUT PESAGI,---- KIK PAK KHAM MAK PULIAK----- ADAT PUSAKA TUTOP DIHATI

Selayang Pandang Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak

Tabik Ngalimpura, Haguk Neram Rumpok Sunyinni. Dipermulaan sinji, Yaddo dia sekindua ngaturko buribu laksa nerimakasih radu nyenghaja nyemuka di Blog sederhana sinji. Selanjutni sekindua buharop Blog sinji dapok dipakai sebagai rang bubagi informasi rik ilmu pengetahuan, ulehni lamon sai mak ceto, mak pas disusun tindehni, astawa bubida pendapok, yaddo dia ram saling menghormati, tilapok ram kekurangan jama hal sai betik. Niat Betik Cara Betik. Nerimanihan. Tabik

Wednesday, 28 January 2015

Deskripsi Prasasti Hujung Langit



Prasasti  Hujuŋ Laǹit 919 Śaka
( Oleh : Binsar D.L. Tobing 2004 )

Keletakan Prasasti Hujuŋ Laǹit masih in situ ( berada ditempat pertama kali ditemukan ). Prasasti ini ditemukan di sebuah kebun kopi di kampung harakuning ( haur kunjer ), desa hanakau, kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat. Penemuan mengenai prasasti ini pertama kali dilaporkan oleh tim pegawai Dinas Topografi yang mengadakan pemetaan wilayah itu pada tahun 1912 ( Damais, 1995: 27; Hasan Djafar, 2001: 6 ). Prasasti ini juga pernah dikunjungi oleh tim epigrafi dari Dinas Purbakala pada tahun 1954 yang terdiri dari Dr. J. G. de Casparis, Boechari, dan L. Ch. Damais ( Sukomo, 1985 ). 

Oleh Tim epigrafi Dinas Purbakala prasasti iitu dinamai prasasti Bawang karena tempat penemuan prasasti itu terletak tidak jauh dari dusun Bawang, yaitu sekitar 3 km disebelah tenggara. Penamaan serupa juga dilakukan oleh Damais, ia menyebut prasasti itu sebagai prasasti Bawang. Ada tiga baris alihaksara dari transkripsi yang dibuat Damais ( Damais, 1955 ;130 ). Prasasti ini oleh Damais kemudian disebut sebagai Prasasti Hujuŋ Laǹit yaitu berdasarkan toponim yang disebutkan didalam isi prasasti itu ( Damais, 1962: 278 ).
Prasasti Hujuŋ Laǹit dipahatkan di atas batu andesit yang belum mengalami proses pembentukan terlebih dahulu, walaupun demikian bidang yang ditulisi dapat dikatakan rata dan dapat digunakan sebagai bidang tulisan. Bagian bawah prasasti lebih besar dibandingkan dengan bagian puncak yang lebih kecil, sehingga prasasti ini berbentuk menyerupai kerucut. Dibagian belakang prasasti berbentuk agak bundar bahkan mendekati bentuk seperti segitiga.

Gambar Belati
Prasasti ini pada sisi mukanya (recto) memuat 18 baris tulisan dengan menggunakan aksara Jawa Kuna dan bahasa Melayu Kuna. Dibagian atas prasasti tepatnya lima belas centimeter diatas baris pertama ada pahatan berbentuk belati bermata lebar yang ujungnya mengarah ke kanan ( Damais, 1995: 31 ). Tetapi sampai sekarang belum dapat diketahui secara pasti apa maksud dipahatkannya pisau belati tersebut. Kemungkinan pahatanberupa pisau belati itu dapat merupakan suatu lambing atau lancana suatu kerajaan sebab bukan saja pada Prasasti Hujuŋ Laǹit, pahatan berbentuk belati ini juga terpahat pada prasasti Tanjungraya II ( batu pahat ) dengan pahatan belati menghadap keatas. Bahkan dalam masyarakat budaya Minang dikenal sebuah pusaka berupa belati yang bernama Si Madang Giri. Prof. F.D.K. Bosch pernah membahas mengenai pisau belati Si Madang Giri ini.

Menurut hasi pengamatan Bosch, pisau Si Madang Giri ini diperkirakan dibuat sekitas abad ke -14 Saka atau abad ke-15 Masehi ( Bosch, 1930: 210-215; Damais, 1962: 280-281, gb. 17, Damais, 1995: 30-31, gb.3; Hasan Djafar, 2001: 8). Maka mungkin ada suatu kesinambungan tradisi yaitu berupa pusaka belati yang terus berrlanjut dari belati pada Prasasti Hujuŋ Laǹit ke masa belati yang bernama Si Madang Giri, mengingat bahwa pusaka Si Madang Giri muncul pada zaman yang lebih muda.

Prasasti Hujuŋ Laǹit berdiri diatas sebuah punden berundak yang bertingkat tiga dan Prasasti Hujuŋ Laǹit terletak ditingkat paling atas. Disekitar prasasti juga terdapat sebaran berupa batu padas yang tidak jelas apakah batu itu merupakan runtuhan dari bangunan ataukah merupakan bongkahan dari batu batu punden yang sudah berserakan. 

§  Isi Prasasti :

1.      swasti  śri sakhāla1) warsatita2) 9193)
2.      margasara4) masa tithi nawami suklapaksa5) wā wa
3.      śu wara6) wuku kuniǹan) . ni tātkālaŋu7) marku8) hu
4.      juŋ laǹit) barkenan) sahutan) . satanah
5.      wulan) . oahuji 9) . kâmarukě – 10) sakahulilut)
6.      badan) . sakamatyan . sātukidupan) . salaku saja
7.      -- -- 11) mabuŋbuŋ . manatkala puŋku haji yowa12) rajya śrī haridewa
8.      Sakti 13 juru rědap) juru -- --14) mwaŋlan juru paja
9.      bat) dummak) . panīǹhatur agata . barpuji --- --- 15)
10.  juru ǹatalan) . ŋana wihāra saǹa samgat) juru
11.  pajak) pramukhānahan) kabayan) ni buǹcaŋ markunaǹ16) … … … ..
12.  -- -- han)17)  . wayan . di hujuŋlaǹit ) -- -- ha -- la parka -- -- 18)
13.  – pama19) banawa -- -- bdra20)  juru sāmyo21) danda22)  ǹa -- -- -- -- -- -- -- -- 23)
14.  -- -- 24) buǹa mayaŋ tinaŋluh kumaramatya kěmbaŋ ǹanumīrada pusaka
15.  -- bat)25) juru mabwaǹ . pamgat  ȷ̅uru ruhanan pramukha śrī  di
16.  banwa – mātu -- -- -- -- 26) rama .  ni hulun ri saǹ ājna makabehan)
17.  sara patyâǹaran . hujuǹ laǹit sa -- -- -- 27) . mwaŋ han) ǹana
18.  ( penutup  )

§  Terjemahan :

1.      selamat ! ketika sang waktu pada tahun saka telah berlangsung selama 919 tahun lamanya
2.      margasira bulannya (masa) tanggal 9 paro terang ( suklapaksa ) was wage
3.      sukra ( adalah ) wara nya . kuninan ( adalah ) wuku nya, pada saat ( penguasa ) daerah hu
4.      juŋ laǹit mempersembahkan seluruh hutan (dan) seluruh tanah
5.      (pada) bulan asuji ( yang apabila ) perintah ini di langgar akan ditusuk ( oleh senjata tajam ) dan diremas
6.      badan (nya) (dalam) seluruh kematian (dan) seluruh kehidupan (secara ) terus menerus
7.      ……………, ketikan punku haji yuwa rajya (yang bernama) śrī haridewa
8.      sakti ( bersama ) juru redap, juru ……….. dan juga juru paja
9.      bat (memberikan) hadiah ( berupa ) tanah ( untuk ) datang mempersembahkan (dan) memuja ……………
10.  juru natalan terdapat wihara …………… samgat juru
11.  pajak . demikianlah pramukha kabayan dipekerjakan (di sana )
12.  ………… wayan . di hujuŋ laǹit ………………………….
13.  ………… perahu ……… juru samya danda …………….
14.  ………… bunga pinang yang mati muda ( sehingga tidak menghasilkan ) buah, memberikan air kembang untuk barang-barang pusaka
15.  …….. juru mabwang pamgat juru ruhanan ……. pramukha sri di
16.  banwa …………….. rama hulun ( demikianlah )  perintah (ini) ( diturunkan ) untuk semuanya
17.  (dari) pemiliki ketentuan (daerah) yang bernama hujuŋ laǹit …………
18.  ( penutup )

§  Identifikasi Geografis

Menurut sumber prasasti-prasasti di Jawa, nama satuan wilayah pemukiman yang terkecil disebut wanua. Kelompok komunitas terkecil yang tinggal disebuah desa yang disebut wanua dipimpin oleh rama dan dewan tua tua. Wanua-wanua ini berada didalam satuan wilayah administrative lebih besar disebut watak . Penyebutan watak dalam prasasti – prasasti di Sumatera tidak ditemukan, tetapi penyebutan wanua dikenal didaerah Sumatra karena pernah disebutkan dalam fragment prasasti daerah Kedukan Bukit pada barisan ke delapan. 

Dalam prasasti hujuŋ laǹit disebut nama daerah Hujuŋ Laǹit. Daerah Hujuŋ Laǹit belum pernah dijumpai dalam prasasti-prasasti lain, baik yang sezaman, muda, atau yang lebih tua. Ternyata nama tempat yang memakai istilah “ Hujuŋ ( Hujung )” itemukan dibeberapa prasasti Jawa Kuna yang diantaranya prasasti Sarangan 851 Saka, yang menyebut daerah Hujung Pangumulan, bagian belakang baris (11). Prasasti Gulung-gulung 851 Saka, menyebutkan daerah yang bernama Hujung Galuh. Prasati Linggasuntan 851 Saka menyebutkan tentang watak hujung. Prasasti Jru-jru 852 Saka menyebutkan rakryan Hujung, watek Hujung dan daerah Hujung Galuh. Prasasti Hring 859 Saka menyebutkan wahuta Hujung dan sirikan hujung . Prasasti Muncang 866 Saka, menyebutkan watek hujung. Prasasti Kamalagyan 959 Saka, menyebutkan daerah Hujung Galuh. Dari data itu daerah “Hujuŋ” memang telah dikenal dalam prasasti terutama pada prasasti Jawa Kuna zaman Sindok. Jadi apakah mungkin terdapat hubungan antara kedua wilayah ini ? Tetapi yang pasti bahwa penyebutan nama daerah yang mengandung unsure kata “Hujuŋ” dikenal pada prasasti Jawa Kuna dan prasasti di Sumatra (Hujuŋ Laǹit ).

Prasasti Hujuŋ Laǹit menyebutkan satu daerah bernama Hujuŋ Laǹit yang seluruh hutan dan seluruh tanahnya diperuntukkan bagi bangunan suci yang dalam hal ini adalah wihara. Nama Hujuŋ Laǹit itu sendiri tidak tercantum dalam peta maupun sumber-sumber lait, namun sekitar 13 km ( jika ditarik garis lurus dari prasasti Hujuŋ Laǹit ) disebelah Timur Laut ada nama tempat yang bernama Ujung ( Damais, 1995:28). Jadi kemungkinan yang dimaksud sebagai Hujuŋ Laǹit adalah daerah yang bernama Ujung ( pekon Hujung kecamatan Belalau, Lampung Barat ).

§  Identifikasi Biografi

Puŋku Haji Yuwa Rajya Śrī Haridewa yang merupakan salah satu tokoh yang disebutkan dalam Prasasti Hujuŋ Laǹit belum dapat diidentifikasikan secara pasti. Penyebutan Puŋku, mempunyai arti tuanku atau pendetaku, dimungkinkan sebagai gelar yang menganggap bahwa Śrī Haridewa merupakan orang yang turut melindungi serta memilihara bangunan suci. Gelar Haji adalah arti yang umum untuk “raja”, dipakai untuk menyebut seseorang dalam hubungannya dengan wilayah kekuasaannya ( Ayatrohaedi, 1979: 79 ). Arti kata yang sama juga diberikan oleh Zoetmulder ( 1995:327) yang menyebutkan bahwa Haji dapat diartikan sebagai raja, keluarga raja, pangeran, Seri Baginda, Yang Mulia.

Istilah Yuwa Rajya (Yuwa Raja) pernah tercantum dalam prasasti yang berasal dari Sumatra, yaitu prasasti Telaga Batu yang diperkirakan berasal dari tahun 686 Masehi. Dalam prasasti ini disebutkan tiga kategori pangeran, yaitu : yuwaraja ( putera mahkota ), pratiyuwaraja ( putera mahkota ke dua ), dan rajakumara ( putera ahkota lainnya ) ( de Casparis, 1956: 17; Hall, 1976: 69; Kulke, 1991 : 9).

Biasanya raja muda ini sebelum menjadi raja yang berkuasa penuh diberi kedudukan sebagai raja disuatu daerah atau wilayah ( Soemadio (ed), 1993: 410). Śrī Haridewa yang dimaksud dalam prasasti Hujuŋ Laǹit adalah seorang putera mahkota yang berkuasa dalam suatu wilayah. Pemilik hak waris yang utama adalah putera atau puteri mahkota tidak hanya dari raja yang sedang memerintah, tetapi juga raja yang sebelumnya (Darmosoetopo, 1997 : 60 ).

Pada penetapan hutan dan tanah sebagai sima yang diperuntukkan bagi bangunan suci ini dihadiri oleh beberapa pejabat yang diantaranya adalah Puŋku Haji Yuwa Rajya Śrī Haridewa, Samgat juru pajak, Pamgat juru ruhanan, Juru redap, Juru pajabat, Juru samya, Juru ŋatalan, Juru mabwaŋ, rama dan hulun.
Para pejabat yang disebutkan dapat dikatakan mewakili tingkatan birokrasi, mulai dari tingkat pusat kerajaan, dan wanua ( banwa). Pejabat tingkat pusat yang hadir diantaranya Puŋku Haji Yuwa Rajya Śrī Haridewa, disertai Hulun ( Seseorang Yang Melayani Raja/ Hulun Haji ), pejabat tinggi yang hadir diantaranya Samgat Juru Pajak  ( Pejabat Pajak ), Pamgat Juru Ruhanan ( Pengawas Para Pejabat ), Pramukha Kabayan ( Pemuka yang berkaitan dengan bangunan suci ), Juru Redap ( Pejabat Bagian Informasi ), Juru Pajabat ( Petugas Menyambut Raja ), juru samya ( Orang yang berkuasa pada derajat yang lebih rendah (desa?), wakil pejabat atau kepala ), Juru Natalan (  Bagian Penulisan / Juru Tulis ), Juru Mabwaŋ ( Pejabat Menangangi tenaga Kerja ), dan pejabat tingkat banwa yang hadir diantaranya adalaha Rama.

Pada Prasasti ini juga disebutkan mengenai buǹa mayaŋ tinaŋluh kumaramatya ( bunga pinang yang mati muda sehingga tidak menghasilkan buah ). Bunyi kalimat ini dapat diartikan sebagai pelanggaran atau tidak kejahatan sehingga orang yang melanggar harus membayar denda. danda ini merupakan kejahatan yang berhubungan dengan pelacuran dan pelanggaran kesusilaan ( Yamin, 1962: 262 ; Sumadio (ed.), 1984: 231). Petugas untuk memungut danda ini kemungkinan Juru Samya. Penyebutan danda dalam bahasa Melayu Kuna menegaskan bahwa perintah ini ditunjukkan bagi masyarakat pendukung yaitu orang Melayu. Disebutkan juga pemberian kěmbaŋ ( kembang, bunga) untuk benda-benda pusaka. Penyebutan bangunan suci wihara pada prasasti Hujuŋ Laǹit menunjukkan bahwa masyarakat pendukungnya beraliran agama Buddha.

 ------ * * * * -------

( Pahatan pada Batu Makam dan Kayu Kediaman Sultan )


 Catatan Saliwa: 

1.      Sebutan Pun masih dipertahankan oleh masyarakat di sekitar Prasasti Hujuŋ Laǹit ( masyarakat adat sekala brak ) sebagai panggilan kehormatan bagi anak laki laki tertua dari keturunan Raja / Sai Batin dalam wilayah Kerajaan Sekala Brak yang kini mengejawantah menjadi Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak.
2.      Jabatan  Juru seperti dalam prasasti masih dipertahankan pula oleh masyarakat sekala brak untuk orang-orang yang memiliki tugas khusus dalam adat, yang kini disebut Jaru ( Jaghu ), Tuha Jaru, Jaru Marga dll.
3.      Dalam wilayah Kerajaan Sekala Brak nama Hujung merupakan nama sebuah desa ( pekon ) yang termasuk dalam wilayah adat Paksi Buay Belunguh. Letak desa Hujung itu berkesesuaian dengan peta dari L. Ch. Damais dalam bukunya.

PETILASAN RATU SEKERUMONG DI PEKON BEDUDU  





Apah tiBaca

Ikuti Menjadi Sahabat Blog

PEMUDA DAN KEBERANIANNYA

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

dancer

TVRI